Menyelami Alur Pemikiran Alexander Tedja

Punya kesempatan berbincang dengan taipan properti satu ini, adalah hal istimewa. Selain kerap menghindar, juga sangat pelit berbagi informasi. Namun, setelah berulang kali bertemu dalam berbagai acara, plus jurus pantang menyerah tebal muka yang seringkali saya pertontonkan, membuat Alexander Tedja tak memiliki alasan untuk menolak saya (lagi). Bukan karena nama kami kebetulan serupa, sehingga saya ngotot memperoleh informasi darinya. Namun, ini lebih kepada kepuasan akan hasrat untuk ‘menaklukkan’ sesuatu yang mustahil menjadi mungkin.

Dominasi media massa tertentu dalam menyajikan informasi, saya pandang sebagai sebuah challenge yang sangat menarik. Kalau hanya segitu aja yang bisa dibagi kepada publik, saya bisa memberikan lebih. Saya ingin mendapatkan informasi, berikut (syukur-syukur) data komprehensif dari chair person Grup Pakuwon ini. Sekadar Anda tahu, Grup Pakuwon, adalah raja pengembang di Surabaya, Jawa Timur.

Kendati pada beberapa kesempatan yang sudah-sudah, saya mendapat banyak informasi eksklusif, tapi hari itu, tepat pada saat Office8 mendapat Green Mark Building Gold Award dari Building and Construction Authority International (BCAI), Alexander Tedja berubah jauuuuuuh lebih terbuka dari biasanya.

Dengan garis muka tirus, sedikit berkerut di wilayah kening dan sudut bibir, ayah dari Irene dan Michael Tedja ini memaparkan strategic planning dan future development Grup Pakuwon. Sentuhan humor, sedikit mewarnai perbincangan serius tapi santai kali ini. Sambil menunduk, karena postur saya mungil dan dia tinggi langsing, Alex berkata, “Sparkling Surabaya“.

Aha…. saya jadi teringat akan sebuah thread di forum SkyScraperCity.com, di mana Surabaya menjadi kota terbesar kedua di Indonesia yang pengembangannya sangat pesat dan dinamis. Di thread itu banyak forumer yang menyematkan Sparkling Surabaya sebagai tag line mereka. Dan ketika diucapkan oleh seorang taipan properti, saya jadi mafhum.

Grup Pakuwon, jelasnya, akan mulai menggarap land bank seluas 800 Ha miliknya di luar Surabaya sebagai core wilayah pengembangan dan Jakarta. Lahan selapang itu terdistribusi di berbagai kota besar, mayoritas masih di Pulau Jawa. “Lahan itu di luar Pakuwon City dan Pakuwon Indah,” imbuh Alexander Tedja.

Pengembangan Pakuwon City sendiri yang berlokasi di Surabaya Timur  masih memiliki suplai lahan berdimensi 600 Ha. Pengembangannya baru tahap pertama dari total tiga tahap pengembangan.  Teranyar yang dibangun di sini adalah East Coast Center yang merupakan pusat belanja sekaligus pusat gaya hidup dan hiburan. Selain itu, tengah dirampungkan juga  East Coast Residences, apartemen menengah yang berjumlah 775 unit.

Awal 2011 akan dilansir East Coast Residences tahap II sebanyak 700 unit. Harganya sedikit di atas Tahap I. sekitar 15-20% di atasnya. Pada tahun yang sama, usai menyelesaikan tahap akhir pembangunan Gandaria City yang terdiri atas Office8, The Heights apartment, hotel dan Gandaria Main Street, mereka akan merealisasikan komitmen pembangunan Kota Kasablanka.

“Kami tengah mengerjakan struktur pusat belanja dan apartemen. Tunggu saja, kami pegang teguh komitmen itu. Apalagi sekarang apartemennya sudah terjual 60%. Malnya sendiri sudah menarik banyak tenan kelas menengah,’ imbuh Alexander.

Kota Kasablanka dirancang sebagai lifestyle hub baru yang disesuaikan kondisi lokasi yang merupakan kawasan segitiga emas dan kelak merupakan bagian dari desain besar Satrio international shopping belt. Jadi, wajar jika mereka mulai menggenjot pembangunan proyek yang diproyeksikan menelan dana hampir Rp2 triliun ini.

Rencana besar dan strategis lainnya adalah berekspansi ke luar wilayah Surabaya dan Jakarta. “Kami memiliki banyak lahan yang siap untuk digarap. Kami akan membangun semacam mixed use development lagi. Dalam lima tahun ke depan, akan ada dua lagi yang serupa KK dan GC. Tunggu saja tanggal mainnya,” jelas Alexander yang meminta lokasi tepat dua pengembangan multifungsi tersebut dirahasiakan. Alasannya, menjaga supaya harga lahan di sana tetap kompetitif dan stabil.

Sebuah motivasi yang masuk akal. Dan karenanya mafhum pula, bila Grup Pakuwon tidaklah se-high profile pengembang lainnya yang cenderung agresif dan massif. Alexander Tedja memandang market equilibrium hanya bisa tercipta jika pelaku di dalamnya aktif dan kreatif. Meski, GC dan KK sempat vakum beberapa saat akibat melonjaknya harga material dan krisis finansial global, tapi mereka tetap melakukan aktifitas soft marketing dan publishing.

“Sejatinya krisis finansial itu tak berpengaruh signifikan. Kalau kita total berhenti, lantas, siapa yang akan memasok pasar? kapan keseimbangan itu terjadi? Itulah sebabnya, kami harus mencetak produk serupa supaya tidak terjadi disparitas supply terhadap demand yang terlalu besar. Inilah tugas pengembang, agar sektor ekonomi terus bergulir,” ujar Alexander Tedja.

Alur pemikiran Alexander Tedja adalah pebisnis murni. Dan sepatutnya mendapat apresiasi. Memang tugas pebisnis seperti dialah yang membuat konstelasi bisnis dan industri properti di Indonesia tetap dinamis dan bergairah. Pangsa pasar kita sangat luas dengan rentang ceruk yang demikian lebar. Semua ini dianggapnya sebagai potensi luar biasa.

Property growth bisa mencapai 30% setiap tahunnya, jika, “Kita percaya diri bahwa pasar Indonesia sangat atraktif. Tugas kita memenuhi pasar dengan produk properti represnetatif, kreatif dan tentu saja affordable terhadap kebutuhan pasar,” jelasnya.

Lalu, bagaimana dengan perkuatan konstruksi finansial, sebuah momok yang senantiasa dihindari untuk dibuka kepada publik? Alexander Tedja punya cerita. “Itu bisa dibikin transparan kalau kita mau jujur kepada pasar. Kami selalu mengatakan bahwa andil terbesar, kami bisa besar seperti ini, adalah konsumen. Uang konsumen berupa DP dan cicilan maupun tunai berkontribusi besar terbangunnya proyek-proyek kami. Perputarannya cepat dan safe. Komposisi 70:30 memang sangat konservatif. Dan kami harus melakukan inovasi agar sebisa mungkin mengubahnya itu menjadi 40% dari pre sales, 30% kas internal perusahaan dan 30% perbankan,” tandas Alexander Tedja ramah seraya menawari saya untuk mencicipi hidangan lainnya, setelah puas menyantap puding.

Inilah Alexander Tedja. Gaya bertuturnya halus, sorot matanya ramah, namun menyimpan kekuatan yang luar biasa. Kalau tidak begitu, “Usia saya sudah di atas 70 tahun, gak mungkin saya meladeni kamu wawancara sambil berdiri lama begini hehehehe”.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: