Kala Supply dan Demand Budget Hotel Tak Seimbang

Hotel is service business. Demikian, Julius Ruslan pemilik Maxone Hotels.com, memberikan terminologi bisnis yang tengah berada dalam kondisi puncak. Kendati fenomena aktual  hotel-hotel baru kelas bintang dua menjamur, namun dalam perspektif kualitas dan layanan, tidak semua representatif. “Budget hotel selama ini sebenarnya sudah banyak, tapi belum dikelola secara baik. Terjadi inkonsistensi dalam servis dan produk yang ditawarkan,” imbuh Julius.

Lebih jauh lagi, menurut Budi Tirtawisata, Presiden Direktur PT Panorama Land yang mengembangkan hotel The 101 Legian, Bali,  bisnis hotel adalah tentang kepercayaan dan passion. “Jika tidak memiliki hasrat untuk memberikan kualitas terbaik, jangan masuk ke dalamnya. Daya tahan hanya akan berlangsung dalam hitungan beberapa tahun, setelah itu kolaps. Ada banyak kasus seperti ini dan sangat disayangkan jika para pemain baru itu tidak belajar dari kesalahan para pendahulunya,” ujar Budi.

Budget hotel  yang  pada prinsipnya lebih terkait pada pengelolaan yang jauh lebih simpel dari pada hotel berkelas di atasnya, tetap saja menuntut profesionallitas dan kualitas layanan. Sebab, profil tamu yang menginap di sini tak sedikit yang berasal dari middle level manager, untuk tidak dikatakan supervisor. Kalangan kelas seperti ini justru jauh lebih kritis, memiliki informasi dan pengetahuan yang sangat lengkap ketika akan melakukan komparasi  sebelum memilih hotel. Namun, yang  terutama adalah jumlah mereka sangat besar.

Inilah ceruk pasar yang menempati posisi piramida paling bawah yang dipandang oleh PT Grahawita Santika (operator Amaris Hotel) sebagai captive market yang terlalu besar untuk diacuhkan begitu saja. “Mereka butuh fasilitas akomodasi yang memadai, nyaman, dan terutama dikelola secara baik. Level mereka ini mulai dari pebisnis, pedagang, traveler, atau profesional. Cakupannya luas. Sayangnya, pasok hotel yang dapat mengakomodasi kebutuhan masyarakat kelas menengah ini, belum secara maksimal digarap,” ujar Corporate Director of Sales and Marketing PT Grahawita Santika, Guido Andriano.

Mafhum jika akhirnya, PT Grahawita Santika, mengikuti  jejak rekam perintisnya, seperti katakanlah Accor Group yang lebih dulu eksis dengan Formule-1. PT Grahawita Santika memperkenalkan Amaris Hotel kepada publik dengan definisi budget hotel yang baru. Tak sebatas pada urusan ukuran ruang kamar yang mungil serta pengelolaan yang simpel, juga fasilitas yang diberikan adalah fasilitas standar yang memenuhi kebutuhan pebisnis. Sebut saja, koneksi internet nirkabel, ruang meeting, termasuk breakfast.

Redefinisi konsep hotel ramah biaya ini juga dilakukan oleh Tauzia Hotel Management yang mengelola POP!. Konsep hotel yang diperkenalkan adalah easy life, edgy lifestyle dan  concern to environment.

Karena itu warna utama fasadnya hijau dengan aksen jingga yang menggambarkan dinamika dan masa depan yang lebih baik.

Lebih jauh lagi, bangunannya didesain menggunakan prinsip green building, dengan supervisi khusus dari GBCI, terkait pengolahan desain dan pemilihan material bangunan.  “Kami ingin menunjukkan bahwa membangun budget hotel bisa menggunakan prinsip green building. Investasi di awal mungkin lebih tinggi sedikit, tapi selanjutnya beroperasi lebih rendah selama dikelola dengan betul. Prinsipnya tidak hanya sekadar menjual kamar, tapi juga mempromosikan gaya hidup peduli pada lingkungan,” buka Presiden Direktur Tauzia Hotel Management, Marc  Steinmeyer.

Ukuran kamarnya  sendiri cukup mungil, sama seperti @HOM, RedDot, atau Maxone Hotels.com yakni 15 m2. Didesain kompak, dengan kasur berkualitas terbaik, termasuk linen-nya. Tersedia TV plasma yang ditempel di dinding seberang tempat tidur. Kamar mandinya berbentuk showerpod, yang khusus didesain dan diimpor.

Dengan kondisi kualitas sedemikian rupa, investasi senilai kurang dari Rp50 miliar, menjadi kecil artinya ketika sudah dihadapkan pada tingkat keterisian yang tinggi. Yang dialami Amaxone Hotels.com bisa dijadikan contoh.  Kinerjanya selalu fully booked apalagi pada momen-momen khusus. Hotel yang dibiayai sekitar Rp33 miliar, separuh di antaranya dari pinjaman perbankan itu diproyeksikan balik modal kurang dari tujuh tahun sejak beroperasi.  “Itu bahkan bisa lebih cepat lagi jika kinerja okupansi terus menerus sempurna atau seratus persen,” ujar Julius.

Gurihnya bisnis hotel murah ini juga memicu ketertarikan PT Panorama Land untuk membangun yang sejenis. Usai sukses memperkenalkan The 101 ( bintang tiga) kepada publik, mereka berencana membangun dan menawarkan hotel bintang dua dengan pengelolaan yang sama profesionalnya. Dikatakan Budi, September 2011, brand hotel murah ini resmi diluncurkan. “Pada dasarnya kami bermain di semua level. Kami melihat potensinya cukup besar. Apalagi kondisi pasok dan permintaan belum seimbang. Dan budget hotel adalah ekspansi kami selanjutnya setelah The Haven, dan The 101,’ imbuhnya.

Wisatawan mancanegara yang merupakan tamu dari bisnis utama mereka di bawah bendera Panorama Tours and Travel, yang sejumlah 150.000 orang  per tahun merupakan captive market. “Jangan salah, yang menikmati fasilitas budget hotel tidak hanya wisatawan domestik, juga mancanegara. Nah, jika dikalkulasikan jumlah turis asing dan lokal yang saat ini masih mendominasi, sangatlah besar ceruk pasarnya. Dan itu belum dikelola secara maksimal,” papar Budi.

Hal serupa dilakukan Aston International. Jaringan hotel ini melahirkan Fave yang diperuntukan bagi business and holiday travelers. Menurut Vice President Sales & Marketing Aston International, Norbert Vas, Fave adalah konsep baru yang bisa disetarakan dengan kelas bintang 2. “Good accomodation, good services but low cost,” ungkapnya seraya menambahkan bangunan dan interiornya didesain dengan  gaya kontemporer, trendi dan  sangat memperhatikan hal-hal penting, seperti bedding, sheet, LCD tv, dan akses internet.

Investasi di hotel kelas ini, diyakini sangat menguntungkan.  Area yang dibutuhkan cukup berkisar 850–2200 m2. Bangunan tidak harus tinggi, jadi ongkos konstruksinya bisa minimal.  Di luar tanah, biaya pembangunannya paling banter Rp50 miliar dan maksimal Rp70 miliar-90 miliar. Masa pengembalian investasi tak sampai lima tahun. Bandingkan dengan bangun hotel bintang 5, yang perlu 8-10 tahun.  Tenaga kerja  yang dibutuhkan juga lebih sedikit. Satu orang bisa dikaryakan menangani 3 kamar. Sementara satu kamar hotel bintang 5 harus ditangani 2 orang pekerja.  Begitu pula profit dari ongkos operasionalnya. Lebih menggiurkan. Kalau hotel bintang 4 atau lima paling tinggi 40%, hotel murah ini justru bisa mencapai 60%.

Dengan hitung-hitungan demikian, tak heran jika Aston International punya target dan rencana bakal mengembangkan 400 fave hotel hingga sebelum 2020. Saat ini yang sedang dibangun adalah favehotel di Seminyak, Bali. Beroperasi September ini. Sementara Favehotel Legian akan buka tahun depan. Berturut-turut kemudian di Surabaya, Ambon, dan beberapa kota lainnya (lihat table).

Dan menurut Research Department  Manager Colliers International, Ferry Salanto, kota-kota bisnis seperti  Jakarta, Surabaya, Medan, Balikpapan, dan Makassar, cocok untuk dibangun hotel jenis ini. Di Jakarta saja, tingkat okupansinya cukup tinggi, sekitar 85%. Artinya antara pasok jumlah kamar dan tingkat penyerapan cukup sehat. Sampai akhir tahun 2011 sekitar 868 kamar yang mengakomodasi para pebisnis level menengah ke bawah. Karena memang pada dasarnya, pasar yang dibidik adalah pebisnis yang concern dengan biaya,“ ujar Ferry.

 

 

Iklan

3 Tanggapan

  1. dear hildalexander

    anda semua patut mendapat penghargaan kami dan semoga selalu sukses.

    yours

    andang kjpp amar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: