Siapa Raja Properti Sesungguhnya? (1)*

*bagian pertama dari lima tulisan

Judul tulisan ini sebetulnya retoris. Siapa pun tahu jawabannya tanpa harus membaca judul, atau bahkan tulisan saya ini hingga tuntas. Arus utama bisnis dan industri properti, tentu berpihak pada sebuah nama popular dengan portofolio yang terdistribusi merata di seluruh Indonesia. Itu bisa jadi benar, jika kuantifikasi properti yang dijadikan patokan. Sebaliknya, bila volume atau nilai properti kita anggap sebagai variabel menentukan, hasilnya bisa berbeda.

Nah, apakah jawaban Anda sama dengan saya? Mari kita kupas lebih seksama.

Anda tentu khatam dengan  Agung Podomoro Group (APG), bukan?. Namun, sedalam apa Anda mengetahui  APG membangun propertinya sendiri, dan mana yang berkolaborasi? Tentu, hanya segelintir yang mengakrabi kelompok usaha kakap ini. Kalau  Anda tidak termasuk lingkaran dalam atau kerabat, Anda dapat terkecoh melabeli produk properti mana yang murni milik APG dan yang bukan.

Sayangnya APG bukan perusahaan publik yang bisa dimonitor atau diteropong kapan pun. terhadap ini, Trihatma K Haliman, Chairman APG pernah berujar, “Untuk apa? tanpa embel-embel terbuka pun kami sudah terkenal, hehehe. Lagipula tanpa dana publik pun kami masih mampu mendanai proyek sendiri”. Ini seolah-olah sindiran bagi perusahaan yang ‘berniat’ mengeruk dana publik dengan portofolio medioker.

Senayan City, CBD Pluit, Podomoro City, Seasons City, Braga Citywalk, sekadar menyebut contoh, adalah signature properties yang mereka andalkan. Belum lagi yang berada di luar kota. Selama empat dekade, mereka berkarya, tentu tak terhitung produk-produknya. Mulai dari landed house, ruko, high rise sampai superblok.

Suasana kebatinan tak serupa bakal terjadi, bila judul tulisan ini saya giring ke Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan. Harapan saya, sebagai emiten yang melantai di Indonesia Stock Exchange, mudah untuk ditelanjangi. Sehingga saya dapat memperoleh gambaran yang jelas dan lengkap. Namun, ternyata itu tidak terjadi. PT Bakrieland Development Tbk tetap merupakan sebuah menara gading yang kerap mencuatkan asumsi-asumsi dari para pengincarnya. Termasuk pengamat, dan jurnalis seperti saya.

Apalagi, manuver –kalau tidak ingin dikatakan aksi akrobatik, Elty (nama dagang di IDX), sangat agresif dan sulit diikuti. Sekali waktu melakukan lompatan kuantum, berikutnya berscotjump-ria tanpa jeda. Aksi strategis mereka, yang dinahkodai para pemimpin muda nan handal macam Hiramsyah Shambudy Thaib atau Marudi Surachman, ternyata tak selalu linear dengan laporan yang bisa saya akses dalam situs resmi mereka atau IDX.

“Ingat, bisnis properti itu dinamis. Anda harus mau jatuh bangun untuk tetap mempertahankan eksistensi. Jadi, langkah apapun bisa kami tempuh demi eksistensi tadi,” tandas Hiramsyah. Dan demi sebuah kontribusi bernama dedikasi untuk Negeri, tak tanggung-tanggung, mereka begitu agresif, trengginas, dan cergas ‘melahap’ semua kans, sekecil apapun, yang ada di depan mata.

Berita terbaru adalah diakuisisinya embrio kota baru Bukit Jonggol Asri seluas 30.000 Ha dan 20% share Sentul City. Peran apa yang tengah diambil Elty?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: