Jalur Mulus Meraup Fulus

Pembangunan infrastruktur berupa jalan bebas hambatan yang tengah giat direalisasikan, dapat mengubah sebuah rencana pengembangan strategis para pelaku bisnis dan industri properti. Betapa tidak, postulat bahwa jalur tol akan menjadi stimulan efektif bagi percepatan pertumbuhan perekonomian, dalam perspektif tata ruang dan urban development, memang terkonfirmasi positif. Ditandai saratnya aktifitas pembangunan fisik.

Direktur Proyek PT Bakrie Pangripta Loka (anak usaha PT Bakrieland Development), pengembang Sentra Timur Residences, Djafarullah, mengakuinya. ”Masterplan proyek kami terbuka untuk berubah disesuaikan dengan kondisi aktual yang semakin dinamis. Terutama terkait dengan rencana pemerintah yang menggenjot pengembangan infrastruktur jalan berikut fasilitas umum penunjangnya,” ungkapnya.

Jalan tol disepakati merupakan kartu masuk bagi investasi properti untuk berbiak dan berkembang maksimal sesuai ekspektasi. Ilustrasi faktual diperlihatkan oleh kawasan-kawasan pengembangan lama. Sebut saja Sentul City dan Kota Wisata. Portofolio residensial milik PT Sentul City Tbk dan Grup Duta Pertiwi itu, dibangun pasca beroperasinya jalan tol Jagorawi. Mereka memanfaatkan akses langsung menuju Babakan Madang (lokasi administratif Sentul City berada) dan Cibubur-Cileungsi. Dengan fitur seperti itu, kedua pengembang tersebut menjadi percaya diri untuk mengklaim properti mereka memiliki nilai lebih.

Begitu kuat daya tariknya, lebih jauh lagi, telah mampu  ’memaksa’ pengembang mengikuti rencana jalur pembangunan jalan bebas hambatan. “Selain membantu mempersingkat waktu tempuh, karenanya jarak tidak menjadi masalah, juga terkait erat dengan aksesibilitas. Semakin aksesibel, akan kian besar peluang sebuah pengembangan properti meraup kesuksesan. In term of nett take up,” ujar Ali Hanafia, Member Broker Century21 Pertiwi.

Aksesibilitas memang menjadi pertimbangan konsumen dalam membeli properti yang dekat dengan jalan tol. Selama problem kemacetan lalu-lintas masih menjadi momok  warga Jabodetabek, selama itu pula permintaan terhadap properti di sekitar jalan tol akan terus meningkat dan harganya merangkak naik. Tidak heran bila kemudian para pengembang berupaya menjadikan akses tol sebagai gimmick dari properti yang mereka tawarkan.

Bukan sembarang gimmick memang. Karena magnitude kuat akses tol yang sudah beroperasi, dapat mendongkrak harga properti di sekitarnya, minimal 20%. Inilah nilai plus yang dicari pembeli properti, baik yang bermotif investasi atau untuk ditinggali. Jika ingin mendapatkan keuntungan nilai investasi yang lebih besar, disarankan untuk membeli sebelum jalan tol jadi. Sehingga saat jalan tol dibuka, properti yang dibeli harganya telah meningkat signifikan.

Kenaikan harga terbesar akan dirasakan oleh proyek properti yang paling dekat dengan akses masuk-ke luar tol (exit toll). Oleh karena itu, pilihlah properti yang paling dekat (paling jauh radius 5 kilometer) dengan akses masuk-ke luar tol sehingga mempersingkat jarak dan waktu tempuh. Namun jangan terlalu dekat juga karena tingkat polusi dan kebisingan dari kendaraan akan mengganggu kenyamanan.

Walau harus mengeluarkan dana yang tidak sedikit, para pengembang rela membuat akses tol langsung ke proyeknya. Bagi mereka, akses langsung ini merupakan cara paling mulus, yang potensial menambah pundi-pundi keuntungan karena tingkat penjualan akan  terdongkrak dan harga bakal meroket.

Seorang pebisnis asal Makassar yang kerap bertandang ke Jakarta bahkan langsung memutuskan membeli apartemen St. Moritz Penthouses and Residences yang berada di kawasan Puri Indah, Jakarta Barat. Setelah ia mengalami waktu tempuh hanya 15 menit dari Bandara Soekarno Hatta ke apartemen St. Moritz, melalui jalan tol JORR W1.

Deskripsi riil ini merepresentasikan betapa vitalnya keberadaan akses tol bagi peminat dan proyek properti itu sendiri. ”Kepadatan lalu lintas dan semrawutnya jalan arteri maupun jalur kolektor membuat jalan tol menjadi kebutuhan primer,” ujar Budhi Gozali, Direktur St Moritz Penthouses and Residences seraya mengatakan sebelum JORR W1 rampung, waktu tempuh dari Bandara Soekarno Hatta ke St. Moritz sekitar 40 menit sampai 1 jam.

Iklan

2 Tanggapan

  1. wah artikel yang sangat menarik mam hilda, bagaimana jika toll tersebut mengalami hambatan, seperti di janger yang selalu mengalami kepadatan, apakah turut menurunkan nilai jual sebuah properti/malah menaikkan? seperti yang kita tahu jika ingin berusaha, berusaha lah di daerah yang macet, sebab kemacetan menandakan banyaknya konsumen.

    • hahaha thanx….

      kepadatan adalah refleksi dari kehidupan (ekonomi) dan nilai properti tidak akan pernah turun (baik lahan maupun bangunan)….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: