Daniland, Come Back Dengan 3 Proyek

Lama vakum dan sepi publikasi, tak membuat Daniland tenggelam. Ternyata, pengembang yang mengawali kiprahnya dengan membangun Mal Kalibata tahun 1980-an akhir itu tengah menyusun strategi dan momentum yang tepat.

Hingga kemudian pertengahan 2011 ini, melalui anak usaha PT Pardika Wisthi Sarana, Daniland menggebrak dengan proyek Woodland Park Residence. Ini merupakan pengembangan terintegrasi di atas lahan seluas 3,2 ha di kawasan Kalibata, Jakarta Selatan. Menghimpun 5 tower apartemen (1.200 unit) dan satu menara hotel yang terbagi dalam dua tahap pengembangan. Harga yang dibanderol sekitar Rp300 juta-600 juta.

Siapa Daniland? Untuk generasi sekarang, nama ini mungkin terhitung asing. Namun, jika disebut merek macam Pizza Hut, Yummy susu fermentasi dan Sariboga Ratukarya (flour mill), Anda mungkin mafhum. Ya, nama-nama tersebut dimiliki oleh Daniprisma, induk perusahaan yang menaungi Daniland sebagai divisi propertinya.

Chairman Group Daniprisma, Emil Arifin mengatakan kembali aktifnya mereka di sektor properti termotivasi oleh pemenuhan kebutuhan hunian vertikal yang layak dan terjangkau bagi masyarakat. Selain itu, “Ada amanat dari ayah yang harus saya realisasikan,” ungkapnya.

Sebagaimana diketahui, Emil Arifin merupakan putra pertama Bustanil Arifin, Menteri Koperasi Era Orde Baru. Namun, bukan karena atribut sosialnya ini yang membuat Emil percaya diri come back ke dunia yang membesarkan namanya. Pengalaman dan kekuatan kapital adalah hal yang utama.

“Saya bangun Mal Kalibata itu tanpa pinjaman bank sama sekali. Dari kocek sendiri. Begitu juga dengan aset properti lainnya. Dan yang terbaru ini, Woodland Park Residence, sampai saat ini belum ada intervensi dana dari perbankan,” tandas Emil.

Selain Mal Kalibata, Daniland juga telah melahirkan gedung perkantoran Plaza Dani Prisma di kawasan Kebayoran Baru, dan Kemang Plaza, keduanya di Jakarta Selatan serta hotel di Banda Aceh, NAD dan Medan, Sumatera Utara. Kelimanya merupakan gedung yang disewakan dan menjadi sumber pendapatan tetap (recurring income).

Woodland Park Residence sendiri merupakan properti residensial pertama mereka. Dirancang sebagai hunian yang mengadopsi konsep green and helathy living. Konsep ini diimplementasikan ke dalam komposisi lahan terbangun yang hanya 30% dari total luas lahan. Porsi mayoritas lainnya untuk fasilitas penghuni dan ruang terbuka hijau. Ada pun beberapa pohon dengan beragam jenis yang sudah ada sejak lahan kosong ini ditempati PT Bata Indonesia, sebagian dipertahankan, sebagian lagi direlokasi sesuai dengan estetika dan lansekap proyek.

Guna membangun tahap pertama Woodland Park Residence, Daniland memproyeksikan kebutuhan dana sekitar Rp600 miliar. Sementara kebutuhan dana keseluruhan sekitar Rp1 triliun. “Sampai saat ini kami masih menggunan kas internal yang berassal dari subsidi silang recurring income aset properti lainnya,” buka Emil.

Usai Woodland Park Residence rampung, yang dijadwalkan pada 2014, mereka berencana membangun proyek multifungsi sejenis di kawasan Cijantung, Jakarta Timur. Lokasinya persis berhadapan dengan pabrik susu Frisian Flag. Di atas lahan berukuran 2,5 ha ini, Daniland bakal mendirikan hotel bintang tiga, dua gedung perkantoran dengan tinggi kurang dari 10 lantai, dan mal yang berkonsep food and beverage.

Sementara di landbank mereka lainnya yang berdimensi 2 ha, yakni di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, akan dikembangkan apartemen kelas menengah atas dengan harga lebih tinggi dari Woodland Park Residence. Apartemen ini nantinya terdiri atas dua menara dengan jumlah kurang dari 300 unit.

“Saya optimis, Woodland Park Residence terserap pasar dengan baik dan dapat menyumbang perolehan signifikan bagi Daniland. Target saya Rp500 miliar. Selain lokasinya yang dekat dengan segitiga Kuningan-Gatot Subroto, juga aksesibilitasnya yang sangat mudah. Dekat dengan stasiun Kalibata yang kelak direnovasi menjadi stasiun modern. Cocok untuk komuter dan juga eksekutif muda,” yakin Emil.

Saat ini tengah dipasarkan menara Matoa sejumlah 240 unit. Dalam satu gedung ini, selain apartemen, juga terdapat ruang perkantoran, kafe dan restoran yang disewakan. Dilengkapi dengan putting golf (mini golf ), kolamnya renang dan lintasan jogging. Sejak dipasarkan pada Juli silam, telah terserap 30%.

Iklan

Satu Tanggapan

  1. Sebagai koreksi, Anak pertama Bpk. Bustanil Arifin adalah ibu Arni kemudian Bpk Alwin ( chairman DL ), Bpk. Alex dan bungsu baru Emil
    Mohon di perbaruhi informasi yg salah ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: