Siapa Raja Properti Sesungguhnya? (2)*

*bagian kedua dari lima tulisan

Elty, secara sadar mengambil lebih banyak peran yang bisa dimainkan. Hiramsyah yang mengendalikan langkah Elty, mendapat porsi maksimal. Ia dengan lugas dan tangkas menciptakan kredo baru, ‘bahwa Elty dengan segala sumber dayanya, adalah kekuatan baru yang patut diwaspadai’. Bukan lagi pengembang medioker yang hanya mengandalkan kedekatan koneksi sang pemilik dengan kekuasaan. kendati yang terakhir ini masih sulit untuk dipisahkan.

Maka, berstrategilah mereka dengan menyinergikan antarunit bisnisnya. Seperti unit bisnis properti dengan jalan tol (Bakrie Toll Roads). Tentu, untuk saat ini, yang bisa melakukan hal tersebut cuma Elty. Sekelas Ciputra Group pun, belum bisa. Menjadi mudah kemudian mencari jawab, mengapa kini Elty seakan ada di mana-mana. Tidak saja di Jakarta, kiprahnya terendus hingga ke Surabaya, Sukabumi, Jonggol, Lombok, Balikpapan, Lampung, Medan. Bahkan kota kecamatan yang sama sekali tak terlintas dalam pikiran; Kanci dan Pejagan.

Elty berusaha menyelaraskan rencana strategis sektor properti dengan sarana jalan bebas hambatan. Di mana pemerintah bakal merancang jalan tol, di situlah mereka mendekat. Silogisme ini berkali-kali terbukti.Tak cuma Elty, para pengembang yang tajam mengendus peluang pun, melakukan hal yang sama.

Lippo Group, contohnya. Mereka jauh-jauh hari membeli 12 Ha lahan milik Pondok indah Group di SPBB seksi Puri. Di sini, pemerintah merencanakan JORR W-1 Kembangan-Kamal Muara dan JORR W-2 Kembangan-Ulujami. Rencana ini dibaca sebagai elevator berkembangnya SPBB, sehingga menambah nilai kawasan menjadi lebih strategis. Maka, diluncurkanlah St Moritz Penthouse and Residences.

Kendati bukan hal baru, tapi strategi mengikuti ke mana arah pengembangan tol tertuju, terbukti sangat efektif. Minat pasar membeli properti, salah satu motifnya adalah lokasi dan aksesibilitas.

Jadi, Elty dengan city properties-nya yang bikin mata terbelalak; Rasuna Epicentrum seluas 35 Ha, Kota Baru Perumnas (East Town) berdimensi 100 Ha, housing bertajuk Bogor Nirwana Resort, dan kelak Sentul City serta Jonggol Bukit Asri, dan tak ketinggalan hospitalities macam Pullman Legian Nirwana Resort, Krakatoa Nirwana Resort, cara mereka meneguhkan eksistensi.

Kontribusi Elty dalam total kapitalisasi properti Nasional per 2009 senilai Rp80 triliun, memang belumlah yang terbesar. mereka baru menyumbang 15% dari total kapitalisasi. namun begitu, jangan pernah meremehkan Elty. Militansi yang dimiliki sumber daya manusianya begitu kuat. dus, kemampuan dan keterampilan dalam segala hal, termasuk negosiasi, lobi tingkat tinggi, dan juga meracik finansial.

Bukan perkara gampang, mencari pengembang yang memiliki keunggulan sepadan dengan Elty. Kendati bertebaran nama-nama beken, tak seluruhnya dari mereka punya karakter yang layak dikategorikan sebagai kandidat raja properti. Dari yang sedikit itu, ada satu nama yang hingga kini selalu mendapat apresiasi. Tak lain dan tak bukan, adalah Ciputra Group.

Mengapa kelompok usaha milik begawan properti Ciputra, ini saya ulas tidak di awal?

Iklan

Ada Menara Tertinggi Di The City Center Batavia

Satrio International Shopping Belt. Ini nama gagah nan mentereng yang bakal tersemat pada Jl Prof. Dr. Satrio, Jakarta Selatan, jika seluruh superblok rampung pengembangannya. Saat ini, setidaknya ada tiga superblok yang sudah dan tengah dibangun, dengan magnitude pusat belanja. Mereka adalah Superblok Ambassador milik Duta Pertiwi Group, Kuningan City (PT Agung Podomoro Land/anak usaha APG), dan Ciputra World Jakarta/CWJ (PT Ciputra Property Tbk/Ciputra Group). Menyusul yang masih dalam rencana, Mega Kuningan City (PT Jakarta Setiabudi International Tbk). Keempatnya persis berada di sisi kiri dan kanan jalan.

Seiring respon positif pasar, tampaknya Satrio International Shopping Belt tak sebatas Jl Prof Dr Satrio semata. Dalam perspektif bisnis properti, jalur ini mengalami ‘pemekaran’ hingga Jl Kasablanka di sisi timur dan Jl Mas Mansyur di sebelah barat. Sehingga terbentuk poros Kasablanka-Satrio-Mas Mansyur. Para pengembang yang menggarap wilayah ini sangat sadar bahwa nama dagang Satrio International Shopping Belt adalah karpet merah menuju kompetisi bisnis properti sesungguhnya. Siapa yang bisa membangun properti di sini, secara otomatis juga membangun prestis dan masa depan.

APG yang pula membesut Sudirman Park serta Sahid Multi Pratama Gemilang, KSO Pikko Group dan Sahid Group yang menggarap Sahid Sudirman Residences, menuai kesuksesan. Sudirman Park yang berisi apartemen, ruko, pusat belanja citiwalk dan low rise offices terserap pasar nyaris sempurna. Tak hanya itu, tingkat okupansinya pun mendekati 80%. Begitu pula dengan Sahid Sudirman Residences. Sementara Pakuwon Group tengah membangun Kota Kasablanka (KK).

Hasrat menggebu para pengembang guna menggarap poros ini memang sangat beralasan. Salah satusanya dipicu oleh kondusifnya situasi pasar. Permintaan dan penawaran berada dalam posisi aman, setelah pertumbuhannya sempat melambat pada medio akhir 2008 dan semester pertama 2009 lalu. Kinerja Mal Kuningan City yang meski belum kelar, sudah tersewa 60% ruangnya, adalah bukti bahwa kawasan ini memang diminati.

Dikatakan Direktur Property Connection Indonesia (PCI), Rosaline Stella Lie, demand pusat belanja belum terpenuhi secara maksimal. “Untuk kawasan ini, pasok masih kurang. Padahal pasarnya luar biasa besar. Beberapa retailer terkemuka berencana membuka gerai baru. Seperti Lotte Mart, Ace Hardware, dan lain-lain,” ucap Rosaline.

Sama halnya dengan ruang perkantoran. Menurut CEO Leads Property Service Indonesia Hendra Hartono, permintaan ruang kantor berpotensi terus tumbuh hingga dua tahun mendatang. “Khusus kawasan ini, pertumbuhannya bisa mencapai 10%,” imbuhnya.

Motif berbasis menguatnya permintaan ruang kantor dan pusat belanja ini menjalari KG Global Development. Usai kisah keberhasilannya menelurkan The City Tower, di CBD Thamrin Jakarta, mereka mulai merealisasikan ekspansi usahanya ke kawasan Mas Mansyur. Agustus lalu, melalui anak usaha PT Greenwood Sejahtera, mengawali betonisasi perdana The City Center.

The City Center dirancang sebagai superblok yang mengadopsi konsep serupa di kota kota terkemuka di dunia. “Desain besarnya adalah world class one stop living; working, living dan entertaining. Ini pengembangan besar, karena itu kami persiapkan dengan matang. Kami memperhitungkan aktifitas bisnis, hiburan, akomodasi dan juga hunian yang begitu hidup dalam satu konfigurasi yang harmonis. Disesuaikan dengan proyeksi kondisi pasar atas permintaan dan pasok. Itulah mengapa kami baru melansirnya tahun ini,” buka Presiden Direktur KG Global Development, Harry Gunawan.

Guna mewujudkannya, KG Global Development membutuhkan lahan lumayan lapang. Sejak dua tahun lalu mereka secara bertahap mengakuisisi lahan milik PT Jababeka Tbk seluas 2,3 Ha dan sebagian besar sisanya milik penduduk setempat. Saat ini lahan yang sudah dikuasai baru 50% dari total kebutuhan 7,2-8 Ha.

Diferensiasi The City Center yang mencolok terletak pada bangunan hibrid yang menjulang dengan ketinggian 70 lantai. Mengombinasikan 35 lantai ruang perkantoran, 12 lantai hotel dan 25 lantai apartemen servis. Jika ini terbangun, maka menara ini kelak merupakan bangunan tertinggi di Indonesia yang selama ini rekornya masih dipegang Menara BNI 46.

Selain bangunan tersebut di atas yang masuk dalam pengembangan tahap akhir (III), The City Center akan berisi tiga menara perkantoran setinggi 41 lantai bertajuk Tower One. Dibangun pada fase awal. Dilanjutkan dengan mall-expo, convention center dan tiga menara apartemen pada fase kedua.

Untuk membangun fase pertama, dibutuhkan dana tak kurang dari Rp2,5 triliun. Nominal ini di luar harga lahan yang dipatok pada angka Rp8 juta-16 juta/m2. Nilai yang sangat besar, memang. Namun, KG Global Development tak merasa khawatir dengan kekokohan konstruksi pendanaannya. Sebab, mereka disokong oleh PaninBank.

Tidak seperti superblok umumnya yang memafhumkan efisiensi dan optimalisasi massa bangunan, setiap gedung di The City Center bersifat stand alone. Meski begitu gedung-gedung ini akan saling terkoneksi melalui akses yang nyaman berupa pedestrian nirpagar.

Gebrakan The City Center ini jelas mencuatkan sengitnya aroma kompetisi antarsuperblok. Meski dari sisi dimensi lahan, yang terbesar masih CWJ seluas 11 Ha, namun dari sisi akses, konsep, konten, kenyamanan dan juga kualitas produk, tak bisa diremehkan.

Apalagi jika yang dijadikan variabel daya saing adalah ketepatan waktu dalam merampungkan proyek. Keseluruhan pembangunan The City Center dijadwalkan selesai dalam lima tahun. Mereka membuat jadwal ketat untuk setiap tahap pembangunan. Tiga menara perkantoran pertama rencananya beroperasi pada kuartal ketiga 2012. Tahap kedua (Q313) dan terakhir (Q215).

Belum lagi harga jual. Sebagai komponen utama untuk terserap pasar, harga yang tepat adalah keharusan. Adagium, harga mencerminkan kualitas tampaknya berlaku di sini. Untuk gedung pertama Tower One yang separuhnya dipasarkan secara strata title, dipatok sebesar 2.000 dolar AS/m2. Lima puluh persen sisanya dan dua tower berikutnya disewakan dengan nilai 18 dolar AS/m2/bulan dengan service charge seharga Rp20.000/m2/bulan.

Sementara tiga tower kondominiumnya akan dijual seharga Rp20 juta/m2 dengan unit tipikal 2 kamar tidur. Lebih tinggi dari harga unit-unit Denpasar Residences di Kuningan City yang berada pada level Rp16 juta-17 juta/m2. Kendati sama-sama mengklaim diperuntukan bagi segmen atas.

Harga apartemen servisnya akan dimulai pada angka Rp30 juta/m2. Sangat tingi memang, mengingat pengelolanya setaraf dengan hotel bintang limanya yakni jaringan internasional (world wide) yang masih dalam tahap negosiasi. Jaringan operator ini bakal berhadapan frontal dengan Raffles Hotel and Residences yang mengelola hotel dan apartemen servis CWJ tahap I serta Frasser Suites di CWJ tahap II.

Namun begitu, tidak seperti superblok umumnya yang memafhumkan efisiensi dan optimalisasi massa bangunan, setiap gedung di The City Center bersifat stand alone. Mereka nantinya saling terkoneksi melalui akses yang nyaman berupa pedestrian nirpagar.

Masuk akal bila Ciputra Group dan Pakuwon Group menggeber pembangunan CWJ dan KK. Sebab, kedua proyek ini juga mengintegrasikan pusat belanja, perkantoran, apartemen, hotel dan auditorium. Saat ini, CWJ sudah menyelesaikan pembangunan basement menuju struktur lantai selanjutnya. Sedangkan struktur KK telah mencapai lantai 7. Mereka tentu ingin mempertahankan reputasinya dengan memproduksi properti yang menarik, cepat terserap dan memuaskan konsumennya.

“Ini adalah momentum tepat untuk menjual dan membangun proyek baru. Kurva permintaan menunjukkan peningkatan. Dalam dua tahun ke depan, baik KK, Kuningan City, CWJ maupun The City Center berkontribusi lebih dari 50% terhadap total pasok apartemen, perkantoran dan pusat belanja baru kelas atas di CBD Jakarta. Mereka harus bersaing ketat menarik minat pasar,” ujar Hendra.

Siapa Raja Properti Sesungguhnya? (1)*

*bagian pertama dari lima tulisan

Judul tulisan ini sebetulnya retoris. Siapa pun tahu jawabannya tanpa harus membaca judul, atau bahkan tulisan saya ini hingga tuntas. Arus utama bisnis dan industri properti, tentu berpihak pada sebuah nama popular dengan portofolio yang terdistribusi merata di seluruh Indonesia. Itu bisa jadi benar, jika kuantifikasi properti yang dijadikan patokan. Sebaliknya, bila volume atau nilai properti kita anggap sebagai variabel menentukan, hasilnya bisa berbeda.

Nah, apakah jawaban Anda sama dengan saya? Mari kita kupas lebih seksama.

Anda tentu khatam dengan  Agung Podomoro Group (APG), bukan?. Namun, sedalam apa Anda mengetahui  APG membangun propertinya sendiri, dan mana yang berkolaborasi? Tentu, hanya segelintir yang mengakrabi kelompok usaha kakap ini. Kalau  Anda tidak termasuk lingkaran dalam atau kerabat, Anda dapat terkecoh melabeli produk properti mana yang murni milik APG dan yang bukan.

Sayangnya APG bukan perusahaan publik yang bisa dimonitor atau diteropong kapan pun. terhadap ini, Trihatma K Haliman, Chairman APG pernah berujar, “Untuk apa? tanpa embel-embel terbuka pun kami sudah terkenal, hehehe. Lagipula tanpa dana publik pun kami masih mampu mendanai proyek sendiri”. Ini seolah-olah sindiran bagi perusahaan yang ‘berniat’ mengeruk dana publik dengan portofolio medioker.

Senayan City, CBD Pluit, Podomoro City, Seasons City, Braga Citywalk, sekadar menyebut contoh, adalah signature properties yang mereka andalkan. Belum lagi yang berada di luar kota. Selama empat dekade, mereka berkarya, tentu tak terhitung produk-produknya. Mulai dari landed house, ruko, high rise sampai superblok.

Suasana kebatinan tak serupa bakal terjadi, bila judul tulisan ini saya giring ke Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan. Harapan saya, sebagai emiten yang melantai di Indonesia Stock Exchange, mudah untuk ditelanjangi. Sehingga saya dapat memperoleh gambaran yang jelas dan lengkap. Namun, ternyata itu tidak terjadi. PT Bakrieland Development Tbk tetap merupakan sebuah menara gading yang kerap mencuatkan asumsi-asumsi dari para pengincarnya. Termasuk pengamat, dan jurnalis seperti saya.

Apalagi, manuver –kalau tidak ingin dikatakan aksi akrobatik, Elty (nama dagang di IDX), sangat agresif dan sulit diikuti. Sekali waktu melakukan lompatan kuantum, berikutnya berscotjump-ria tanpa jeda. Aksi strategis mereka, yang dinahkodai para pemimpin muda nan handal macam Hiramsyah Shambudy Thaib atau Marudi Surachman, ternyata tak selalu linear dengan laporan yang bisa saya akses dalam situs resmi mereka atau IDX.

“Ingat, bisnis properti itu dinamis. Anda harus mau jatuh bangun untuk tetap mempertahankan eksistensi. Jadi, langkah apapun bisa kami tempuh demi eksistensi tadi,” tandas Hiramsyah. Dan demi sebuah kontribusi bernama dedikasi untuk Negeri, tak tanggung-tanggung, mereka begitu agresif, trengginas, dan cergas ‘melahap’ semua kans, sekecil apapun, yang ada di depan mata.

Berita terbaru adalah diakuisisinya embrio kota baru Bukit Jonggol Asri seluas 30.000 Ha dan 20% share Sentul City. Peran apa yang tengah diambil Elty?

AXA Mengubah The Oval

Bukan perkara mudah menggaet major tenant yang bersedia membeli atau menyewa ruang perkantoran dalam skala besar. Apalagi di tengah rivalitas bisnis perkantoran yang sangat dinamis sekarang ini.

Namun, The Oval Kuningan City, di Jakarta Selatan, ternyata mampu menaklukkan AXA Indonesia guna berkantor di sana. Bahkan, menurut Country CEO AXA Indonesia Randy Lianggara, The Oval akan dijadikan sebagai headquarter mereka. “Kami akan melakukan relokasi ke sini, begitu gedung ini selesai dibangun,” jelas Randy.

Dipilihnya The Oval, tentu dengan berbagai pertimbangan dan motivasi. Satu di antaranya dan yang terutama adalah harga. “Ini harga terbaik yang kami dapatkan. Dengan kualitas gedung dan lokasi yang strategis, masih di dalam CBD area tapi bebas 3 in one serta terintegrasi dengan beberapa fasilitas yang memang kami butuhkan,” timpal Randy.

Sebelumnya, AXA Indonesia gagal mencapai kesepakatan dengan Kencana Graha Mandiri, pemilik The City Tower di kawasan Thamrin, Jakarta Pusat. Harga yang ditawarkan The City Tower tidak sesuai dengan keinginan AXA Indonesia. “Fitur The City Tower sangat modern dan kami terkelola dengan baik secara automation system. Namun, kami tidak sepakat mengenai harga,” buka President Direktur Kencna Graha Mandiri, Harry Gunawan.

AXA Indonesia mengokupasi 16.000 m2 dari total luas bangunan The Oval yang seluas 70.000 m2. Atau menempati 10 lantai dari 34 lantai. Dengan demikian, AXA Indonesia berhak mendapatkan naming right dan secara resmi The Oval bersalin nama menjadi AXA Tower.

Dikatakan CEO Kuningan City, Eddy Mu’min, AXA Tower yang dilansir 4 bulan silam telah terjual 45% untuk unit-unit strata title. Sementara unit ruang-ruang yang disewakan baru 30%.

Agung Podomoro Group Bentuk Agung Podomoro Land

Strategi bisnis kelompok usaha properti kakap, Agung Podomoro Group (APG), tampaknya harus diantisipasi oleh kompetitor dengan cermat. Baru-baru ini, di sela-sela publikasi konversi The Oval Kuningan City menjadi AXA Tower, mereka secara implisit mengkampanyekan Agung Podomoro Land (APL).

APL ini dibentuk guna mendukung visi bisnis strategis di sektor ritel. “Ini sama halnya dengan anak perusahaan lainnya. Hanya dikhususkan untuk menggarap sektor komersial ritel. Nantinya, akan ada pengelolaan dan manajemen building khusus ruang komersial ritel sebagai bagian dari APL. Mall milik APG kan tersebar di seluruh Indonesia, jadi kami memandang perlu untuk membentuk perusahaan yang konsentrasi mengelola pusat belanja,” jelas Chairman APG, Trihatma Kusuma Haliman.

Sebagai portofolio perdana, APL akan menangani mall Kuningan City. Menyusul kemudian beberapa mal yang sudah terbangun dan akan diakuisisi kemudian. Hingga tiga tahun mendatang, APL akan membangun dan mengakuisisi enam ruang komersial ritel dalam sebuah pengembangan terpadu (superblok). Satu yang sudah pasti adalah Mollis, Bandung.

Ada pun motivasi APL mengakuisisi mal eksisting adalah karena mereka melihat potensi besar yang tidak digarap oleh pengembang sebelumnya. “Mollis itu mempunyai potensi besar. Selain lokasinya yang bagus dan merupakan lintasan jalur priangan dari dan ke Bandung, juga marketnya yang sangat besar,” papar Trihatma.

Grup Agung Abadi, Mempertahankan Kesetiaan

Jumlah pengembang yang menggarap kelas marjinal, tentulah banyak. Ada yang profesional, juga amatiran. Namun, dari yang banyak itu, hanya segelintir yang menarik perhatian publik. Tidak saja karena gebrakannya, juga produktifitasnya. Satu di antaranya adalah Grup Agung Abadi. Atensi publik tertuju pada pengembang ini karena merekalah pelopor pembangunan apartemen bersubsidi (rusunami seribu menara), City Park.

Dikisahkan Direktur Grup Agung Abadi, Dedi Djajasastra, saat Wapres Jusuf Kalla melontarkan program pembangunan seribu tower apartemen murah pada 2007, pihaknya merespon dengan cepat. Motivasi utama tak lain keinginan untuk memenuhi kebutuhan dasar masyarakat berpenghasilan rendah (BMR) akan hunian yang layak dan terjangkau.

Rusunami City Park sendiri dibangun atas basis kerjasama usaha dengan Perum Perumnas di atas lahan seluas 3,7 Hektar di kawasan Cengkareng, Jakarta Barat. Merangkum 3.532 unit rusunami. Rencananya terdapat 10 tower dengan ketinggian masing-masing 12 lantai.

Grup Agung Abadi memang terhitung gurem, seperti diakui Dedi. Usianya masih belia dan belum lagi sewindu. Namun begitu, visi yang dimiliki sangat kuat dan menyentuh persoalan fundamen tentang ketersediaan papan untuk MBR. Itulah sebabnya, rekam jejak mereka tak jauh dari properti seharga Rp55 juta (RSH) dan Rp144 juta (rusunami).

Sebelum bermetafora menjadi Grup Agung Abadi saat ini, perusahaan ini mengusung embrio berbendera PT Reka Rumanda Abadi dengan portofolio Perumahan Bening Indah di Jatibening, Bekasi. Stimulan berupa tantangan pemenuhan backlog 9,4 juta rumah dari Wapres tadi, menggerakkan minat mereka untuk mengubah nama perusahaan menjadi PT Reka Rumanda Agung Abadi.

“Label baru ini memberikan kekuatan kepada kami untuk terus setia pada komitmen membangun hunian bagi masyarakat dengan kemampuan dana terbatas,” ujar Dedi. Besutan perdana PT Reka Rumanda Agung Abadi ini  adalah konsesi atas pengelolaan lahan seluas 40 Ha Bumi Citra Idaman milik Perum Perumnas di Cengkareng, Jakarta Barat. Selain dimanfaatkan untuk pembangunan City Park, mereka tengah mengembangkan landed house Pasadena sebanyak 350 unit seharga mulai dari Rp388 juta dan sudah terserap 200 unit. Juga rusunami City Garden sejumlah 1.000 unit serta kawasan Pasar Bersih yang berkonten 250 ruko yang dilengkapi degan kios dan los. Tak ketinggalan perumahan Royal Palm sebanyak 200 unit berbanderol Rp700 juta-1 miliar serta Garden Maisonette.

Tahun depan, mereka telah mempersiapkan rencana strategis; merealisasikan Business Center City Park yang terdiri atas 180 unit ruko sebagai pusat kegiatan penghuni City Park. Di sini nantinya terdapat food plaza, los dan kios tempat para penghuni yang ingin berdagang.

Dengan bertambahnya portofolio serta beberapa rencana besar tersebut, PT Reka Rumanda Agung Abadi memandang perlu membentuk sebuah induk usaha (holding). Untuk itu, sejak awal 2010 mereka resmi mendirikan Grup Agung Abadi dengan prestasi perolehan pada 2009 senilai Rp400 miliar. “Saat ini kami sudah membukukan perolehan Rp250 miliar. Kontribusinya dari Pasadena dan uni-unit City Park,” ungkap Dedi.

Masa transisi 2009 mereka jadikan sebagai momentum untuk mengevaluasi kinerja perusahaan. Meski perolehan dari penjualan terhitung positif, namun hingga saat ini mereka belum mendapat apresiasi memadai dari pemerintah. Sebagai pengembang pertama yang berpartisipasi membangun rusunami, baru 38 unit yang diganti secara penuh dari total 1.700 unit realisasi KPR bersubsidi. “Selama ini kami yang menalangi,” imbuh Dedi.

Namun begitu, Dedi menganggap Grup Agung Abadi dalam posisi aman. Sebab, selama ini, mereka menjalin relasi harmonis dengan Bank BTN. “BTN-lah yang mendukung kredit konstruksi kami. Hingga saat ini yang terkucur sudah menyentuh angka Rp220 miliar dengan suku bunga 12%,” tandas Dedi.

Tak puas menggarap pasar Cengkareng, mereka mulai mengepakkan sayap ke wilayah garapan lainnya. Tepatnya Gunung Sindur, Bogor. Untuk mengembangkan kawasan ini mereka membentuk anak usaha PT Surya Rejeki Abadi. Properti yang akan diproduksi adalah perumahan bertajuk Bumi Serpong Indah di atas lahan yang telah diakuisisi berdimensi 22 Ha dari rencana 100 Ha. Ada pun rumah yang ditawarkan adalah tipikal 23 m2 dengan tanah 60 m2.

Megapolitan Development Akuisisi Lahan

Pengembang yang dinahkodai sejoli Sujono Barak Rimba dan Lora Melanie Lowas ini menatap semester dua 2010 secara agresif. Tak tanggung-tanggung, mereka mengakuisisi lahan di dua lokasi premium. Satu di Jl Gatot Subroto, lainnya di kawasan Setiabudi, Kuningan. Keduanya masih di wilayah Jakarta Selatan.

Dikatakan Direktur PT Megapolitan Development, Laniawati S Matita, kedua lahan tersebut akan dimanfaatkan untuk pengembangan perkantoran dan hunian vertikal dengan segala kelengkapan fasilitasnya.

Realisasi kedua pengembangan tersebut akan dimulai pada 2012. “Saat ini kami fokus pada  Puri Cinere Apartment dan Cimandala City yang akan mengawali pembangunannya pada 10 September 2010, bertepatan dengan ultah Megapolitan Development ke 34 tahun,” ungkap Laniawati.

Konsep pengembangan di Gatot Subroto dan Setiabudi itu, tak jauh dari mixed use development. Hanya, porsi untuk komersial ritelnya lebih ramping jika dibandingkan dengan properti sejenis di Bellagio Residences.