Plaza Indonesia Realty Tbk Gandeng Starwood

Keraton At The Plaza, salah satu portofolio mewah milik PT Plaza Indonesia Realty Tbk akan dikelola oleh The Luxury Collection. Kepastian ini menyusul penandatanganan nota kesepahaman antara PT Plaza Indonesia Realty Tbk dengan Grup Starwood sebagai pemilik jaringan hotel brand bintang lima tersebut.

The Luxury Collection akan mengelola sekaligus Keraton Hotel at The Plaza dan Keraton Residences at The Plaza. Keraton Hotel at The Plaza sendiri merupakan hotel mewah berkonsep resor yang berada pada lantai ke-7 hingga 19 dari menara Keraton Residence at The Plaza. Terdiri atas 108 unit kamar berluas 65 m2. Dilengkapi restoran, pusat kebugaran, kolam renang, ruang serba guna dan lobi yang mewah.

Dikatakan Direktur Marketing Keraton Hotel, Dina Muskita, room rate Keraon Hotel dipatok pada angka 250 dolar AS per malam. “Dijadwalkan beroperasi pada September 2011,’ imbuhnya

Sementara Keraton Residences at The Plaza dirancang sebagai hunian eksklusif yang hanya berisi 52 penthouse mewah dan 12 apartemen dengan fasilitas berstandar internasional. Saat ini harga yang ditawarkan senilai 4.000 dolar AS/m2 dengan posisi penjualan 65% terserap pasar.

Pada saat yang bersamaan, PT Plaza Indonesia Realty Tbk juga mengumumkan hasil rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB) yang menyetujui pinjaman kepada Bank CIMB Niaga sejumlah 105 juta dolar AS. Mereka mengajukan pusat belanja Plaza Indonesia, hotel Grand Hyatt, serta apartemen dan hotel Keraton sebagai jaminan. Baik seluruh atau sebagian besar dari aset-aset perseroan tersebut.

Untuk tahun 2011, mereka menganggarkan sejumlah 15 juta-20 juta dolar AS sebagai belanja modal. Belanja modal ini akan digunakan untuk merenovasi hotel Grand Hyatt dan pengembangan pusat belanja Plaza Indonesia.

Ada pun pendapatan 2010 yang sudah terealisasi hingga September sebesar Rp650 juta. Ini merupakan angka moderat dari target yang ditetapkan.

Iklan

Ciputra Property Siapkan Proyek Baru 2011

Meski signature project-nya, Ciputra World Jakarta, masih dalam progres pembangunan, PT Ciputra Property Tbk tetap memandang 2011 sebagai tahun penuh peluang menjanjikan. Itulah mengapa, mereka telah  mencanangkan pengembangan proyek baru seluas 3 Ha di kavling 11, kawasan Satrio, Kuningan, Jakarta Selatan.

Menurut Dirketur PT Ciputra Property Tbk, Artadinata Djangkar, pihaknya akan memanfaatkan momentum perbaikan sektor properti tahun depan dengan memulai pengembangan proyek baru berupa rumah vertikal seluas 240.000 m2. Terdiri atas 6 gedung dan satu di antaranya bakal dijadikan apartemen servis yang dikelola oleh Frasers Hospitality. Kelas operator ini setara dengan Raffles yang telah ditunjuk untuk menjalankan operasionalisasi apartemen mewah dan hotel untuk proyek Ciputra World Jakarta.

Kegiatan konstruksinya akan dimulai pada pertengahan2011. Begitu pula dengan pemasarannya. Guna merealisasikan proyek dengan estimasi investasi senilai Rp1,8 triliun ini, PT Ciputra Property Tbk mengalokasikan anggaran sebesar 10% dari total belanja modal 2011 senilai Rp1 triliun . Sementara mayoritas 90% bagian lainnya diperuntukan bagi pembangunan Ciputra World Jakarta. Konstruksi CWJ sendiri sampai saat ini baru mencapai 35%.

Menariknya, proyek yang belum diberi nama itu, berada di kawasan yang sama dengan CWJ. Atas hal ini, Arta memberikan argumentasi bahwa koridor Satrio merupakan kawasan yang masih akan terus bertumbuh. Ketersediaan lahan relatif masih lebih banyak dibanding kawasan lainnya. Begitu halnya dengan harga yang jauh lebih kompetitif.

Dus, koridor Satrio telah ditetapkan sebagai International Shopping Belt Jakarta pada satu dekade silam. Kondisi infrastrukturnya pun terbilang mendukung. Apalagi tahun ini mulai dibangun jalan layang non tol yang menghubungkan Jl Mas Mansyur-Kampung Melayu, melintasi Jl Satrio sebagai magnitude point-nya. Jika jalan layang non tol ini rampung pada 2012 nanti, koridor Satrio akan menjadi sentra bisnis dan pusat belanja utama Jakarta.

“Jadi, peluangnya jelas sangat besar. Dan kami memilih kawasan-kawasan yang potensial bertumbuh. Selain koridor Satrio, sejatinya kami juga mengincar koridor Simatupang. Hanya saja belum ditemukan lokasi dan lahan yang sesuai ekspektasi,” imbuh Arta.

Pernyataan Arta sekaligus menegaskan bahwa tahun depan PT Ciputra Property Tbk tidak akan melakukan ekspansi ke luar Jakarta atau daerah lainnya. Mereka hanya akan memprioritaskan pengembangan di Jakarta. Hal ini terkait dengan fisibilitas bahwa secara kalkulatif, membangun properti di Jakarta jauh lebih menguntungkan daripada di daerah. Dengan asumsi ongkos produksi (nilai lahan plus biaya konstruksi)yang setara, nilai keuntungan dari properti yang bisa dijual akan lebih besar.

“Di daerah, kami hanya bisa menjual apartemen dengan harga Rp10 juta/m2. Sebaliknya, dengan ongkos produksi yang sama, kami bisa menjual dengan harga berlipat ganda atau minimal Rp20 juta/m2,” imbuh Arta seraya menambahkan, apartemen My Home di CWJ yang harga perdananya pada awal 2008 Rp17 juta/m2, tahun ini telah mencapai Rp23 juta/m2. Di daerah, belum tentu bisa menembus angka setinggi ini walau besaran ongkos produksinya serupa.

 

 

Hutama Karya Realty, Sinergi dan Optimalisasi Aset

Kendati rekam jejaknya di sektor properti sudah sejak 1996, nama Hutama Karya Realty belumlah setenar pengembang lainnya. Waktu itu, mereka hanya merupakan satu dari sekian banyak divisi yang menginduk kepada PT Hutama Karya sebagai Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dengan konsentrasi jasa konstruksi.

Properti yang diproduksi tepat setahun sebelum krisis multidimensi 1997, adalah Puri Hutama di Bekasi, Jawa Barat dan di Klaten, Jawa Tengah dengan jenis pengembangan landed housing. Ini sekaligus merupakan embrio Hutama Karya Realty di ranah properti.

Kini, lebih dari satu dekade setelahnya, Hutama Karya merasa penting untuk mengembalikan eksistensinya. Apalagi kiprah BUMN yang terbentuk pada 1961 itu diakui sebagai pemain besar dan penting peranannya dalam jasa konstruksi yang merupakan industri penopang sektor properti.

Transformasi fundamental dilakukan lebih serius demi tampilan anyar Hutama Karya Realty. Dengan basis pengelolaan profesional, mereka membenahi dan membangun unsur-unsur manajerial terkait fungsi akuntansi, kepegawaian dan administrasi, marketing, serta rekayasa finansial untuk pendanaan dan alternatif pembiayaan.

Dikatakan Presiden Direktur Hutama Karya Realty, Putut Ari Wibowo, perubahan mendasar visi dan misi perusahaan dimulai sejak 10 Mei 2010. Meski demikian, sudah sejak tiga tahun silam, visi dan misi itu diretas. “Kami ingin hadir kembali dengan performa baru. Produk yang inovatif, kompetitif, sekaligus ramah pasar,” ujar Putut.

Hasilnya, Hutama Karya Realty tercatat sebagai BUMN paling agresif selama 2010. Kinerjanya cukup menjanjikan. Selain mengimplementasikan rencana-rencana strategis berupa optimalisasi aset lahan dan properti milik sendiri, mereka berani melakukan aksi akuisisi.

Bukan tanpa alasan jika MMC Tower di Jl Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan, kemudian mereka ambil alih dan mengubahnya menjadi The H Tower. Putut memberikan argumentasi bahwa proyek setinggi 30 lantai ini sangat feasible dan berprospek cerah. “Kami ingin menjadikan The H Tower sebagai identitas perusahaan,” tandas Putut seraya menampik bahwa posisi Hutama Karya Realty di proyek ini sebagai debt holiday.

The H Tower sendiri merupakan pengembangan yang mengintegrasikan perkantoran (8 lantai), kondotel (8 lantai), klinik (4 lantai) dan ritel (2 lantai) dalam satu gedung setinggi 30 lantai. Telah ditunjuk Citadines sebagai operator kondotelnya.

Sukses memiliki The H Tower, tahun ini mereka mengembangkan The H Residences yang berlokasi di Cawang, Jakarta Timur. Luas lahannya sekitar 1 Ha. Rencananya akan dibangun 450 unit dengan fungsi apartemen, dan budget hotel. Dilengkapi ritel dalam gedung setingi 24 lantai. The H Residences ditawarkan sehara Rp8,5 juta/m2.

Selain itu, mereka juga tengah mematangkan konsep pengembangan apartemen di lahan Medical City, Jababeka, Cikarang, untuk mengakomodasi kebutuhan hunian bagi paramedis dan profesional yang terkait dengan industri kesehatan.

Antam Center Simatupang, Jakarta Selatan, merupakan proyek ketiga yang juga mereka prioritaskan. Di sini Hutama Karya Realty melakukan rebranding kawasan seluas 3,2 Ha tersebut. Bekerjasama dengan PT Aneka Tambang Tbk, akan didirikan perkantoran, ruang ritel dan budget hotel.

Kolaborasi itu pula yang mendasari mereka guna mempercepat realisasi rencana-rencana besarnya. Di samping dengan PT Aneka Tambang Tbk dan Jababeka Tbk, mereka menggandeng PT Arthaloka Indonesia untuk bersama mendirikan BUMN Tower.

Tak hanya fenomenal, proyek ini juga sekaligus kontroversial. Bukan karena bakal dibangun dengan budget lumayan besar (proyeksi investasi senilai Rp2,7 triliun), juga pernah dijadikan sebagai arena ‘rebutan’ BUMN-BUMN yang ingin menjadikan menara ini sebagai headquarter-nya.

Rencananya, proyek yang telah bersalin nama tiga kali; Menara Indonesia, Menara Khatulistiwa dan Menara BUMN, ini dibangun dengan konsep multifungsi. Terdiri atas dua menara apartemen dan satu menara perkantoran setinggi 72 lantai. Kelak jika terbangun, perkantoran ini menjadi gedung tertinggi di Indonesia. Menyaingi Jakarta Tower yang telah direncanakan pada medio 1990-an namun hingga kini tak jua jelas bentuknya.

Meski begitu, Putut berani menjamin, nasib Menara BUMN tak bakal mengenaskan seperti Menara Jakarta. Karena, sejauh ini ada Pertamina, dan Telkom yang telah memberikan konfirmasi sebagai anchor tenant sekaligus pengucur dana utama.

“Pertengahan 2011, Menara BUMN mulai dibangun. Terdapat tiga menara; dua untuk apartemen, satu untuk perkantoran. Dilengkapi fungsi ritel dan convention hall,” ungkap Putut.

Menyusul kemudian kerjasama dalam pembangunan hotel resort dan villa di Tanah Lot, Bali dengan pemodal lokal. Untuk merealisasikan semua itu, Putut mengungkapkan angka sebesar Rp500 miliar sebagai belanja modal perusahaan selama 2011.

Aston Buka Quest di Surabaya

Setelah membuka hotel bintang 2 Favehotel di Mex Building Surabaya,  Aston Internasional mengumumkan proyek hotel terbarunya di Surabaya, yaitu hotel bintang 3 di bawah brand Quest.

Hotel Quest akan dibangun oleh Grup Maspion yang juga bersama dengan Aston mengelola Favehotel Mex Building. Hotel ini dijadwalkan akan dibuka di akhir tahun 2012 dan berlokasi  di Jalan Rangga Lawe, di daerah pusat bisnis Surabaya.

Menawarkan 150 kamar tamu dan fasilitas gaya hidup masa kini namun tetap mengikuti standar hotel bintang 3 internasional. Hotel ini ditujukan kepada para pelancong bisnis dan liburan yang mencari akomodasi dengan harga terjangkau namun dikelola dengan baik, serta menyukai suasana dan lingkungan yang modern kontemporer.

Hotel Quest merupakan konsep brand hotel baru dari Aston Internasional yang menawarkan hotel yang sederhana dan fleksibel serta aktual dengan tren gaya hidup. Sejak diluncurkan 2 tahun lalu, Hotel Quest telah dibuka di Semarang, Jawa Tengah dan hotel-hotel lainnya sedang dalam tahap pembangunan di Bali serta di Cebu, Filipina. Hotel di Cebu Filipina ini akan menawarkan 400 kamar.

Wakil Presiden Penjualan dan Pemasaran Aston Internasional mengatakanMaspion adalah perusahaan besar dengan reputasi baik di Indonesia. Oleh karena itu, mereka sangat bangga dan berterima kasih karena Maspion mempercayakan  kembali dengan memilih salah satu brand hotel Aston. Hotel Quest yang baru akan cocok dengan Surabaya karena hotel ini tidak hanya menawarkan hotel bintang 3 seperti biasanya tetapi membawa suatu gaya hidup baru dan keceriaan untuk masyarakat Surabaya.

Ascott Resmikan Citadines Serviced Residence Pertama di Indonesia

The Ascott Limited (Ascott), unit bisnis serviced residence yang dimiliki sepenuhnya oleh CapitaLand telah membuka Citadines serviced residence pertama di Indonesia. Citadines Quartier Jakarta adalah bangunan baru yang terdiri atas 135-unit yang merupakan properti ke-15 di bawah naungan Ascott sejak pertama kali merek Eropa ini diperkenalkan di Asia Pasifik tahun 2006.

Dengan Citadines Quartier Jakarta, akan memperkuat posisi Ascott sebagai pemilik dan operator serviced residence terbesar di Indonesia dengan lebih dari 1,800 unit apartemen di Sembilan properti di Jakarta, Surabaya dan Bali.

Alfred Ong, Managing Director Ascott untuk Asia Tenggara dan Australia, mengatakan properti-properti Ascott dan Somerset di Indonesia meraup  rata-rata tingkat hunian sekitar 80%. Dengan diperkenalkannya Citadines maka kami akan mampu meraih segmen pasar
yang lain – yakni wisatawan yang menghargai pelayanan fleksibel sesuai dengan kebutuhan gaya hidup mereka.

Ekonomi Indonesia diharapkan tetap kuat, sesuai dengan prakiraan Economist Intelligence Unit yang memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 6% pada tahun 2010 dan 2011. Pertumbuhan ekonomi fundamental yang dapat diandalkan akan membantu menarik investasi dan menaikkan jumlah wisatawan dan pada akhirnya akan menimbulkan permintaan untuk serviced residence.
“Kami akan terus mengembangkan kehadiran kami di Indonesia dengan membuka Ascott Kuningan Jakarta, Citadines Rasuna Jakarta dan Citadines Kuta Bali pada tahun 2012,” tandas Alfred.
Citadines Quartier Jakarta merupakan bagian dari pengembangan terpadu yang mencakup gedung perkantoran. Terletak di perbatasan jantung pusat bisnis dan pemukiman peninggalan zaman kolonial Belanda di Menteng, lokasi serviced residence yang strategis ini menyediakan akses yang mudah baik ke berbagai kedutaan dan kantor pemerintahan maupun ke bangunan
bersejarah seperti Istana Presiden dan Monumen Nasional. Museum, gedung perbelanjaan, supermarket, tempat makan dan hiburan juga terletak berdampingan dengan lokasi ini.

Citadines Quartier Jakarta menawarkan tipe apartemen studio, satu dan dua kamar tidur serta kamar bertingkat. Setiap unit disertai dapur lengkap dengan peralatannya, ruang tamu dan ruang kerja yang terpisah, akses internet broadband, sistem home entertainment lengkap dengan saluran TV kabel, pemutar DVD dan dok untuk iPod.
Selain Citadines Quartier Jakarta, saat ini Ascott mengelola lima properti di Indonesia, yaitu
Ascott Jakarta, Somerset Berlian Jakarta, Somerset Grand Citra Jakarta, Country Woods
Jakarta dan Somerset Surabaya Hotel & Serviced Residence.