Central Cipta Murdaya Kembangkan CBD Kemayoran Senilai Rp80 Triliun

Pasca aksi agresifnya mengakuisisi beberapa perusahaan properti terkemuka di Indonesia, di antaranya Grup Pondok Indah dan Jakarta Land, Central Cipta Murdaya (CCM), bersiap meneruskan pengembangan CBD Kemayoran.

Konglomerasi usaha yang dikomandani Siti Hartati Murdaya itu sudah memiliki konsesi lahan di Kemayoran untuk dikembangkan seluas 44 Ha. “Kami tengah mencari strategic equity partner guna bersama-sama mendanai proyek besar ini,” tandas Hartati.

CBD Kemayoran dirancang sebagai pusat bisnis jasa keuangan dan perdagangan. Oleh karena itu, dalam mimpi besar Hartati, beberapa perusahaan yang bergerak di sektor jasa keuangan dunia, dapat berkantor di sini. “Bila perlu, pusat keuangan dunia itu bukan New York, London atau Tokyo, melainkan Jakarta,” ujarnya.

Sebagai rintisan awal ke arah itu, CCM menggandeng Hongkong Land yang merupakan institusi investasi dan keuangan berpengaruh di Hong Kong dan Inggris guna berkongsi untuk beberapa proyek awal. Di antaranya dalam pengembangan gedung World Trade Center 2 di bilangan Sudirman, Jakarta. Gedung yang didesain modern dan hemat energi ini menghabiskan dana sekitar Rp3 triliun.

Digandengnya Hongkong Land, menurut Hartati, tak lain agar konstruksi pendanaan kuat. Sebab, dana yang dibutuhkan guna merealisasikan CBD Kemayoran tak main-main, sekitar Rp80 triliun. “Mereka juga bisa mencarikan strategic equity partner yang lainnya untuk beberapa proyek kami berikutnya. Tapi kami khususkan untuk CBD Kemayoran,” ujar Hartati.

Saat ini, yang baru kelar dibangun di dalam area konsesi adalah gedung Jakarta International Trade and Expo. Menyusul kemudian kompleks perkantoran sekelas WTC, apartemen, hotel dan tentu saja pusat belanja serta beberapa fasilitas hiburan dan rekreasi. “Mirip dengan Marina Bay di Singapura,” tandas Hartati. Keseluruhan gedung di dalam kompleks ini nantinya saling terhubung.

Iklan

Cipta Arsigriya, Ekspansi Di Dua Wilayah

Tak banyak pengembang lokal yang dipercaya dan dijadikan mitra strategis oleh pengembang nasional untuk bekerjasama membangun sebuah proyek. Selain karena harus punya visi dan misi yang sama, juga komitmen, dan mampu mengawinkan dua kepentingan yang berbeda. Satu di antara yang jarang itu adalah PT Cipta Arsigriya. Tak main-main, yang mengajak mereka berkolaborasi adalah Grup Ciputra. Pengembang ini, di mata Grup Ciputra, dipilih karena memiliki reputasi baik.

Keduanya sepakat mengembangkan CitraGrand City, Palembang, Sumatera Selatan, yang dimulai pada 2008 silam. Proyek skala kota ini menempati area seluas 200 Ha di kawasan Talang Kelapa. Ke depan, CitraGrand City dirancang sebagai ikon kota baru terintegrasi (integrated new town development). Selain perumahan, akan disediakan pula area Central Business District (CBD) yang terdiri atas apartemen, perkantoran, shopping center dan lainnya.

Jelas, kepercayaan tersebut merupakan ‘karpet merah’ bagi Cipta Arsigriya utuk melangkah ke tahap selanjutnya. Dan ini disadari betul oleh Presiden Direktur Cipta Arsigriya Danny Chandrawijaya. “Proyek kami menjadi sangat marketable. Padahal karakter pasar Palembang berbeda dengan Jakarta yang hanya disodori gambar saja, langsung beli. Di sini, harus dibuktikan dulu, ada atau tidak propertinya. Namun, ketika kami berpameran tahun lalu untuk ruko di bulevar CitraGrand City, hanya dalam waktu satu hari, langsung terjual habis,” buka Danny.

Prestasi ini merupakan pembelajaran berharga bagi Danny dan perusahaannya. Bahwa untuk membangun reputasi baik, harus sepenuh hati dan fokus. Kendati awalnya bisnis inti Cipta Arsigriya adalah jasa konstruksi, namun dengan filosofi bisnis ‘sepenuh hati’ dan tambahan pengalaman bekerjasama dengan pengembang sekaliber Grup Ciputra, tak ada kata surut ke belakang.

Dikatakan Danny, pihaknya telah mempersiapkan rencana membangun Palembang Regency tahap dua seluas 4 Ha. Lokasinya di tengah kota. Hanya 30 unit yang ditawarkan dengan harga berkisar antara Rp1,5 miliar untuk luas bangunan 190 m2 dan Rp2,4 miliar untuk ukuran 250 m2.

Seperti seri pertamanya, ini merupakan perumahan eksklusif yang dilengkapi dengan ruang meeting, sport club, dan dikelola oleh estate management profesional. Diberlakukan juga sistem keamanan 24 jam, di mana tidak sembarang orang bisa memasuki perumahan ini. Kecuali yang memiliki access card.

Selain Palembang Regency 2 yang akan diawali pada 2012, mereka juga tengah mempersiapkan pengembangan lahan di Linggau, Bengkulu, seluas 100 ha. Dipilihnya Bengkulu, alasan Danny, karena daya beli masyarakat atau minat untuk berinvestasinya lumayan tinggi. Mereka bisa diyakinkan dengan omongan dari mulut ke mulut. Selain itu, lokasinya sangat strategis. “Kami berani melakukan ekspansi ke wilayah ini karena beberapa faktor tadi,” tandasnya.

Di sini akan dibangun perumahan bertajuk Linggau Griya Asri dengan sistem klaster. Harga yang dipatok lebih rendah dari CitraGrand City. Dijelaskan Danny, saat ini dalam tahap pematangan lahan. Nantinya, selain unit-unit hunian, juga akan dibangun sarana rekreasi dan hiburan seperti waterpark dan taman

Masih di provinsi yang sama, mereka juga akan mendirikan perumahan sederhana di atas lahan seluas 10 ha. Unit-unit rumah yang ditawarkan tipikal 36 m2. Sekadar informasi, Cipta Arsigriya mengawali debutnya sebagai developer adalah dengan membangun perumahan sederhana untuk kelas menengah bawah. Karya mereka ini tersebar di Kalimantan, Jawa, dan bahkan Papua. “Kebanyakan adalah perumahan untuk karyawan, TNI/Polri, atau Pemda. Kami bekerjasama dengan institusi-institusi tersebut, juga Jamsostek dan Bapertarum. Di Talang Kelapa, kami berkongsi bersama Polda Sumbagsel membangun rumah mungil sebanyak 1.000 unit di atas area 60 Ha yang terbagi dalam dua tahap pengembangan,” imbuh Denny.

Sementara rencana pembangunan ke depan terkait kerjabareng dengan Grup Ciputra, mereka akan membuat lapangan golf 18 holes, perumahan berpemandangan danau, Lake House, yang dilengkapi fasilitas olahraga air (water sport), banana boat dan lain-lain.

Dengan banyaknya rencana pembangunan proyek perumahan beserta fasilitasnya tersebut, Cipta Arsigriya menganggarkan dana tak lebih dari Rp250 miliar. Terhitung terbatas memang, sebab mereka tak perlu mengeluarkan uang hanya untuk membeli lahan sebagai variabel utama bisnis properti. Lahan-lahan yang terdapat baik di Palembang, maupun Linggau merupakan aset perusahaan yang sudah dikoleksi sejak lama.

Dus, dana tersebut berasal dari kas internal perusahaan baik dari divisi pengembangan, konstruksi maupun injeksi dari holding yang juga ‘bermain’ di bisnis komoditas kelapa sawit. Kebun mereka terdapat di Pekanbaru, Riau, dan Makassar, Sulawesi Selatan.

“Kami tak ingin pinjam uang banyak ke bank. Seperlunya saja. Tak baik bagi kesehatan perusahaan. Selain itu, harus mengukur kapasitas diri juga,” jelas Danny seraya mengatakan untuk membangun Amanzi Water Park di CitraGrand City saja, hanya sedikit dana dari bank dari total kebutuhan Rp60 miliar yang dimanfaatkan.

Ke depan, target perolehan perusahaan dipatok sebesar Rp120 miliar untuk CitraGrand City, Rp40 miliar untuk perumahan di Palembang Regency 2 dan Linggau Griya Asri. Sementara aset lahan mereka yang berlokasi di Kumbang, tak jauh dari pusat kota, seluas 4 Ha belum akan diubah fungsinya. “Masih kami pertahankan sebagai aset lahan. Rencananya sih akan dibangun hotel bintang 4. Tapi itu nanti lima tahun ke depan,” terang Danny.