Industri Properti Terkini Diwarnai Akuisisi, Renovasi dan Ekspansi

Tahun ini, disikapi para pelaku industri properti dengan beragam aksi. Beberapa pengembang baik yang berstatus milik publik maupun privat gencar melakukan ekspansi dan juga akuisisi. Seperti Farpoint Realty Indonesia. Nama ini memang tidak begitu popular dalam konstelasi industri properti. Namun, agresifitasnya mengakuisisi properti eksisting cukup mencengangkan. Pada 2010, anak usaha kelompok Gunung Sewu itu merilis ulang serviced apartment Menara Budi, Kuningan, Jakarta Selatan, menjadi kondominium Verde. Properti lawas yang awalnya dimiliki Itochu itu diambil alih Farpoint untuk dilegonya kembali dengan status kepemilikan strata title.

Farpoint menyulap Verde menjadi hunian jangkung bercita rasa resor. Karena itu, mereka menggandeng RTKL International dan Belt Collins International yang popular dengan rancangan properti resor. Menghimpun 258 unit dalam tiga menara, dengan harga jual sekitar Rp2,75 miliar-8 miliar/unit. Mulai dipasarkan sejak awal bulan lalu. “Secara konstruksi, kami hanya melakukan renovasi pada beberapa bagian. Seperti interior dan fasad. Karena konstruksi vital gedung yang dibangun Shimitzu ini sangat kuat dan berkualitas. Kegiatan renovasinya sendiri akan dimulai pada Februari atau Maret 2011,” ujar Chief Executive Officer Farpoint Realty Indonesia, Honey Angkosubroto.

Selain Menara Budi, di kawasan yang sama, mereka juga mengambil alih Kuningan Persada, di Kuningan, Jakarta Selatan, S Widjojo Center di Jl Sudirman dan Menteng Regency, keduanya di Jakarta Pusat, serta Kemang Klub Village, di Jakarta Selatan. Semua bangunan eksisting itu akan ditransformasi menjadi perkantoran dan hunian yang menyasar segmen menengah-atas dengan arsitektural anyar. “Masih dipertimbangkan apakah kami melepasnya ke pasar dengan strata title atau leased property,” imbuh Honey.

Okupasi gencar atas portofolio milik pengembang lain juga dilakukan PT Intiland Development Tbk. Pengembang gedung ikonik Intiland Tower (d/h Wisma Dharmala) ini mengakuisisi lahan seluas 7 Ha di koridor Simatupang, Jakarta Selatan. Rencananya di sini mereka akan membangun mixed use development yang terdiri atas apartemen, perkantoran dan ritel. Lahan ini diambil alih dengan cara membeli 90% saham milik PT Putra Sinar Permaja senilai Rp450 miliar.

Tak hanya itu, PT Intiland Development Tbk juga membeli 100% saham PT Wira Sejati Bina Persada yang beraset lahan seluas 1.090 Ha di Kota Kekerabatan Maja, Banten, dengan transaksi sebesar Rp400 miliar.  Dan terakhir, mereka membeli lahan berdimensi 350 Ha tanah di Telaga Bestari, Tangerang dari total perencanaan pengembangan sebesar 500 Ha. Untuk mendapatkan lahan di sini, mereka harus merogoh pundi sejumlah Rp793 miliar.

Dikatakan Executive Director Business and Development PT Intiland Development Tbk, Utama Gondokusumo, dalam menyokong aksi akuisisinya tersebut, perseroan memanfaatkan dana hasil right issue pada April 2010 sebesar Rp2,073 triliun. Dana yang sama juga digunakan untuk belanja modal sebanyak Rp380 miliar dari total kebutuhan Rp600 miliar. “Sisanya akan kami dapatkan dari hasil divestasi,” imbuh Utama.

Aksi beli lahan tersebut membuat koleksi land bank mereka bertambah 1.600 Ha menjadi 2.400 Ha dari sebelumnya hanya 800 Ha. Dengan demikian, PT Intiland Development Tbk menjadi salah satu pengembang dengan cadangan lahan terbesar, saat ini.

Selain royal mengobral kocek, mereka melengkapinya dengan rencana-rencana bisnis strategis. Di antaranya melakukan divestasi atas aset yang sudah matang tapi kurang memberikan hasil, dan non inti serta mengalokasikan sumber daya untuk proyek-proyek yang lebih besar dengan proyeksi dapat  memberikan hasil yang lebih baik.

Ada pun proyek-proyek besar yang tengah mereka fokuskan pengembangan dan persiapannya adalah Perumahan Graha Natura di Surabaya Barat, Jawa Timur seluas 100 Ha. Tahap I akan didirikan 250 unit, seharga Rp600 juta-800 juta. Dua klaster baru di Telaga Bestari, Tangerang, 1 Park di Gandaria, Jakarta Selatan, dan beberapa proyek lainnya.

Menariknya, setelah mega proyek Regatta yang merangkum hotel, apartemen, dan ruang komersial lainnya, PT Intiland Development bersiap memasang kuda-kuda dengan proyek senafas. Selain di koridor Simatupang seperti disebut di atas yang dijadwalkan tayang pada 2011, tengah dirancang pula mixed use development di kawasan Kebon Melati, Jakarta Pusat. Di atas lahan 10 Ha ini, mereka bakal mengembangkan hotel, apartemen, kantor dan pusat belanja.

Plus Festival Walk, kawasan komersial dan apartemen seluas 6 Ha, di Graha Famili, Surabaya, Jawa Timur. Serta meluncurkan hotel pertama dengan menggaet jaringan Whiz Hotel di Jogjakarta tahun ini. ‘Hotel serupa juga akan kami bangun di Semarang, Surabaya, Jakarta dan kota lainnya,” buka Utama.

Utama optimis proyek unggulan tersebut dapat diterima pasar dengan baik sehingga berkontribusi terhadap pendapatan perseroan. Mengingat pendapatan usaha tahun 2009, dinilai positif yakni Rp386,819 miliar. Terdiri atas 54% penjualan rumah dan kavling, 16% apartemen, 18% sewa ruang komersial dan pemeliharaan, 9% sarana olahraga dan 3% dari pendapatan usaha lainnya.

Sinyalemen positif juga disampaikan Presiden Direktur PT Pakuwon Jati Tbk Richard Adisastra. Pengembang yang berbasis di Surabaya, Jawa Timur tersebut, mematok target pendapatan sebesar Rp1,1 triliun. “Sampai Maret 2010, kami telah membukukan pendapatan Rp277 miliar. Kontribusi terbesar dari sewa ruang komersial Tunjungan Plaza, Surabaya. Kami yakin, tahun ini bisnis dan industri properti akan mengalami peningkatan. Untuk itulah kami melipatgandakan target pendapatan,” buka Richard.

Selama 2009, PT Pakuwon Jati Tbk mencatat hasil pendapatan senilai Rp697 miliar. Atau meroket tajam sebesar 53% dari tahun sebelumnya yakni Rp454 miliar. Untuk tahun ini, mereka mengalokasikan dana sebesar Rp490 miliar yang berasal dari injeksi investasi 87 juta dolar AS dan kas internal perseroan dari rilis dan pre sales. Sejumlah tersebut akan digunakan untuk penambahan 100 unit rumah di klaster Palm Beach di Pakuwon City, Surabaya, Jawa Timur, pembelian lahan sebanyak Rp190 miliar dan porsi sisa terbesarnya Rp300 miliar untuk penyelesaian proyek-proyek Gandaria City, Jakarta, apartemen East Coast Residences dan pusat belanja East Coast Center seluas 65.000 m2.

“Untuk saat ini, strategi kami adalah merampungkan proyek yang tengah dikerjakan, peningkatan okupansi pusat belanja dan ruang perkantoran serta pembelian lahan baru,” tandas Richard seraya menambahkan, cadangan lahan konsolidasi milik PT Pakuwon Jati Tbk telah mencapai 340 Ha yang nantinya akan dimanfaatkan untuk proyek residensial dan 2,2 Ha di Tunjungan City untuk komersial. Seluruhnya ada di Surabaya, Jawa Timur.

Gandaria City, merupakan proyek terbesar milik PT Pakuwon Jati Tbk yang berada di Jakarta. Saat ini progres pembangunannya telah mencapai tahap akhir. Sementara prestasi penjualannya, untuk dua menara apartemen Gandaria Heights sejumlah 80% terjual dengan harga terakhir Rp13 juta-16 juta/m2, Office8 terjual 60% (50% strata title dan 10% sewa), dan pusat belanjanya 60% di mana major tenant yang resmi membuka gerainya antara lain Lotte Mart, electronic Solution, Celebrity Fitness, Metro Department Store, Ace Hardware dan Cinema XXI.

Sementara PT Cowell Development Tbk, tengah tahun ini siap melansir produk baru bertajuk Westmark di kawasan Tanjung Duren, Jakarta Barat. Apartemen ini ditawarkan sebanyak 620 unit dengan harga mulai dari Rp300 juta. Untuk mewujudkan high rise portfolio perdana ini, PT Cowell Development Tbk membutuhkan dana tak kurang dari Rp235 miliar. Sementara belanja modal dari kas internal yang mereka anggarkan tahun ini hanya sebesar Rp105 miliar. Sebagian besar yakni Rp75 miliar digunakan untuk mengoleksi lahan di Surabaya, Jawa Timur dan sisanya di Jakarta Selatan.

Dikatakan Marketing and Business Development Director PT Cowell Development Tbk, Novi Imelly, pihaknya akan bekerjasama dengan perbankan guna menutupi kekurangan dana tersebut. “Sekitar Rp100 miliar porsi dana dari perbankan. Sisanya kas internal dan hasil penjualan,” ucap Novi seraya mengungkapkan target penjualan Westmark sebesar Rp300 miliar, selama 18 bulan sejak dilansir ke pasar bulan ini.

Sedangkan untuk penjualan total 2010, Cowell mematok angka Rp145 miliar. Terbilang moderat memang, sebab, angka itu hanya bisa diharapkan dari proyek eksisting yang masih dikembangkan hingga saat ini seperti Melati Mas Residences, Serpong Park, Serpong Terrace, (ketiganya di Serpong, Banten) dan Borneo Paradise @Balikpapan, Kalimantan Timur.

Mencermati tebaran angka-angka di atas, dan beraninya para pengembang merealisasikan langkah strategisnya, mengindikasikan kondisi aktual industri properti di Indonesia memiliki resistensi tinggi. Kendati di belahan Eropa terjadi krisis Yunani yang secara signifikan memengaruhi investasi dan aksi korporasi, di pasar domestik, pengaruhnya tidak terasa sama sekali. Menurut Manajer Divisi Riset Coldwell Banker Indonesia, Dwi Novita Yeni, kegairahan pasar Indonesia ditunjukkan oleh aktifitas transaksi. Katakanlah rumah landed kelas Rp300 juta-500 juta, apartemen menengah kelas Rp10 juta-15 juta/m2, perkantoran grade B dan A dengan fitur yang environmental friendly serta pusat belanja sewa kelas A yang terus diburu tenan penyewa.

Sinyalemen Dwi ini terkonfirmasi oleh strategi korporasi PT Plaza Indonesia Realty Tbk yang tengah konsentrasi pada renovasi dan peremajaan portofolio utamanya yakni Plaza Indonesia. Diungkapkan Arnes Lukman, General Affairs Director PT Plaza Indonesia Realty Tbk, mereka hanya mencanangkan belanja modal Rp50 miliar untuk renovasi dan peremajaan Plaza Indonesia. “Kompetisi pusat belanja kelas atas sangat ketat, jadi kami memandang perlu merenovasi dan meremajakan Plaza Indonesia. Fasad dan interior kami utamakan sehingga memiliki daya saing yang tinggi. Kami melakukan ini karena kebutuhan market dan juga mengakomodasi calon tenan yang berminat membuka gerainya di sini,” tandas Arnes.

Tingkat okupansi Plaza Indonesia, hingga saat ini, menurut catatan Properti Indonesia, memang yang tertinggi dibanding pusat belanja sekelas. Mencapai 95,86% atau naik dari angka sebelumnya 92,28%. Kecuali Grand Hyatt, properti lainnya seperti The Plaza, Keraton at The Plaza, Plaza Ex dan fX merupakan bangunan baru yang langsung direspon positif pasar. Mereka semua memberikan kontribusi terhadap total pendapatan sebesar Rp551,705 miliar dengan laba bersih yang berhasil mereka raup senilai Rp292,526 miliar. “Jadi, tak perlu capex besar-besar. Toh, kami tinggal menuai hasil,” tandas Arnes.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: