Ada Apa Dengan Bakrie? (2)

Sebelum melanjutkan sekuel tulisan ini, ijinkan saya mengucapkan terima kasih atas perkenan Pak AB yang telah mengunjungi dan membaca blog saya. Perlu diketahui, blog Anda sangat inspiratif, memacu saya untuk menulis lebih baik lagi.

———

Seorang petinggi sebuah perusahaan jasa konstruksi mengatakan kepada saya tentang keterkejutannya mendapatkan ‘ucapan terima kasih’ dari pihak Bakrie. ‘Nano-nano rasanya hahahaha,” gelaknya terpingkal-pingkal.

Saya, tentu saja merasa janggal. Baru kali itu mendapati orang yang cuma diterimakasihi,  bahagia setengah mati. “Memangnya Bapak dikasih apa sih? pasti bukan sekadar ucapan terima kasih,” tanya saya keheranan.

Sebelum pria paruh baya bertubuh sedang ini menceritakan kisah yang pastinya ‘heboh’ itu, ia mengajak saya ke sudut ruang yang dijadikan venue press conference beberapa jam sebelumnya. Dengan bahasa halus, diawali kromo inggil, Pak  S, membuka cerita. Lebih dari tigapuluh menit, saya mendapat data, fakta, dan juga analisa yang deras meluncur dari bibirnya.

Dalam tigapuluh menit itu, ada beberapa fakta yang menurutnya, juga terjadi dengan pihak lain. Lebih sering, ia mengingatkan saya untuk senantiasa berhati-hati jika sedang menulis sesuatu. “Untuk apa yang telah saya ucapkan. Ada beberapa hal yang off the record, dan ada beberapa hal yang saya ijinkan untuk kamu tulis,” imbuhnya.

Bagi saya, hal-hal yang off the record itu yang justru berbobot berita tinggi. Namun begitu, tak apalah. saya berusaha mengganti strategi bertanya lebih persuasif. Di sini saya menghindari pertanyaan interogatif atau yang terkesan investigatif. Obrolan pun lebih cair ketika saya menanyakan kabar proyek mereka yang terbaru, apa keistimewaannya dibanding dengan proyek lain. Dan yang penting, mengapa kemudian akhirnya menghidupkan kembali unit bisnis propertinya setelah sekian lama vakum.

Dari obrolan ngalor ngidul itu, akhirnya terucap juga apa yang saya cari. Pak S membenarkan apa yang selama ini menjadi isu santer di kalangan praktisi properti dan konstruksi. Namun, ia menggaris bawahi, praktik tersebut lumrah terjadi. “Yang melakukan, tidak hanya satu, tapi beberapa. Dan kami memaklumi,” imbuhnya.

Apa sih yang dimaklumi Pak S? bahwa pihaknya ditawari share (kepemilikan) atau space? dan berapa banyak?

Untuk hal ini, Pak S tidak mengangguk dan juga menggeleng. Semakin menambah rasa penasaran saya. “Sudah cukup ya. Nanti kita ngobrol lagi,” kata Pak S, seraya meninggalkan saya dengan senyum penuh arti.

Senyum penuh arti? Ahaaaaa…. saya pun melanjutkan perburuan. Memverifikasi informasi dan fakta awal yang saya dapat kepada orang-orang terkait yang bertanggung jawab atas tersebarnya isu, rumor atau bahkan terjadinya fakta itu.

Saya dijanjikan bertemu dengan Bapak PA. Namun, karena satu dan lain hal, jadwal pertemuan dimundurkan beberapa hari ke depan. Untuk mengobati kekecewaan batalnya bincang penting dengan salah satu petinggi perusahaan yang memiliki gedung di Jl HR Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan itu, saya dikenalkan dengan direksi lain yang kebetulan perempuan.

Mbak cantik berhidung mancung, perempuan itu, akhirnya menjawab beberapa pertanyaan saya dengan lugas. “Betul, ada beberapa proyek yang ‘macet’ dan diputuskan oleh land lordnya untuk ‘diendapkan’. Mereka menawari kami untuk bermitra dan karena pertimbangan fisibilitas, kami memutuskan untuk mengakuisisi sebagian dalam bentuk share (kepemilikan)”.

Kendati kepemilikan tidak mayoritas, namun karena posisi perusahaan ini sangat vital dan strategis, sangat menentukan dan mempengaruhi kelancaran konstruksi beberapa proyek yang tengah mereka kerjakan.

“Kami,” lanjut si Mbak tadi, “Tidak ingin terburu-buru mengusulkan untuk rekonsepsi atau mendesain ulang proyek-proyek tersebut. Karena terlalu mahal ongkosnya. Untuk itu, kami endapkan dulu sampai betul-betul laik untuk diteruskan”.

Akibat dari ‘diendapkan’nya ‘masalah-masalah’ konstruksi tadi, mudah ditebak, jika kemudian terjadi kasip atau bahkan mangkraknya beberapa proyek. Padahal, pemasaran dan penjualan tengah gencar-gencarnya dilakukan.

Namun, apa daya, gencarnya pemasaran tak disertai dengan gesitnya pembangunan. Secara kasat mata terlihat berkurangnya aktivitas para tukang bangunan, crane tower tak dioperasikan, begitu pula, lalu lalang kendaraan pengangkut alat berat tak tampak lagi.

Atas fakta tersebut, saya mencoba melakukan konfirmasi dengan Presiden Direktur sekaligus Chief Executive Officer Bakrieland Development Hiramsyah S Thaib. Konfirmasi saya lakukan di tengah-tengah acara media gathering dan apresiasi untuk media. “Tidak ada itu yang namanya konversi. Apalagi tawar-tawaran share. Kami tetap memegang komitmen pembangunan dilanjutkan. Kami tidak ingin mengecewakan konsumen yang sudah membeli properti kami. Ingat, kepercayaan konsumenlah yang membuat kami lebih diperhitungkan,” ucapnya.

Hiramsyah berani memberikan garansi, beberapa proyek yang kini tengah dikerjakan dalam unit bisnis city properties, akan rampung pada 2012. “Secara bertahap mulai akhir 2012. The Groove, the Wave, dan menyusul convergence tower pembangunannya dimulai tahun ini,” janjinya.

trikuel tulisan ini, akan saya publikasikan setelah deadline rampung.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: