Woman, The eight wonder of The world

Anda setuju dengan judul di atas? Jika ya, selamat, Anda telah menjelajah fundamen dan sumber kehidupan dengan sangat sukses. Jika sebaliknya, bersiaplah untuk belajar kembali, memahami wanita dengan segala keunikan dan keistimewaannya.

Wanita, kerap disebut sebagai mata air kehidupan. Di sisi lain, wanita juga bisa menghancurkan kehidupan. Bagai dua sisi mata uang, bukan?

Di situlah hegemoni wanita. Seorang Thomas Diego Armonia, pelukis tenar berkebangsaan Italia, ya Italia gudangnya lelaki jantan nan rupawan, sampai harus mengejawantahkan keunikan dan keistimewaan wanita di atas ratusan kanvas.

Namun, itu baginya tak cukup merepresentasikan betapa wanita terlalu agung dan Indah bila hanya digambarkan dengan sapuan kuas dengan garis dan metafor sensual dan eklektis khas Armonia.

“saya harus berjuang menciptakan jutaan karya untuk melukis keindahan, kepribadian, hasrat, cinta, rupa dan keabadian wanita. Tapi, itu tak akan bisa membuatnya lebih sempurna. Wanita memang betul-betul sebuah hal yang paling menakjubkan,” ujar Armonia ketika saya wawancarai sesaat setelah jumpa pers di Vastu Home.

Wanita, menurut Ricky Effendi, kurator lukisan, tak pernah luput sebagai inspirasi pelukis untuk menciptakan karyanya. Wanita memegang peranan penting Dalam seluruh aspek kehidupan.

Wanita menjadi subyek dalam sejarah seni rupa, terutama barat, sejak abad pertengahan, rennaisans, hingga era Modern abad 20. Wanita pula yang merupakan subyek Yang paling banyak mendapat perhatian seniman dari berbagai genre.

Dari citra tubuh wanita memantul berbagai nilai. Wanita mengungkapkan pernyataannya dengan keindahan ragawi, kesucian jiwa, hasrat seksual, hingga hal-hal yang kelam, maupun nilai-nilai sosial dan budaya lainnya.

Wanita, seolah menjadi metafor tak berkesudahan. Tak kan habis dieskplorasi. Walaupun wanita terpaksa berada di tengah kelicikan, perselingkuhan, kekangan dan penindasan kaum laki-laki, toh mereka tetap memancarkan keindahan. Keindahan dari kekokohan, kekuatan, ketabahan, dan ketegaran.

Wanita adalah keajaiban dunia yang tak pernah absen dalam seluruh peradaban. Mereka tak pernah surut menghidupkan semangat artistik keduniawian. Citra wanita, apakah itu gempal, pendek, gemuk, kurus, tinggi, langsing, putih, hitam, bermata sipit, bermata besar, berbibir tipis atau tebal, tetap memiliki kecantikan yang khas, paripurna, spiritual, sekaligus menggoda.

Iklan

Riscon Group, Ekspansi di Semua Lini

Betapa konstelasi bisnis dan industri properti terkini, tidak lagi membosankan. Lebih berwarna, dengan wajah-wajah belia.  Satu dari sekian banyak pemuda berprestasi di sektor ini adalah Ari Tri Priyono. Dialah yang meretas Riscon Group, perusahaan pengembang yang sekaligus bergerak di sektor jasa konstruksi dan produksi material bangunan. Bersama rekan-rekannya, antara lain M Aviv Mustaghfirin,  Ari berhasil mengalihkan pasar properti yang selama beberapa dekade dikuasai nama-nama besar.

 

Riscon Group memulai debutnya pada 2004 silam. Saat itu, mereka masih menjadikan jasa konstruksi sebagai bisnis intinya (core business). Seiring berkembangnya pemahaman dan pengalaman mereka akan sektor ini, bahkan pernah ditipu beberapa kali oleh pengembang, dua tahun kemudian justru menyandingkan jasa konstruksi dengan pengembangan. “Visi kami menjadi developer dan perusahaan jasa konstruksi yang besar, kuat, terpercaya dan profesional,” optimis Ari.

 

Berbekal visi itulah Riscon Group membentuk anak usaha PT Riscon Victory, dengan modal awal Rp500 juta. Griya Kalisuren Asri, Tajur Halang, Bogor, merupakan portofolio properti perdananya. Rumah sebanyak 250 unit yang dibangun di sini, habis terjual dalam waktu tak lebih dari satu tahun. Maklum, harganya terbilang ramah pasar, yakni Rp55 juta. Karena proyek ini termasuk kategori rumah sederhana sehat (RSH) yang diperuntukan bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR).

 

Menyusul keberhasilan tersebut, dikembangkan Griya Kalisuren Asri Tahap II. Tak banyak rumah yang ditawarkan, hanya 85 unit. Antusiasme pasar terhadap produk ini serupa dengan yang pertama. Seratus persen terjual.

 

Mempertimbangkan respon positif atas dua produk tersebut, Ari memutuskan mengganti ‘kendaraan’-nya dengan PT Riscon Realty. “Kata ‘realty’ lebih cocok disematkan untuk perusahaan pengembang. Jadi, untuk divisi developer, kami memakai Riscon Realty,” jelas Ari.

 

Usai bersalin rupa, kiprah Riscon Realty justru kian dinamis dan agresif. Berturut-turut selama tiga tahun terakhir, mereka telah membangun tak kurang dari sebelas properti berbagai jenis, harga dan skala. Sebut saja Mutiara Cimanggis 1 dan 2, di Cimanggis (Depok), Kalisuren Paradise 1 dan 2 (Tajur Halang, Bogor), Al Azhar Green Garden (Cibinong, Bogor), Bojong Gede Green Garden (Bojong Gede, Bogor), Cilendek Indah Green Garden (Bogor), dan Bukit Tamphayan River View (Sawangan, Depok).

 

Tidak seperti dua properti awal, yang disebut belakangan merupakan perumahan dengan harga terendah Rp200 jutaan. Terhadap hal ini, Ari menjelaskan, Riscon Realty ingin mengakomodasi kebutuhan semua kelas. “Terlebih lagi, kami harus bertumbuh, dari semua pengembang gurem, menjadi pengembang berkelas yang diperhitungkan. Tentu saja tanpa meninggalkan falsafah dan moto bisnis kami yakni jujur, kreatif dan profesional,” tukas Ari.

 

Mimpi mereka menjadi pengembang yang diperhitungkan memang tinggal menunggu waktu. Selain karena bertambahnya portofolio, juga perolehan perusahaan yang membiak. Tahun lalu, mereka mampu meraup penjualan Rp35 miliar dengan laba bersih Rp6,7 miliar. Angka Rp61 miliar diharapkan dapat terwujud untuk penjualan tahun ini dan proyeksi tahun 2012 mencapai Rp100 miliar.

 

Angka yang cukup moderat, mengingat tak hanya perumahan landed yang akan mereka kembangkan. Tahun ini, rencananya akan merambah properti komersial berupa ruko di lokasi-lokasi strategis, seperti Jl Juanda, Depok, town house di selatan Jakarta seharga Rp400 juta ke atas, serta Bukit Tamphayan River View 2 yang dibanderol sampai Rp700 juta. Sementara Kalisuren Paradise, akan dibuatkan trikuelnya. Harganya tentu saja lebih tinggi dari yang pertama dan sekuelnya.

 

Tak sebatas itu, mereka juga telah menyiapkan rancangan induk guna membangun perumahan untuk kalangan menengah ke atas (real estate) seharga lebih dari Rp300 juta per unit di kawasan Jatiasih, Bekasi, dengan luas lahan 10 Ha, di Kedung Halang, Bogor (4 Ha), town house dan  vila di daerah Cipadung, Bandung, Jawa Barat (1 Ha).

 

Kecuali lahan di Bekasi yang masih dalam proses negosiasi, seluruh lahan yang akan digarap, sudah dibebaskan. Dengan demikian total land bank yang dimiliki Riscon Realty saat ini mencapai 20 Ha. Untuk merealisasikan seluruh proyek tersebut, mereka membutuhkan dana lebih kurang Rp22, 3 miliar (di luar lahan). “Kami masih mencari kekurangannya sebesar Rp10 miliar-15 miliar. Kami terbuka untuk bekerjasama dengan pihak manapun atas dasar profesionalisme kerja dan saling menguntungkan,” imbuh Ari seraya memaparkan Al Azhar Green Garden merupakan salah satu bentuk kerjasama yang telah mereka jalin.
Jika menilik besaran dana yang mereka butuhkan, terlihat ‘kecil’ memang. Itu karena mereka mampu dengan sangat efektif dan efisien menekan ongkos produksi. Riscon Group memproduksi sendiri material bahan bangunan yang kemudian didistribusikan ke proyek-proyek mereka. Seperti kusen, pintu, ornamen dinding, serat kaca untuk pergola, besi untuk rangka pergola (car port) dan pagar.

 

Tak hanya bisnis material tambahan yang secara formal sudah berada di bawah badan hukum sendiri PT Citra Las, mereka juga mengerjakan sendiri konstruksi properti-propertinya atas nama PT Okarista Sejati, PT Hassanah Farm untuk lansekap dan PT Riscon Property untuk promosi dan pemasarannya. Dengan strategi penguasaan bisnis dari ‘hulu’ ke ‘hilir’ ini, Riscon Group mampu mencetak omset sampai Rp80 miliar tahun lalu.

 

“Tahun ini kami juga akan membuka pabrik bata di daerah Leuwi Liang, Bogor. Ini akan sangat berguna, sebab trade mark produk kami adalah bata ekspos. Selain menekan ongkos produksi, dengan membuat sendiri beberapa komponen pembangun properti, kendali mutu akan tetap terjaga. Pada gilirannya, kepuasan konsumen yang sejatinya kami inginkan,” tandas Ari.

Ada Apa Dengan Bakrie? (2)

Sebelum melanjutkan sekuel tulisan ini, ijinkan saya mengucapkan terima kasih atas perkenan Pak AB yang telah mengunjungi dan membaca blog saya. Perlu diketahui, blog Anda sangat inspiratif, memacu saya untuk menulis lebih baik lagi.

———

Seorang petinggi sebuah perusahaan jasa konstruksi mengatakan kepada saya tentang keterkejutannya mendapatkan ‘ucapan terima kasih’ dari pihak Bakrie. ‘Nano-nano rasanya hahahaha,” gelaknya terpingkal-pingkal.

Saya, tentu saja merasa janggal. Baru kali itu mendapati orang yang cuma diterimakasihi,  bahagia setengah mati. “Memangnya Bapak dikasih apa sih? pasti bukan sekadar ucapan terima kasih,” tanya saya keheranan.

Sebelum pria paruh baya bertubuh sedang ini menceritakan kisah yang pastinya ‘heboh’ itu, ia mengajak saya ke sudut ruang yang dijadikan venue press conference beberapa jam sebelumnya. Dengan bahasa halus, diawali kromo inggil, Pak  S, membuka cerita. Lebih dari tigapuluh menit, saya mendapat data, fakta, dan juga analisa yang deras meluncur dari bibirnya.

Dalam tigapuluh menit itu, ada beberapa fakta yang menurutnya, juga terjadi dengan pihak lain. Lebih sering, ia mengingatkan saya untuk senantiasa berhati-hati jika sedang menulis sesuatu. “Untuk apa yang telah saya ucapkan. Ada beberapa hal yang off the record, dan ada beberapa hal yang saya ijinkan untuk kamu tulis,” imbuhnya.

Bagi saya, hal-hal yang off the record itu yang justru berbobot berita tinggi. Namun begitu, tak apalah. saya berusaha mengganti strategi bertanya lebih persuasif. Di sini saya menghindari pertanyaan interogatif atau yang terkesan investigatif. Obrolan pun lebih cair ketika saya menanyakan kabar proyek mereka yang terbaru, apa keistimewaannya dibanding dengan proyek lain. Dan yang penting, mengapa kemudian akhirnya menghidupkan kembali unit bisnis propertinya setelah sekian lama vakum.

Dari obrolan ngalor ngidul itu, akhirnya terucap juga apa yang saya cari. Pak S membenarkan apa yang selama ini menjadi isu santer di kalangan praktisi properti dan konstruksi. Namun, ia menggaris bawahi, praktik tersebut lumrah terjadi. “Yang melakukan, tidak hanya satu, tapi beberapa. Dan kami memaklumi,” imbuhnya.

Apa sih yang dimaklumi Pak S? bahwa pihaknya ditawari share (kepemilikan) atau space? dan berapa banyak?

Untuk hal ini, Pak S tidak mengangguk dan juga menggeleng. Semakin menambah rasa penasaran saya. “Sudah cukup ya. Nanti kita ngobrol lagi,” kata Pak S, seraya meninggalkan saya dengan senyum penuh arti.

Senyum penuh arti? Ahaaaaa…. saya pun melanjutkan perburuan. Memverifikasi informasi dan fakta awal yang saya dapat kepada orang-orang terkait yang bertanggung jawab atas tersebarnya isu, rumor atau bahkan terjadinya fakta itu.

Saya dijanjikan bertemu dengan Bapak PA. Namun, karena satu dan lain hal, jadwal pertemuan dimundurkan beberapa hari ke depan. Untuk mengobati kekecewaan batalnya bincang penting dengan salah satu petinggi perusahaan yang memiliki gedung di Jl HR Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan itu, saya dikenalkan dengan direksi lain yang kebetulan perempuan.

Mbak cantik berhidung mancung, perempuan itu, akhirnya menjawab beberapa pertanyaan saya dengan lugas. “Betul, ada beberapa proyek yang ‘macet’ dan diputuskan oleh land lordnya untuk ‘diendapkan’. Mereka menawari kami untuk bermitra dan karena pertimbangan fisibilitas, kami memutuskan untuk mengakuisisi sebagian dalam bentuk share (kepemilikan)”.

Kendati kepemilikan tidak mayoritas, namun karena posisi perusahaan ini sangat vital dan strategis, sangat menentukan dan mempengaruhi kelancaran konstruksi beberapa proyek yang tengah mereka kerjakan.

“Kami,” lanjut si Mbak tadi, “Tidak ingin terburu-buru mengusulkan untuk rekonsepsi atau mendesain ulang proyek-proyek tersebut. Karena terlalu mahal ongkosnya. Untuk itu, kami endapkan dulu sampai betul-betul laik untuk diteruskan”.

Akibat dari ‘diendapkan’nya ‘masalah-masalah’ konstruksi tadi, mudah ditebak, jika kemudian terjadi kasip atau bahkan mangkraknya beberapa proyek. Padahal, pemasaran dan penjualan tengah gencar-gencarnya dilakukan.

Namun, apa daya, gencarnya pemasaran tak disertai dengan gesitnya pembangunan. Secara kasat mata terlihat berkurangnya aktivitas para tukang bangunan, crane tower tak dioperasikan, begitu pula, lalu lalang kendaraan pengangkut alat berat tak tampak lagi.

Atas fakta tersebut, saya mencoba melakukan konfirmasi dengan Presiden Direktur sekaligus Chief Executive Officer Bakrieland Development Hiramsyah S Thaib. Konfirmasi saya lakukan di tengah-tengah acara media gathering dan apresiasi untuk media. “Tidak ada itu yang namanya konversi. Apalagi tawar-tawaran share. Kami tetap memegang komitmen pembangunan dilanjutkan. Kami tidak ingin mengecewakan konsumen yang sudah membeli properti kami. Ingat, kepercayaan konsumenlah yang membuat kami lebih diperhitungkan,” ucapnya.

Hiramsyah berani memberikan garansi, beberapa proyek yang kini tengah dikerjakan dalam unit bisnis city properties, akan rampung pada 2012. “Secara bertahap mulai akhir 2012. The Groove, the Wave, dan menyusul convergence tower pembangunannya dimulai tahun ini,” janjinya.

trikuel tulisan ini, akan saya publikasikan setelah deadline rampung.

Bincang Singkat Dengan Rachmat Gobel dan Borge Petersen

Acara media visit yang diadakan Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (DJEBTKE) Kementerian Sumber Daya Energi dan Sumber Daya Mineral, pagi tadi, menyisakan kisah menarik.

Adalah salah satu ruang di gedung Annex  yang merupakan kantor Ditjen Ketenagalistrikan Kementrian ESDM yang dijadikan pilot project sebagai kantor Energy Efficiency and Conservation Clearing House Indonesia (EECCHI), menjadi perbincangan hangat.

Para jurnalis dan tamu penting dari Kedutaan Besar Denmark selaku mitra strategis Kementerian ESDM untuk program EECHI mendapat penjelasan mengenai material ramah lingkungan, sistem kelistrikan dan bagaimana ruang tersebut dioperasikan.

Saat para jurnalis dan tamu penting khusyuk menyimak chapperone, saya berdua kawan justru menghampiri pengusaha terkenal Rachmat Gobel. Pria bertumbuh gempal ini, sebagaimana kita tahu merupakan nahkoda Panasonic Gobel Indonesia sekaligus Ketua Umum Gabungan Pengusaha Elektronika Indonesia.

Kami bertanya, mengapa peralatan listrik dan elektronik, seperti lampu hemat energi dan televisi LCD yang digunakan dalam ruang EECCHI ini justru merupakan produksi kompetitornya, Phillips dan Samsung Electronics? Mengapa Panasonic tak dipilih?

Untuk sesaat, parasnya kebingungan, namun sedetik kemudian dia terbahak-bahak.  Di sela gelak tawanya, begini katanya, “Hahahaha maaf, produk saya lebih berkualitas dari ini (lebih hemat energi). Nanti, untuk proyek percontohan berikutnya yang lebih besar, pasti pakai punya saya. Ini tak seberapa”.

Gobel pun berlalu ke ruang toilet pria, meninggalkan kami berdua yang tak puas dengan jawabannya.

Sementara Pak Dubes Denmark, Borge Petersen yang jadi tamu kehormatan pagi tadi, masih tekun menyimak penjelasan tentang kantor EECCHI. Bule satu ini, dengan ramah bertanya dan menjawab setiap jurnalis yang ingin mendapatkan informasi detil mengenai grant pemerintah Denmark bagi upaya konservasi energi di Indonesia. “Untuk jumlah grantnya sendiri, kami mengalokasikan dana sebesar 10 juta dolar AS sejak 2009. Angka ini memang tak seberapa. Namun, kami komit untuk terus bekerjasama dengan Indonesia. Selain itu ada technical assistance, dan transfer teknologi. Kami menyadari bahwa konservasi energi sangat penting bagi kehidupan manusia. Semoga apa yang kami kerjakan ini bermanfaat bagi kita semua,” ucap Borge.

Apa perbedaan keduanya, selain warna kulit, bentuk tubuh dan etnis serta kebangsaan? Jelas, Borge lebih piawai bagaimana memahami psikologi komunikasi dengan jurnalis. Kedua, kendati pemerintahnya telah memberikan sejumlah bantuan, namun Borge tetap menghargai kehadiran dan pemahaman kami.

Tabik!

Ada Apa Dengan Bakrie? (bagian pertama)

Seru juga obral obrol dengan para petinggi perusahaan pengembang. Ada rumor, isu, fakta, dan bahkan gabungan ketiganya. Kita sulit membedakan antara rumor, isu dan fakta. Karena yang meniupkan ketiganya ya para petinggi itu yang notabene merupakan nama-nama lama yang berkutat, untuk tidak dikatakan setia, di sektor properti. Jadi, apa pun yang mereka obrolkan, kita asumsikan saja, merupakan kebenaran. Karena, baik isu, rumor atau fakta, biasanya terjadi. meski, realisasinya beberapa tahun kemudian, setelah kabar itu berhembus.

Jagat properti, sejatinya sempit. Kabar kabur berputar hanya sekitar sepuluh besar pengembang. Kalau tidak Agung Podomoro Group, ya Bakrieland Development, atau Ciputra Group. selebihnya, silih berganti antara Dua Mutiara, Agung Sedayu, dan lainnya.

Nah, temperatur properti saat ini tengah memanas di atmosfer Bakrieland Development (selanjutnya dibaca Bakrie). Sebaliknya, suhu adem ayem justru menaungi Agung Podomoro Group. Pasalnya, kabar dipinangnya imperium bisnis pimpinan Trihatma K Haliman mencuatkan spekulasi, Bakrieland Development tengah ‘menggadaikan’ martabatnya selaku salah satu pengembang besar berpengaruh.

Beberapa analis yang saya temui, baik analis properti maupun analis yang biasa menyoroti emiten properti bursa efek Indonesia, sepakat mengatakan, Bakrie tengah berjudi. Lebih parah lagi, ada yang mengatakan they don’t know what they are doing.

Hengkangnya Ferdinand Sadeli dari kursi Direksi Keuangan Bakrie dianggap sebagai tragedi. Karena selain menyisakan kisah tak sedap, juga jejak konflik.  Ferdinand angkat kaki karena tak sepaham dengan direksi lain, akibat ketidaksetujuannya  dengan aksi penerbitan saham baru(rights issue), senilai Rp 3,2 triliun pada Juli lalu. sekadar informasi, sebagian dana hasil rights issue, yakni Rp 1,9 triliun, digunakan untuk membiayai akuisisi terhadap PT Bukit Jonggol.

Ferdinand, seperti dilansir Kontan, menganggap akuisisi Bukit Jonggol belum terlalu mendesak mengingat Bakrie masih memiliki cadangan lahan alias landbank. “Karena tidak kuat dengan konflik di dalam, Ferdinand akhirnya memilih mundur,” jelas sumber yang juga bekerja di Grup Bakrie itu. Meski akhirnya, spekulasi tersebut kemudian dibantah.

Namun, bantahan tersebut tak cukup kuat menentang arus spekulasi bahwa telah terjadi konflik hebat di Bakrie yang mengakibatkan rapuhnya soliditas kepemimpinan, manajemen, dan juga kinerja mereka.

Salah satu petinggi perusahaan jasa konstruksi yang saya wawancarai, membuka rahasia penting.  Rahasia itu antara lain kebiasaan Bakrie melakukan praktik konversi.  Konversi apa sajakah itu? dan siapa saja yang pernah ‘dikonversikan’ oleh Bakrie, dan apa pula korelasinya dengan ‘kericuhan’ yang terjadi di marketing office rasuna epicentrum beberapa waktu lalu?

semua jawabannya ada di bagian kedua tulisan ini. Tapi, sebelum membaca bagian kedua tersebut, ada baiknya Anda, para pembaca, memahami disclaimer berikut ini:

1. Saya melakukan obral obrol dengan para petinggi perusahaan yang sebagian besar tidak ingin disebutkan namanya.

2. Mereka tersebut perlu dihormati haknya untuk menjadi sumber anonim.

3. karena sumber anonim, tingkat akurasi dan validitas informasi yang saya dapatkan menjadi berkurang bobotnya

4. Meski demikian, seperti yang sudah saya singgung di atas, sesuai fatsoen properti, akan terjadi dalam waktu yang akan datang.

5. Jadi, kedewasaan berpikir dan bersikap dalam membaca tulisan saya ini sangat diperlukan

6. Untuk nara sumber yang tidak berkeberatan ditulis nama dan identitasnya, secara fair akan saya tuliskan.

7. Saya hanya memiliki motif menulis karena hobi dan kepuasan batin.

8. Bagi yang berkeberatan silakan menggunakan hak tanya, hak tolak atau hak jawab dalam kolom komentar di bawah ini.

9. Bakrieland Development adalah perusahaan properti besar yang dirintis sejak lebih dari dua dekade lalu yang saat ini dipimpin oleh para pemimpin muda yang dinamis, dan flamboyan. Menjadi sangat menarik karena manuver mereka, tak jarang mengguncang sektor properti menjadi atraksi akrobatik yang atraktif.

10. selamat menikmati bagian yang kedua tulisan saya.

Terampasnya Rasa Aman di Kota Wisata (2)

—- Sambungain dari tulisan sebelumnya—-

PPL ini wajah baru dari iuran pengelolaan lingkungan (IPL). Entah, apa maksud penggantian nama ini. Kalau tujuannya sama saja untuk membiayai operasionalisasi kawasan perumahan, kami tak keberatan. Namun, itu dengan beberapa kondisi, semua fasilitas dan utilitas yang selama ini dimanfaatkan oleh penghuni, ditambah dan diperbaiki dengan kualitas setara dengan iuran yang telah kami keluarkan. We get what we pay….

Di sini peran dan fungsi estate management menjadi sangat vital dan krusial. Sebab, di tangan merekalah semua rasa aman, nyaman, tertib, dan indah berada. Akan tetapi, seiring dengan perkembangan dan pertumbuhan kawasan, pengelola tak mampu mengantisipasinya dengan proper. Mereka gagap menghadapi kondisi aktual kawasan perumahan yang sangat dinamis. Orientasi estate management saat ini telah bergeser pada bagaimana mengingkatkan kinerja perolehan PPL tanpa mengindahkan bagaimana melipatgandakan kualitas pelayanan kepada warga penghuni.

Jelas, orientasi mereka berubah, karena kawasan perumahan Kota Wisata saat ini merupakan salah satu sentra pertumbuhan wilayah cibubur-Cileungsi-Mekarsari dan Jonggol. Pertumbuhan harga lahan dan propertinya bisa mencapai 15-20% per tahun. Ini menstimuli spekulan dan investor pemburu profit sesaat untuk memburu lahan dan properti di Kota Wisata. Elena Trisnawati, General Manager Business Development Kota Wisata, mengatakan, harga lahan untuk koridor komersial telah mencapai level Rp2,5 juta-3,5 juta/m2, sementara untuk kawasan permukiman berada pada posisi Rp1,6 juta-2 juta/m2.

Bandingkan dengan kondisi tahun 2006, saat saya membeli rumah di situ yang harganya ‘hanya’ Rp400 ribu/m2. Kinerja estate management waktu itu masih tengah dalam masa ‘promosi’. Mereka memberikan apa pun keinginan warga penghuni. customer satisfaction menjadi pertimbangan utama.

Namun, kondisi aktual berbalik. Mudah ditebak jika kinerja estate management menjadi sangat buruk. Banyak keluhan warga yang ditanggapi seadanya. Bahkan tak jarang hanya masuk ‘tong sampah’. Saya sendiri pernah menyampaikan keluhan kepada customer service mengenai lampu PJU yang di beberapa titik rawan, mati untuk jangka waktu lama. Hingga kini tak jua diperbaiki.

Ada apa dengan pengelolaan Kota Wisata terkini? Buruknya manajemen pengelolaan, berbuah pada meledaknya bom low explosive, Jumat lalu. Memang, jika mengaitkan langsung kejadian tersebut dengan performa estate management sangatlah naif. Namun, korelasi positif tentunya ada. Jika saja, faktor keamanan tetap mereka tempatkan pada skala prioritas, tentu saja potensi-potensi gangguan keamanan dapat direduksi secara maksimal.

Saat ini, masyarakat non penghuni bisa bebas keluar masuk kawasan perumahan tanpa dimintai keterangan atau ditanyai identitas. Bis-bis pariwisata, kendaraan umum atau motor dapat berkeliaran menuju tempat-tempat ‘wisata’ macam Kampoeng Cina, Fresh Market atau Fantasy Island. Kondisi lalu lintas menjadi semrawut tak terkendali, prasarana jalan menjadi arena kebut-kebutan, sampah pengunjung dadakan berserak di mana-mana, secara fisik aspal hot mix terkelupas di sana sini akibat tak sanggup menanggung beban bobot kendaraan yang melebihi kapasitas.

Apa yang penghuni dapat dari itu semua? rasa tidak aman, nir nyaman, dan jelas di luar ekspektasi. sebaliknya bagi estate management dan juga pengembang, semakin ramai kawasan Kota Wisata, maka semakin deras potensi uang mengalir ke kocek mereka. Seperti saya utarakan di atas sesuai dengan hasil wawancara, bahwa prestasi penjualan Kota Wisata, jauh melebihi perumahan-perumahan lain di sekitarnya. Ini karena, salah satunya, disebabkan oleh lengkapnya fasilitas yang disediakan.

Hanya saja, prestasi penjualan tersebut, ternoda oleh buruknya kinerja estate management. Prosedur operasional standard yang harusnya dijalankan dengan baik, terabaikan begitu saja. Dan mereka harus membayar mahal dari pengabaian itu dengan terjadinya peristiwa ledakan bom Jumat lalu.

Terampasnya Rasa Aman Di Kota Wisata

Meledaknya bom berdaya ledak rendah di Kota Wisata, Bogor, yang terjadi pada Jumat (18/3) lalu sejatinya tinggal menunggu waktu. Saya tidak hendak melihatnya dari kaca mata intelijen, melainkan dari perspektif estate management. Karena, Kota Wisata, merupakan salah satu perumahan elit yang (harusnya) terorganisasi dengan baik.

Sebagai salah satu dari sekian ribu penghuni perumahan yang dikembangkan PT Duta Pertiwi Tbk., saya merasa pengelolaan kawasan perumahan yang dilakukan belum maksimal. Bahkan dari hari ke hari cenderung menurun kualitas pengelolaannya. Padahal, motivasi saya dan mungkin juga ribuan penghuni lainnya, membeli rumah di sini adalah karena (salah satunya) faktor keamanan. Selain prestis, dan juga (janji) dikelola secara profesional oleh sebuah organisasi yang bernama estate management.

Faktor keamanan, menjadi pertimbangan utama saat saya memutuskan membeli rumah di sini. Sejak serah terima kunci pada 2006 silam, sistem sekuriti diberlakukan selama 24 jam dengan kebijakan buka-tutup satu pintu (one gate system). Khusus klaster Montreal, tempat saya tinggal, dan juga klaster Toronto, penghuni harus melalui dua gerbang pos pemeriksaan. Dari fakta ini, mestinya, keamanan akan terjaga dengan baik.

Namun, hal itu tinggal ekspektasi. Beberapa tindak kriminal berulang kali terjadi. Bahkan dalam satu hari yakni tanggal 10 Desember 2010, terjadi 4 kasus pencurian secara bersamaan yang menimpa penghuni rumah YA1-28, 29 dan 30 serta YA 12-15. Pencuri berhasil mengambil barang-barang elektronik seperti HP, Notebook/Laptop, Playstation, tablet PC, X-box dan lain-lain.

Dari fakta ini dapat disimpulkan bahwa sistem keamanan yang diberlakukan sangat tidak efektif. Kendati terdapat dua pos pemeriksaan, namun belum dapat memberikan garansi keamanan akan terjaga dengan baik.

Mari kita telaah, mengapa pencuri bisa lolos dari perhatian petugas sekuriti. two gates system seharusnya efektif untuk mencegah dan mengantisipasi tindak kriminal (pencurian) dengan asumsi apabila jumlah petugas keamanan cukup, dan mereka memonitor seluruh wilayah/area.

Pada kenyataannya, petugas keamanan yang dialokasikan hanya  8 orang setiap regunya. Mereka harus mengawasi sekitar 1.000 unit rumah yang tergabung dalam dua klaster, Montreal dan Toronto. Jelas, upaya ini sangat tidak rasional sehingga hasilnya pun jauh dari maksimal.

Warga bukannya tidak berupaya untuk memperbaiki keadaan ini. Melalui Ketua Paguyuban (semacam Rukun Warga), pada tanggal 16 Desember 2010 sudah mengajukan surat bernada “keras” kepada estate management yang kini diketuai Hogeny, meminta tambahan tenaga security, memperbaiki dan menambah utulitas seperti lampu penerang jalan umum, di setiap titik strategis, dan titik rawan, dan tambahan peralatan keamanan.

Apa tanggapan estate management? two gates system diubah menjadi one gate system. permintaan warga supaya pengelola menambah dan memperbaiki utilitas yang rusak tak kunjung mendapat tanggapan memuaskan. Yang ada hanyalah ‘pemaksaan’ untuk memandirikan klaster pada akhir Desember 2011.

Dari ilustrasi tersebut, jelas terbaca upaya pengelola untuk melemahkan posisi tawar penghuni. permintaan penghuni agar semua utilitas dan fasilitas diperbaiki, hanya dipandang sebelah mata. Sementara di sisi lain, penghuni dituntut untuk memenuhi kewajibannya setiap bulan berupa keharusan membayar penggati pengelolaan lingkungan (PPL) yang besarannya proporsional sesuai dengan luas tanah dan bangunan rumah. PPL ini wajah baru dari iuran pengelolaan lingkungan (IPL). Entah, apa maksud penggantian nama ini. Kalau tujuannya sama saja untuk membiayai operasionalisasi kawasan perumahan, kami tak keberatan.