Summarecon Mal Serpong 2 Resmi Dibuka

PT Summarecon Agung Tbk, melalui anak usahanya PT Lestari Mahadibya, mulai mengoperasikan Summarecon Mall Serpong (SMS) 2. Pusat belanja in merupakan perluasan SMS tahap pertama yang dibangun di kawasan komersial Sentra Gading Serpong. “Perluasan SMS 2 dengan konsep arsitektur modern dan ramah lingkungan ini dilakukan untuk memenuhi berkembangnya kebutuhan masyarakat di wilayah Serpong dan sekitarnya serta semakin meningkatnya kunjungan masyarakat ke SMS 1 yang hingga saat ini mencapai 9,5 juta pengunjung,” ujar Direktur PT Summarecon Agung Tbk, Soegianto Nagaria.

Luas bangunan SMS 2 mencapai 60.000 m2. Terdiri atas 3 lantai dan dipenuhi lebih kurang 180 tenan. Dengan adanya pengembangan ini, maka SMS secara keseluruhan memiliki total seluas 110.000 m2.

Desain SMS 2 sedikit berbeda dengan yang pertama. Terdapat The Downtown Walk yang dirancang sebagai destinasi masyarakat yang juga mengalami perluasan dengan penambahan tiga panggung. The Downtown Walk dilengkapi dengan F n B Pad yaitu bangunan 2 lantai yang menjanjikan best View untuk menyaksikan live music dan pertunjukan hiburan.

SMS 2 diisi antara lain Centro Department Store, Pongs Do It Best, Best Denki, Eat n Eat. Mereka melengkapi tenan yang sudah lebih dulu beroperasi di SMS 1 seperti Farmers Market, Gold’s Gym, Gramedia, Time Zone, dan Starbuck Department Store.

Dari pengoperasian SMS 1 dan 2 ini, berkontribusi sebesar 32% terhadap recurring income PT Summarecon Agung Tbk.

Menurut Direktur Utama PT Summarecon Agung Tbk, Johannes Mardjuki, dalam kurun sepuluh tahun ke depan, SMS yang berkonsep full leased Mall, akan dikembangkan dalam 3 tahap. Sehingga total luas bangunannya menjadi 200.000 m2.

PT Summarecon Agung Tbk menghabiskan dana sekitar Rp350 miliar, di luar lahan parkir. Sementara SMS 1 menelan biaya Rp200 miliar.

Investasi Menarik Di Dormitori

 

Mahasiswa memang merupakan ceruk pasar yang potensial. Tidak saja jumlahnya signifikan, namun akan terus bertambah setiap tahunnya. Kebutuhan akan rumah kos pun mengikuti jumlah tersebut. Bukankah ini peluang yang menjanjikan dan berpotensi mendatangkan keuntungan?

Besaran angka mahasiswa tersebut, telah lama memotivasi beberapa pengembang untuk mengubah orientasi rencana strategisnya. Puncaknya dalam dua tahun terakhir, kala nama-nama macam PT Alam Sutera Realty Tbk, Medialand International, Lippo Karawaci, Cempaka Group mendirikan apartemen mungil sekaligus murah dengan segmen pasar yang dibidik, mahasiswa.

Tidak butuh waktu lama bagi mereka untuk mendulang keuntungan. Cempaka Group misalnya. Margonda Residence-nya saat ini sudah memasuki seri ketiga. Dengan harga jual antara Rp88 juta hingga Rp300 juta, sangat menyita perhatian investor. Kurang dari enam bulan, seri pertama terserap habis. Begitupula yang kedua.

Saat ini, harga jual seken Margonda Residence I sekitar Rp300 juta-600 juta. Bagaimana dengan harga sewa? Untuk tipe studio saat ini telah mencapai Rp1,5 juta, satu kamar Rp2 juta dan dua kamar Rp3 juta per bulan dengan masa sewa minimal satu tahun.

Dengan hitungan angka sewa seperti di atas, pemilik unit tipe studio di sini bisa mendapatkan kembali modalnya hanya dalam waktu kurang dari lima tahun. setelah itu, investor mendapatkan captive income yang besarannya akan bertumbuh setiap tahunnya. Ini bisa terjadi, karena permintaan terus meningkat dari tahun ke tahun. Jumlah mahasiswa dan karyawan yang menyewa unit-unit apartemen mereka, juga berlipat. Contohnya saja, saat ini Universitas Indonesia memiliki 40.000 mahasiswa dari berbagai jurusan dan angkatan, belum lagi jumlah mahasiswa Universitas Pancasila, IISIP, dan Universitas Gunadarma yang tidak terakomodasi oleh rumah-rumah kos yang ada.

Gula-gula investasi tersebut juga menarik atensi pengembang sekaliber Lippo Karawaci. Awal tahun ini mereka memasarkan dan membangun Park View di kompleks pengembangan Depok Town Square, dengan harga sangat kompetitif yakni Rp180 juta-200 juta. Tak tanggung-tanggung, dormitori yang ditawarkan sebanyak 1.000 unit.

Menyusul kemudian PT Wangsa Dharma Properti yang juga akan mengembangkan 1.237 unit apartemen dalam 3 menara. Harganya pun terhitung rendah, sekitar Rp90 juta-150 juta. Apartemen Saladin Square ini dilengkapi Campus Club, shuttle bus, perpustakaan dan fasilitas yang akrab dengan mahasiswa.

Virus dormitori murah meriah ini tak hanya terjadi di Depok, di mana ada banyak perguruan tinggi beroperasi. Juga di Serpong. Alam Sutera Realty telah lebih dulu membangun Silkwood Residence senilai Rp290 juta-500 juta sebanyak 800 unit.

Dikatakan Direktur PT Alam Sutera Realty Tbk, Joseph Tjong, keberadaan Silkwood Residence ini untuk memenuhi kebutuhan hunian yang sederhana, layak dan terjangkau, seiring dengan pembangunan Universitas Bina Nusantara yang beroperasi di sana.

Sementara Medialand International akan membangun empat menara dormitori sebagai bangunan yang bersinergi dengan Universitas Multimedia Nusantara di Summarecon Serpong. “Harganya ta jauh beda dengan properti sejenis di kawasan Serpong. Saya yakin akan cepat terserap pasar, apalagi bangunan dormitori ini terkoneksi dengan fasilitas lain yang sudah terbangun di sini,” ujar Presiden Direktur Medialand International, Teddy Surianto.

Mengikuti jejak mereka, PT Hutama Karya Realtindo juga tak mau kalah. Bulan lalu, mereka melansir Kubikahomy di Einstein Park, Edutown, BSD City. Sebanyak 280 unit dipasarkan dengan harga Rp250 juta-280 juta per unit.

Direktur Utama PT Hutama Karya Realtindo, Putut Ariwibowo, mengklaim dormitori yang akan media bangun berbeda dengan yang sudah ada. “Ini merupakan Serviced dormitori yang akan dikelola secara profesional oleh manajemen gedung yang kami bentuk sendiri. Manajemen gedung inilah yang nantinya mengatur segala aktifitas atau agenda mahasiswa penghuni selama menyewa dormitori ini. Mulai dari aturan atau regulasi yang mengatur jam menerima tamu, tagihan listrik dan air, serta pengelolaan aset bersama,” jelas Putut.

Selain itu, mahasiswa penghuni juga mendapat kesempatan untuk mengikuti program pendidikan Kubikahomy Youth Entrepreneurship. Dalam program ini, mahasiswa peserta akan mendapatkan peningkatan keterampilan, pelatihan pembuatan Business plan, kesempatan magang di PT Hutama Karya Realtindo, dan pelatihan profesional lainnya dari praktisi bisnis dan akademik secara periodik.

PT Hutama Karya Realtindo mengawali konstruksi Kubikahomy pada Agustus lalu dengan jadwal serah terima Agusus 2012. Putut yakin, seluruh unit terjual hais dalam waktu singkat. Mengingat Kubikahomy dikelilingi oleh 63 institusi pendidikan, di antaranya Swiss German University, dan Prasetya Mulia. Saat ini saja penjualan sudah mencapai 30%.

Dengan menginvestasikan hanya Rp250 juta, investor dapat berharap return on investment (pengembalian investasi) pada tahun ketujuh dengan besaran nilai keuntungan (yield) antara 7-12% per tahun dalam kondisi investasi normal.

Yield 7% atau Rp12 juta/tahun selama 2 tahun pertama dihitung atas unit terkecil (21 m2) seharga Rp250 juta. Sementara untuk tipe dua kamar, berpotensi mendapatkan keuntungan Rp16 juta per tahun. Sekadar informasi, harga sewa rumah kos yang berlaku di Serpong, khususnya di sekitar kampus, saat ini sudah senilai Rp2,5 juta-3 juta/bulan.

W Hotel Hadir Di CWJ

PT Ciputra Property Tbk, melalui anak usahanya PT Sarananeka Indahpancar menandatangani Management contract dengan Starwood untuk menghadirkan W Hotel yang direncanakan akan mulai beroperasi pada tahun 2015. Hotel bintang lima yang memiliki 300 kamar ini merupakan bagian dari Superblok Ciputra World Jakarta 2.

Selain hotel yang kelak bernama W Jakarta ini, juga terdapat Fraser Suites Serviced Apartment, kondominium The Cedar, kondominium The Residence dan gedung perkantoran. Guna merealisasikan proyek ini, PT Ciputra Property Tbk menganggarkan dana sebesar Rp3 triliun. untuk W Hotel sendiri nilai investasinya Rp1 triliun.

W Hotel Worldwide adalah jaringan hotel internasional, dengan 41 hotel yang telah beroperasi di seluruh dunia. W Jakarta hadir sebagai landmark terbaru untuk memberikan inspirasi bagi kalangan jet set dan trend seeker dengan desain spektakuler yang mencitrakan pengalaman gaya hidup terintegrasi dan kontemporer dari W.

Presiden Direktur PT Ciputra Property Tbk, Candra Ciputra mengatakan, Starwood telah membangun sebuah reputasi sebagai salah satu operator hotel dan Resort bintang 5 internasional yang terbaik di dunia. “Kami sangat bangga bisa bekerjasama dengan Starwood melalui W Jakarta. visi kami adalah untuk mengembangkan sebuah hotel berkelas dunia dengan standar baru dalam gaya dan desain yang bisa mengakomodasi vibrant spiritual dari Jakarta,” ujar Candra.

W Jakarta rencananya mulai dibangun pada awal 2013 dan beroperasi 2015. Ada pun masa kontrak kerjasama antara PT Sarananeka Indahpancar dengan Starwood adalah selama 25 tahun. Untuk saat ini, room rate W Jakarta setara dengan 200 USD-250 USD per malam.

Daniland, Come Back Dengan 3 Proyek

Lama vakum dan sepi publikasi, tak membuat Daniland tenggelam. Ternyata, pengembang yang mengawali kiprahnya dengan membangun Mal Kalibata tahun 1980-an akhir itu tengah menyusun strategi dan momentum yang tepat.

Hingga kemudian pertengahan 2011 ini, melalui anak usaha PT Pardika Wisthi Sarana, Daniland menggebrak dengan proyek Woodland Park Residence. Ini merupakan pengembangan terintegrasi di atas lahan seluas 3,2 ha di kawasan Kalibata, Jakarta Selatan. Menghimpun 5 tower apartemen (1.200 unit) dan satu menara hotel yang terbagi dalam dua tahap pengembangan. Harga yang dibanderol sekitar Rp300 juta-600 juta.

Siapa Daniland? Untuk generasi sekarang, nama ini mungkin terhitung asing. Namun, jika disebut merek macam Pizza Hut, Yummy susu fermentasi dan Sariboga Ratukarya (flour mill), Anda mungkin mafhum. Ya, nama-nama tersebut dimiliki oleh Daniprisma, induk perusahaan yang menaungi Daniland sebagai divisi propertinya.

Chairman Group Daniprisma, Emil Arifin mengatakan kembali aktifnya mereka di sektor properti termotivasi oleh pemenuhan kebutuhan hunian vertikal yang layak dan terjangkau bagi masyarakat. Selain itu, “Ada amanat dari ayah yang harus saya realisasikan,” ungkapnya.

Sebagaimana diketahui, Emil Arifin merupakan putra pertama Bustanil Arifin, Menteri Koperasi Era Orde Baru. Namun, bukan karena atribut sosialnya ini yang membuat Emil percaya diri come back ke dunia yang membesarkan namanya. Pengalaman dan kekuatan kapital adalah hal yang utama.

“Saya bangun Mal Kalibata itu tanpa pinjaman bank sama sekali. Dari kocek sendiri. Begitu juga dengan aset properti lainnya. Dan yang terbaru ini, Woodland Park Residence, sampai saat ini belum ada intervensi dana dari perbankan,” tandas Emil.

Selain Mal Kalibata, Daniland juga telah melahirkan gedung perkantoran Plaza Dani Prisma di kawasan Kebayoran Baru, dan Kemang Plaza, keduanya di Jakarta Selatan serta hotel di Banda Aceh, NAD dan Medan, Sumatera Utara. Kelimanya merupakan gedung yang disewakan dan menjadi sumber pendapatan tetap (recurring income).

Woodland Park Residence sendiri merupakan properti residensial pertama mereka. Dirancang sebagai hunian yang mengadopsi konsep green and helathy living. Konsep ini diimplementasikan ke dalam komposisi lahan terbangun yang hanya 30% dari total luas lahan. Porsi mayoritas lainnya untuk fasilitas penghuni dan ruang terbuka hijau. Ada pun beberapa pohon dengan beragam jenis yang sudah ada sejak lahan kosong ini ditempati PT Bata Indonesia, sebagian dipertahankan, sebagian lagi direlokasi sesuai dengan estetika dan lansekap proyek.

Guna membangun tahap pertama Woodland Park Residence, Daniland memproyeksikan kebutuhan dana sekitar Rp600 miliar. Sementara kebutuhan dana keseluruhan sekitar Rp1 triliun. “Sampai saat ini kami masih menggunan kas internal yang berassal dari subsidi silang recurring income aset properti lainnya,” buka Emil.

Usai Woodland Park Residence rampung, yang dijadwalkan pada 2014, mereka berencana membangun proyek multifungsi sejenis di kawasan Cijantung, Jakarta Timur. Lokasinya persis berhadapan dengan pabrik susu Frisian Flag. Di atas lahan berukuran 2,5 ha ini, Daniland bakal mendirikan hotel bintang tiga, dua gedung perkantoran dengan tinggi kurang dari 10 lantai, dan mal yang berkonsep food and beverage.

Sementara di landbank mereka lainnya yang berdimensi 2 ha, yakni di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, akan dikembangkan apartemen kelas menengah atas dengan harga lebih tinggi dari Woodland Park Residence. Apartemen ini nantinya terdiri atas dua menara dengan jumlah kurang dari 300 unit.

“Saya optimis, Woodland Park Residence terserap pasar dengan baik dan dapat menyumbang perolehan signifikan bagi Daniland. Target saya Rp500 miliar. Selain lokasinya yang dekat dengan segitiga Kuningan-Gatot Subroto, juga aksesibilitasnya yang sangat mudah. Dekat dengan stasiun Kalibata yang kelak direnovasi menjadi stasiun modern. Cocok untuk komuter dan juga eksekutif muda,” yakin Emil.

Saat ini tengah dipasarkan menara Matoa sejumlah 240 unit. Dalam satu gedung ini, selain apartemen, juga terdapat ruang perkantoran, kafe dan restoran yang disewakan. Dilengkapi dengan putting golf (mini golf ), kolamnya renang dan lintasan jogging. Sejak dipasarkan pada Juli silam, telah terserap 30%.

Aston Tanjung Pinang Hotel & Conference Mulai Beroperasi

Aston International mengumumkan Grand Opening hotel terbaru di pulau Bintan, Aston Tanjung Pinang Hotel & Conference Center. Hotel ini secara resmi dibuka oleh Gubernur Kepulauan Riau, H. Muhammad Sani dan direksi PT. Mitra Gemilang Batam Sentosa dan Aston International.

Aston Tanjung Pinang Hotel & Conference Center adalah hotel bisnis dan konferensi bintang 4 berstandar internasional yang berlokasistrategis di Jalan Adisucipto tidak jauh dari Airport Bintan dan kantor pemerintahan.

Hotel kontemporer ini berisi 162 kamar, fasilitas pertemuan berkapasitas 800 orang dan dilengkapi ruang olahraga, kolam renang, restoran dan pelayanan yang diperuntukkan bagi para pelancong bisnis eksekutif dan delegasi konferensi termasuk pengawasan keamanan 24 jam, proses check in dan check out yang mudah serta cepat, pelayanan binatu dan dry clean pada hari yang sama, serta koneksi Wi-Fi berkecepatan tinggi diseluruh area hotel.

Norbert Vas, Wakil Presiden Penjualan dan Pemasaran Aston International mengatakan, “Aston Tanjung Pinang dirancang untuk menjadi hotel bisnis bintang 4 favorit dan ternyaman di Kepulauan Riau. Hotel ini sangat sesuai dengan strategi kami dalam mengembangkan hotel Modern. dengan fasilitas konferensi terkemuka di seluruh ibukota propinsi di Sumatera dan kota kedua untuk melayani peningkatan permintaaan kualitas hotel dalam negeri dan wilayah sekitarnya.”

Hotel baru ini tergabung dalam serangkaian hotel Aston yang baru dibuka di Sumatera seperti Aston Palembang Hotel & Conference Center dan Aston Soll Marina Bangka Hotel & Conference Center. Aston juga baru saja mengumumkan pemasangan tiang pancang pertama untuk hotel bintang 4 di Jambi dan telah merencanakan pembangunan beberapa brand favehotel di wilayah tersebut.

Aston memasuki pasar Indonesia pada akhir tahun 1990-an dan saat ini menjadi perusahaan pengelola akomodasi yang menawarkan jaringan Hotel, Kondotel, Resor, Apartemen Servis dan Vila berkelas yang berkembang cepat dengan kantor perwakilan di Jakarta, Kuala Lumpur, Yogyakarta, Surabaya dan Bali.

Aston International mengelola hotel bintang 5 Grand Aston, villa mewah Royal Kamuela dan Kamuela, bintang 4 Aston, bintang 3 Aston City Hotel dan Quest, hotel butik Neo serta brand favehotel.

Sentra Timur Superblok Telan Triliunan Rupiah

 

Hegemoni Bakrieland Group terus berlanjut. Tak puas menguasai 20% saham PT Sentul City Tbk atas Bukit Jonggol Asri berikut lahan seluas 12.000 ha, mereka melakukan ekspansi berikutnya. Yakni dengan mengembangkan Sentra Timur Superblok di Pulo Gebang, Jakarta Timur.

Megaproyek ini merupakan bagian dari Sentra Primer Baru Timur (SPBT) Pulo Gebang, Jakarta Timur, yang dirancang sebagai kawasan terpadu. Mengintegrasikan pusat pemerintahan, pusat bisnis, perkantoran, pendidikan, dan aktivitas kota lainnya. Bakrieland Group melalui anak usaha PT Bakrie Pangripta Loka, telah menyiapkan sejumlah rencana strategis guna mewujudkan Sentra Timur Superblok. Di antaranya berkolaborasi dengan Perum Perumnas Senayan pemasok kebutuhan lahan seluas 40 Ha.

Dikatakan Direktur Utama PT Bakrie Pangripta Loka, Dicky Setiawan, kemitraan dengan BUMN tersebut ditempuh karena mereka pemilik lahan paling luas dengan lokasi strategis di dalam SPBT. “Salah satu pertimbangan kami adalah pemilihan lokasi yang strategis, aksesibel dengan dimensi lahan memadai. Untuk itulah, kami menggandeng Perum Perumnas,” ungkap Dicky.

Galibnya pengembangan skala kakap, Sentra Timur Superblok merangkum beberapa fungsi properti yang dilengkapi dengan beragam fasilitas penunjang. Berkonfigurasi hunian jangkung, perkantoran, pusat belanja, hiburan, gedung serba guna, akomodasi dan lain sebagainya.

Realisasi pembangunannya akan dilakukan dalam tiga tahap. Pertama, pengembangan apartemen Sentra Timur Residences sebanyak 17 menara di atas lahan seluas 8 Ha. Sentra Timur Residences juga terbagi dalam beberapa sub tahap pembangunan. Tiga menara pertama, rampung tahun lalu dengan posisi penjualan sebanyak 89% dari total 1.237 unit. Dua menara kedua sejumlah 950 unit apartemen dikerjakan pada pertengahan 2012, bersamaan waktunya dengan konstruksi Sentra Timur Commercial Park (ruko) sebanyak 11 unit.

Bakrie Pangripta Loka menawarkan Sentra Timur Residence Tahap II dalam 4 varian berbeda. Yakni tipe 21, 25, 30, dan 36 yang dibanderol dengan harga mulai dari Rp150 juta hingga Rp250 juta. Sementara unit rukonya dipatok senilai Rp500 juta-800 juta per unit. Direncanakan tahap dua ini kelar pada pertengahan 2013.

Selanjutnya berturut-turut pembangunan Central Business District (CBD) Sentra Timur 1 yang meliputi satu menara kondotel, Sentra Timur Walk yang berkonsep lifestyle F & B Mall, function hall berkapasitas 800-1.000 orang, kondominium hotel yang berisi 164 kamar dengan operator Aston International, dan dua menara apartemen yang dipasarkan dalam dua tipe 25 dan 28 m2. CBD Sentra Timur 1 akan didirikan di atas lahan seukuran 3,7 ha.

“Rencananya CBD 1 dimulai pada September 2012 dengan estimasi nilai investasi sekitar Rp450 miliar,” buka Dicky.

Sementara CBD Sentra Timur 2 yang menempati lahan 5,6 ha, akan menggenapi seri pertama dengan apartemen sejumlah dua menara, satu menara gedung perkantoran, taman perkantoran yang terdiri atas beberapa gedung bertingkat sedang, dan rumah sakit. Semua ini rencananya diwujudkan pada pertengahan 2014.

Generator Pertumbuhan

Diakui atau tidak, kondisi aktual dua kutub yang didesain sebagai magnet pertumbuhan ekonomi kawasan timur dan barat Jakarta yakni SPBT dan Sentra Primer Baru Barat (SPBB) Puri Indah, Jakarta Barat, bagai bumi dan langit. Dilihat dari perspektif eskalasi pembangunan pun, SPBB jauh lebih pesat. Beberapa pengembangan superblok ukuran mega lebih dulu dimulai dibanding SPBT. Mudah dimafhumi, karena kondisi infrastruktur dan aksesibilitas sebagai faktor penting penarik investasi, tersedia dengan kualitas baik. Dus, unsur ekologi kota lebih lengkap sehingga kebutuhan penduduknya terakomodasi.

Tak pelak, semua aspek tersebut di atas menarik pengembang besar macam Lippo Karawaci Group mempertaruhkan modal dan reputasinya di sini. Mereka membeli lahan seluas 12 Ha dari Pondok Indah Group guna dijadikan global city bertajuk St Moritz Penthouse and Residences. “Kami akan membangun sebelas gedung bertingkat yang terdiri atas apartemen, hotel yang dikelola JW Marriott dan perkantoran, yang dilengkapi dengan pusat belanja, kapel pernikahan, sports club dan lain-lain yang membutuhkan dana tak kurang dari Rp11 triliun,” aku CEO St Moritz Penthouse & Residences, Michael Riady.

Sedangkan Pondok Indah Group sebagai penguasa mayoritas lahan SPBB, berencana mencetak rekam jejak dalam bentuk Puri Indah Town Center seluas 24 Ha. Mencakup 16 menara pencakar langit apartemen, perkantoran, hotel dan juga pusat belanja yang menghubungkan seluruh bangunan gedung yang dibangun. Fulus yang nant berputar sini nantinya juga dalam hitungan belasan triliun rupiah.

Namun demikian, gemerlap di SPBB ternyata tak lantas menutup peluang SPBT dalam menggaet minat investor. PT Bakrie Pangripta Loka seperti disinggung di atas contohnya. Mereka melihat potensi pertumbuhan kawasan baik dilihat dari perspektif harga maupun intensifikasi pembangunan fisik, sangat besar dan terbuka lebar. Didukung sarana dan moda transportasi busway rute Kampung Melayu-Pulo Gebang, relokasi terrminal Modern terpadu Pulo Gebang dan akses tol langsung yang ditarik dari segmen Cakung-Cilincing. Semakin memotivasi pergerakan kurva pertumbuhan ekonomi kawasan.

Saat ini saja, menurut Marketing Manager Sentra Timur Residence, Ardian J Fatkoer, harga lahan sudah mencapai level Rp1,6 juta-2 juta/ m2. Sementara harga propertinya menunjukkan peningkatan signifikan sebesar 40% sejak Sentra Timur Residence dipasarkan pada 2008 silam. “Angka ini akan terus bergerak naik, jika fasilitas-fasilitas komersial, hiburan, dan gedung serbaguna rampung terbangun. Kenaikannya mungkin akan mencapai 20-25% per tahun,” ucap Ardian.

Bandingkan dengan angka pertumbuhan harga lahan dan properti di SPBB. Hanya berada pada kisaran 10-15% per tahun. Ini karena nilainya sudah sangat tinggi, yakni sekitar Rp10 juta-15 juta/m2. Kalaupun terjadi kenaikan, jumlahnya tidak akan sebesar SPBT.

Potensi meroketnya harga lahan dan properti di SPBT secara logis memang terbuka luas. Sebab, masih dalam level sangat kompetitif, untuk tidak dikatakan rendah. Diimbuhi dengan seriusnya Bakrie Pangripta Loka menyelesaikan tahap demi tahap pembangunan Sentra Timur Superblok, menstimuli transaksi properti semakin hidup. Terindikasi dari harga seken unit apartemen Sentra Timur Residence yang saat ini berada pada posisi Rp300 juta-400 juta. Padahal harga perdana hanya Rp180 jutaan/unit.

Antusiasme tinggi dan sentimen positif pasar terhadap produk huniannya, memotivasi pengembang ini untuk setia pada jadwal dan target perampungan pembangunan. Menurut Ian, hal ini sangat berpengaruh terhadap kinerja penjualan. “Konsumen sangat kritis, mereka belum akan memutuskan membeli jika kemajuan fisik di lapangan belum terlihat. Untuk itu, kami mengejar target sesuai jadwal,” tandas Ian.

Demi memenuhi komitmen itulah, Bakrie Pangripta Loka tak ragu membenamkan investasi yang diproyeksikan senilai Rp2,2 triliun untuk Sentra Timur Superblok. Di mana dana sebesar itu akan mereka penuhi dari kas internal perusahaan, pinjaman perbankan dan pra komitmen penjualan.