Elang Gumilang, Benderang Di Antara Sejuta Bintang

Banalitas dalam konstelasi bisnis, bisa dipersepsikan sebagai hambatan yang dilakukan secara sengaja oleh pihak-pihak yang memandang rendah pihak lain untuk bergerak maju. Dunia bisnis yang banal, dalam perspektif Elang Gumilang, justru wahana paling representasif yang dapat menempa tekad, lebih jauh lagi, keyakinan seseorang untuk keluar dari zona kenyamanannya.

Siapa yang tak kenal Elang Gumilang? Dalam usianya yang relatif belia, 25 tahun, ia patut menjadi teladan. Dia kini memiliki holding company (Elang Group) yang menaungi dua perusahaan inti; PT Elang Semestaguna dan PT BILD Consulting. Yang pertama bergerak di sektor properti, lainnya perencanaan wilayah, konstruksi, arsitektur bangunan hingga pertambangan. Sebelum menjelma sebagai ‘seleb’ properti yang amat popular di dunia kewirausahaan, pengantin muda ini, kerap mengalami kekerasan sosial. Berupa pandangan rendah dari lingkungan bisnis yang merupakan dunia aktualnya, proses birokrasi yang berbelit dan rumit, serta tudingan yang melecehkan lainnya.

Tak cuma itu, kekerasan finansial pun sempat menghampiri Elang, ketika dia berusaha mendapatkan dukungan dana untuk merealisasikan mimpi besarnya membangun hunian bagi masyarakat berpenghasilan minimal. Tahun 2007, saat lulusan Institut Pertanian Bogor ini mengembangkan portofolio perdananya, Griya Salak Endah I, ia tak dipercaya lembaga keuangan modern. Jalan pintasnya, dan hingga kini terekam dengan sempurna dalam memorinya, mengumpulkan uang dari sejumlah sahabat dan kerabat.

“Modal pertama saya sebesar Rp340 juta. Itu sangat besar artinya. Dengan uang sejumlah itu, saya bisa membangun hunian tempat berlindung para pedagang, rekan mahasiswa maupun masyarakat lain yang tak memiliki akses perbankan,” kenang Elang.

Harga rumah yang dijualnya saat itu, sekitar Rp22 juta-40 juta per unit. Uang muka yang dikenakan hanya Rp1,2 juta dengan cicilan per bulan sekitar Rp89 ribu. Sungguh, numeral yang niscaya akan membuat kita tercengang. Di saat pengembang lain berjibaku meraup marjin keuntungan maksimal, Elang justru mengoposisikan dirinya.

Dus, harga jual bisa ditekannya serendah mungkin, karena ternyata Elang memiliki keahlian mengkalkulasi biaya konstruksi secara otodidak. Dari pembelajaran secara alamiah itu, Elang kemudian mengerjakan sendiri proyek propertinya.

“Dengan harga serendah itu saja, masih banyak yang belum lunas, apalagi kalau saya jual dengan harga jauh di atas itu? Saya tidak ingin menyita rumah atau memberikan penalti kepada mereka yang pada saat itu belum mampu melunasi kreditnya. Karena saya tahu, itu sangat memberatkan dan membuat mereka lebih menderita,” ucapnya seraya mengungkapkan lebih baik dirinya yang mengambil tanggung jawab dan membebaskan konsumen yang bersangkutan untuk mencicil sesuai kemampuan.

Jelas, apa yang selama ini dilakukannya, dalam kategori tertentu memenuhi standar syariah sebagai konsep hidupnya, yang tidak mengenal penalti atau sita jaminan. “Sangat tidak adil jika konsumen sudah membayar sesuai kemampuannya dan mengalami masalah dengan pembayaran cicilan berikutnya yang jatuh tempo, harus pula dipaksa melepaskan aset primernya yang telah dibayar sebagian dengan susah payah,” imbuh Elang. Untuk itulah, dia tidak serta merta menerima tawaran beberapa bank syariah yang deras melirik pasca keberhasilannya mewujudkan Griya Salak Endah I dan Bukit Warna Sari Endah (Kabupaten Bogor), dengan alasan perbedaan pemahaman dan implementasi.

Hingga saat ini, Elang Group memiliki delapan portofolio properti dengan landbank sekitar 50 Ha. Satu di antaranya merupakan ruang komersial (Pasar Dramaga) sebanyak 150 unit kios yang dijualnya kepada para pedagang hanya Rp35 juta. Dan, sekali lagi, Elang melakukan pendekatan sosial yang sangat persuasif terhadap captive market tradisionalnya, para pedagang, dengan hanya mengutip uang Rp35 ribu/hari. “Saya bekerja sama dengan Kelurahan dan merangkul pemuka setempat. Memang sangat konvensional, tapi hasilnya efektif,” ungkap Juara I Wirausaha Muda Mandiri (2007)

Menarik memang mendengarkan tuturan kisah hidup pengagum begawan properti Ciputra ini. Lembaran sejarahnya yang sangat berwarna dan dinamis itu, diawali dengan berdagang produk makanan sejak SMA, mencuatkan inspirasi bagi kalangan muda untuk tidak menyerah dalam berkarya. Apresiasi berupa Top Youth Enterpreuner versi Warta Ekonomi (2008); Man of the Year 2008 versi Grup Jawa Pos; dan Juara Lelaki Sejati Pengobar Inpirasi 2009 versi Bentoel, hanyalah bonus ekstra atas tekad kuat, motivasi luhur dan kesetiaannya membangun rumah untuk masyarakat marjinal.

Filosofi bisnisnya yang mengombinasikan tiga aspek (triple track) yaitu: ekonomi, sosial, dan lingkungan, telah menuntunnya menjadi pelita yang berbeda di antara para bintang yang juga menorehkan prestasi serupa.

Iklan

4 Tanggapan

  1. Membangun jiwa wirausaha mandiri, merupakan modal awal untuk sukses.

  2. kapan ya kami dimataram ntb ada bisa kebagian…..

  3. Jejak yang sangat bagus bang,,,kalau bole saya ingin bertemu dan minta pendapat dari abang,,saya punya ide ingin mengembangkannya dengan abang di daerah sumatra utara,ketepatan saya jurusan teknik sipil di politeknik universitas indonesia.
    Saya ingin bekerjasama dengan abang.

    Tks.
    Jennifer Jopanri Silalahi

  4. saya agus dari purwokerto jawa tengah,,mndngar kisah anda hti sya bnar-bnar jdi trgugah,slma ini sya sring skli berangan-angan ingin mnjdi sukses sperti anda,tpi sya jg mengalami ksulitan dlam hal keuangannya,,krna smua itu btuh modal…sya jg sdah cri pnjman ksna kmri untk mnjalankan keinginan sya untuk brbisnis,,akan ttapi sma skli tidak ada hsil….kalau pak elang berkenan sya ingin skali brgabung diprusahaan yang saat ini sdang bpak kelola…dan kalau pak elang mngijinkan sya siap kpanpun pak ellang sruh sya datang diprusahaan bpak,,bpak tinggal menghubungi sya ke no.ini 087737566963….trmaksih.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: