Tanah Abang Disunting Banyak Pengembang

Segelintir saja yang tidak mafhum dengan Tanah Abang. Ya, kawasan ini tak hanya masyhur di dalam negeri, juga mancanegara seperti Asia dan Timur Tengah. Tanah Abang tersohor karena keberadaan pasar Tanah Abang yang merupakan sentra transaksi tekstil dan busana siap pakai. Sekadar informasi, pasar ini dibangun berbarengan dengan Pasar Senen pada 1735 oleh regim VOC pimpinan Justin Vinck.

Penyebutan label Tanah Abang sendiri berasal saat pasukan Kerajaan Mataram pimpinan Sultan Agung  menyerbu Batavia pada 1628 dan bermarkas di sini. Karena tanahnya merah (abang), prajurit-prajurit Mataram menyebutnya Tanah Abang. Bagaimana pertumbuhannya kini? Transformasi apa yang sudah terjadi di sini?

Tanah Abang aktual adalah kawasan yang sangat dinamis, terbuka dan tentu saja menawarkan gula-gula kehidupan, terutama bisnis dan perdagangan komoditas tekstil. Seiring aktifitas transaksi yang begitu pesat, rekor terakhir perputaran uang mencapai Rp1 triliun/hari, permintaan akan ruang ritel pun berkembang linear. Galib, jika pada akhirnya, kawasan seluas hampir 1000 hektar itu sesak oleh pengembangan ruang ritel dan komersial. Tak hanya itu, korelasi positif juga terjadi pada permintaan fasilitas akomodasi dan hunian. Ini karena para pelaku bisnis dan perdagangan yang berasal dari berbagai daerah dan luar Negara, membutuhkan tempat untuk sekadar transit atau mengadakan meeting.

Dikomparasikan dengan kawasan bisnis dan perdagangan lainnya di Jakarta, Tanah Abang lebih unik dan istimewa. Lokasinya, persis di sentra Jakarta dengan aksesibilitas luar biasa. Hanya sepelemparan batu dari kawasan niaga terpadu Thamrin dan Sudirman serta bisa dicapai dengan moda transportasi massal sekali pun. Dengan segala kelebihan itu, jelas menstimuli para pengembang berpacu menggarap pasar wilayah ini. Terutama di area sekitar Waduk Melati. Di sini, terdapat enklav-enklav pengembangan raksasa milik kelompok developer kakap macam Grup Agung Podomoro, Bakrieland Development dan PT Intiland Development Tbk.

Nama pertama bahkan sudah lebih dulu mencuri start dengan pembangunan integral Thamrin City  berdimensi 20 Ha. Berkongsi dengan BUMD Jakarta Propertindo, Grup Agung Podomoro mendirikan  PT Jakarta Realty. Mereka menawarkan Thamrin Residence, Jakarta Residence, Cosmo Terrace dan pusat perdagangan Jakarta City Center yang berisi 9.000 kios serta Thamrin Office Park.

Tak puas mengokupasi lahan seluas itu, klan properti milik taipan Trihatma K Haliman juga menguasai lahan seluas lebih kurang 5 Ha untuk dibangun  Pasar Tanah Abang Blok A dan B. Di sini mereka menggaet Grup Priamanaya membentuk PT Putra Pratama Sukses. Blok A merupakan wajah baru dari pasar Tanah Abang yang terbakar beberapa tahun silam, dan dirancang kembali dengan desain modern. Beroperasi sejak 2004. Saat ini harga per unit kiosnya di lokasi premium, mencapai Rp1 miliar untuk ukuran terkecil yakni 9 m2. Harga lebih rendah yakni berkisar Rp600 juta-700 juta, untuk kios di lantai lebih tinggi. Ada pun status kepemilikan kios-kios tersebut adalah hak pakai selama 20 tahun. Meski begitu, peminatnya luar biasa banyak.

Sementara Blok B yang menghimpun 3.000 kios dan hingga kini masih dipasarkan, harganya telah mencapai Rp1,8 miliar/unit. Sepintas, memang tak masuk akal. Namun, berhubung tingginya real demand yang kurang diimbangi dengan pasok memadai, membuat harga semakin tak terkendali.

Dalam skenario besar Pemda DKI Jakarta, blok-blok lainnya di pasar ini, C hingga F, akan disulap menjadi pusat perdagangan lebih modern. Digenapi infrastruktur, fitur dan sistem keamanan bangunan gedung yang lebih memadai. Sehingga dapat menunjang kegiatan para pedagang dan pebisnis. Pasar Tanah Abang, dirancang sebagai sentra bisnis dan perdagangan dengan atmosfer mekanis yang otomatis. Para pedagang nantinya bisa berinteraksi secara online dengan komunitas internasional baik untuk keperluan pengembangan investasi, ekspansi bisnis maupun impor-ekspor. Sebuah konsep yang sejatinya pernah diadopsi oleh WTC Mangga Dua milik Grup Djarum.

Lain lagi dengan dua pengembang yang disebut terakhir. Mereka justru akan mulai mengerjakan land bank-nya ini dalam beberapa tahun ke depan. PT Bakrieland Development Tbk yang punya konsesi lahan selapang 25 Ha persis berseberangan dengan aset Grup Lyman, lebih dulu merampungkan pengembangan megablok Rasuna Epicentrum, Kuningan, Jakarta Selatan. Sementara PT Intiland Development Tbk akan memulai pengembangan mixed use development yang terdiri atas hotel, apartemen, kantor dan pusat belanja di atas lahan seluas 10 Ha, pada tahun 2012. “Lahannya sudah kami bebaskan. Tinggal dibangun,” ujar Executive Director Business and Development PT Intiland Development Tbk, Utama Gondokusumo. Lahan koleksi mereka ini berada tepat di sebelah kanan belakang portofolio multiguna Grup Djarum, Grand Indonesia.

Jelas, partisipasi aktif kelompok pengembang besar ini telah mendongkrak prestis Tanah Abang. Nilai tanah dan propertinya meroket tajam. Lahan di Jl. Fakhrudin yang merupakan jalan utama di kawasan ini, contohnya, telah menembus angka Rp7 juta hingga Rp25 juta/m2. Mengalahkan harga jual lahan di tempat elit, Menteng, Jakarta Pusat. Contohnya, di Jl Teuku Umar dan Imam Bonjol yang masih berkutat pada angka Rp7 juta hingga Rp15 juta/m2. Namun demikian, bagi Anda yang kepincut ikut berinvestasi di Tanah Abang dengan dana terbatas, bisa mendapatkan lahan dengan harga lebih rendah, yakni di Petojo dan Jl. Kesehatan seharga antara Rp4,5 juta hingga 6,5 juta/m2

Bagaimana dengan nilai propertinya? Jangan ditanya. Apartemen Boulevard yang berlokasi di ujung Jl Fakhrudin, tipe terkecilnya yakni ukuran 45 m2 sudah mencapai Rp875 juta. Nyaris sekelas dengan  Sahid Sudirman Residence di bibir Jl. Jendral Sudirman yang mematok Rp900 juta untuk tipe 40 m2.

Transformasi Tanah Abang dalam beberapa tahun terakhir ini seakan menjadi kompas efektif bagi para pebisnis maupun investor dalam membuat sebuah keputusan. Menurut Associate Director Research and Advisory Cushman and Wakefield Indonesia, Arief Rahardjo, beberapa opsi investasi baik di sektor jasa, perdagangan maupun bisnis properti sendiri akan terus hidup bahkan jika semua rencana pengembangan terealisasi, aktifitas perekonomian (terutama sektor riil) Jakarta khususnya dan Indonesia bisa teraglomerasi di sini. Selain sudah ‘jadi’ sejak lama, juga relatif tak tersaingi.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: