Pulomas, Masih Punya Daya Tarik

Bagi warga Jakarta generasi tua, Pulomas pernah tenar sebagai kawasan elit. Sejak awal, kawasan ini dirancang untuk kalangan the haves. Lazim jika yang menetap di sini adalah para pejabat di sejumlah departemen (kantor pemerintahan) dan BUMN atau para pengusaha (untuk sektor swasta).

Pengembangan Pulomas sendiri diawali oleh Yayasan Perumahan Pulomas di tahun 1963. Yayasan ini mendapat delegasi kewenangan oleh pemerintah daerah Jakarta untuk mengembangkan lahan seluas 350 hektar, sebagai area permukiman berikut sarana pendukungnya. Pertumbuhannya kian pesat, seiring dibangunnya jalan Perintis Kemerdekaan pada kurun 1970, di sisi utara yang menghubungkan Pulogadung dan Senen.

Jadilah Pulomas tampil sebagai kawasan permukiman terbuka yang paling lengkap fasilitasnya. Terdapat lapangan pacuan kuda satu-satunya di Jakarta, area komersial dan juga fasilitas pendidikan. Di sisi barat laut yang berbatasan dengan bypass road dibangun danau buatan Ria-Rio. Perkembangan Pulomas, ini menstimuli para investor dan pengembang guna mengiringinya dengan menggarap wilayah lain yang berdekatan. Seperti Kelapa Gading. Adalah PT Summarecon Agung yang merintis pembangunan perumahan kelas menengah atas berkonsep real estate.

Tak sebatas itu, mereka juga membangun ekologi kawasan dengan sangat lengkap. Seperti pusat belanja, hotel, pusat olahraga, fasilitas pendidikan, perkantoran dan perniagaan berupa rukan dan ruko. Mudah ditebak, jika kemudian Kelapa Gading justru lebih melesat dibanding Pulomas yang notabene mengalami kemandekan baik dalam hal investasi proyek baru maupun penataan kawasan.

Harga lahan dan propertinya juga kalah saing. Jika di jalan lingkungan Kelapa Gading harga aktual saat ini mencapai Rp10 juta/m2, maka di Pulomas hanya Rp3 juta-5 juta/m2. Padahal, di Pulomas tidak ada lagi lahan tersisa untuk pengembangan baru. Sementara di Kelapa Gading yang lahan kosongnya relatif lebih banyak justru semakin menggoda investor untuk leluasa membangun berbagai jenis dan konsep properti.

Namun demikian, toh Pulomas tetap dilirik. Ini karena lokasinya strategis dan aksesibilitasnya yang mudah, menyusul dibangunnya Jalan Lingkar Luar Jakarta sesi Timur, dengan pintu terdekatnya di Pulogebang. Mereka yang eksis di kawasan ini antara lain, PT Pulomas Gemala Misori dan Keppel Land Ltd dengan proyeknya Apartemen Pasadenia Garden di tepi lapangan pacuan kuda, lalu PT Premier Indonesia yang mengembangkan Kayu Putih Residence, dan PT Duta Anggada Realty Tbk. (Pulomas Residence). Sebelumnya juga sudah ada Villa Tanah Mas. Karena terhitung lahan sisa, skala proyek mereka tidak bisa dikatakan besar, di bawah 10 Ha. Seperti Pulomas Residence, yang cuma berluas 6,5 Ha dan dirancang sebagai townhouse terdiri atas 190 unit.

Belakangan pengembangannya kembali bergeliat. Upaya tersebut tentunya dimaksudkan untuk mengejar ketertinggalannya. Karena itu, berbekal surat perintah Gubernur DKI Jakarta Nomor 2961/-1.711/5 tanggal 5 November 2004, Pulomas mulai berbenah diri. Seperti bisa dilihat pada situs PT Pulo Mas Jaya, tercatat akan ada 10 proyek hadir di sini dan untuk itu, BUMD Jakarta ini mau bermitra dengan pihak swasta. Antara lain yang sekarang sedang diselesaikan adalah Korea Town, seluas 3,1 Ha di tepi Jalan Kayu Putih Raya oleh PT Korea World Trade Center Indonesia (KWTCI). Proyek ini sebenarnya sudah diluncurkan tahun 2005 dan akan selesai setahun kemudian, sayangnya terbengkalai. Juga persis pinggir lapangan pacuan kuda, di sisi yang lain, PT Paramita Bangun Cipta Sarana sedang membangun Pulomas Adventure. Pusat belanja berkonsep sport lifestyle. Hanya saja, proyek ini juga tak bergerak saat Properti Indonesia menyambanginya beberapa waktu lalu.

Begitu pula dengan proyek rumah susun Pulomas yang mengalami rekonsepsi. Saat ini, kondisinya sudah rata dengan tanah dan hanya berpagar seng tanpa ada kegiatan proyek sama sekali. Rencananya kawasan ini akan direvitalisasi hingga ke area danan Ria Rio yang berseberangan dengan superblok Cempaka Mas. Akan terdiri atas beberapa blok apartemen sederhana milik, pusat belanja dan fasilitas pelengkap lainnya.

Rencananya di sekitar waduk ini pula, PT Perdana Gapuraprima Tbk (GPRA) dan PT Jakarta Propertindo melalui anak usahanya akan membangun superblok. Luasnya sekitar 25 hektar. Masih dalam rancangan konsep, seiring dengan masalah perizinan yang juga belum selesai. Kondisi aktual kawasan waduk saat ini sudah berpagar beton tidak seperti sebelumnya yang banyak terdapat bangunan liar.

Kehadiran superblok ini nampaknya akan mengubah wajah Pulomas. Selain lumayan luas dalam skala proyek, posisinya juga berada di bibir jalan utama yang terhubung dengan jalan tol menuju dalam kota.

Source: M Hardiansyah

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: