JSI Segera Bangun 3 Menara Apartemen

PT Jakarta Setiabudi Intenational Tbk (JSI) yang  sukses membukukan laba bersih Rp87,8 miliar per September 2010, akan melakukan ekspansi dan diversifikasi usahanya pada 2011  mendatang.  Presiden Direktur Jakarta Setiabudi International Tbk, Jefri Darmadi, mengatakan, diversifikasi dan ekspansi usahamerupakan bagian dari langkah-langkah bisnis strategis guna mengoptimalkan performa perseroan, meningkatkan produktifitas asset, mengelola risiko usaha dan mempertahankan kepercayaan publik.

JSI antara lain akan  membangun tiga menara apartemen di kawasan Setiabudi, Kuningan, Jakarta Selatan. Di atas lahan seluas 2 Ha tersebut, akan didirikan total 500 unit apartemen yang terhimpun dalam dua menara apartemen strata title dan satu menara apartemen servis (serviced apartment).

Selain itu, mereka juga akan  merilis proyek Hyarta Residence berdimensi 2 Ha yang berlokasi di sebelah Hyatt Residence, Yogyakarta. Menggenapi rencana yang sudah lebih dulu dilansir yakni  membangun budget hotel di Djakarta Theatre dan beberapa lokasi strategis lainnya.

“Tak hanya itu, kami juga akan membangun mixed use strata title yang terdiri atas apartemen, perkantoran, townhouse dan ruko di kawasan Puri Indah, Jakarta Barat. Serta renovasi total terhadap Bali Hyatt dan penambahan suites serta villa baru,” jelas Jefri.

Semua rencana strategis tersebut akan dilakukan secara bertahap, mulai tahun 2011 dengan proyeksi belanja modal sebesar 20% dari arus kas internal berupa ekuitas.  Saat ini, JSI masih memiliki persediaan lahan strategis seluas 98 Ha atau senilai lebih dari Rp2,7 triliun yang berada di Jakarta (Mega Kuningan dan Kebon Jeruk), Sanur, Bali, dan Yogyakarta.

Jefri mengatakan, dikembangkannya beberapa proyek non recurring income ini adalah untuk mengimbangi portofolio recurring income (hotel, apartemen sewa dan ritel). Di mana portofolio  recurring income saat ini masih mendominasi kontribusi terhadap total pendapatan usaha konsolidasi perseroan.

Sekadar informasi, kontribusi hotel dan ritel sebesar 79% disusul residensial 11%, perkantoran dan townhouse 10%. Ada pun jumlah pendapatan konsolidasi perseroan,  naik sebesar 10% menjadi Rp716,6 miliar.

Selain pencapaian kinerja yang positif, JSI juga telah berhasil menurunkan jumlah pinjaman sebesar 11,6 juta dolar AS menjadi 72,2 juta dolar AS.

Iklan

Regatta Raup 1,5 Triliun Rupiah

Meski pengembangan seluruh kompleks Regatta belum rampung, namun Badan Kerjasama Mutiara Buana (BKMB/pengembang Regatta) mengklaim telah menangguk penjualan Rp1,5 triliun. Hasil ini diperoleh dari tiga tower pertama yang dirilis ke pasar dari rencana total 10 tower. Yakni Dubai, Monte Carlo dan Miami.

Dikatakan Direktur BKMB Suhendro Prabowo,  “Permintaan pasar cukup kuat. Apalagi dengan konstruksi bangunan yang memperlihatkan progres meyakinkan. Kami memutuskan untuk mengakomodasinya,” ujarnya.

Menyusul kinerja menggembirakan itu, dibuka tower keempat bertajuk Rio de Janeiro.  Apartemen ini berada di sisi paling depan dengan ketinggian lantai mencapai 24 lantai dengan luas bangunan 25.405 m2.

Berbeda dengan tiga menara sebelumnya, Rio de Janeiro menawarkan unit-unit yang lebih beragam dengan desain modern kontemporer. Unitnya sendiri terdiri atas lima tipe berbeda mulai dari satu kamar hingga penthouse. Masing-masing unit memiliki keistimewaan berupa sunrise view, sunset view, city view dan sea view. Harga perdana yang ditawarkan adalah Rp15 juta/m2.

 

Proses pembangunan struktur menara Rio de Janeiro sendiri sudah rampung. Guna menarik minat lebih banyak lagi investor dan calon pembeli, BKMB memberikan tawaran menarik. Pembeli cukup membayar 50% dari harga jual, sudah langsung serah terima unit. Selain itu, pembeli juga dapat memanfaatkan fasilitas program special cicilan 36 kali bekerjasama dengan Bank Permata. Kompleks Regatta sendiri diproyeksikan menelan investasi hingga Rp3 triliun.

Total Bangun Persada Garap Tanjung Benoa

Lagi, Bali menjadi opsi utama investasi properti. Kali ini, PT Total Bangun Persada Tbk (Total) yang mencoba peruntungan di kawasan wisata nomor satu dunia itu. Berkolaborasi dengan Grup Saphir, Total termotivasi memanfaatkan reputasi Pulau Dewata melalui Total Camakila Development dengan mengembangkan Ramada Hotel & Suites Sakala di Tanjung Benoa.

 

Tren positif yang diperlihatkan industri pariwisata Bali selama kurun tiga tahun terakhir memang mampu menarik investor properti guna membenamkan uangnya. Dikatakan Presiden Direktur Total Camakila Development Rudi S Komajaya, industri pariwisata yang kondusif, berimplikasi positif pada industri lainnya, terutama properti. “Itulah dorongan utama kami bermain di industri ini. Selain itu, kami juga melihat, saat ini adalah momentum terbaik bagi kami untuk membangun fasilitas akomodasi dengan tata kelola berstandar internasional,” imbuh Rudi.

 

Ramada Hotel & Suites Sakala berada di atas lahan seluas 2,4 Ha. Menghadirkan 210 suites dengan satu kamar tidur dan 22 suites dengan dua kamar tidur serta 14 vila eksklusif yang juga berisi dua kamar tidur. Masing-masing villa tersebut dilengkapi kolam renang pribadi.

 

 

Kompleks akomodasi ini dirancang dengan konsep kondotel yakni kondominium yang dikelola dan dioperasikan laiknya hotel. Perbedaannya hanya pada hak kepemilikan berupa strata title. Pemilik berhak atas fee dari biaya sewa kamar atau villa yang dikelola oleh chain operator yang ditunjuk. Nah, pemilik unit-unit Ramada Hotel & Suites dijanjikan akan menerima jaminan pengembalian 6% per tahun pada tiga tahun pertama dan fasilitas menginap gratis selama tiga minggu (21 hari) dalam setahun.

 

Sejatinya ini bukan konsep baru. Hanya saja, profitabilitasnya cukup menggiurkan. Dan kondotel masih dipandang sebagai salah satu instrumen investasi yang menarik dari segmen pasar real estat. Itulah mengapa pemain properti sekelas Donald Trump dan Ritz Carlton tak pernah alpa mengembangkan kondotel baru di kota besar atau resor tujuan wisata.

 

Menurut analis properti Jones Lang Lasalle, Anton Sitorus, kondotel merupakan investasi jangka panjang. Menjadi sangat menarik dan potensial bila dibangun di kawasan yang sudah jadi. “Seperti Bali yang masih merupakan destinasi wisata paling popular, khususnya di mata turis asing”.

 

Data aktual per September 2010 menunjukkan jumlah wisatawan mancanegara yang berkunjung mencapai 1,9 juta. Dengan tingkat penghunian kamar (TPK) mencapai 70% dengan rata-rata lama menginap 3,23 hari. Jelas, ini peluang menggiurkan.

 

 

Ramada Hotel & Suites Sakala ditawarkan seharga mulai dari Rp1,5 miliar untuk ukuran 61-66 m2 dan Rp2 miliar untuk unit berdimensi 145 m2. Harga ini terbilang masih ramah pasar untuk ukuran kondotel beroperator hotel bintang empat. Kompetisi akan terjadi dengan kondotel sekelas yang akan dikelola oleh Accor Group, Ascott Group maupun Swiss Belhotel yang berada di area wisata popular lainnya dengan tingkat pengembalian sedikit lebih tinggi yakni antara 7-8% per tahun.

 

Tanjung Benoa sendiri dikenal sebagai desa nelayan yang sarat dengan fasilitas untuk olahraga air (water sport). Kendati masih kalah tenar dengan kawasan Nusa Dua, Kuta, Seminyak atau Uluwatu, Tanjung Benoa aktual telah disesaki oleh hotel dan restoran mewah, vila pribadi, dan fasilitas lainnya. Kehadiran proyek dengan nilai investasi 40-50 juta dolar AS (Rp450 miliar) ini diharapkan akan menambah maraknya kawasan pesisir pantai sepanjang 5 km tersebut.

 

Guna meyakinkan pasar, Rudi berjanji akan membangunnya tepat waktu. Mulai dari ground breaking Desember tahun ini hingga rampung pada kuartal keempat 2012. Selain itu, “Kami yang berbasis bisnis konstruksi memberikan nilai tambah dengan tingginya kualitas pada proyek yang kami bangun. Selain itu, ini merupakan kondotel Ramada Internasional pertama di Indonesia,” tandasnya.

 

Komitmen ini sekaligus sebagai kesiapan Total Camakila Development terhadap sifat calon pembeli atau investor yang pasti memandang apresiasi nilai properti dan arus kas menjadi hal yang sangat penting. Karena apresiasi yang lebih besar hanya akan terjadi bila properti yang ditawarkan berkualitas tinggi, bersifat investasi aman dan dikelola secara profesional. Dengan segala yang ditawarkan, Total Camakila membidik investor dari Indonesia dan Asia yang memang sudah sangat familiar dengan brand Ramada. Sekadar informasi Ramada Worldwide merupakan brand hotel yang telah mengelola lebih dari 900 lokasi di 45 negara seluruh dunia.