Terampasnya Rasa Aman di Kota Wisata (2)

—- Sambungain dari tulisan sebelumnya—-

PPL ini wajah baru dari iuran pengelolaan lingkungan (IPL). Entah, apa maksud penggantian nama ini. Kalau tujuannya sama saja untuk membiayai operasionalisasi kawasan perumahan, kami tak keberatan. Namun, itu dengan beberapa kondisi, semua fasilitas dan utilitas yang selama ini dimanfaatkan oleh penghuni, ditambah dan diperbaiki dengan kualitas setara dengan iuran yang telah kami keluarkan. We get what we pay….

Di sini peran dan fungsi estate management menjadi sangat vital dan krusial. Sebab, di tangan merekalah semua rasa aman, nyaman, tertib, dan indah berada. Akan tetapi, seiring dengan perkembangan dan pertumbuhan kawasan, pengelola tak mampu mengantisipasinya dengan proper. Mereka gagap menghadapi kondisi aktual kawasan perumahan yang sangat dinamis. Orientasi estate management saat ini telah bergeser pada bagaimana mengingkatkan kinerja perolehan PPL tanpa mengindahkan bagaimana melipatgandakan kualitas pelayanan kepada warga penghuni.

Jelas, orientasi mereka berubah, karena kawasan perumahan Kota Wisata saat ini merupakan salah satu sentra pertumbuhan wilayah cibubur-Cileungsi-Mekarsari dan Jonggol. Pertumbuhan harga lahan dan propertinya bisa mencapai 15-20% per tahun. Ini menstimuli spekulan dan investor pemburu profit sesaat untuk memburu lahan dan properti di Kota Wisata. Elena Trisnawati, General Manager Business Development Kota Wisata, mengatakan, harga lahan untuk koridor komersial telah mencapai level Rp2,5 juta-3,5 juta/m2, sementara untuk kawasan permukiman berada pada posisi Rp1,6 juta-2 juta/m2.

Bandingkan dengan kondisi tahun 2006, saat saya membeli rumah di situ yang harganya ‘hanya’ Rp400 ribu/m2. Kinerja estate management waktu itu masih tengah dalam masa ‘promosi’. Mereka memberikan apa pun keinginan warga penghuni. customer satisfaction menjadi pertimbangan utama.

Namun, kondisi aktual berbalik. Mudah ditebak jika kinerja estate management menjadi sangat buruk. Banyak keluhan warga yang ditanggapi seadanya. Bahkan tak jarang hanya masuk ‘tong sampah’. Saya sendiri pernah menyampaikan keluhan kepada customer service mengenai lampu PJU yang di beberapa titik rawan, mati untuk jangka waktu lama. Hingga kini tak jua diperbaiki.

Ada apa dengan pengelolaan Kota Wisata terkini? Buruknya manajemen pengelolaan, berbuah pada meledaknya bom low explosive, Jumat lalu. Memang, jika mengaitkan langsung kejadian tersebut dengan performa estate management sangatlah naif. Namun, korelasi positif tentunya ada. Jika saja, faktor keamanan tetap mereka tempatkan pada skala prioritas, tentu saja potensi-potensi gangguan keamanan dapat direduksi secara maksimal.

Saat ini, masyarakat non penghuni bisa bebas keluar masuk kawasan perumahan tanpa dimintai keterangan atau ditanyai identitas. Bis-bis pariwisata, kendaraan umum atau motor dapat berkeliaran menuju tempat-tempat ‘wisata’ macam Kampoeng Cina, Fresh Market atau Fantasy Island. Kondisi lalu lintas menjadi semrawut tak terkendali, prasarana jalan menjadi arena kebut-kebutan, sampah pengunjung dadakan berserak di mana-mana, secara fisik aspal hot mix terkelupas di sana sini akibat tak sanggup menanggung beban bobot kendaraan yang melebihi kapasitas.

Apa yang penghuni dapat dari itu semua? rasa tidak aman, nir nyaman, dan jelas di luar ekspektasi. sebaliknya bagi estate management dan juga pengembang, semakin ramai kawasan Kota Wisata, maka semakin deras potensi uang mengalir ke kocek mereka. Seperti saya utarakan di atas sesuai dengan hasil wawancara, bahwa prestasi penjualan Kota Wisata, jauh melebihi perumahan-perumahan lain di sekitarnya. Ini karena, salah satunya, disebabkan oleh lengkapnya fasilitas yang disediakan.

Hanya saja, prestasi penjualan tersebut, ternoda oleh buruknya kinerja estate management. Prosedur operasional standard yang harusnya dijalankan dengan baik, terabaikan begitu saja. Dan mereka harus membayar mahal dari pengabaian itu dengan terjadinya peristiwa ledakan bom Jumat lalu.

Iklan

4 Tanggapan

  1. Salam,
    Sebenarnya saya senang membaca tulisan2 anda yg tajam & informatif di blog ini. Tapi saya sedikit terkejut & berasa de javu ketika membaca sepotong kalimat anda di atas:

    “Saat ini, masyarakat non penghuni bisa bebas keluar masuk kawasan perumahan tanpa dimintai keterangan atau ditanyai identitas. Bis-bis pariwisata, kendaraan umum atau motor dapat berkeliaran menuju tempat-tempat ‘wisata’ macam Kampoeng Cina, Fresh Market atau Fantasy Island. Kondisi lalu lintas menjadi semrawut tak terkendali, prasarana jalan menjadi arena kebut-kebutan, sampah pengunjung dadakan berserak di mana-mana, secara fisik aspal hot mix terkelupas di sana sini akibat tak sanggup menanggung beban bobot kendaraan yang melebihi kapasitas……………………”

    Saya pernah menulis keluhan/kritikan semacam ini di forum skyscrapercity tentang SeasonsCity. Tapi saat itu anda menghujani saya dengan teguran & kritikan penuh karena mengganggap saya mendiskriminasi kelompok masyarakat tertentu karena perilakunya yg buruk terhadap suatu lingkungan. Yg berujung pada closing thread tersebut dan saya pun dianggap sebagai biang masalah.

    Lalu, bagaimana dengan tulisan anda di atas? Bukankah bunyinya hampir sama dengan yg pernah saya keluhkan tentang kondisi SeasonsCity? Kenapa pada saat itu anda begitu sensitif dan tidak memberi ruang bagi saya untuk berpendapat? Anda sebagai pewarta yg hebat harusnya mengerti tentang demokrasi berpendapat bukan?
    Anda boleh mengkritik tentang keadaan lingkungan dan perilaku masyarakat sekitar anda yg mengganggu lingkungan tempat tinggal anda, lalu saya tidak bolehkah membahas hal serupa dalam forum? Saya dianggap diskriminasi saat itu, lalu anda tidak?

    Mbak Hilda yg saya Hormati,
    Saya dan anda sama-sama masyarakat yg “membeli” keamanan di Republik tercinta ini. Alangkah bijaknya bila saya diberi kesempatan yg sama untuk berkeluh-kesah dan berpendapat (apalagi dlm sebuah forum) tentang sebuah keadaan lingkungan yg jujur & nyata. Kenapa saat itu kita semua tidak sama-sama membahas jalan keluarnya, malah saling menghakimi satu sama lain.

    Jujur, saya sangat suka membaca tulisan2 anda di blog ini. Hanya kalo boleh saran, jangan terlalu lama dalam menerbitkan sebuah tulisan. Akan lebih menarik bila dalam seminggu ada 2-3 tulisan baru.
    Saya harap anda lebih objektif, karena anda sangat tidak objektif terhadap saya.
    Saya berharap anda bisa menulis tentang SeasonsCity dan rencana makeover daerah sekitar Jembatan Besi (belakang SC) yg akan menjadi future plannya SeasonsCity yg informasinya masih abu-abu & rahasia, semoga anda yg pertama mengulasnya.

    Terima kasih & sukses terus dengan tulisan2 anda baik di majalah atau di blog ini.

    • Anda sdh bertanya pada diri Anda sendiri, sblm menulis komentar atas tulisan saya?
      1. Apakah Anda penghuni Seasons City?
      2. Apakah Anda berbicara di dalam blog pribadi?
      3. Apakah Anda menggunakan kata-kata yg tidak senonoh dlm forum skyscrapercity?
      4. Apakah Anda merasa objektif dgn menilai tulisan saya?
      5. Apakah Anda sdh memeriksa kembali apakah saya mengkritik dan menegur dlm forum ssci tersebut?
      6. Apakah Anda sudah membaca tulisan saya ini dgn baik dan benar dan memahami?
      7. Apakah ditemukan kata-kata tak senonoh dlm tulisan saya ini seperti kata “udik” dan “kampungan yang justru Anda gunakan dlm forum ssci untuk semakin meneguhkan prilaku dan sikap Anda yg
      diskriminatif?
      8. Apakah anda menyadari tulisan yg Anda baca ini merupakan blog pribadi? Jadi hak saya untuk berlama-lama menayangkan tulisan atau hak saya juga untuk menerbitkan tulisan baru….
      9. Apakah Anda sdh menyadari siapa Anda sejatinya?
      10. Terima kasih sdh berkomentar dan memahami tulisan saya kendati dgn cara yg salah….

      Salam 😀

  2. Baiklah, saya akan mencoba menjawab satu per satu pertanyaan Anda dgn baik, benar & sejujur-jujurnya:

    1. Iya, saya adalah calon penghuni Seasons City yg sebentar lagi serah terima unit. Sekaligus jg salah satu pedagang di Trade Mallnya. Jadi, saya jg memahami betul kondisi lingkungan di sana. Saya sudah mulai berdagang di sana sejak bulan Juli 2009. Sekali lagi, Anda & teman2 Anda jangan menuduh saya sebagai Marketing, sama sekali bukan, tapi kalo berkenalan banyak dengan marketing2 dan atasan2 di sana, Itu Benar.

    2. Benar, saya tidak berbicara dalam blog pribadi, tapi dlm sebuah forum bebas. Fisiknya beda, namun blog & forum sama2 dibaca oleh ratusan bahkan ribuan pembaca umum.

    3. Ok, kalo anda terus-menerus menuduh saya menggunakan kata “tidak senonoh”, saya rasa itu terlalu berlebihan. Bagian mana yg menunjukkan hal itu?

    4. Soal objektif atau tidak, itu hak Anda menilai . Yg saya lakukan hanya menyamakan kondisi/perasaan yg Anda keluhkan di blog sama seperti yg pernah saya keluhkan soal SeasonsCIty di forum SSCI. Saya tidak sedang menilai tulisan Anda, saya tidak berada dalam kapasitas itu. saya hanya menggambarkan keadaan yg sama.

    5. Lho, Bukankah Anda yg memulai mengkritik & menegur langsung saya? Lalu diikuti oleh teman2 Anda seperti seolah-olah saya sangat “berdosa” terhadap topik tersebut?

    6. Saya sudah membaca dgn sangat baik dan memahami. Makanya, saya baru berkomentar.

    7. Mbak Hilda yg saya hormati, kata2 “udik” dan “kampung” itu bukan berasal dari saya. Kalo Anda bisa membuka topik itu dan membaca kembali dari awal, Anda bisa melihat siapa yg memulai kata2 itu. Saya hanya mengikuti istilah tersebut. Namanya jg forum, biasanya kita akan mengikuti segala sesuatu yg dibicarakan dari awal, terkadang dengan bahasa santai dan sedkit nyentil, saya rasa itu hal yg wajar & biasa. Saya sudah berulang-kali menjelaskan, kalo bukan saya yg menciptakan istilah2 itu. Lagipula, saya heran, kenapa hanya karena istilah tersebut, Anda sangat mempermasalahkannya? Saya sering membaca banyak komentar & tulisan yg lebih parah dan lebih kritis daripada hanya istilah “udik”. Tapi malah istilah “udik” ini dibuat berlarut-larut sampai meyakinkan kalo saya ini diskriminatif dsbnya.

    8. Betul, semua itu HAK Anda yg TIDAK akan saya ganggu gugat. Tapi, apakah Anda juga menyadari kalo apa yg saya tulis di forum SSCI itu merupakan pendapat/komentar bebas yg merupakan HAK berkomentar yg dipunyai oleh setiap membernya. Apakah kata2 “udik” dan “orang kampung” merupakan kata yg tidak senonoh? Saya rasa tidak ada kamus & hukum yg akan menjelaskan kalo konotasi “udik” itu merupakan kata tidak senonoh. Kalo saya memaki-maki dengan bahasa kasar, tidak sopan atau mengumpat, bolehlah Anda menilai demikian.

    9. Saya adalah Warga Negara Indonesia biasa yg sebenarnya tidak perlu beradu pendapat dengan Anda. Tapi, saya heran kenapa Anda menilai & menuduh saya seperti itu? Bolehkan saya bertanya, apakah Anda ini Objektif juga?
    Saya tau, Anda mencoba meremehkan saya. Saya memang bukan pewarta properti sehebat Anda. Profesi saya jauh diluar properti.

    10. Terima Kasih, Anda sudah mau membalas komentar saya. Saya hanya ingin katakan sekali lagi, Saya hanya seorang penghuni yg ketika menulis di forum SSCI bersama teman2 lain sedang mencemaskan kondisi lingkungan yg kami hadapi, sama seperti tulisan anda di blog ini yg sedang menghadapi ketidaknyamanan lingkungan.

    Mbak Hilda, sebenarnya tidak ada tujuan saya untuk mencela Anda dsbnya. Jujur, saya hanya kesal seolah-olah saya dijadikan tumbal di forum SSCI, dan topik tersebut di-close oleh moderatornya yg menurut saya sangat arogan dan diskriminatif terhadap anggotanya.
    Saya sudah tinggal di sekitar daerah Jembatan Besi (sekitar SeasonsCity) sejak saya lahir, sudah 30 tahun. Saya memahami betul kondisi lingkungan tersebut. Lingkungan sana memang dianggap “angker” oleh sebagian orang. Tapi kenyataannya itu tidak benar. Semua masyarakat di sana yg berbeda-beda suku & agama hidup rukun & damai. Anda bisa mengamati, pernahkah ada masalah rasial & anarkis di sekitar daerah tersebut? Saya pun bergaul dengan berbagai warga di sana, tidak membeda-bedakan sama sekali. Hubungan kami sangat baik sekali, benar2 toleran & harmonis. Karyawan saya pun terdiri dari berbagai suku, ras & agama. Jadi, kalo Anda & teman2 lain di forum menilai saya diskrimininatif, itu sangat berlebihan.
    Saat menulis di forum, saya hanya menggambarkan perilaku2 pengunjung yg buruk ketika berada di SeasonsCity. Hanya perilakunya yg saya sebutkan dan sama sekali TIDAK bertujuan mengarah ke kelompok masyarakat manapun. Semua pengunjung yg berperilaku buruk & melanggar aturan kita anggap tidak baik (yg kemudian diistilahkan “udik”) tanpa membedakan suku & ras apapun. Istilah “udik” ini kan sebenarnya istilah konotasi yg sudah lazim digunakan. Saya rasa, Mbak Hilda di kantor juga pernah becanda dengan teman dengan memakai istilah “orang udik”. Pengunjung2 Kota Wisata, tempat tinggal anda yg membuang sampah sembarangan, Anda tentu tidak suka. SAMA, saya juga tidak suka ketika ada pengunjung yg membuang sampah atau merokok di dalam SeasonsCity. Dan saya menuangkannya di dalam forum untuk dibahas jalan keluarnya bersama teman2 lain atau mungkin bersama Anda. Namun, Anda bukannya memberi ide atau masukkan, malah Anda mengkritik saya lalu diikuti oleh teman2 Anda yg entah kenapa seperti ingin memprovokasi suasana.

    Sekali lagi, saya TIDAK sedang mencari-cari masalah dengan Anda. TIDAK sama sekali. Saya justru suka membaca blog Anda untuk mengisi waktu & menambah informasi tentang properti, siapa tau ada investasi bagus dari informasi2 yg anda berikan. Kalo Anda bisa melihat IP Address saya, anda akan tau seberapa sering saya memasuki blog ini, BUKAN untuk mencari kesalahan Anda, tapi MURNI untuk mencari informasi. Kebetulan saya hanya terkejut membaca penggambaran Anda tentang buruknya Kota Wisata saat ini, mengingatkan saya kalo saya pernah menggambarkan hal yg buruk tentang SeasonsCity tapi ditentang oleh Anda.

    Kita telah berkenalan dan bertukar pendapat dengan cara yg salah………

    Salam 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: