Hutama Karya Realty, Sinergi dan Optimalisasi Aset

Kendati rekam jejaknya di sektor properti sudah sejak 1996, nama Hutama Karya Realty belumlah setenar pengembang lainnya. Waktu itu, mereka hanya merupakan satu dari sekian banyak divisi yang menginduk kepada PT Hutama Karya sebagai Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dengan konsentrasi jasa konstruksi.

Properti yang diproduksi tepat setahun sebelum krisis multidimensi 1997, adalah Puri Hutama di Bekasi, Jawa Barat dan di Klaten, Jawa Tengah dengan jenis pengembangan landed housing. Ini sekaligus merupakan embrio Hutama Karya Realty di ranah properti.

Kini, lebih dari satu dekade setelahnya, Hutama Karya merasa penting untuk mengembalikan eksistensinya. Apalagi kiprah BUMN yang terbentuk pada 1961 itu diakui sebagai pemain besar dan penting peranannya dalam jasa konstruksi yang merupakan industri penopang sektor properti.

Transformasi fundamental dilakukan lebih serius demi tampilan anyar Hutama Karya Realty. Dengan basis pengelolaan profesional, mereka membenahi dan membangun unsur-unsur manajerial terkait fungsi akuntansi, kepegawaian dan administrasi, marketing, serta rekayasa finansial untuk pendanaan dan alternatif pembiayaan.

Dikatakan Presiden Direktur Hutama Karya Realty, Putut Ari Wibowo, perubahan mendasar visi dan misi perusahaan dimulai sejak 10 Mei 2010. Meski demikian, sudah sejak tiga tahun silam, visi dan misi itu diretas. “Kami ingin hadir kembali dengan performa baru. Produk yang inovatif, kompetitif, sekaligus ramah pasar,” ujar Putut.

Hasilnya, Hutama Karya Realty tercatat sebagai BUMN paling agresif selama 2010. Kinerjanya cukup menjanjikan. Selain mengimplementasikan rencana-rencana strategis berupa optimalisasi aset lahan dan properti milik sendiri, mereka berani melakukan aksi akuisisi.

Bukan tanpa alasan jika MMC Tower di Jl Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan, kemudian mereka ambil alih dan mengubahnya menjadi The H Tower. Putut memberikan argumentasi bahwa proyek setinggi 30 lantai ini sangat feasible dan berprospek cerah. “Kami ingin menjadikan The H Tower sebagai identitas perusahaan,” tandas Putut seraya menampik bahwa posisi Hutama Karya Realty di proyek ini sebagai debt holiday.

The H Tower sendiri merupakan pengembangan yang mengintegrasikan perkantoran (8 lantai), kondotel (8 lantai), klinik (4 lantai) dan ritel (2 lantai) dalam satu gedung setinggi 30 lantai. Telah ditunjuk Citadines sebagai operator kondotelnya.

Sukses memiliki The H Tower, tahun ini mereka mengembangkan The H Residences yang berlokasi di Cawang, Jakarta Timur. Luas lahannya sekitar 1 Ha. Rencananya akan dibangun 450 unit dengan fungsi apartemen, dan budget hotel. Dilengkapi ritel dalam gedung setingi 24 lantai. The H Residences ditawarkan sehara Rp8,5 juta/m2.

Selain itu, mereka juga tengah mematangkan konsep pengembangan apartemen di lahan Medical City, Jababeka, Cikarang, untuk mengakomodasi kebutuhan hunian bagi paramedis dan profesional yang terkait dengan industri kesehatan.

Antam Center Simatupang, Jakarta Selatan, merupakan proyek ketiga yang juga mereka prioritaskan. Di sini Hutama Karya Realty melakukan rebranding kawasan seluas 3,2 Ha tersebut. Bekerjasama dengan PT Aneka Tambang Tbk, akan didirikan perkantoran, ruang ritel dan budget hotel.

Kolaborasi itu pula yang mendasari mereka guna mempercepat realisasi rencana-rencana besarnya. Di samping dengan PT Aneka Tambang Tbk dan Jababeka Tbk, mereka menggandeng PT Arthaloka Indonesia untuk bersama mendirikan BUMN Tower.

Tak hanya fenomenal, proyek ini juga sekaligus kontroversial. Bukan karena bakal dibangun dengan budget lumayan besar (proyeksi investasi senilai Rp2,7 triliun), juga pernah dijadikan sebagai arena ‘rebutan’ BUMN-BUMN yang ingin menjadikan menara ini sebagai headquarter-nya.

Rencananya, proyek yang telah bersalin nama tiga kali; Menara Indonesia, Menara Khatulistiwa dan Menara BUMN, ini dibangun dengan konsep multifungsi. Terdiri atas dua menara apartemen dan satu menara perkantoran setinggi 72 lantai. Kelak jika terbangun, perkantoran ini menjadi gedung tertinggi di Indonesia. Menyaingi Jakarta Tower yang telah direncanakan pada medio 1990-an namun hingga kini tak jua jelas bentuknya.

Meski begitu, Putut berani menjamin, nasib Menara BUMN tak bakal mengenaskan seperti Menara Jakarta. Karena, sejauh ini ada Pertamina, dan Telkom yang telah memberikan konfirmasi sebagai anchor tenant sekaligus pengucur dana utama.

“Pertengahan 2011, Menara BUMN mulai dibangun. Terdapat tiga menara; dua untuk apartemen, satu untuk perkantoran. Dilengkapi fungsi ritel dan convention hall,” ungkap Putut.

Menyusul kemudian kerjasama dalam pembangunan hotel resort dan villa di Tanah Lot, Bali dengan pemodal lokal. Untuk merealisasikan semua itu, Putut mengungkapkan angka sebesar Rp500 miliar sebagai belanja modal perusahaan selama 2011.

Iklan

Satu Tanggapan

  1. Dear Mbah Hilda,

    Tolong dong diberikan ancer2nya kapan kira-kira PT. HK akan membangun Antam Cenetr dan BUMN Tower serta “H Residence”

    Terima kasih atas info-nya

    Regards,
    Lisman

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: