Megapolitan Development Tawarkan Puri Cinere Apartment

Apartemen di Cinere? di tengah pasok landed house yang surplus? kalau bicara kemungkinan, mungkin saja dibangun. Tapi, jika sudah memasuki tahapan berikutnya yakni keterserapan pasar dan keterisian bangunan, nanti dulu.

Seperti yang saya pertanyakan di atas, Cinere (Depok) merupakan kawasan yang sarat dengan pasok landed house berbagai tipe. Anda ingin mencari tipe paling kecil hingga besar, ada di sini. Mulai dari yang termurah untuk kalangan semi marjinal (karena kalau miskin-miskin amat kendati bisa memanfaatkan fasilitas subsidi, tak mungkin mampu membeli properti di kawasan ini), hingga termewah. Sebut saja, Cinere Estate, Bukit Cinere Indah, Mega Cinere, Pondok Cinere Indah, dan lain-lain.

Nah, ketika PT Megapolitan Development berhasrat membangun hunian vertikal, saya sedikit terkejut. Apa motivasi fundamen pengembang milik duet Sudjono Barack Rimba dan Lora Melanie Lowas ini? sekadar latah, atau memang pasar di sana sudah sangat membutuhkan apartemen? atau punya niat luhur untuk berkontribusi merealisasikan program seribu menara apartemen pemerintah?

Direktur PT Megapolitan Development, Laniawati  S Matita, mengungkapkan, kebutuhan hunian jangkung di kawasan Cinere sudah sangat mendesak. “Banyak calon konsumen yang datang kepada kami menanyakan, kapan Megapolitan membangun apartemen. Mempertimbangkan permintaan itu, kami memutuskan untuk membangunnya. Tak sembarang bangun, tentu saja sudah melalui riset pasar,” ujar Laniawati.

Apartemen yang akan didirikan PT Megapolitan Development, nantinya bertajuk Puri Cinere Apartment. Menempati lahan selapang 1,2 Ha, akan menjadi bagian dari pengembangan Puri Cinere. Terdiri atas 3 tower apartemen yang masing-masing setinggi 9 lantai. Karena mengambil bagian dari kompleks Puri Cinere, maka nama-nama menaranya mengadopsi nama-nama puri di Inggris. Seperti Arundel, Cabana dan Dalton.

Secara keseluruhan Puri Cinere Apartment merangkum 365 unit yang berisi tiga tipe 1, 2, dan 3 kamar tidur. Dilengkapi dengan shopping arcade dan lifestyle center. Untuk masa pra penjualan, akan ditawarkan 245 unit saja, dan beberapa di antaranya, diklaim telah terjual.

“Kami merencanakan ini sejak lama. Karenanya, anggaran untuk membangunnya saja dibutuhkan tak kurang dari Rp500 miliar,” imbuh Laniawati.

Sungguh, sebuah nominal yang besar, bukan? Jelas, motivasi mereka membangun bisa lebih dari sekadar terdapatnya kebutuhan pasar. Ada beberapa faktor krusial lain yang dijadikan pertimbangan utama. Di antaranya adalah posisi Puri Cinere yang bakal kian terbuka jika rencana pembangunan 3 jalan tol lingkar luar yakni JORR yang terkoneksi dengan Depok-Cinere-Antasari dan Cinere-Jagorawi terealisasi.

Aroma mewangi dari bakal berlipatnya harga lahan dan properti sangat semerbak. Dan ini, sepertinya faktor pendorong yang sangat kuat bagi Megapolitan untuk memanfaatkannya sebagai pijakan dasar membangun apartemen.

Saat ini saja, kekinian Puri Cinere adalah titik pertemuan wilayah Jakarta Selatan, Depok dan Tangerang. Bisa dibayangkan traffic yang akan melintasi kawasan ini nanti. Dus, terkoneksi pula secara psikososiologis dengan perkembangan koridor Simatupang yang fenomenal. Mengingat properti dalam kota sudah tidak menawarkan kenyamanan lagi karena kebijakan 3 in 1 serta tingkat kepadatan arus kendaraan yang tidak dapat ditolerir lagi, maka apartemen di Cinere dianggap Lainawati sebagai sebuah keharusan.  “Tentu saja, para karyawan, middle level manager atau ekspatriat membutuhkan hunian yang nyaman dan dekat dengan tempat mereka bekerja. Nah, Puri Cinere Apartment bisa menjadi solusinya,” papar Laniawati.

Sementara dari perspektif investasi, bolehlah Puri Cinere Apartment sedikit membusungkan dada. Pencapaian NJOP-nya saat ini lebih kurang 20% per tahun. Dan jika dihitung secara matematis dengan mengkalkulasi kenaikan harga bangunan yang sebesar 20%/tahunnya serta kenaikan biaya sewa yang diproyeksikan juga berangka sama, maka tidak ada alasan lain bagi calon ivestor atau pemburu koleksi properti untuk mengabaikannya.

Untuk saat ini, Puri Cinere Apartment adalah properti vertikal tunggal yang belum tersaingi dalam menarik minat calon pembeli. Jadi, perhitungan pengembang dalam menerapkan strategi pra penjualan dengan harga perdana Rp9 juta-10 juta/m2 untuk kemudian ditingkatkan lagi sebesar 5-10%, terhitung tepat.

Namun, ada yang masih mengganjal yang saya belum menemukan jawabannya, bagaimana cara mereka menggaransi produk terbeli dapat mendatangkan high profit return? Dengan konsep yang, maaf, terlalu biasa baik desain arsitektural maupun pengembangan, serta jumlah unit yang dilansir terlalu banyak, untuk menjadi obyek investasi utama sepertinya harus bersaing sengit dengan apartemen sejenis yang berlokasi lebih dekat dengan pusat kota dan tol JORR, seperti Kebagusan City, atau apartemen eksisting macam Beverly Tower di Simatupang, dan Bonavista di Lebak Bulus.

Iklan

Berbagai Opsi Berinvestasi

Belahan timur dan sebagian utara, belumlah semenor barat dan selatan Jakarta. Dilihat dari pengembangan fisik secara masif, timur dan sebagian utara itu jelas kalah jauh. Padahal, keduanya memiliki potensi unik dan menarik yang apabila dieksplorasi secara optimal, bakal mampu menandingi wilayah barat dan selatan. Yang terutama adalah ketersediaan surplus lahan yang belum tergarap. Karenanya, harganya masih terbilang rendah. Dan mestinya dapat dijadikan amunisi produksi properti yang kompetitif.

Namun, itu tak lama lagi. Karena kedua wilayah ’tertinggal’ ini tengah mempercantik diri dengan tampilan visual yang kelak dapat menarik minat dan selera investor. Fitur yang melengkapi persiapan wilayah timur dan sebagian utara itu adalah siap dioperasikannya Jalur Akses Tanjung Priok sepanjang 3,4 Km. Belum cukup di situ, JORR E1 ini nantinya akan dilanjutkan sampai Pelabuhan Tanjung Priok dan menyambung ke jalan tol dalam kota segmen Ancol sepanjang 13,3 Km.

Pembangunan tol yang langsung mengakses ke Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, sejatinya dibagi menjadi 5 seksi yakni East-1 yang baru saja selesai dikerjakan, East-2 Cilincing-Jampea sepanjang 4,2 km, West-1 Jampea-Kampung Bahari (2,8 km), West-2 Kampung Bahari-Harbour Toll Road (2,9 km) dan North South Jampea-Kebon Bawang (1,7 km).

Kehadiran Jalan Tol Akses Tanjung Priok bisa dijadikan alternatif bagi pengguna kendaraan, khususnya berukuran besar, yang akan menuju Pelabuhan Tanjung Priok. Bila sebelumnya harus melalui Jalan Tol Wiyoto Wiyono (Tol Dalam Kota Jakarta), sekarang bisa melewati ruas itu. Dengan demikian, kepadatan di Tol Dalam Kota Jakarta dapat  tereduksi. Menteri Pekerjaan Umum, Djoko Kirmanto meminta agar eskalasi pembangunan akses langsung keseluruhan bisa diwujudkan segera mengingat infrastruktur ini dapat membantu percepatan pertumbuhan ekonomi, terutama arus barang dari dan ke pelabuhan.

Tidak hanya itu. Keberadaan akses langsung tersebut berekses positif pada perkembangan kawasan Cakung-Cilincing (Jakarta Utara) dan sekitarnya, seperti Pulogebang (Jakarta Timur) dan Bekasi Utara. Kedua kawasan pengembangan baru ini diyakini akan semakin pesat, dinamis dan terbuka. Aksesibilitas menjadi murah dan mudah, baik yang menuju maupun dari Jakarta.

Aktifitas pembangunan fisik pun tak kalah marak. Di beberapa ruas yang dilintasi atau dekat dengan segmen akses langsung ke Tanjung Priok ini sarat dengan pengembangan properti. Sebut saja Jakarta Garden City (PT Mitra Sindo Sukses/kolaborasi Keppel Land dan Modernland Realty), Rorotan Kirana (PT Nusa Kirana), Kota Harapan Indah (Grup Damai Putera), Kota Baru Perumnas (PT Bakrieland Development Tbk dan Perum Perumnas), dan  Metland Menteng (PT Metropolitan Land).

Begitu pula dengan area yang diperuntukan khusus kegiatan industri. Kendati pertumbuhannya paling lambat dibanding sub sektor properti lainnya, namun, aktifitas pengembangan kawasan industri tetap ada. Yang teranyar adalah Marunda Center. Ini merupakan kawasan industri pergudangan yang dibangun PT Tegar Prima Jaya.

Berikut ini beberapa opsi pengembangan properti yang laik untuk dijadikan instrumen investasi;

Jakarta Garden City

Hasil kolaborasi Keppel Land, pengembang asal Singapura dan Modernland Realty, di atas lahan seluas 270 hektar ini berlokasi di kawasan Cakung, Jakarta Timur. Proyek perumahan yang baru saja menerima penghargaan sebagai perumahan terbaik kedua di dunia versi Federasi Real Estate Indonesia (FIABCI) ini semakin agresif membangun. Sejak dikembangkan pada 2008, kini wujud JGC sebagai township sudah terlihat. Infrastruktur jalan masuk dari jalan Cakung-Cilincing dan lingkungan sudah terbangun. Kini sedang dibangun jalan masuk dari Jl Raya Bekasi, dan rencananya akan dioperasikan September 2010.

Untuk rumah sudah terbangun sekitar 415 unit, dan cukup banyak yang dihuni. Tahun ini pengembang JGC akan membangun rumah hingga jumlahnya menjadi 900 unit.  Harganya mulai dari Rp600 juta sampai Rpl,5 miliar. “Kami yakin keberadaan akses ke dan dari Jl Raya Bekasi  akan menghidupkan fasilitas komersial di sini, seperti shopping arcade, modern market juga club house yang akan dibuka pada 2011,” ujar Lim Seng Bin, Presiden Direktur Jakarta Garden City.

Keberadaan Jalan Tol Akses Tanjung Priok sangat ditunggu JGC karena akan mempersingkat waktu tempuh penghuni menuju pusat kota Jakarta. ”Jika akses tersebut seluruhnya jadi, penjualan  meningkat tajam,” ujar Lim.

Rorotan Kirana

Produk gres seluas 120 hektar ini akan segera diluncurkan PT Nusa Kirana. Lokasinya berseberangan dengan Kawasan Berikat Nusantara (KBN) Cakung-Cilincing. Progres terkini adalah cut and fill untuk rumah kelas menengah-atas dengan berbagai fasilitas pendukung. ”Kami juga tengah menanti kelarnya Jalan Tol Akses Tanjung Priok,” ujar Catherine Lee, Kepala Bagian Pemasaran PT Nusa Kirana.

Nantinya, kata Catherine, akan dibuat exit toll langsung ke Jalan Tol Akses Tanjung Priok, melewati kali Cakung Drain. ”Kami yakin perumahan ini diminati masyarakat karena masih di berada di wilayah Jakarta dengan aksesibilitas yang baik,” imbuhnya.

Kota Harapan Indah

Kondisi kawasan seluas 2.000 hektar terkini adalah 40 persen lahannya sudah terbangun dan dihuni sekitar 60 ribu kepala keluarga (KK). Kurva penjualannya terus bergerak dari tahun ke tahun. “Tahun 2010, kami targetkan dua kali lipat,” ujar Hyronimus Yohannes, Marketing Manager Kota Harapan Indah.

Banyaknya fasilitas yang sudah ada di properti milik Damai Putra Group sejak tahun 1990 membuat  penghuni mendapatkan kenyamanan karena tidak perlu ke luar kawasan untuk memenuhi berbagai kebutuhan hidup. Fasilitas yang sudah tersedia antara lain Sport Center, Sentra Niaga, Sentra Onderdil, Sentra Bisnis, Rumah Sakit, Sekolah dari SD s/d SMU (Sekolah BPK Penabur dan John Paul), Tempat Ibadah, Carrefour, KFC, dan Pasar Modern.

Pilihan rumah di Kota Harapan Indah sangat beragam. Harganya mulai Rp200 jutaan sampai Rp2 miliar. Tahun ini, akan diluncurkan minimal empat cluster baru yakni Ifolia tahap 2, Heliconia Extension tahap 2, Asia Tropis, dan Green East Wood. Untuk menuju Kota Harapan Indah bisa melalui pintu tol Cakung (JORR) maupun pintu tol Bekasi Barat  (Jakarta-Cikampek). Lokasinya hanya berjarak 9 km dari Kelapa Gading. Rencananya juga akan dibuka akses tol sisi utara dari tol Tanjung Priok-Cibitung.

Kota Baru Perumnas

Perum Perumnas dan PT Bakrieland Development Tbk. berkongsi mengembangkan lahan seluas total 180 hektar di kawasan Pulogebang, Jakarta Timur yang diberinama Kota Baru Perumnas (KBP). Di atas lahan 3,2 hektar, sudah terbangun tiga blok menara apartemen Sentra Timur Residence sebanyak 1.327 unit baru yang merupakan bagian dari rencana 11 menara yang akan dibangun di atas lahan 7,9 hektar.

Awal bulan lalu, apartemen Sentra Timur Residence sudah mulai diserahterimakan kepada 157 pembeli. Pada tahap berikutnya akan digarap tiga menara pada awal 2011, dan lima menara berikutnya pada 2012. “Harga unit apartemen di Sentra Timur Residence sudah naik dua kali lipat sejak pertama kali diluncurkan,” kata Dicky Setiawan, Direktur Utama PT Bakrie Pangripta Loka selaku pengembang.

KBP sendiri dirancang sebagai sentra bisnis di Jakarta Timur seiring dengan rencana dibukanya akses langsung ke jalan tol JORR dan relokasi terminal Pulogadung ke Pulogebang. Saat ini untuk menuju Kota Baru Perumnas, bisa melewati tol JORR, keluar di pintu tol  Pulogebang. Selain itu juga akan dibangun stasiun kereta api yang lebih representatif dan flyover di perlintasan kereta api untuk menghindari kemacetan saat jam sibuk.

Bakrieland Development  juga merencanakan untuk membangun gedung perkantoran tiga lantai dan hotel bintang tiga plus-plus untuk keperluan meeting, incentives, convention, exhibition (MICE) dengan operator hotel berjaringan internasional. Sehingga diharapkan KBP bertransformasi menjadi sentra aktifitas bisnis, jasa, hiburan, dan komersial. Apartemen Sentra Timur Residence sebagai embrio KBP, ditawarkan ke pasar sebanyak tiga tipe yakni 21, 30, 36, dan 45 dengan harga mulai dari Rp150 juta sampai Rp250 juta

Metland Menteng

Dahulu bernama Menteng Metropolitan. ”Kami mengubahnya menjadi Metland Menteng dan menjadi perumahan yang diminati masyarakat karena kenyamanannya,” ujar Ernanda Dharmapribadi, General Manager Metland Menteng. Berbagai fasilitas akan ditambah. Akhir tahun ini bakal dibangun executive sport club seluas 1,1 hektar dan di sebelahnya area outboond untuk anak-anak yang berisi ATV, flying fox, dan lain-lain.

Saat ini sudah tersedia berbagai fasilitas pendukung seperti wahana rekreasi air Waterland seluas 1,2 hektar, lapangan tenis, lapangan bulutangkis, lapangan futsal, taman bermain dan food garden. Keberadaan Jalan Tol Akses Tanjung Priok,  kata Ernanda, sangat dinanti untuk semakin memudahkan penghuni beraktifitas. Saat ini Metland Menteng menawarkan rumah seharga mulai Rp443 juta hingga Rp1 miliar.

Marunda Center

Marunda Center seluas 500 hektar dikembangkan untuk menjadi kawasan industri  terpadu berskala international. ”Artinya segala kegiatan ekonomi mulai dari hulu ke hilir ada di dalamnya,” ujar Iwan Djunaedi, Direktur PT Tegar Primajaya, pengembang Marunda Center. Untuk itu, Kawasan Industri Marunda Center dikembangkan menggunakan zoning pergudangan dan area industri. Area pergudangan tersegregasi dalam sistem cluster dengan hanya satu gerbang masuk yang dijaga security 24 jam, agar dapat tercipta kenyamanan dan keamanan bagi para pemilik gudang dalam beraktivitas.

Lokasinya sangat strategis, hanya berjarak 9 Km dari Pelabuhan, 11 Km dari Kelapa Gading, 15 Km dari Sunter, dan 30 Km dari Bandara. Berbagai tipe gudang ditawarkan dengan harga mulai Rp809 juta, antara lain tipe 320/240, 384/288, 480/360, 600/420, 1380/966, dan 3000/1380. Selain itu juga ditawarkan kavling siap pakai mulai dari 100 m2 sampai 10 Ha dengan harga Rp1,5 juta/m2. ”Kelebihan kami, harganya lebih murah dibandingkan properti sejenis di Pulogadung dan Sunter,” ujar Iwan.

Keberadaan Jalan Tol Akses Tanjung Priok, imbuhnya, dapat menyingkat jarak tempuh ke Pelabuhan, ke Tol Cikampek, Tol Jagorawi dan Tol JORR ke arah Pondok Indah dan BSD. Marunda Center akan semakin strategis jika rencana Jalan Tol Cibitung-Cilincing dibangun karena akan mengoneksi Kawasan Industri Marunda Center langsung ke  Jalan Tol Akses Tanjung Priok. Rencananya, mengingat lokasinya yang berbatasan dengan laut, Marunda Center juga akan dilengkapi dengan pelabuhan kecil. Dikembangkan dalam dua tahap. Tahap I seluas 150 Ha, dan telah dibangun sekitar 70%. Meliputi gudang, kavling siap pakai, infrastruktur, utilitas dan fasilitas penunjang. Sementara tahap berikutnya seluas 350 Ha.

Jalur Mulus Meraup Fulus

Pembangunan infrastruktur berupa jalan bebas hambatan yang tengah giat direalisasikan, dapat mengubah sebuah rencana pengembangan strategis para pelaku bisnis dan industri properti. Betapa tidak, postulat bahwa jalur tol akan menjadi stimulan efektif bagi percepatan pertumbuhan perekonomian, dalam perspektif tata ruang dan urban development, memang terkonfirmasi positif. Ditandai saratnya aktifitas pembangunan fisik.

Direktur Proyek PT Bakrie Pangripta Loka (anak usaha PT Bakrieland Development), pengembang Sentra Timur Residences, Djafarullah, mengakuinya. ”Masterplan proyek kami terbuka untuk berubah disesuaikan dengan kondisi aktual yang semakin dinamis. Terutama terkait dengan rencana pemerintah yang menggenjot pengembangan infrastruktur jalan berikut fasilitas umum penunjangnya,” ungkapnya.

Jalan tol disepakati merupakan kartu masuk bagi investasi properti untuk berbiak dan berkembang maksimal sesuai ekspektasi. Ilustrasi faktual diperlihatkan oleh kawasan-kawasan pengembangan lama. Sebut saja Sentul City dan Kota Wisata. Portofolio residensial milik PT Sentul City Tbk dan Grup Duta Pertiwi itu, dibangun pasca beroperasinya jalan tol Jagorawi. Mereka memanfaatkan akses langsung menuju Babakan Madang (lokasi administratif Sentul City berada) dan Cibubur-Cileungsi. Dengan fitur seperti itu, kedua pengembang tersebut menjadi percaya diri untuk mengklaim properti mereka memiliki nilai lebih.

Begitu kuat daya tariknya, lebih jauh lagi, telah mampu  ’memaksa’ pengembang mengikuti rencana jalur pembangunan jalan bebas hambatan. “Selain membantu mempersingkat waktu tempuh, karenanya jarak tidak menjadi masalah, juga terkait erat dengan aksesibilitas. Semakin aksesibel, akan kian besar peluang sebuah pengembangan properti meraup kesuksesan. In term of nett take up,” ujar Ali Hanafia, Member Broker Century21 Pertiwi.

Aksesibilitas memang menjadi pertimbangan konsumen dalam membeli properti yang dekat dengan jalan tol. Selama problem kemacetan lalu-lintas masih menjadi momok  warga Jabodetabek, selama itu pula permintaan terhadap properti di sekitar jalan tol akan terus meningkat dan harganya merangkak naik. Tidak heran bila kemudian para pengembang berupaya menjadikan akses tol sebagai gimmick dari properti yang mereka tawarkan.

Bukan sembarang gimmick memang. Karena magnitude kuat akses tol yang sudah beroperasi, dapat mendongkrak harga properti di sekitarnya, minimal 20%. Inilah nilai plus yang dicari pembeli properti, baik yang bermotif investasi atau untuk ditinggali. Jika ingin mendapatkan keuntungan nilai investasi yang lebih besar, disarankan untuk membeli sebelum jalan tol jadi. Sehingga saat jalan tol dibuka, properti yang dibeli harganya telah meningkat signifikan.

Kenaikan harga terbesar akan dirasakan oleh proyek properti yang paling dekat dengan akses masuk-ke luar tol (exit toll). Oleh karena itu, pilihlah properti yang paling dekat (paling jauh radius 5 kilometer) dengan akses masuk-ke luar tol sehingga mempersingkat jarak dan waktu tempuh. Namun jangan terlalu dekat juga karena tingkat polusi dan kebisingan dari kendaraan akan mengganggu kenyamanan.

Walau harus mengeluarkan dana yang tidak sedikit, para pengembang rela membuat akses tol langsung ke proyeknya. Bagi mereka, akses langsung ini merupakan cara paling mulus, yang potensial menambah pundi-pundi keuntungan karena tingkat penjualan akan  terdongkrak dan harga bakal meroket.

Seorang pebisnis asal Makassar yang kerap bertandang ke Jakarta bahkan langsung memutuskan membeli apartemen St. Moritz Penthouses and Residences yang berada di kawasan Puri Indah, Jakarta Barat. Setelah ia mengalami waktu tempuh hanya 15 menit dari Bandara Soekarno Hatta ke apartemen St. Moritz, melalui jalan tol JORR W1.

Deskripsi riil ini merepresentasikan betapa vitalnya keberadaan akses tol bagi peminat dan proyek properti itu sendiri. ”Kepadatan lalu lintas dan semrawutnya jalan arteri maupun jalur kolektor membuat jalan tol menjadi kebutuhan primer,” ujar Budhi Gozali, Direktur St Moritz Penthouses and Residences seraya mengatakan sebelum JORR W1 rampung, waktu tempuh dari Bandara Soekarno Hatta ke St. Moritz sekitar 40 menit sampai 1 jam.

Nuansa Pesona Asri Cara Generasi Kedua Unjuk Gigi

Ingat nama perumahan Pesona Khayangan dan Pesona Depok? Satu dekade silam, Grup Pesona, pengembangnya, sangatlah popular. Mereka, kala itu, tercatat sebagai pengembang formal satu-satunya yang berbasis kultural Betawi-Arab. Tulisan ini, tidak hendak menggiring pembaca kepada ranah SARA yang ditabukan itu. Sebaliknya, aktifitas terbaru mereka yang akan dikemukakan.

Memang, Grup Pesona kalah gemanya dibanding pengembang raksasa macam Grup Agung Podomoro, Grup Ciputra, Grup Bakrie dan Duta Pertiwi. Namun begitu, mereka tak kalah agresif. Usai serial perumahan berlabel Pesona yang fenomenal itu, setidaknya di kawasan Depok, sebagai wilayah garapannya, mereka kini merambah Bogor, Jawa Barat dan wilayah pinggiran lainnya.

Di bawah kendali generasi kedua berbadan hukum baru, PT Nuansa Pesona Asri,  menggebrak pasar dengan produk-produk yang tak bisa dipandang sebelah mata. Mutiara Sentul, di Bogor, contohnya. Perumahan seluas 15 Ha ini berpenampilan meyakinkan. Tampilan visual dan fasadnya menarik. Diimbuhi lokasi yang sangat strategis dan aksesibel, dekat dengan pintu tol Sirkuit Sentul. Menarik minat pasar dengan prestasi penjualan 95% dari total 540 unit.

Terhadap kinerja penjualan ini, Sarah, selaku Direktur Marketing PT Nuansa Pesona Asri yang juga putri kandung salah satu share holder Grup Pesona mengatakan, tak lepas dari market research dan feasibility study yang mendalam. “Kami membangun rumah untuk manusia. Jadi, dirancang semanusiawi mungkin. Ketika kami memasukinya, kami harus merasa berada di dalam rumah, bukan kandang. Itulah mengapa, ketika rilis perdana, disambut antusias pasar,” ungkap Sarah.

Kendati harus membangun badan hukum baru, Sarah dan keempat saudaranya, menganggapnya bukan kendala yang membuat mereka menyerah. Apalagi dalam waktu bersamaan, mereka juga harus berkompetisi dengan Sentul City dan Bogor Nirwana Residences yang dibangun pengembang veteran dengan reputasi tak diragukan. Namun, Sarah bersaudara telanjur bertekad kuat menancapkan tajinya di sektor properti.

Mutiara Sentul adalah anak kandungnya yang memberi posisi strategis dalam pencapaian aktualnya kemudian. “Ada banyak konsumen yang bertanya, kapan lagi membangun proyek baru. Ini kami anggap sebagai captive sekaligus potential market yang harus diakomodasi dengan cepat dan tepat,” lanjut Sarah. Dari kondisi pasar yang memperlihatkan posisi permintaan yang cenderung meningkat, terutama di kawasan Sentul, Cibinong dan sekitarnya itulah, PT Nuansa Pesona Asri lantas melansir The Nature.

Ini merupakan proyek real estat ketiga, seluas 20 Ha, setelah Mutiara Sentul dan Mutiara Depok (12 Ha). The Nature yang berkonsep pengembangan serba green baik desain arsitektural maupun development-nya, ditawarkan ke pasar seharga mulai dari Rp230 juta (36/84) hingga Rp1,2 miliar (300 m2).

Dalam kampanye promosinya yang cenderung below the line, The Nature ternyata bisa juga memikat pasar. Selama pre launching, disambut antusias calon konsumen. Belajar dari Mutiara Sentul, mereka mempertahankan strategi membangun rumah contoh sebanyak 3-5 unit untuk 13 tipe. Ini rupanya yang membuat cara menjual mereka cukup efektif. “Kami sadar, bahwa prototipe rumah itu harus disesuaikan dengan kebutuhan pasar. Dan kami membangun karena memang kebutuhan itu ada,” lanjut Sarah.

Selain The Nature, PT Nuansa Pesona Asri juga tengah mengembangkan Mutiara Hijau di Cibinong seluas 2 Ha dan Mutiara Biru di Depok. Keduanya memiliki karakteristik produk yang berbeda disesuaikan dengan segmen pasar dan juga catchment area yang disasar.

“Kami belajar dari pendahulu. Jika ingin sukses dalam arti produk terserap, jangan pernah menjauhi pasar. Kami justru mendekatkan diri dengan harapan gap antara kebutuhan dan realisasi bisa dikurangi. Syukur-syukur bisa terhapus,” kata Sarah seraya menambahkan, untuk konstruksi finansial mereka memilih memanfaatkan potensi yang ada yakni menjaga cash flow (aliran kas) internal perusahaan tetap lancar. Tanpa menafikan pinjaman perbankan.

Ada pun portofolio lainnya yang telah mereka dirikan adalah, Duta Gema Pesona, di Cilandak, Cassa De Cantik, (Cinere), Casa De Mampang (Mampang), dan Lenteng Agung Residence (Lenteng Agung). Keempatnya merupakan town house dengan harga terendah per unit  Rp400 jutaan.

Tanah Abang Disunting Banyak Pengembang

Segelintir saja yang tidak mafhum dengan Tanah Abang. Ya, kawasan ini tak hanya masyhur di dalam negeri, juga mancanegara seperti Asia dan Timur Tengah. Tanah Abang tersohor karena keberadaan pasar Tanah Abang yang merupakan sentra transaksi tekstil dan busana siap pakai. Sekadar informasi, pasar ini dibangun berbarengan dengan Pasar Senen pada 1735 oleh regim VOC pimpinan Justin Vinck.

Penyebutan label Tanah Abang sendiri berasal saat pasukan Kerajaan Mataram pimpinan Sultan Agung  menyerbu Batavia pada 1628 dan bermarkas di sini. Karena tanahnya merah (abang), prajurit-prajurit Mataram menyebutnya Tanah Abang. Bagaimana pertumbuhannya kini? Transformasi apa yang sudah terjadi di sini?

Tanah Abang aktual adalah kawasan yang sangat dinamis, terbuka dan tentu saja menawarkan gula-gula kehidupan, terutama bisnis dan perdagangan komoditas tekstil. Seiring aktifitas transaksi yang begitu pesat, rekor terakhir perputaran uang mencapai Rp1 triliun/hari, permintaan akan ruang ritel pun berkembang linear. Galib, jika pada akhirnya, kawasan seluas hampir 1000 hektar itu sesak oleh pengembangan ruang ritel dan komersial. Tak hanya itu, korelasi positif juga terjadi pada permintaan fasilitas akomodasi dan hunian. Ini karena para pelaku bisnis dan perdagangan yang berasal dari berbagai daerah dan luar Negara, membutuhkan tempat untuk sekadar transit atau mengadakan meeting.

Dikomparasikan dengan kawasan bisnis dan perdagangan lainnya di Jakarta, Tanah Abang lebih unik dan istimewa. Lokasinya, persis di sentra Jakarta dengan aksesibilitas luar biasa. Hanya sepelemparan batu dari kawasan niaga terpadu Thamrin dan Sudirman serta bisa dicapai dengan moda transportasi massal sekali pun. Dengan segala kelebihan itu, jelas menstimuli para pengembang berpacu menggarap pasar wilayah ini. Terutama di area sekitar Waduk Melati. Di sini, terdapat enklav-enklav pengembangan raksasa milik kelompok developer kakap macam Grup Agung Podomoro, Bakrieland Development dan PT Intiland Development Tbk.

Nama pertama bahkan sudah lebih dulu mencuri start dengan pembangunan integral Thamrin City  berdimensi 20 Ha. Berkongsi dengan BUMD Jakarta Propertindo, Grup Agung Podomoro mendirikan  PT Jakarta Realty. Mereka menawarkan Thamrin Residence, Jakarta Residence, Cosmo Terrace dan pusat perdagangan Jakarta City Center yang berisi 9.000 kios serta Thamrin Office Park.

Tak puas mengokupasi lahan seluas itu, klan properti milik taipan Trihatma K Haliman juga menguasai lahan seluas lebih kurang 5 Ha untuk dibangun  Pasar Tanah Abang Blok A dan B. Di sini mereka menggaet Grup Priamanaya membentuk PT Putra Pratama Sukses. Blok A merupakan wajah baru dari pasar Tanah Abang yang terbakar beberapa tahun silam, dan dirancang kembali dengan desain modern. Beroperasi sejak 2004. Saat ini harga per unit kiosnya di lokasi premium, mencapai Rp1 miliar untuk ukuran terkecil yakni 9 m2. Harga lebih rendah yakni berkisar Rp600 juta-700 juta, untuk kios di lantai lebih tinggi. Ada pun status kepemilikan kios-kios tersebut adalah hak pakai selama 20 tahun. Meski begitu, peminatnya luar biasa banyak.

Sementara Blok B yang menghimpun 3.000 kios dan hingga kini masih dipasarkan, harganya telah mencapai Rp1,8 miliar/unit. Sepintas, memang tak masuk akal. Namun, berhubung tingginya real demand yang kurang diimbangi dengan pasok memadai, membuat harga semakin tak terkendali.

Dalam skenario besar Pemda DKI Jakarta, blok-blok lainnya di pasar ini, C hingga F, akan disulap menjadi pusat perdagangan lebih modern. Digenapi infrastruktur, fitur dan sistem keamanan bangunan gedung yang lebih memadai. Sehingga dapat menunjang kegiatan para pedagang dan pebisnis. Pasar Tanah Abang, dirancang sebagai sentra bisnis dan perdagangan dengan atmosfer mekanis yang otomatis. Para pedagang nantinya bisa berinteraksi secara online dengan komunitas internasional baik untuk keperluan pengembangan investasi, ekspansi bisnis maupun impor-ekspor. Sebuah konsep yang sejatinya pernah diadopsi oleh WTC Mangga Dua milik Grup Djarum.

Lain lagi dengan dua pengembang yang disebut terakhir. Mereka justru akan mulai mengerjakan land bank-nya ini dalam beberapa tahun ke depan. PT Bakrieland Development Tbk yang punya konsesi lahan selapang 25 Ha persis berseberangan dengan aset Grup Lyman, lebih dulu merampungkan pengembangan megablok Rasuna Epicentrum, Kuningan, Jakarta Selatan. Sementara PT Intiland Development Tbk akan memulai pengembangan mixed use development yang terdiri atas hotel, apartemen, kantor dan pusat belanja di atas lahan seluas 10 Ha, pada tahun 2012. “Lahannya sudah kami bebaskan. Tinggal dibangun,” ujar Executive Director Business and Development PT Intiland Development Tbk, Utama Gondokusumo. Lahan koleksi mereka ini berada tepat di sebelah kanan belakang portofolio multiguna Grup Djarum, Grand Indonesia.

Jelas, partisipasi aktif kelompok pengembang besar ini telah mendongkrak prestis Tanah Abang. Nilai tanah dan propertinya meroket tajam. Lahan di Jl. Fakhrudin yang merupakan jalan utama di kawasan ini, contohnya, telah menembus angka Rp7 juta hingga Rp25 juta/m2. Mengalahkan harga jual lahan di tempat elit, Menteng, Jakarta Pusat. Contohnya, di Jl Teuku Umar dan Imam Bonjol yang masih berkutat pada angka Rp7 juta hingga Rp15 juta/m2. Namun demikian, bagi Anda yang kepincut ikut berinvestasi di Tanah Abang dengan dana terbatas, bisa mendapatkan lahan dengan harga lebih rendah, yakni di Petojo dan Jl. Kesehatan seharga antara Rp4,5 juta hingga 6,5 juta/m2

Bagaimana dengan nilai propertinya? Jangan ditanya. Apartemen Boulevard yang berlokasi di ujung Jl Fakhrudin, tipe terkecilnya yakni ukuran 45 m2 sudah mencapai Rp875 juta. Nyaris sekelas dengan  Sahid Sudirman Residence di bibir Jl. Jendral Sudirman yang mematok Rp900 juta untuk tipe 40 m2.

Transformasi Tanah Abang dalam beberapa tahun terakhir ini seakan menjadi kompas efektif bagi para pebisnis maupun investor dalam membuat sebuah keputusan. Menurut Associate Director Research and Advisory Cushman and Wakefield Indonesia, Arief Rahardjo, beberapa opsi investasi baik di sektor jasa, perdagangan maupun bisnis properti sendiri akan terus hidup bahkan jika semua rencana pengembangan terealisasi, aktifitas perekonomian (terutama sektor riil) Jakarta khususnya dan Indonesia bisa teraglomerasi di sini. Selain sudah ‘jadi’ sejak lama, juga relatif tak tersaingi.

Elang Gumilang, Benderang Di Antara Sejuta Bintang

Banalitas dalam konstelasi bisnis, bisa dipersepsikan sebagai hambatan yang dilakukan secara sengaja oleh pihak-pihak yang memandang rendah pihak lain untuk bergerak maju. Dunia bisnis yang banal, dalam perspektif Elang Gumilang, justru wahana paling representasif yang dapat menempa tekad, lebih jauh lagi, keyakinan seseorang untuk keluar dari zona kenyamanannya.

Siapa yang tak kenal Elang Gumilang? Dalam usianya yang relatif belia, 25 tahun, ia patut menjadi teladan. Dia kini memiliki holding company (Elang Group) yang menaungi dua perusahaan inti; PT Elang Semestaguna dan PT BILD Consulting. Yang pertama bergerak di sektor properti, lainnya perencanaan wilayah, konstruksi, arsitektur bangunan hingga pertambangan. Sebelum menjelma sebagai ‘seleb’ properti yang amat popular di dunia kewirausahaan, pengantin muda ini, kerap mengalami kekerasan sosial. Berupa pandangan rendah dari lingkungan bisnis yang merupakan dunia aktualnya, proses birokrasi yang berbelit dan rumit, serta tudingan yang melecehkan lainnya.

Tak cuma itu, kekerasan finansial pun sempat menghampiri Elang, ketika dia berusaha mendapatkan dukungan dana untuk merealisasikan mimpi besarnya membangun hunian bagi masyarakat berpenghasilan minimal. Tahun 2007, saat lulusan Institut Pertanian Bogor ini mengembangkan portofolio perdananya, Griya Salak Endah I, ia tak dipercaya lembaga keuangan modern. Jalan pintasnya, dan hingga kini terekam dengan sempurna dalam memorinya, mengumpulkan uang dari sejumlah sahabat dan kerabat.

“Modal pertama saya sebesar Rp340 juta. Itu sangat besar artinya. Dengan uang sejumlah itu, saya bisa membangun hunian tempat berlindung para pedagang, rekan mahasiswa maupun masyarakat lain yang tak memiliki akses perbankan,” kenang Elang.

Harga rumah yang dijualnya saat itu, sekitar Rp22 juta-40 juta per unit. Uang muka yang dikenakan hanya Rp1,2 juta dengan cicilan per bulan sekitar Rp89 ribu. Sungguh, numeral yang niscaya akan membuat kita tercengang. Di saat pengembang lain berjibaku meraup marjin keuntungan maksimal, Elang justru mengoposisikan dirinya.

Dus, harga jual bisa ditekannya serendah mungkin, karena ternyata Elang memiliki keahlian mengkalkulasi biaya konstruksi secara otodidak. Dari pembelajaran secara alamiah itu, Elang kemudian mengerjakan sendiri proyek propertinya.

“Dengan harga serendah itu saja, masih banyak yang belum lunas, apalagi kalau saya jual dengan harga jauh di atas itu? Saya tidak ingin menyita rumah atau memberikan penalti kepada mereka yang pada saat itu belum mampu melunasi kreditnya. Karena saya tahu, itu sangat memberatkan dan membuat mereka lebih menderita,” ucapnya seraya mengungkapkan lebih baik dirinya yang mengambil tanggung jawab dan membebaskan konsumen yang bersangkutan untuk mencicil sesuai kemampuan.

Jelas, apa yang selama ini dilakukannya, dalam kategori tertentu memenuhi standar syariah sebagai konsep hidupnya, yang tidak mengenal penalti atau sita jaminan. “Sangat tidak adil jika konsumen sudah membayar sesuai kemampuannya dan mengalami masalah dengan pembayaran cicilan berikutnya yang jatuh tempo, harus pula dipaksa melepaskan aset primernya yang telah dibayar sebagian dengan susah payah,” imbuh Elang. Untuk itulah, dia tidak serta merta menerima tawaran beberapa bank syariah yang deras melirik pasca keberhasilannya mewujudkan Griya Salak Endah I dan Bukit Warna Sari Endah (Kabupaten Bogor), dengan alasan perbedaan pemahaman dan implementasi.

Hingga saat ini, Elang Group memiliki delapan portofolio properti dengan landbank sekitar 50 Ha. Satu di antaranya merupakan ruang komersial (Pasar Dramaga) sebanyak 150 unit kios yang dijualnya kepada para pedagang hanya Rp35 juta. Dan, sekali lagi, Elang melakukan pendekatan sosial yang sangat persuasif terhadap captive market tradisionalnya, para pedagang, dengan hanya mengutip uang Rp35 ribu/hari. “Saya bekerja sama dengan Kelurahan dan merangkul pemuka setempat. Memang sangat konvensional, tapi hasilnya efektif,” ungkap Juara I Wirausaha Muda Mandiri (2007)

Menarik memang mendengarkan tuturan kisah hidup pengagum begawan properti Ciputra ini. Lembaran sejarahnya yang sangat berwarna dan dinamis itu, diawali dengan berdagang produk makanan sejak SMA, mencuatkan inspirasi bagi kalangan muda untuk tidak menyerah dalam berkarya. Apresiasi berupa Top Youth Enterpreuner versi Warta Ekonomi (2008); Man of the Year 2008 versi Grup Jawa Pos; dan Juara Lelaki Sejati Pengobar Inpirasi 2009 versi Bentoel, hanyalah bonus ekstra atas tekad kuat, motivasi luhur dan kesetiaannya membangun rumah untuk masyarakat marjinal.

Filosofi bisnisnya yang mengombinasikan tiga aspek (triple track) yaitu: ekonomi, sosial, dan lingkungan, telah menuntunnya menjadi pelita yang berbeda di antara para bintang yang juga menorehkan prestasi serupa.

Green Lake Sunter, Bersaing Ketat Dengan Harga Bersahabat

Dalam fatsoen klasik properti, lokasi adalah hal terpenting dan sangat vital. Jadi, ketika mendapati sebuah advertensi properti yang menawarkan lokasi sebagai ‘jualan’nya, dapat dimafhumi. Namun, apakah lokasi merupakan faktor yang paling menentukan? Lokasi memang erat kaitannya dengan tingkat penjualan. Akan tetapi,  apakah korelasinya selalu positif dengan kesuksesan sebuah proyek? Variabel sukses di sini ditentukan oleh tingkat serapan pasar dan proyek rampung terbangun. Jawaban realistisnya, belum tentu.

Konstatasi bisnis dan industri properti di Indonesia, segalibnya juga di negara manapun di dunia, adalah refleksi pembelajaran yang sangat panjang dan amat mahal. Kurun pra krisis 1997-1998, tak terhitung proyek-proyek yang menegasikan unsur vital lokasi. Para pengembang justru berpacu membangun proyek baru di kawasan yang juga baru dengan skala raksasa. Kota Kekerabatan Maja, Banten,  Permata Sentul dan Bukit Hambalang, (Bogor, Jawa Barat) sekadar menyebut contoh. Dimensi lahannya, luas bukan kepalang. Prestasi penjualannya, mencengangkan. Laris bak gorengan pinggir jalan. Beberapa rumah, sempat terbangun. Namun, dalam perjalanannya kemudian, proyek-proyek itu tak (akan) pernah bisa tuntas.

Apakah faktor lokasi bisa dituding sebagai kambing hitam kegagalan proyek-proyek itu? Kalau kita menggunakan pisau analisa modern, itu jelas bukanlah satu-satunya faktor yang menentukan keberhasilan sebuah proyek. Apartemen Dukuh Golf di Kemayoran, Jakarta Pusat, yang notabene di tengah kota dan mudah dijangkau, pun mangkrak. Kalau tidak mau dikatakan tinggal ‘situs’ sejarah.

Trihatma K Haliman (chairman APG), Candra Ciputra (Direktur Ciputra Group), maupun Alexander Tedja (chairperson Pakuwon Group), pernah berujar, lokasi memang sangat penting tapi bukan hal yang paling menentukan. Kontinuitas pengembangan, komitmen, dedikasi serta konstruksi finansial, adalah elemen yang saling memperkuat dan berkontribusi signifikan terhadap kesuksesan sebuah proyek. Betapa Pakuwon Group sempat diterpa kesulitan hingga pengembangan Gandaria City dan Kota Kasablanka  mengalami kevakuman. Namun, karena empat elemen tadi plus kerja keras mereka, kedua proyek tersebut terus dilanjutkan. Bahkan Gandaria City akan segera beroperasi.

Begitupula dengan Grup Agung Podomoro. Bedanya, kelompok usaha ini, tak harus berjibaku dengan konstruksi finansialnya. Karena mereka, dalam sejarahnya, relatif prestatif dalam penjualan. Sehingga konstruksi finansial dengan rumus 40% dari pinjaman bank, 30% ekuitas perusahaan dan 30% penjualan yang lazim diadopsi pengembang, realitasnya bisa terbalik. Pinjaman bank dan atau ekuitas internal, seperti dikatakan Indra W Antono, Direktur Marketing APG, tak pernah digunakan jika tidak mendesak. “Produk kami affordable. Harga kompetitif, lokasi bagus, fasilitas lengkap dan konsep unik. Itu yang membuat konsumen tertarik membeli,” ujar Indra saat soft opening Central Park, Podomoro City beberapa waktu lalu.

Rumus serupa pula yang diterapkan pada produk anyar APG, Green Lake Sunter. Di sini, APG bakal menyulap fasilitas umum (olahraga) perumahan Sunter Podomoro, Sunter, Jakarta Utara yang berukuran 4,5 Ha, menjadi mixed use development. Lokasinya dikelilingi perumahan mewah, seperti Sunter Podomoro, dengan berbagai fasilitas eksisting yang terbilang lengkap. Sebut saja, sekolah, rumah ibadah, rumah sakit, pusat belanja, hotel, sarana olahraga, dan lain sebagainya. Aksesibilitas menuju proyek ini pun terhitung memadai dan terbuka. Bisa dijangkau dari berbagai arah baik melalui jalur bebas hambatan maupun jalur reguler dengan pilihan moda transportasi yang variatif.

APG merancang Green Lake Sunter dengan klaim pengembangan hijau yang maksimal. Direktur Marketing Green Lake Sunter, Dewi Jono mengatakan, keunikan proyek ini dibanding portofolio lain milik APG adalah komitmen untuk serasi dengan lingkungan sekitar. “Danau Sunter yang berhadap dengan proyek kami menjadi added value. Kami menyesuaikan pengembangan dengan kondisi riil di lapangan. Itulah mengapa, label proyek ini dinamakan Green Lake,” ujarnya.

Green Lake Sunter rencananya dibangun dalam dua tahap pengembangan. Tahap pertama dua tower apartemen, masing-masing 800 unit dari total 3.200 unit dalam empat tower. Nama hunian jangkung ini diambil dari keberadaan danau Sunter seperti Southern Lake dan Northern Lake. Terdiri atas tiga unit tipikal; luas 17,47 m2, 18,37 m2, dan 36,14 m2. Ketiga tipe unit ini ditawarkan dengan gimmick penawaran hadap danau, kebun, kolam renang dan laut. Sehingga harganya pun berbeda-beda. Dimulai dari Rp160 juta sampai 450 juta per unit.

Kendati harganya relatif ramah pasar Rp9 juta/m2, karenanya dapat dikategorikan sebagai apartemen murah, Green Lake Sunter akan memasuki kompetisi sengit. Strategi APG yang ingin mengulang keberhasilan portofolio serial Mediterrania-nya dengan penawaran harga perdana murah, lokasi di dalam kota dan fasilitas memadai, atau setidaknya dekat dengan fasilitas eksisting, kali ini tak akan begitu saja berjalan mulus.

Di kawasan sekitarnya, terdapat rival yang siap menghadang dengan sajian seragam. Apalagi kalau yang menjadi variabel komparasi adalah harga. Sebut saja d’Green Pramuka Residences yang dibangun PT Duta Paramindo Sejahtera, Green Park Apartment milik PT….. dan Gading Icon-nya PT Mahardhika Propertindo. Semuanya menyasar kelas menengah bawah dengan harga lebih rendah, dimulai  Rp120 juta dengan luas unit lebih besar yakni sekitar 24 m2. Bahkan, ketiga proyek yang disebut terakhir ini memiliki keunggulan non teknis yang mencolok, berada di pinggir jalan raya. Sementara Green Lake Sunter, justru di dalam kawasan perumahan.

Kompetitor lain yang potensial membendung hasrat konsumen melirik Green Lake Sunter adalah saudara kandungnya sendiri yakni Gading Nias Residences. Kendati sudah rampung pembangunannya, namun pemasaran publik masih aktif dilakukan. Lokasinya memang berada di dalam kawasan Kelapa Gading, namun dengan harga aktual, diyakini dapat mengganggu market yang dibidik Green Lake Sunter.

Meski begitu, Dewi optimis, proyek yang dijadwalkan serah terima mulai 2012 ini bakal mendapat sentimen positif. “Ini karena konsep pengembangannya mixed use. Berbeda dengan kompetitor yang hanya mengandalkan hunian. Kami juga sudah memiliki captive market yakni konsumen yang sudah pernah membeli dan memiliki produk APG,” imbuhnya.

Selain hunian, APG juga bakal melengkapinya dengan hotel bintang tiga, lifestyle mall dengan penekanan pada tenan-tenan hiburan dan makanan seperti sinema, kafe,  restoran, pusat kebugaran,  dan  wedding ballroom yang masuk dalam pengembangan tahap II.  Ada pun fasilitas penunjang aktifitas penghuni antara lain arena bermain anak tematik, jalur jogging, shopping arcade dan sarana olahraga seperti lapangan futsal, tenis dan bulutangkis.

Bagi konsumen yang terlalu cerewet (kritis) akan artistika dan estetika fasad atau arsitektural bangunan, sepertinya belum dapat berharap banyak. Karena toh, seperti kata Dewi, pihaknya tidak akan bergenit-genit dengan tampilan luar yang ujung-ujungnya hanya akan membenani konsumen dengan harga yang lebih tinggi. “Kami melakukan optimalisasi di segala bidang, tak cuma lahan, juga desain bangunan. Sehingga produk yang kami hasilkan sangat efektif, dan turn over-nya (diharapkan, red)cepat,” lanjut Dewi.