Bintang Tiga, Pilihan Utama

20120201-003628.jpg

Pesona Bali memang tiada dua. Menyihir semua manusia di jagat raya. Selalu ada motivasi untuk kembali. Sekadar berlibur atau bernegosiasi. Tentu, dalam perspektif bisnis dan bisa juga lain-lain jenis transaksi. Di atas semua itu, potensi Bali tak kan habis tergali. Ini terdeteksi dari jumlah wisatawan asing dan domestik yang terus meninggi.

Laporan Knight and Frank menunjukkan potensi kondusif bagi para pebisnis hotel guna melakukan ekspansi. Disebutkan, pertumbuhan rata-rata kenaikan kunjungan ke Pulau Dewata sebesar 9,8% per tahun selama kurun satu dekade terakhir menjadi 3 juta jiwa. Di antara jumlah dan periode itu, kunjungan wisatawan mancanegara secara kumulatif per Januari-Mei 2011 naik 6,61% atau sebanyak 1.057.947 orang. Sementara turis domestik sudah menggeliat sejak 2005 dan ini justru mempengaruhi konstelasi bisnis hotel keseluruhan.

Yang menarik, terjadi pergeseran minat atau tujuan kunjungan dari para pelancong tersebut. Kendati tujuan berlibur masih menjadi motivasi utama, sebesar 60,40%, namun tujuan untuk berbisnis/MICE meningkat menjadi 32,40% pada tahun 2010 dari sebelumnya 12,84% pada tahun 2005. Hal ini mengindikasikan bahwa terbuka peluang menjanjikan untuk hotel jenis MICE.

Lepas dari itu, deretan angka tersebut menggoda setiap pebisnis hotel untuk mengecap manisnya potensi besarnya pundi-pundi di sini. “Pariwisata dan hotel adalah dua sisi mata uang yang tak bisa dipisahkan. Begitu industri pariwisata naik, saat itu juga fasilitas akomodasi ikut terdongkrak, “ ujar Hasan Pamudji, Head of Research Kinght and Frank.

Satu dari sekian banyak yang tergoda membenamkan investasinya adalah PT Panorama Land (anak usaha Grup Panorama). Usai sukses mengembangkan kondotel The Haven, Seminyak, dengan klasifikasi bintang empat tiga tahun silam, mereka mulai merambah kelas di bawahnya.

Motivasi utama Panorama Land, seperti diakui Budi, adalah signifikasi pertumbuhan kunjungan ke Bali. Dan itu belum terakomodasi secara maksimal. Pihaknya yang memiliki bisnis inti tourism, transportation, dan hospitality, tahu persis betapa kondisi pasok (supply) dan permintaan (demand) belum seimbang. Ini mengakibatkan beberapa hotel eksisting mengalami lonjakan pemesanan melebihi kapasitas (oversubscribed).

Data Knight and Frank yang memperlihatkan kinerja total tingkat hunian rata-rata untuk seluruh klasifikasi hotel di Bali, yang naik 3% (year on year) dari tahun lalu menjadi 72,7% per Januari-Mei 2011, mengkonfirmasi kondusifnya bisnis hotel saat ini. Dus tingkat penyerapan ruang kamar selama lima tahun terakhir sebesar 12.858 kamar atau tingkat hunian rata-rata 67%. Dengan tarif kamar rata-rata tumbuh 3,7% setiap tahun sejak 2007. Di mana hotel bintang 3 naik 4%, bintang 4 (2%) dan bintang 5 (9%).

Serupa dengan The Haven yang dikelola oleh Panorama Hospitality Management (PHM), fasilitas akomodasi terbaru Panorama Land, bertitel The 101 ini juga dikelola PHM yang notabene merupakan anak usaha Grup Panorama. “Kami ingin menjaga dan mempertahankan kualitas pelayanan standar internasional. Kami memiliki ekspertis di bidang ini dan memahami betul bagaimana kebutuhan (needs) dan keinginan (wants) para wisatawan asing dan domestik,” ujar Presiden Direktur PT Panorama Land, Budi Tirtawisata seraya menambahkan pihaknya mengelola sekitar 150.000 wisatawan per tahun khususnya dari mancanegara . Baginya, jumlah tersebut merupakan captive market yang harus digarap dengan serius.

PT Panorama Land membuka The 101 di kawasan Legian. Mengusung konsep smart, stylist, dan experience. Berisi 197 unit kamar dengan desain modern. Hotel ini dirancang untuk pasar kelas menengah premium (midscale premium market). Dan ini, diklaim Managing Director PHM Kristian Kuntadi, sebagai hotel bintang 3 plus pertama yang berada di wilayah Legian. “Belum ada hotel lain baik baru maupun eksisting dengan kualifikasi setara The 101. Jadi, kami optimis dapat menarik minat pasar dengan baik,” ujar Kristian.

The 101 dilengkapi dengan 1 lobby bar, kolam renang dan tempat berjemur matahari yang berada di lantai paling atas yang biasa disebut dengan sky pool dan sky deck, serta 1 restoran yang juga berada di lantai atas (roof top).

Dengan beroperasinya The 101 ini, menggenapi total pasok hotel sebesar 20.275 kamar. Meski masih didominasi oleh hotel bintang 5 sebesar 48% atau 9.743 kamar, namun, hotel bintang tiga memperlihatkan kenaikan signifikan yakni 2.247 kamar.

Jumlah tersebut bakal berubah dan bertambah banyak pada periode semester 2 2011 hingga 2013. Menjadi 4.362 kamar yang berasal dari 24 proyek yang sedang dan akan dikerjakan. Di mana akomodasi level bintang tiga mendominasi dengan 1.207 kamar, disusul bintang 4 dan 5.

“Seiring dengan pertumbuhan ekonomi Indonesia dan membaiknya ekonomi global, Bali tetap menjadi tujuan wisata dan daya tarik terutama bagi wisatawan dari Negara-negara di Asia Pasifik. Selain itu, peranan kegiatan MICE juga semakin meningkat yang pada gilirannya berdampak positif terhadap hotel jenis ini. Dan bintang tiga bisa menjadi pilihan utama karena daya kompetisi dan pengelolaannya yang profesional, “ ujar Hasan.

Dengan banyaknya pasokan hotel baru yang sudah dan akan masuk, hotel lama akan mendapat tekanan untuk melakukan renovasi agar lebih kompetitif. Yang berakibat pada semakin ketatnya kompetisi antarhotel. Tingkat hunian pun diperkirakan akan terus tumbuh sampai akhir tahun dengan adanya libur Lebaran, Natal dan Tahun Baru.

Best Western Kuta Seaview Mulai Ditawarkan

Hotel ke dua Best Western International Indonesia (BWII) di Bali resmi dilansir. Bernama   Western Kuta Seaview, hotel ini menempati lokasi di Kuta yang berjarak hanya 15 menit perjalanan dari Bandara Internasional Ngurah Rai.

Best Western Kuta Seaview yang dibangun diatas lahan seluas 2.000 m2 dengan luas bangunan 10.000 m2 ini memiliki tinggi 5 lantai dengan view yang sangat exotis yaitu pemandangan selat Bali yang sangat menawan selain itu tamu bisa menikmati indahnya sunset di sore hari. Terdiri atas 144 kamar yang sangat ideal untuk para wisatawan, keluarga maupun pelaku bisnis.

Menurut Director of Sales Best Western International Indonesia, Bina Sembiring, wisatawan yang berkunjung ke Bali kini bisa menikmati tambahan tempat akomodasi. Hotel dengan desain modern minimalis yang menggabungkan semangat keramahan budaya Bali serta fasilitas berstandar International ini akan memberikan pengalaman yang unik bagi para tamu.

Best Western Kuta Seaview dilengkapi restoran ‘Taste’ yang  terletak di lantai dasar lobby hotel. Rancangan interiornya modern, menawarkan menu masakan tradisional dan masakan International. Semua hidangan disajikan secara prasmanan. Restoran dengan kapasitas 65 orang ini buka setiap hari pukul 6.30 sampai dengan 11.00 malam. Selain restoran, tersedia juga ‘Indigos bar & lounge’ yang berada di  rooftop yang memungkinkan tamu bisa bersantap dan berpesta sambil menikmati indahnya langit pantai Kuta.

Kala Supply dan Demand Budget Hotel Tak Seimbang

Hotel is service business. Demikian, Julius Ruslan pemilik Maxone Hotels.com, memberikan terminologi bisnis yang tengah berada dalam kondisi puncak. Kendati fenomena aktual  hotel-hotel baru kelas bintang dua menjamur, namun dalam perspektif kualitas dan layanan, tidak semua representatif. “Budget hotel selama ini sebenarnya sudah banyak, tapi belum dikelola secara baik. Terjadi inkonsistensi dalam servis dan produk yang ditawarkan,” imbuh Julius.

Lebih jauh lagi, menurut Budi Tirtawisata, Presiden Direktur PT Panorama Land yang mengembangkan hotel The 101 Legian, Bali,  bisnis hotel adalah tentang kepercayaan dan passion. “Jika tidak memiliki hasrat untuk memberikan kualitas terbaik, jangan masuk ke dalamnya. Daya tahan hanya akan berlangsung dalam hitungan beberapa tahun, setelah itu kolaps. Ada banyak kasus seperti ini dan sangat disayangkan jika para pemain baru itu tidak belajar dari kesalahan para pendahulunya,” ujar Budi.

Budget hotel  yang  pada prinsipnya lebih terkait pada pengelolaan yang jauh lebih simpel dari pada hotel berkelas di atasnya, tetap saja menuntut profesionallitas dan kualitas layanan. Sebab, profil tamu yang menginap di sini tak sedikit yang berasal dari middle level manager, untuk tidak dikatakan supervisor. Kalangan kelas seperti ini justru jauh lebih kritis, memiliki informasi dan pengetahuan yang sangat lengkap ketika akan melakukan komparasi  sebelum memilih hotel. Namun, yang  terutama adalah jumlah mereka sangat besar.

Inilah ceruk pasar yang menempati posisi piramida paling bawah yang dipandang oleh PT Grahawita Santika (operator Amaris Hotel) sebagai captive market yang terlalu besar untuk diacuhkan begitu saja. “Mereka butuh fasilitas akomodasi yang memadai, nyaman, dan terutama dikelola secara baik. Level mereka ini mulai dari pebisnis, pedagang, traveler, atau profesional. Cakupannya luas. Sayangnya, pasok hotel yang dapat mengakomodasi kebutuhan masyarakat kelas menengah ini, belum secara maksimal digarap,” ujar Corporate Director of Sales and Marketing PT Grahawita Santika, Guido Andriano.

Mafhum jika akhirnya, PT Grahawita Santika, mengikuti  jejak rekam perintisnya, seperti katakanlah Accor Group yang lebih dulu eksis dengan Formule-1. PT Grahawita Santika memperkenalkan Amaris Hotel kepada publik dengan definisi budget hotel yang baru. Tak sebatas pada urusan ukuran ruang kamar yang mungil serta pengelolaan yang simpel, juga fasilitas yang diberikan adalah fasilitas standar yang memenuhi kebutuhan pebisnis. Sebut saja, koneksi internet nirkabel, ruang meeting, termasuk breakfast.

Redefinisi konsep hotel ramah biaya ini juga dilakukan oleh Tauzia Hotel Management yang mengelola POP!. Konsep hotel yang diperkenalkan adalah easy life, edgy lifestyle dan  concern to environment.

Karena itu warna utama fasadnya hijau dengan aksen jingga yang menggambarkan dinamika dan masa depan yang lebih baik.

Lebih jauh lagi, bangunannya didesain menggunakan prinsip green building, dengan supervisi khusus dari GBCI, terkait pengolahan desain dan pemilihan material bangunan.  “Kami ingin menunjukkan bahwa membangun budget hotel bisa menggunakan prinsip green building. Investasi di awal mungkin lebih tinggi sedikit, tapi selanjutnya beroperasi lebih rendah selama dikelola dengan betul. Prinsipnya tidak hanya sekadar menjual kamar, tapi juga mempromosikan gaya hidup peduli pada lingkungan,” buka Presiden Direktur Tauzia Hotel Management, Marc  Steinmeyer.

Ukuran kamarnya  sendiri cukup mungil, sama seperti @HOM, RedDot, atau Maxone Hotels.com yakni 15 m2. Didesain kompak, dengan kasur berkualitas terbaik, termasuk linen-nya. Tersedia TV plasma yang ditempel di dinding seberang tempat tidur. Kamar mandinya berbentuk showerpod, yang khusus didesain dan diimpor.

Dengan kondisi kualitas sedemikian rupa, investasi senilai kurang dari Rp50 miliar, menjadi kecil artinya ketika sudah dihadapkan pada tingkat keterisian yang tinggi. Yang dialami Amaxone Hotels.com bisa dijadikan contoh.  Kinerjanya selalu fully booked apalagi pada momen-momen khusus. Hotel yang dibiayai sekitar Rp33 miliar, separuh di antaranya dari pinjaman perbankan itu diproyeksikan balik modal kurang dari tujuh tahun sejak beroperasi.  “Itu bahkan bisa lebih cepat lagi jika kinerja okupansi terus menerus sempurna atau seratus persen,” ujar Julius.

Gurihnya bisnis hotel murah ini juga memicu ketertarikan PT Panorama Land untuk membangun yang sejenis. Usai sukses memperkenalkan The 101 ( bintang tiga) kepada publik, mereka berencana membangun dan menawarkan hotel bintang dua dengan pengelolaan yang sama profesionalnya. Dikatakan Budi, September 2011, brand hotel murah ini resmi diluncurkan. “Pada dasarnya kami bermain di semua level. Kami melihat potensinya cukup besar. Apalagi kondisi pasok dan permintaan belum seimbang. Dan budget hotel adalah ekspansi kami selanjutnya setelah The Haven, dan The 101,’ imbuhnya.

Wisatawan mancanegara yang merupakan tamu dari bisnis utama mereka di bawah bendera Panorama Tours and Travel, yang sejumlah 150.000 orang  per tahun merupakan captive market. “Jangan salah, yang menikmati fasilitas budget hotel tidak hanya wisatawan domestik, juga mancanegara. Nah, jika dikalkulasikan jumlah turis asing dan lokal yang saat ini masih mendominasi, sangatlah besar ceruk pasarnya. Dan itu belum dikelola secara maksimal,” papar Budi.

Hal serupa dilakukan Aston International. Jaringan hotel ini melahirkan Fave yang diperuntukan bagi business and holiday travelers. Menurut Vice President Sales & Marketing Aston International, Norbert Vas, Fave adalah konsep baru yang bisa disetarakan dengan kelas bintang 2. “Good accomodation, good services but low cost,” ungkapnya seraya menambahkan bangunan dan interiornya didesain dengan  gaya kontemporer, trendi dan  sangat memperhatikan hal-hal penting, seperti bedding, sheet, LCD tv, dan akses internet.

Investasi di hotel kelas ini, diyakini sangat menguntungkan.  Area yang dibutuhkan cukup berkisar 850–2200 m2. Bangunan tidak harus tinggi, jadi ongkos konstruksinya bisa minimal.  Di luar tanah, biaya pembangunannya paling banter Rp50 miliar dan maksimal Rp70 miliar-90 miliar. Masa pengembalian investasi tak sampai lima tahun. Bandingkan dengan bangun hotel bintang 5, yang perlu 8-10 tahun.  Tenaga kerja  yang dibutuhkan juga lebih sedikit. Satu orang bisa dikaryakan menangani 3 kamar. Sementara satu kamar hotel bintang 5 harus ditangani 2 orang pekerja.  Begitu pula profit dari ongkos operasionalnya. Lebih menggiurkan. Kalau hotel bintang 4 atau lima paling tinggi 40%, hotel murah ini justru bisa mencapai 60%.

Dengan hitung-hitungan demikian, tak heran jika Aston International punya target dan rencana bakal mengembangkan 400 fave hotel hingga sebelum 2020. Saat ini yang sedang dibangun adalah favehotel di Seminyak, Bali. Beroperasi September ini. Sementara Favehotel Legian akan buka tahun depan. Berturut-turut kemudian di Surabaya, Ambon, dan beberapa kota lainnya (lihat table).

Dan menurut Research Department  Manager Colliers International, Ferry Salanto, kota-kota bisnis seperti  Jakarta, Surabaya, Medan, Balikpapan, dan Makassar, cocok untuk dibangun hotel jenis ini. Di Jakarta saja, tingkat okupansinya cukup tinggi, sekitar 85%. Artinya antara pasok jumlah kamar dan tingkat penyerapan cukup sehat. Sampai akhir tahun 2011 sekitar 868 kamar yang mengakomodasi para pebisnis level menengah ke bawah. Karena memang pada dasarnya, pasar yang dibidik adalah pebisnis yang concern dengan biaya,“ ujar Ferry.

 

 

Dipo Business Center Telan 300 Miliar Rupiah

Pasca diluncurkannya proyek Ciputra World Jakarta jilid dua, PT Ciputra Property Tbk melalui anak usahanya PT Ciputra Balai Property, mulai menggarap lahan seluas 7.000 m2 di koridor Gatot Subroto, Slipi, Jakarta Barat.

Di lahan yang mereka akuisisi sejak tahun lalu itu, akan dibangun Dipo Business Center dengan total luas bangunan 40.000 m2. Menghimpun gedung perkantoran strata title setinggi 18 lantai dan 15 unit rumah kantor setinggi 4 lantai.

Diliriknya daerah Slipi, menurut Direktur PT Ciputra Property Tbk, Artadinata Djangkar, memiliki prospek cukup bagus sebagai destinasi investasi. Karena strategis, dekat dengan bandar udara dan dilengkapi fasilitas penunjang, aksesibilitas dan kondisi infrastruktur yang memadai.

Dus, lahan di dalam kawsan CBD sendiri sudah semakin langka. “pasok terbatas, namun permintaan sangat besar. Jadinya, banyak investor yang mulai menggarap di luar segitiga emas,” ucap Arta.

Selain lokasi yang strategis, harga lahan dan properti di sini masih relatif lebih murah dibandingkan kawasan segitiga emas. Namun begitu, potensi pertumbuhan harganya sangat signifikan. “Saat ini harga lahan baru berada pada level Rp16 juta per meter persegi. Jika Dipo Business Center ini terbangun, kami perkirakan kenaikan harganya bisa sampai 15% per tahun,” ucap Arta.

Koridor Semanggi-Gatot Subroto dalam kurun dua tahun terakhir memperlihatkan fenomena menggembirakan. Harga bangunan perkantoran strata title di kawasan ini meningkat hingga 40 persen.

Dipo Business Center sendiri menawarkan konsep perkantoran Modern yang mengadopsi prinsip green Property. Penggunaan lampu hemat energi T5 dan aircon VRV memungkinkan konsumsi energi yang efisien. Selain itu, dilengkapi juga dengan jaringan Internet dan TV kabel.

Guna merealisasikan proyek ini, dibutuhkan dana tak kurang dari Rp300 miliar. Pembangunannya dimulai pada kuartal 3 tahun ini. Dan dijadwalkan beroperasi pada kuartal 2 tahun 2013. Perusahaan yang dibidik untuk menempati perkantoran ini adalah sektor IT, konsultan, industri kreatif, kargo dan trading.

Dengan tawaran harga perdana Rp14,5 juta/m2, Dipo Business Center terhitung kompetitif dibanding perkantoran lainnya. Sehingga, saat belum resmi diluncurkan pun pra komitmen dari tenan sudah mencapai 60 % yang berasal dari Dipo Group. Sementara keseluruhan unit-unit rukannya telah terjual habis.

FaveHotel Wahid Hasyim Dibuka

favehotel perdana di Jakarta, diperkenalkan jaringan hotel Aston International, beroperasi di Wahid Hasyim, Jakarta Pusat.  Ini merupakan otel bintang dua yang berisi 70 kamar tamu yang dilengkapi dengan beberapa ruang pertemuan. Dengan harga kamar yang sangat kompetitif, para tamu hotel akan menikmati standar  pelayanan yang pada umumnya diterapkan pada hotel dengan kategori harga yang lebih tinggi.

Daya tarik utama favehotel perdana ini adalah lokasinya yang berada  di jantung kota Jakarta, tidak jauh dari Jalan M. H. Thamrin, di sekitar gedung PBB dan Kedutaan Jepang. Selain itu, tempat di Jakarta yang terkenal lainnya seperti Plaza Indonesia dan Jaya Pub, tempat hang out para ekspatriat yang cukup populer, dapat ditempuh dengan berjalan kaki.

Norbert Vas, Wakil Presiden Penjualan & Pemasaran Aston International mengatakan favehotel merupakan definisi baru tentang budget hotel.  Tidak mahal, tapi kualitas prima. ” Selain favehotel Wahid Hasyim, kami telah mengoperasikan favehotel di Denpasar dan Surabaya yang telah dikenal luas dan akan segera diikuti pembukaan favehotel di wilayah Bali lainnya yaitu Seminyak, Umalas, Legian serta pulau wisata Malaysia yaitu Langkawi,” buka Norbert seraya menambahkan semenjak peluncurannya Juli 2009 favehotel mulai diperhitungkan sebagai hotel bujet pilihan.

Tren Baru, Entertainment Mall

Pergeseran konsep pusat belanja yang terjadi akhir-akhir ini sungguh mencengangkan sekaligus mencuatkan pertanyaan besar: akankah peritel utama jenis department store masih bisa mempertahankan eksistensinya sebagai satu-satunya daya tarik sebuah pusat belanja?

Tentu saja, fenomena aktual menggiring kita pada asumsi bahwa kehadiran anchor tenant jenis department store tidak lagi berkontribusi signifikan terhadap kinerja sebuah pusat belanja. Khusus di Jakarta, tingkat kunjungan dipengaruhi oleh kelengkapan fasilitas untuk mengakomodasi gaya hidup to see and to be seen, meeting at the mall, hiburan dan bahkan dine in at the mall.

Dikatakan Senior Associate Director Retail Service Colliers International, Steve Sudijanto, bagi pusat belanja kelas menengah, department store memang masih diperlukan. Dan itu diantisipasi dengan baik oleh peritel besar lokal seperti Matahari dan Ramayana yang agresif membuka gerainya di mal-mal kelas menengah bawah baru di sejumlah kota di seluruh Indonesia.

Sebaliknya bagi pusat belanja kelas premium, pergeseran konsep yang terjadi justru menegasikan postulat “tanpa department store mal tidak akan ramai”. Dimulai oleh keberanian Plaza Indonesia yang “mengeluarkan” Sogo Department Store dari daftar tenannya. Sebagai gantinya, mereka membawa tenan-tenan baru yang level brand­-nya justru lebih luks. Plus penyediaan ruang hiburan bertajuk Mineapolis yang dalam perkembangannya telah menjadi destinasi baru hiburan anak-anak kelas atas Jakarta.

Demikian halnya dengan Fx Plaza yang mengekori langkah seniornya itu, menekankan fasilitas hiburan sebagai nilai jualnya. Wahana seluncuran Atmostfear menjadi identitas baru anak muda Jakarta saat awal beroperasinya. Di sini tanpa department store pun, kinerja tingkat keterisian keduanya terhitung sangat bagus yakni 96 dan 80%.

Belakangan, rekam Plaza Indonesia dan FX dijejaki oleh Kuningan City. Pusat belanjanya hadir dengan identitas sebagai life style center. Dalam daftar tenan terbaru yang sudah memberikan komitmen, tak terdapat department store. Namun, toh performa penjualannya hingga saat ini sudah 80% tersewa. Antara lain oleh Lolipop, Best Denki, Gramedia, Lotte Mart, XXI dan sebagian besar lain tenan makanan dan minuman.

Meski demikian, nasib pusat belanja kelas atas yang mengandalkan department store memiliki  kesempatan terbuka untuk menjadi pesaing serius bagi mal sekelas yang menafikan department store. Asalkan, menurut Steve Sudijanto, department store yang digandeng levelnya mencerminkan kelas pusat belanja itu. “Kalau market positioning-nya sudah berada di level premium, ya harus konsisten membawa tenan yang sekelas,” ujarnya.

Kasus kegagalan M Department Store menjaring shopper Jakarta ke Pacific Place adalah bentuk konfirmasi telak atas kesalahan pengelola membaca ‘demografi’ bisnis ritel. Karena Pacific Place menyasar niche market, sejatinya department store  mewahlah yang didatangkan. Dan masuknya Galleries Lafayette kuartal ketiga tahun ini, seperti yang dilaporkan Colliers International, dipandang sebagai penajaman orientasi pasar Pacific Place.

Kehadiran Galleries Lafayette akan membuat rivalitas antarpusat belanja kasta atas kian sengit. Ciputra World Jakarta telah lebih dulu menandatangani nota kesepahaman dengan Lotte Department Store. Sekadar informasi, Lotte Department Store masuk  dalam jajaran 6 department store terbesar dunia tahun 2011 versi Forbes 2000 dan nomor satu di Asia dengan catatan penjualan mencapai 10 miliar dolar AS (laporan Bloomberg).

Di mal CWJ ini, Lotte Department Store bahkan menyewa seluruh ruang ritel seluas 130.000 m2. Dengan demikian, pihak PT Ciputra Adigraha, selaku pengelola mal CWJ tidak perlu bersusah payah mencari tenan pendamping. Karena dengan tersewanya seluruh ruang tersebut, otoritas dalam mendatangkan dan menyeleksi tenan berikut penentuan harga sewa, berada di tangan PT Lotte Shopping Plaza Indonesia.

Jadi, yang mendapat jatah kerja keras menggaet tenan berkelas luks adalah PT Lotte Shopping Plaza Indonesia. Dan ini, bagi Lotte bukan perkara susah. Dikatakan Presiden Direktur PT Lotte Shopping Plaza Indonesia Chang Suk Suh, pasar kelas atas Indonesia yang tumbuh signifikan merupakan tujuan para peritel untuk melakukan ekspansi bisnis. “Kami memberikan garansi, brand-brand yang akan dibawa adalah yang sesuai dengan reputasi dan prestis mal CWJ,” ujar Chang.

Jika Lotte masih harus sedikit memeras keringat, Plaza Indonesia justru semakin kokoh menancapkan hegemoninya sebagai destinasi wisata belanja grade A. Mereka sukses mendatangkan AlX Armani Exchange, Saint Louis, Hermes, Time Place, the Amante, Edidi, Fendi dan Balenciaga yang buka akhir Juli lalu.

Direktur PT Plaza Realty Tbk Mia Egron mengatakan preferensi pasar kelas atas yang terdiri atas sosialita-sosialita serta business owner cenderung menyukai berbelanja fashion atau aksesori di toko-toko kelas butik hasil kreasi desainer ternama. Mereka emoh berbelanja baju atau tas di department store meskipun merek yang ditawarkan sama. Ini menjadi tidak eksklusif. Karena spirit department store itu pada dasarnya adalah menjajakan beragam jenis barang dari berbagai merek dalam satu area toko. Ini yang dihindari kalangan elit tersebut. Jadi, mereka memilih belanja di butik. Itulah mengapa, tanpa department store pun, Plaza Indonesia tetap ramai dan terisi nyaris seratus persen.

“Kami justru tertarik menciptakan konsep mal tematik yang ada unsur hiburannya (entertainment mall). Mineapolis kami perkenalkan tahun lalu. Dan sekarang justru jadi incaran anak-anak para sosialita itu. Ibu dan bapaknya berbelanja, anak-anaknya bermain di wahana ini. Saya rasa, fasilitas dan hiburan di dalam pusat belanja akan menjadi sinergi yang bagus dalam meningkatkan kinerja ya. Tren ini akan terus bertahan lama,” ujar Mia.

Mal Kelapa Gading (MKG)  di Jakarta Utara adalah kasus positif dari sinergi hiburan dan fashion apparel kelas butik. Tingkat kunjungan 3,5 juta orang per bulan itu bukan karena  semata kehadiran  Star atau Sogo Department Store sebagai salah satu tenan utamanya. Melainkan karena ada Eat n Eat Food Market, Gourmet Walk, sinema, arena permainan dan tentu saja event atraktif Jakarta Food and Fashion Festival  yang diadakan secara berkala. Sehingga MKG kemudian ditahbiskan sebagai destinasi wisata belanja dan kuliner terbaik se-Jakarta.

JFFF yang diadakan tiap tahun memperkuat posisi pasar mal seluas total 150.000 m2 itu sekaligus juga meruntuhkan pendapat bahwa mal tanpa department store bakal lekas tiarap. Contoh kedua adalah Mal Puri Indah. Tenan-tenan lain di luar department store-nya  sama ramainya didatangi pengunjung. Sekitar 40 ribu orang per hari menyambangi pusat belanja berkonsep family mall ini.

Lepas dari itu, tahun ini kondisi bisnis ruang ritel kian pulih. Riset Jones Lang LaSalle mencatat pertumbuhan permintaan sebanyak 12% atau 63.000 m2 dibanding kuartal lalu. Ini disebabkan aksi ekspansi peritel lokal dan asing yang menstimuli naiknya tingkat serapan pasar sebesar 119.000 m2. “Semester kedua tahun ini, saya prediksikan bakal meningkat signifikan. Secara langsung, berpengaruh terhadap occupancy rate menjadi 87% dari sebelumnya 85%,” ujar Ko Niena, Head of Retail Jones Lang LaSalle seraya menambahkan kondusifnya pasar ritel juga ditandai dengan kenaikan biaya sewa yang saat ini mencapai  rata-rata Rp474.000/m2/bulan. Sudah termasuk biaya perawatan (service charge).

Secara umum, ekspansi peritel berskala besar seperti hypermarket dan department store di sejumlah mal baru kelas menengah masih menjadi penggerak utama permintaan. Namun demikian, postulat itu tidak permanen seiring dengan perubahan strategi bisnis. Hypermarket seperti Giant dan Carrefour lebih memilih membuka gerai stand alone dibanding harus ‘subordinat’ di dalam mal.

Seratus Miliar Rupiah Untuk Ekspansi Do It Best

PT Pongs Indonesia, pemegang lisensi Do It Best, secara resmi membuka gerai Do It Best Pongs Home Center pertama di Indonesia, Rabu (3/7). Menempati area seluas 4.000 m2 di Mal Kelapa Gading, Jakarta Utara.

Do It Best Pongs Home Center pertama ini merupakan konsep toko superstore sekaligus flagship di Indonesia. Dikatakan Presiden Direktur PT Pongs Indonesia, Paulus Ong, Do It Best Pongs Home Center menyediakan lebih dari 1.000 brand lokal dan internasional.

Selain di Mal Kelapa Gading, rencananya, PT Pongs Indonesia akan mengoperasikan 4 gerai lainnya, masing-masing di Mal Taman Anggrek, Jakarta Barat, Blok M dan kawasan Fatmawati, Jakarta Selatan serta di Summarecon Mall Serpong seluas 3.000 m2. Keempat gerai baru itu mengusung konsep convinience store dan superstore.

PT Pongs Indonesia membenamkan uang senile Rp100 miliar untuk pembukaan kelima toko Do It Best Pongs Home Center tersebut. “Tahun 2012, kami akan melakukan ekspansi bisnis dengan mengoperasikan 4 toko lagi di area Jadebotabek,” buka Paulus.

Do It Best merupakan home center terkemuka di Amerika yang sudah berdiri sejak tahun 1945. Menyediakan berbagai macam kebutuhan rumah dan gedung mulai dari yang ringan hingga berat dengan total jenis barang mencapai 65.000 SKU.