Bincang Singkat Dengan Rachmat Gobel dan Borge Petersen

Acara media visit yang diadakan Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (DJEBTKE) Kementerian Sumber Daya Energi dan Sumber Daya Mineral, pagi tadi, menyisakan kisah menarik.

Adalah salah satu ruang di gedung Annex  yang merupakan kantor Ditjen Ketenagalistrikan Kementrian ESDM yang dijadikan pilot project sebagai kantor Energy Efficiency and Conservation Clearing House Indonesia (EECCHI), menjadi perbincangan hangat.

Para jurnalis dan tamu penting dari Kedutaan Besar Denmark selaku mitra strategis Kementerian ESDM untuk program EECHI mendapat penjelasan mengenai material ramah lingkungan, sistem kelistrikan dan bagaimana ruang tersebut dioperasikan.

Saat para jurnalis dan tamu penting khusyuk menyimak chapperone, saya berdua kawan justru menghampiri pengusaha terkenal Rachmat Gobel. Pria bertumbuh gempal ini, sebagaimana kita tahu merupakan nahkoda Panasonic Gobel Indonesia sekaligus Ketua Umum Gabungan Pengusaha Elektronika Indonesia.

Kami bertanya, mengapa peralatan listrik dan elektronik, seperti lampu hemat energi dan televisi LCD yang digunakan dalam ruang EECCHI ini justru merupakan produksi kompetitornya, Phillips dan Samsung Electronics? Mengapa Panasonic tak dipilih?

Untuk sesaat, parasnya kebingungan, namun sedetik kemudian dia terbahak-bahak.  Di sela gelak tawanya, begini katanya, “Hahahaha maaf, produk saya lebih berkualitas dari ini (lebih hemat energi). Nanti, untuk proyek percontohan berikutnya yang lebih besar, pasti pakai punya saya. Ini tak seberapa”.

Gobel pun berlalu ke ruang toilet pria, meninggalkan kami berdua yang tak puas dengan jawabannya.

Sementara Pak Dubes Denmark, Borge Petersen yang jadi tamu kehormatan pagi tadi, masih tekun menyimak penjelasan tentang kantor EECCHI. Bule satu ini, dengan ramah bertanya dan menjawab setiap jurnalis yang ingin mendapatkan informasi detil mengenai grant pemerintah Denmark bagi upaya konservasi energi di Indonesia. “Untuk jumlah grantnya sendiri, kami mengalokasikan dana sebesar 10 juta dolar AS sejak 2009. Angka ini memang tak seberapa. Namun, kami komit untuk terus bekerjasama dengan Indonesia. Selain itu ada technical assistance, dan transfer teknologi. Kami menyadari bahwa konservasi energi sangat penting bagi kehidupan manusia. Semoga apa yang kami kerjakan ini bermanfaat bagi kita semua,” ucap Borge.

Apa perbedaan keduanya, selain warna kulit, bentuk tubuh dan etnis serta kebangsaan? Jelas, Borge lebih piawai bagaimana memahami psikologi komunikasi dengan jurnalis. Kedua, kendati pemerintahnya telah memberikan sejumlah bantuan, namun Borge tetap menghargai kehadiran dan pemahaman kami.

Tabik!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: