Yang Baru, Terus Melaju

I’m the number one  developer in New York, I’m the biggest in Atlantic City, and maybe we’ll keep it that way.  Donald Trump. Siapa tak kenal taipan properti asal negeri Paman Sam ini? Pernyataan bisnisnya diikuti oleh hampir seluruh pengusaha properti jagat bumi. Betapa tidak, ia adalah salah satu yang sukses memberikan pengaruh signifikan terhadap tren dan preferensi pasar properti. Kendati pernah jatuh dan berada dalam titik koordinat semula ia mengawali bisnis, namun tetap tegar. Dihajar resesi dan kebangkrutan parah pada 1990, toh tetap membuatnya tegak berdiri. Karena baginya, resesi, atau apapun badai ekonomi, hanyalah bagian dari sebuah permainan.

Baginya, uang bukanlah motivasi terbesar. Uang hanyalah sarana untuk memutar roda bisnis. Hal terpenting yang menjadi kesenangan hidupnya adalah terus berperan dalam “memainkan” bisnis. The real excitement is playing the game. Ya, terus berada dalam pusaran ‘benang merah’ perekonomian dunia.

Dan Trump tampil sebagai pengembang hebat. Bukan pengembang medioker yang mundur gelanggang kala dihantam masalah hebat. Ketegaran, orisinalitas pemikiran serta keberaniannya dalam bertindak, menginspirasi banyak pihak. Terutama para pengembang Indonesia generasi 1990-an (baru memulai bisnisnya pada medio 1990-2000).

“Visi kami adalah menjadi sepuluh besar pengembang terbaik Indonesia,” ujar CEO Broadbiz Asia, Robby Irwanto. Keberanian Robby dalam memproyeksikan posisi perusahaan, kendati baru berusia sepuluh tahun, patut diapresiasi. Pasalnya, portofolio Broadbiz Asia berbiak lumayan cepat. Hingga kini, terdapat empat portofolio besar yang tengah dan akan digarap dengan nilai total investasi sejumlah Rp575 miliar. Padahal modal awal ketika terjun di sektor ini hanya sebesar Rp5 miliar.

Apa kiat dan strateginya? Tak serupa dengan yang diimplementasikan Trump memang. Namun, setidaknya nilai-nilai universal dalam berbisnis seperti semangat profesionalisme, modernitas manajerial dan juga rancangan business plan terukur, diadopsinya separipurna mungkin.

Robby dengan jeli melakukan pemetaan dan penentuan segmentasi, nilai dan proyeksi akseptabilitas produk propertinya. “Inovasi senantiasa kami lakukan agar mudah diterima pasar. Selain itu juga kami tak menafikan tren yang tengah berlaku pada saat produk bergulir,” papar pengusaha yang mengawali bisnisnya justru di sektor jasa konstruksi ini.

Dengan tiga hal besar tersebut, Broadbiz Asia, mampu melahirkan produk yang diperbincangkan banyak kalangan. Di antaranya pusat belanja dan apartemen Paragon Square sebanyak 1.272 unit, Paragon Village (1.264 unit), Paragon Residence (48 unit) dan  Perumahan Giri Mukti Residence (78 unit). Kesemuanya berada di Tangerang, Banten.

 

Menarik memang mengulas kiprah para pengembang generasi ini. Bukan saja mereka lebih berani dalam melakukan manuver yang dinamis, untuk tidak dikatakan akrobatik, juga terobosan-terobosan baru dalam mendobrak “kemapanan” fatsoen bisnis properti.

 

Apa yang dilakukan Agung Abadi Group (AAG) adalah representasi aktual, betapa bisnis properti bukanlah “menara gading” yang tertutup bagi pendatang baru (new comer). Bisnis properti di tangan AAG adalah etalase yang mudah diganti dengan ‘manekin-manekin’ baru.

 

Andry Susanto, Direktur Marketing Agung Abadi Grup berujar, lahan kosong adalah permata. Ini sekaligus filosofi bisnis yang diadopsinya. Bahwa lahan kosong bisa disulapnya menjadi emas, bukan isapan jempol semata. Terbukti, lahan kosong seluas 40 Ha di Cengkareng, Jakarta Barat, yang sebelumnya dibiarkan tuannya, Perumnas, kini justru menjadi  instrumen investasi menguntungkan.

Dengan filosofi bisnisnya, mafhum jika AAG tak bisa berdiam tenang jika melihat lahan tak bertuan. Usai sukses ‘memaksa’ Perumnas berkongsi mengembangkan City Park, mereka merambah kawasan Gunung Sindur, Bogor. Di sini, lagi-lagi lahan kosong, AAG bakal menyulapnya menjadi perumahan skala kota. Lengkap dengan berbagai fasilitas penunjangnya. Belum lagi nanti rencana pengembangan hingga tiga tahun ke depan, yakni di Kemang dan Mampang, Jakarta Selatan. Hingga total mencapai kapitalisasi lebih dari Rp1 triliun.

Belajar dari kesalahan dan kekurangan generasi sebelumnya, juga bukan hal tabu. Prinsip ini sangat dipegang teguh Hugianto Setyo. Generasi kedua Putra Wahid Pratama Group yang berbasis di Salatiga, Jawa Tengah ini, sangat mafhum mengenai rekam jejak. Kendati mengenyam pendidikan di mancanegara, Australia, ia bersama koleganya, mengendalikan bisnis Putra Wahid Pratama Group dengan postulat-postulat masa silam dan dikombinasikan dengan aktualitas jaman.

“Berani memutuskan dan mengambil risiko adalah hal besar yang menentukan sukses tidaknya sebuah proyek. Tapi sebelum itu, kita harus punya keyakinan bahwa properti yang dibangun memang pantas untuk dimiliki pasar,” ujar Hugianto seraya menambahkan survey dan riset pasar yang komprehensif sebagai elemen modernitas bisnis dan industri properti juga berkontribusi aktif terhadap keputusan dan perencanaan bisnis ke depan.

Itulah sebabnya, Cibinong City Center  seluas lebih kurang 20 Ha yang dirintisnya sebagai properti perdana di luar Salatiga, dibidani kelahirannya setelah melalui berbagai macam proses dan identifikasi pasar. Satu hal yang pasti, meski Hugianto tak terlalu permisif terhadap intuisi, namun ia yakin, properti yang dibangunnya dapat menaklukkan konsumen dengan cepat. Sehingga ia berani menolak tawaran-tawaran bunga kompetitif dari kredit konstruksi yang diajukan perbankan.

Hebatnya, selain ‘menafikan’ jasa perbankan, salah satu jajaran direksi ini juga tak menganggap uang masuk dari konsumen sebagai sumber pendanaan utama. “Kami justru membangun dengan uang sendiri. Konsumen baru boleh bayar jika proyek sudah konstruksi struktur atau setengah jadi. Itu biasa kami lakukan, tak cuma di Cibinong City Center juga proyek lain di Salatiga,” bukanya.

Sementara value for money merupakan siasat yang diterapkan PT Graha Indah Pesona. Pengembang yang mengawali debutnya dengan Kramat Jati Indah Plaza itu, melesat setelah melampaui episode kontroversial nan dramatik. Berupa tarik ulur pembangunan Ekalokasari Plaza yang sebelumnya merupakan aset properti Institut Pertanian Bogor. Namun, seiring dengan kepiawaian Tendy Irianto, presiden direkturnya, mal menengah atas pertama di Bogor itu sukses menjadi meeting point.

“Kami menawarkan properti dengan harga yang memang sedikit tinggi. Namun kami memberikan produk dan servis melebihi jumlah uang yang dibayarkan konsumen,” imbuh Tendy. Dengan prinsip demikian, ia kini membesut The Pakuan Suites and Residences.

Ini merupakan properti vertikal yang juga perdana di kota hujan itu. Segalanya serba perdana, memang obsesi Tendy. Menjadi yang pertama, segera direalisasikan, dan melangkah ke proyek berikutnya. Membaca pasar dengan cepat, adalah kultur perusahaan yang dibangun pada 2003. Selain berkreasi  dan bereksperimen dengan beragam jenis properti (tak cuma retail space, juga hunian, hotel dan apartemen), GIP berani mengedukasi pasar Bogor dengan konsep-konsep yang terhitung baru di kota itu. The Pakuan Suites and Residences adalah kondotel dengan operator Swiss Belhotel International.

Harga yang ditawarkan pun tak bisa dibilang murah, sekitar Rp600 juta hingga Rp800 juta/unit. “Dalam tes pasar beberapa saat lalu, sambutan pasar lumayan positif. Empat unit sudah terjual,” buka Tendy. Ke depan, setelah The Pakuan Suites and Residences yang menelan dana sekitar Rp250 miliar beroperasi pada 2012, GIP bakal membangun The Heritage Hotel, The Fairway Condominium Hotel dan The Pesona Bogor Apartments. Semuanya berlokasi di Bogor, Jawa Barat.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: