Properti Tepi Pantai, Tetap Diminati

Tengah September lalu, warga Jakarta dikagetkan dengan ambruknya sepenggal Jl. RE Martadinata, Ancol Jakarta Utara. Ruas jalan yang merupakan pintu masuk bagi kendaraan berat menuju pelabuhan barang Tanjung Priok itu terputus sepanjang 103 meter. Dalam kondisi normal, ruas jalan ini relatif sibuk, karena merupakan akses utama menuju terminal peti kemas.

Lantas bagaimana kelangsungan bisnis, khususnya transaksi properti di kawasan ini? Apakah ikut terputus? Kita mafhum, Ancol tak bisa lepas dari keberadaan infrastruktur, khususnya jembatan, jembatan layang atau dermaga. Karena kawasan ini merupakan kawasan tepi pantai. Antarbagian terkoneksi oleh jembatan atau jembatan layang.  Contohnya saja, untuk menuju Mangga Dua dari arah Jl RE Martadinata atau Lodan Raya, harus melewati jembatan kecil dan melintasi Jl Gunung Sahari, begitu juga sebaliknya.

Meski demikian, aktifitas bisnis tak terhambat atau terganggu oleh kondisi itu. Kondisi lalu lintas memang jadi lebih padat dan ramai, akan tetapi, itu dipandang sebagai peluang. Ramainya kondisi lalu lintas, berarti ramai pula peluang yang bisa dimanfaatkan. Peluang bisnis di Ancol dan Mangga Dua sama atraktifnya. Apalagi untuk sektor properti. Karakteristik keduanya yang bertolak belakang, justru dapat disinergikan menjadi kombinasi yang potensial dan menguntungkan.

Ancol dikenal sebagai kawasan wisata tepi pantai, sementara Mangga Dua beken sebagai kawasan perdagangan ritel dan grosir. Karena itu, properti yang dikembangkan di kawasan ini juga disesuaikan dengan karakternya. Properti di Ancol, didominasi oleh perumahan eksklusif dengan harga tinggi, begitu pun dengan apartemennya. Sementara di Mangga Dua, sebagian besar merupakan properti massif yang dijual dengan harga kompetitif. Ukuran unitnya pun sangat kompak. Tidak besar, bahkan cenderung sempit. Tak hanya properti untuk pribadi juga kios-kios komersial.

Lima tahun belakangan, pengembangan properti di sini, justru lebih agresif. Tengok saja di sudut yang mempertemukan antara ruas Jl. Gunung Sahari dan Mangga Dua telah berdiri dengan gagah, dua pusat perdagangan yang direncanakan berkonsep superblok, yakni WTC Mangga Dua (Grup Djarum) dan Mangga Dua Square (Agung Sedayu Group). Lebih ke selatan Gunung Sahari, terdapat Grand Kartini. Ini merupakan mixed use development milik PT Internusa Jaya Semesta.

Kekinian Ancol, tak sebatas wahana rekreasi. Ia telah bertransformasi menjadi instrumen investasi pilihan. Terilhami waterfront properties yang dijajakan di Mancanegara, banyak calon pembeli yang meminati properti di sini. Jelas, ini kans besar buat para pengembang. Walhasil, mereka berlomba mengembangkan beragam properti. Baik vertikel, landed house, komersial sampai pergudangan.

Salah satu yang cukup menyita perhatian adalah aksi Grup Agung Podomoro yang mengakuisisi lahan PT Pembangunan Jaya Tbk di sisi selatan. Di sini, mereka membangun Mediterania Marina Residence seluas 2,5 hektar dengan jumlah unit 2000-an. Tak seluruhnya berkonsep apartemen, separuh sisanya dijadikan kondotel denga  pengelola dari Grup Aston. Namanya pun disesuaikan menjadi Aston Marina.

Tak mau kalah dengan sekutunya, Grup Agung Sedayu sejak setahun lalu giat menawarkan salah satu produk terbarunya, yakni Ancol Mansion. Hunian yang menyatu dengan Taman Impian Jaya Ancol ini dikembangkan dengan konsep resort. Sama halnya dengan Mediterania Marina Residence, Ancol Mansion pun digadangkan sebagai properti yang memiliki akses dan sea view pantai Ancol.

Sementara PT Pembangunan Jaya Ancol Tbk yang notabene adalah si empunya lahan dan pengelola kawasan Taman Impian Jaya Ancol berkreasi dengan memasarkan hunian eksklusif. Mereka memanfaatkan lahan seluas  3,5 hektar. Mereka membangun enam klaster sekaligus yakni; Ancol Marina Lakeside, Ancol Marina Hill, Ancol Marina Palm Beach, de Cove, The Bukit dan The Forest. Harga unit rumahnya tak tanggung-tanggung. Terkecil, tipe 180/200m2 (The Bukit) dipatok Rp2,1 miliar.

Apartemen ataupun landed house dengan pemandangan laut memang memiliki pasar yang lumayan bagus. Pantai Mutiara dan Regatta, yang lebih dekat ke Pantai Indah Kapuk, dapat dijadikan contoh kasus. Keduanya mendapat animo positif. Apalagi properti yang berlokasi di kawasan Ancol. Sudahlah aksesibilitasnya mendukung, fasilitas dan infrastruktur pun terbilang lengkap.

Principal LJ Hooker PIK, Suryanto Salim, mengatakan properti berpemandangan pantai sangat diminati pasar kelas atas. Selain karena prestis, juga harganya tinggi dan akan terus bergerak naik. Saat ini saja, harga lahannya sudah mencapai kisaran Rp7 juta-10 juta/m2. Wajar, tak ditemui properti seharga di bawah Rp1 miliar. Baik di pasar primer maupun sekunder.

Pun demikian dengan amblasnya Jl RE Martadinata, tidak secara signifikan menciutkan calon konsumen membeli properti tepi pantai. Harga juga tak terkoreksi. “Penurunan harga tanah dan properti tak mungkin terjadi. Akan tetapi penjualan memang sedikit melambat. Pasar masih menanti perbaikan jalan,” timpalnya. Namun begitu, kondisi ini temporer sifatnya. Untuk beberapa waktu ke depan pasar akan bergerak lagi karena properti kawasan pantai merupakan properti esklusif yang tidak semua orang bisa memilikinya.

Kondisi yang mirip juga akan terjadi di pasar sekunder. Aktifitas transaksi sewa tetap berjalan. Properti yang disewakan untuk dijadikan rumah singgah atau transit bagi pebisnis ritel dan grosir di Mangga Dua, mengalami tambahan kuantitas. Hal ini berkaitan dengan beroperasinya Aston Marina. “turn over-nya lumayan tinggi,” imbuh Suryanto.


Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: