Fitch Ratings Dan Pengaruhnya Terhadap Industri Properti

Bangsa Indonesia memang gede rasa (baca ge-er). Tak bisa dipuji sedikit saja, langsung besar kepala. Terlihat dari reaksi berlebihan saat negeri kita tercinta ini masuk dalam investment grade Fitch Ratings. Peringkat Indonesia adalah BBB dengan outlook stabil.

Beberapa pengembang yakin dan optimis pemeringkatan tersebut akan membawa dampak positif terhadap derasnya aliran dana asing. Mereka pun meresponnya dengan membidani kelahiran banyak proyek baru, belanja lahan yang luasnya tak tanggung-tanggung, hingga berani berpartner dengan mitra-mitra atau pemodal asing yang belum tentu bonafid dan kredibel.

Padahal, masa depan industri properti di Indonesia pada 2012 ini justru tengah mengalami penurunan. Alias tidak sesuai ekspektasi yang dicapai pada pertengahan 2011. Bahkan pertumbuhannya diproyeksikan hanya dapat berada pada level 12% hingga 15%. itu karena market kelas menengah atas “melambat” (slow down). Justru kelas inilah yang pada kurun waktu sebelumnya menjadi lokomotif bergairahnya industri properti Indonesia.

2012 akan dikuasai pasar kelas menengah-menengah dan menengah bawah. Sektor perumahan masih menjadi yang terbaik dan menunjukkan aktifitas positif. Sementara commercial perkantoran masih bisa sedikit bernafas lega terutama yang berstatus strata title. Untuk apartemen kelas menengah atas, pasarnya justru melemah. Sedangkan sektor retail mengalami sedikit penurunan pertumbuhan dibanding 2010-2011, sebesar 10-15%.

Jadi, apa dampak pemeringkatan yang dilansir lembaga riset dan investasi yang berbasis di New York dan London itu? “Tidak signifikan. Bahkan tak bisa kami rasakan sama sekali, karena di sisi lain krisis yang terjadi di Eropa dan Amerika, kini telah menjalar ke China. Jadi, bagi pemain properti yang hanya mengandalkan partner strategis dari Eropa, Amerika maupun Asia, bersiap-siaplah untuk mengatur strategi yang tepat,” ujar Direktur Keuangan Pondok Indah Group, Kenneth S Purnama.

dus IHSG pun justru melemah sebelum penutupan transaksin bursa pada 30 Desember lalu. Hanya berada pada level 3.500-an. Pemeringkatan dari Fitch Ratings tersebut bukanlah karpet merah bagi dana asing untuk masuk ke Indonesia. Lain halnya, jika Moody’s yang mengeluarkan. Lembaga ini jauh lebih lebih kredibel dan bonafid serta menjadi acuan investor dan pemegang kapital dalam menginvestasikan dananya. Pemeringkatan oleh Moody’s adalah kartu truf bagi Indonesia, sekaligus referensi lembaga dan investor asing guna membenamkan modalnya.

Lepas dari itu, optimisme dan kegedean rasa para pengembang, bolehlah kita apresiasi. Dari pada minder, lebih baik ge-er. Tetap menghasilkan proyek baru, agar sektor riil ikut berjalan. Kendati perlahan, namun masih ada asa yang bisa digantungkan….

20120101-032123.jpg

Iklan

PT Metropolitan Kentjana Tbk Lansir 4 Proyek Senilai 1,7 Triliun

Wajah kawasan Pondok Indah betul-betul akan berubah. Tidak lagi identik sebagai perumahan elit plus family mall -nya yang kesohoran itu. Dalam waktu tak sampai lima tahun, Pondok Indah bakal disulap jadi kawasan bisnis, pusat hiburan dan aktifitas sosial yang gegap gempita. Pasalnya, tahun 2012 ini, PT Metropolitan Kentjana Tbk merilis 4 (empat) proyek properti baru.

Keempatnya adalah Serviced Apartment, hotel, perkantoran dan apartemen berview lapangan golf. Dijelaskan Presiden Direktur PT Metropolitan Kentjana Tbk, Husin Widjayakusumah, Serviced Apartment dan hotel berlokasi berdampingan dengan Pondok Indah Mall 2 di sisi utara, yang saat ini digunakan sebagai area parkir.

Sedangkan apartemen sewa merupakan bagian atau serial ketiga dari Apartemen Golf Pondok Indah yang berstatus apartemen sewa. Terakhir gedung perkantoran (office Building yang berlokasi di Jl RA Kartini (koridor Simatupang).

Untuk merealisasikan keempat properti gress tersebut dibutuhkan dana tak kurang dari Rp1,7 triliun. Dengan komposisi Rp900 miliar untuk pembangunan Serviced Apartment dan hotel, dan masing-masing Rp400 miliar untuk Apartemen Golf Pondok Indah dan perkantoran Simatupang. Dananya berasal dari belanja modal 2012 yang dialokasikan sebesar Rp1,5 triliun.

Khusus untuk serviced Apartment dan hotel, pendanaannya berasal dari bank BCA sebesar 70%, dan sebagian kecil sisanya kas internal. Sementara untuk dua proyek lainnya tengah dijajaki juga dari pinjaman BCA.

Perusahaan yang Go public pada 2009 ini optimis menghadapi kompetisi bisnis dan industri pada tahun ini. Kendati krisis yang melanda Eropa dan Amerika telah menular ke China, mereka yakin dapat melalui 2012 dengan lancar. Ini mengacu pada kinerja keuangan yang menggembirakan.

Terlihat dari tingkat okupansi pusat belanja Pondok Indah Mall 1 & 2 sebanyak 90%, Apartemen Golf Pondok Indah yang dihuni sebanyak 90% dan Wisma Pondok Indah 1 & 2 yang mencapai level 99%.

Selain itu, didukung pula performa keuangan yang positif. Hingga September 2011, mereka mencatat peningkatan pendapatan sebesar 11% dari tahun 2010 sebesar Rp503 miliar menjadi Rp558 miliar. Performa serupa juga ditunjukkan untuk laba bersih yang mencapai Rp213 miliar atau mengalami lonjakan 17% dari tahun sebelumnya periode yang sama Rp181 miliar.

Sementara total aset perseroan membukukan angka Rp2 triliun, naik 11% dari sebelumnya Rp1,8 triliun. Diungkapkan Direktur Marketing PT Metropolitan Kentjana TB, Kenneth S Purnama, perseroan masih memiliki kewajiban sebesar Rp625 miliar atau meningkat 3% dari Rp604. Tercatat pula nilai ekuitas yang ikut beranjak posisinya sebesar 14% menjadi Rp1,38 triliun dari Rp1,2 triliun.

Untuk meningkatkan kinerja keseluruhan, mereka telah melakukan pembangunan Wisma Pondok Indah 3 yang dibiayai dengan pinjaman BCA sebesar Rp350 miliar. Perkantoran ini terdiri atas 21 lantai plus 3 lantai basement. Mulai beroperasi pada Juli 2012. Saat ini progres pembangunannya telah mencapai 87% dan telah mendapat konfirmasi penyewa hingga 73%. selain itu, mereka juga telah membangun Pondok Indah Office Park yang disewakan seluas 4.000 m2 dengan dana Rp23 miliar. Status gedung telah tersewa 100% oleh CIMB Niaga.

Kemudian membangun perluasan Pondok Indah Mall 1 ke arah selatan, seluas 15.000 m2. Perluasan ini dinamakan Street Gallery. Ongkos konstruksinya sebesar Rp130 miliar. Terakhir, belanja tanah seluas 5.882 m2 dari PT Pondok Indah Padang Golf Tbk seharga Rp95 miliar. Yang kesemuanya berasal dari capex 2011 sebesar Rp800 miliar dari total Rp1 triliun yang dianggarkan.

Selain keempat proyek utama tadi, PT Metropolitan Kentjana Tbk juga berencana membangun Town houses sebanyak 70-90 unit di atas area seluas 4 ha di kawasan Deplu Raya, Bintaro Jaya.

Dengan kesiapan mereka membangun porofolio baru, optimisme itu tampaknya bisa terwujud. Sehingga mereka berani menargetkan pendapatan 2012 menjadi Rp900 miliar sampai Rp1 triliun. Lebih besar dari perolehan 2011 yang maksimal hingga akhir Desember diproyeksikan meningkat 15% dari Rp558 miliar. “Kami berusaha menggenjot Marketing sales semester I 2012 sebesar Rp400 miliar,” buka Direktur Marketing PT Metropolitan Kentjana Tbk, Felix S Hasamin.

20111230-153346.jpg

Aston Imperial Hotel & Convention Center Purwokerto Opens

The Aston Imperium Purwokerto Hotel & Convention Center is a contemporary and stylish 4 star Business & Convention Hotel located in the very heart of Purwokerto in close proximity to all major government offices and Purwokerto’s Golf Course which makes it an ideal vantage point for business travelers and a prime venue for the hosting of regional conference.

This newest Aston is the only international 4- star standard hotel in Purwokerto. The hotel features 146 rooms and suites and a wide range of facilities including an all day dining restaurant & coffee shop, a full service spa, a well equipped fitness center, a business center and a stunning outdoor swimming pool. In line with the Astons aim to become the preferred host hotel for regional conferences and exhibitions the hotel also offers a state of the art convention center with several mid seized meetings rooms and a convention hall for up to 1200 delegates.

Purwokerto is a city on the island of Java in Indonesia. It is the capital of the Banyumas Regency in Central Java and has a population of approximately 250 000. Purwokerto is also the gateway for mountaineers wanting to climb Mount Slamet, the highest volcano in Central Java.

Norbert Vas, Aston International’s VP Sales & Marketing said, “The Aston Imperium Purwokerto Hotel & Convention Center was conceptualized to become a principal hub for the regions social and commercial activities and is an important milestone for our expansion in Java which also includes the recently opened Grand Aston Yogyakarta and ongoing projects in Cirebon, Magelang, Solo, Surabaya, Malang and Jember”.

20111229-182649.jpg

Kondotel Bali, Andalkan Pelancong Domestik

Kondotel Bali, Andalkan Pelancong Deomestik

Bali bukanlah Jakarta. Dari sekian variabel yang berbeda, terutama kondisi naturanya, tetaplah ada yang serupa. Dan itu adalah gairah pembangunan fisiknya. Kendati Bali tidak se-booming dan bombastis seperti ibukota, namun Bali bisa ‘bicara’.
Kekiniannya, adalah etalase properti istimewa. Brand internasional yang absen di Jakarta, justru hadir lebih dulu di Pulau Dewata. Sebut saja W, Banyan Tree, Amani, Bvlgari, Westin dan lain sebagainya. Tahun-tahun terakhir, bahkan dibanjiri oleh brand-brand yang asing di telinga. Seperti Eaton Luxe dari Langham Group yang diusung Bakrieland Development.
Yang menarik adalah fenomena kondominium hotel (kondotel). Tak seperti di Jakarta yang hanya berlangsung fana, di sini justru tak sementara. “Trennya akan terus ada dan tumbuh signifikan hingga beberapa tahun mendatang,” demikian analisa Aleviery Akbar, Associate Director Residential and Leasing, Colliers International.

Sebab, Bali, sekali lagi, tak hanya unggul dalam keelokan fisik keunikan kulturnya, juga fundamental ekonomi yang pada gilirannya tercipta market yang steady. Fundamental ekonomi yang disokong industri pariwisata, ditandai jumlah wisatawan yang semakin meningkat (khususnya turis domestik), menjadi karpet merah bagi Bali sebagai destinasi investasi.
Khusus untuk kondotel, merupakan instrumen investasi yang praktis dan menguntungkan karena investor langsung dapat menikmati return on investment (ROI), serta kenaikan harga setiap tahunnya. Jika ditinjau dari perspektif harga, kondotel cenderung mengalami peningkatan sekitar 10%-20%/tahun. Di saat krisis pun, harganya tetap stabil. Ini salah satu alasan kuat yang menarik calon pembeli baik investor maupun end user memiliki properti di Bali.

Sekalipun dikomparasikan dengan private villas yang juga tengah mewabah dan rental guarantee yang diberikan biasanya sama, kondotel jauh lebih menguntungkan. Ini dimungkinkan karena ada operator hotel yang akan mengelola unit-unitnya secara profesional. Dan biasanya terikat kontrak pengelolaan selama 10 tahun. Sedangkan private villas umumnya hanya dikelola selama 2-5 tahun setelah itu dikembalikan kepada pembeli/investor untuk mencari penyewa atau investor harus mencari/menggunakan broker/agent untuk mendapatkan tamu.

Aleviery mengatakan, dengan penawaran ROI dan rental guarantee yang menarik (rata-rata 8% per tahun), atau di atas bunga deposito, memberikan rasa aman kepada para pembeli/investor. Bagi pihak developer pemberian rental guarantee tentunya mengacu kepada proyeksi penjualan yang diberikan oleh pihak oprator hotel yang sudah memperhitungkan keamanan dan kelangsungan bisnis hotelnya nanti.

Wajar saja jika pembeli kondotel di Bali meningkat pesat karena tawaran menggiurkan tersebut. Selain itu, tingkat okupansi tamu-tamu yang menginap baik di kondotel maupun hotel konvensional selalu mencapai angka rata-rata 90%. Di titik-titik strategis dengan dominasi wisatawan domestik dan Asia seperti Kuta, Seminyak, Jimbaran, bahkan mencapai 100%. Pullman Legian Nirwana yang dikembangkan PT Bakrieland Development Tbk dan sudah beroperasi, mencatat kinerja yang maksimal, 85% dihuni. Padahal room rate per malam, tak bisa dibilang murah, berkisar antara Rp1,5 juta-3 juta.

Performa Pullman Legian Nirwana memotivasi mereka untuk rela menggelontorkan dana sejumlah Rp250 miliar untuk membuat hal serupa. Kali ini mereka menggandeng Langham Hospitality Group guna mengelola kondotel yang mereka bangun di dalam kompleks Bali Nirwana Resort. Brand yang digunakan adalah Eaton Luxe yang setara hotel bintang empat. Terdiri atas 178 unit kondotel yang dibangun di areal seluas 20.000 m2.. Terdapat 133 tipe standar, 24 tipe one-bedroom, dan 21 tipe two-bedroom.

Marudi Surachman, Presiden Direktur Bakrieland Unit Usaha Hotel & Resor, mengatakan mereka akan memulai pembangunan Eaton Luxe Nirwana Bali pada Febuari 2012 dan dijadwalkan beroperasi secara penuh Febuari 2014.

Tak cuma itu, di kompleks yang sama, mereka juga akan membangun kondotel bintang lima. Proyek ini merupakan kelanjutan Eaton Luxe Nirwana Bali, “Kami akan meluncurkan kondotel berbintang lima dalam waktu dekat, juga dengan merangkul Langham Hospitality Group. Brand yang diusung Langham Suites,” buka Marudi.

Gurihnya pasar kondotel Bali juga diendus Gapura Prima Group. Berkongsi dengan skema joint venture bersama Sun Motor Group, mereka mencoba peruntungan dengan mengembangkan The Sun Heritage di Sunset Road, Kuta.

Dipilihnya lokasi ini, menurut Direktur The Sun Heritage Andy Chandra karena lebih popular dan familier untuk turis domestik dan Asia yang saat ini jumlahnya mendominasi kedatangan turis ke Bali. Dus, “Kuta lengkap dengan segala jenis fasilitas yang dibutuhkan turis dalam negeri dan Asia yang menjadi segmen pasar kami,” jelasnya.

The Sun Heritage menawarkan 259 unit kondotel. 80 unit di antaranya akan dimiliki sendiri oleh pengembang sebagai aset portofolio. Tipikal unit yang dijual adalah penthouse, 3 kamar tidur, dua kamar tidur dan tipe studio. Dengan komposisi 80% dari jumlah yang dijual secara strata title merupakan tipe studio (30 m2). Unit-unit tersebut dibanderol seharga Rp30 juta/m2.

Best Western ditunjuk sebagai operator The Sun Heritage. Sebanyak 10% ROI selama dua tahun pertama operasional, dijanjikan kepada konsumen. Selain di sini, Gapura Prima Group bakal membuat kondotel lagi di daerah Jimbaran dengan bendera Ramada, atau setara hotel bintang 4. Konstruksi dimulai pada Juni 2012. Selanjutnya di daerah Padang-padang, juga dengan menggaet bendera jaringan internasional.

The Sun Heritage menggenapi proyek-proyek lainnya seperti The Rich Prada (Podojoyo Masyhur Group), Wuku Condotel, Villa and Resort (DW2 Property), keduanya di Bali Pecatu Indah, Maxone Hotel, Mercure Condotel (Brasali Group), Aston Seminyak Condotel, Sheraton Condotel, The Bay, 7 Heavens, dan lain-lain.

Kendati sangat banyak kondotel yang ditawarkan, namun, Aleviery mengingatkan konsumen untuk memperhatikan 4 hal. Yakni reputasi pengembang, sehingga pembangunan proyek nya tetap jalan dan sesuai jadwal, lokasi yang juga akan memberikan nilai tambah, operator hotel yang mempunyai reputasi baik untuk membuat tingkat hunian maksimal setiap tahunnya, dan transaparansi cara pembagian keuntungan sesudah jaminan sewa berakhir.

Lepas dari itu, tren kondotel ini akan berlangsung terus sampai Pemerintah Daerah Bali membatasi atau melakukan pemberhentian untuk pembangunanannya. Karena, sejatinya, semakin banyak pembangunan kondotel akan berimplikasi pada terganggunya keseimbangan alam.

Puluhan Triliun Rupiah Siap Beredar di Pasar

Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya, di mana sebagian besar pengembang fokus pada penyelesaian proyek yang tengah dikerjakan. Tahun 2012, akan ada banyak kejutan dengan nilai investasi gila-gilaan. Ini berkorelasi positif dengan kekinian kondisi ekonomi dan iklim investasi Indonesia yang semakin kondusif. Terakhir, negara kita masuk dalam investment grade dari Fitch Ratings menjadi BBB dengan outlook stabil.

Jelas, ini mendapat respon yang positif dan antusias dari pengembang. Mereka menganggap dengan masuknya Indonesia dalam peringkat investasi, permodalan asing akan deras mengalir. Dan itu sangat menguntungkan. Mereka semakin percaya diri merealisasikan rencana-rencana strategis tahun ini.

Salah satu yang menjadi atensi publik belakangan ini adalah Sinarmas Land Group. Usai melakukan rebranding korporat menjadi terintegrasi dalam satu nama, mereka secara agresif, mengimplementasikan aksi-aksi strategis.

Tahun ini, belanja modal perusahaan yang kini dinahkodai Michael Widjaja itu sebesar Rp3,25 triliun. Sebagian besar digunakan untuk akuisisi lahan, sebagian lagi untuk membuka township development baru dan sejumlah proyek komersial.

Begitupula dengan PT Summarecon Agung Tbk. Raja properti di kawasan kepala naga, Kelapa Gading, Jakarta Utara, itu sudah siap dengan kelahiran portofolio anyar yang prestisius. Dikatakan Direktur Utama PT Summarecon Agung Tbk., Johannes Mardjuki, capital expenditur untuk 2012 mencapai Rp1,3 triliun yang akan digunakan untuk membangun dua pusat belanja baru di daerah Serpong dan Bekasi serta fasilitas penunjang di dua perumahan skala kota mereka yakni Summarecon Serpong dan Summarecon Bekasi.

Sementara PT Bakrieland Development Tbk memandang 2012 dengan optimisme tinggi. Kendati nilai capex yang disiapkan tak sebesar perusahaan pengembang lainnya, namun Presiden Direktur PT Bakrieland Development Tbk Hiramsyah S Thaib yakin dengan rencana strategis mereka akan berjalan lancar.

“Akan sangat bagus, terakhir Indonesia dapat investment grade, tanpa investment grade saja tingkat suku bunga sudah turun terus. Jadi, saya optimis proyek-proyek kami termasuk sektor infrastruktur tol, akan berjalan smooth. Bank Indonesia, terakhir menurunkan tingkat suku bunga hingga 50 basis poin menjadi enam persen. Tingkat suku bunga ini merupakan yang terendah sepanjang sejarah Indonesia. Jadi, prospek bisnis properti juga semakin menjanjikan setelah sejumlah bank mulai memberikan Kredit Kepemilikan Rumah (KPR) dengan tingkat suku bunga 7,5 persen,” ujar Hiramsyah.

Tahun ini, mereka akan memulai pembangunan perumahan Sentul Nirwana Residence (Jonggol, Jawa Barat), beberapa klaster baru dan area komersial di Bogor Nirwana Residence (Bogor, Jawa Barat), Lagoon Nirwana Resort (Balikpapan, Kalimantan Timur), kondotel di Jogjakarta, melakukan eskalasi dan akselerasi proyek-proyek City Properties yang sudah berjalan seperti Rasuna Epicentrum serta insfrastruktur jalan tol di empat ruas wilayah Jawa, berikut  fasilitas pendukungnya seperti rest area.

Lain lagi dengan PT Agung Podomoro Land Tbk yang menganggarkan dana belanja modal Rp3 triliun. Fulus  sebesar itu akan dipakai untuk membiayai proyek perseroan, baik yang telah ada maupun baru.  Wakil Direktur Utama Agung Podomoro Land Indra Wijaya menyebutkan proyek yang akan mereka lanjutkan pembangunannya tahun ini antara lain Green Bay, Pluit (Jakarta Utara) dan Kuningan City (Jakarta Selatan). Sedangkan untuk proyek baru, mereka akan membesut  JW Marriot di Bali, integrated  resort Vimala Hills di Gadog (Bogor, Jawa Barat), Grand Taruma (Karawang, Jawa Barat) dan Podomoro City Extension (jakarta Barat).

Berikut detil rencana-rencana pengembang besar tersebut:

Agung Podomoro Group

Rilis Empat Proyek Anyar

Melalui PT Agung Podomoro Land Tbk, imperium properti ini semakin agresif menguasai sektor industri properti. Mereka punya rencana segudang yang siap diimplementasikan pada 2012 ini. Tercatat empat proyek anyar yang akan digarap. Tak main-main, keempatnya diklaim sebagai proyek prestisius dengan nilai investasi di atas Rp500 miliar.

Keempatnya adalah JW Marriott Bali, resor terintegrasi Vimala Hills di Gadod (Jawa Barat), perumahan skala kota Grand Taruma (Karawang, Jawa Barat) dan Podomoro City Extension yang terdiri atas kantor, apartemen dan retail space. “Detilnya masih harus menunggu selesai budgeting. Perkiraan nilai investasinya sebesar itu,” ungkap Indra Wijaya, Wakil Direktur Utama Agung Podomoro Land.

Sebelumnya, perseroan telah mengakuisisi PT Alam Hijau Teduh (AHT), PT Karya Gemilang Perkasa, dan PT Putra Adhi Prima. Terbaru, mereka mengambil alih 99,93% saham PT Tiara Metropolitan Indah (TMI) yang merupakan pengembang Blok M Square. Akuisisi tersebut merupakan bentuk realisasi terhadap rencana penggunaan dana hasil penawaran umum obligasi I APLN tahun 2011 senilai Rp 1,2 triliun.

Hingga kuartal III 2011, pendapatan usaha yang masuk tercatat sebesar Rp2,7 triliun, atau naik 86,3% dibandingkan pada periode yang sama pada 2010 yang mencapai Rp1,4 triliun.  Peningkatan tersebut sebagian besar berasal dari penjualan apartemen di  Podomoro City, Kuningan City dan Green Bay Pluit.  Sedangkan marketing sales yang telah dibukukan, mencapai Rp 3,3 triliun hingga September 2011. Jumlah tersebut hampir menyamai target tahun ini yakni sekitar Rp 3,5 triliun. Ada pun target pendapatan tahun ini diproyeksikan melonjak sebesar 50% menjadi Rp 2,91 triliun dari tahun lalu yang hanya membukukan Rp 1,94 triliun.

Intiland Development

Bangun Mega Proyek di Selatan Jakarta

Tak puas hanya dengan mendirikan Regatta The Icon of Jakarta, PT Intiland Development Tbk melanjutkan eksistensinya dengan megaproyek South Quarter. Tak kalah prestisius, besar dan masif, proyek ini berlokasi di koridor Simatupang, Jakarta Selatan. Ini merupakan sebuah kawasan bisnis baru di yang mengombinasikan enam tower perkantoran, kondominium dan serviced apartment serta fasilitas ritel.

Presiden Direktur dan Chief Executive Officer Intiland Development Hendro S Gondokusumo mengatakan, nilai investasi untuk pengembangan tahap pertama diperkirakan mencapai Rp1,8 triliun, dan secara keseluruhan nilai investasi proyek South Quarter sekira Rp3 triliun.

South Quarter yang berada di atas lahan seluas 7,1 Ha dengan total luas bangunan 220.000 m2 ini akan dibangun secara bertahap.  Pengembangan tahap pertama akan dibangun tiga tower perkantoran dan fasilitas ruang ritel di atas lahan seluas 4,4 ha. Ketiga tower perkantoran ini terdiri dari bangunan gedung setinggi 20 lantai dengan luas total mencapai 120 ribu meter persegi. Sementara bangunan untuk fasilitas ritel seluas 9.000 m2. Pembangunan dimulai pada triwulan I 2012. Tahapan penutupan atap (topping off) targetnya dilakukan pada triwulan II-2013 dan pembukaan pada triwulan III-2014.

Intiland Development sendiri telah menyiapkan belanja modal dibandingkan tahun lalu, yakni di atas Rp1 triliun. Meningkatnya belanja modal tersebut karena banyak proyek baru yang akan dimulai berbarengan dengan South Quarter. Seperti Aeropolice Residence di Cengkareng, Jakarta Barat dan kelanjutan Graha Natuna di Surabaya (Jawa Timur). Adapun sumber capex tahun ini berasal dari kas internal dan pinjaman perbankan dengan komposisi 50:50.

 

Ciputra Siapkan 1  Triliun Untuk CWJ

Menyadari besarnya dana yang dibutuhkan signature project mereka seperti Ciputra World Jakarta, Grup Ciputra jauh hari telah menyiapkan belanja modal sebesar Rp2 triliun. Mayoritas dana tersebut yakni sebesar Rp1 triliun, diproyeksikan terserap oleh proyek yang berlokasi di koridor Satrio, Kuningan, Jakarta Selatan tersebut.

Nantinya, dana untuk Ciputra World Jakarta akan didapat dari pinjaman konsorsium yang berasal dari dua bank lokal. Sedangkan sisa capex sebesar Rp1 triliun, akan dialokasikan untuk PT Ciputra Property Tbk (CTRP) dan PT Ciputra Surya Tbk (CTRA), masing-masing sebesar Rp500 miliar.
Grup Ciputra juga menargetkan pertumbuhan kinerja penjualan (marketing sales) sebesar 90%. Yakinnya mereka dengan angka yang fantastis tersebut karena tahun ini akan dilansir sebanyak 12 proyek baru yang tersebar di seluruh Indonesia yang masuk dalam tiga sub holdings perusahaan.

Pengembangan di luar Pulau jawa akan dikonsentrasikan dan ditargetkan dapat mencapai penjualan sejumlah Rp700 miliar yang berasal dari landed residential. Sementara untuk proyek-proyek di Pulau Jawa, mereka akan fokus pada percepatan dan penyelesaian pembangunan. Selain tentu saja, akan ada beberapa proyek gress berupa high rise office and residensial. Termasuk di antaranya Ciputra World Jakarta sesi 3.

PT Summarecon Agung Tbk

Dua Pusat Belanja

Inilah salah satu perusahaan properti yang konsisten memperlihatkan kinerja penjualan fantastis. Tahun lalu saja, mereka sukses membukukan marketing sales sebesar Rp2,9 triliun. Untuk tahun ini, nilainya dilipatgandakan menjadi Rp3,5 triliun.

Direktur Utama PT Summarecon Agung Tbk Johannes Mardjuki, tahun ini akan lebih bagus kondisinya karena suku bunga bank cenderung turun. Dan itu menambah motivasi mereka untuk tak henti membidani kelahiran portofolio baru.

Selain pengembangan skala kota Summarecon Bandung seluas 300 Ha (saat ini baru 100 Ha lahan yang dibebaskan) juga akan dibangun Summarecon Mall Bekasi, e-Mall di Scientia Garden, green office park,  convention center, sports club The Spring dan hotel yang semuanya di Summarecon Serpong.

Untuk Summarecon Mall Bekasi telah dialokasikan dana sejumlah Rp500 miliar, sedangkan untuk convention center sebesar Rp200 miliar dan sports club Rp80 miliar. Sehingga total belanja modal perusahaan ini sebanyak Rp1,3 triliun yang sebagian besar porsinya berasal dari perbankan, yakni sekitar 70-80%.

Yang mengejutkan, PT Summarecon Agung Tbk juga akan menggarap wilayah yang selama ini dianggap ‘tabu’ dan bukan kepala naga. Mereka mulai berekspansi lebih ‘jauh’ dan menjajaki akuisisi lahan di Selatan Jakarta, yakni sekitar Cibubur, Bogor, Sentul dan Jonggol. Seperti halnya tipikal portofolio eksisting, mereka bakal membangun perumahan skala kota lengkap dengan fasilitas penunjangnya.

Aksi-aksi strategis tersebut sekaligus menepis persepsi publik bakwa selama ini Summarecon Agung sangat konservatif. “Jika ada lahan seluas yang kami inginkan di Mega Kuningan, Jakarta, sekalipun, kami akan memburunya. Hanya saja, lahan seluas minimal 50 Ha, sudah terbatas persediaan di dalam kota Jakarta. Karena itu kami menggeser orientasi pembangunan ke wilayah Selatan Jakarta,” ujar Johannes.

 

PT Bakrieland Development Tbk

Integrasikan Bisnis Properti dan Jalan Tol

Agresif dan ekspansif. Hanya dua kata ini yang cocok disematkan pada PT Bakrieland Development Tbk. Di bawah kendali Hiramsyah S Thaib, mereka bukan lagi pengembang medioker. Justru, tahun 2010 silam, banyak mengejutkan perhatian publik dengan ‘pembelian’ lahan besar puluhan ribu hektar. “Tak tertutup kemungkinan, kami akan menggenapkan pembelian lahan di Jonggol menjadi 35.000 ha, dari 12.500 Ha yang telah kami kantongi,” ungkap Hiramsyah.

Apalagi pasca Fitch Ratings memasukkan Indonesia ke dalam investment grade yang menurut Hiramsyah, akan banyak berkontribusi terhadap kegairahan sektor properti dengan masuknya dana asing yang pada gilirannya bakal meningkatkan product domestic brutto (PDRB).

2012 ini, mereka punya banyak rencana strategis. Di antaranya mempercepat terjalinnya kerjasama dengan mitra strategis, baik untuk pengembangan jalan tol maupun properti.  Agar mereka, lanjut Hiramsyah, tak terlalu banyak mencari pinjaman dari bank. Asal tahu saja, tahun lalu mereka berencana melakukan improvisasi keuangan dengan mencari utang sebesar Rp1 triliun yang akan digunakan untuk refinancing utang yang jatuh tempo pada 2013 sebesar Rp500 miliar. Sisa dari Rp1 triliun tersebut dipakai untuk membiayai belanja modal.

“Sudah ada beberapa mitra strategis yang tertarik dengan tawaran kami. Di antaranya dari Asia. Timur Tengah tidak lagi. Yang gencar memang investor asal Asia,” ungkap Hiramsyah seraya menambahkan, akselerasi pembangunan menuju penyelesaian dan pembukaan terus digenjot.

Di samping itu, tahun ini mereka akan serius menggarap proyek-proyek properti di daerah, seperti kondotel di Jogjakarta, Lagoon Nirwana Resort di Balikpapan, Kalimantan Timur, resort dan kondotel di Lampung, vila di Ubud, Bali dan beberapa perumahan skala menengah lainnya yang akan diintegrasikan dengan pembangunan jalan tol yang tengah dalam tahap assessment. Seperti ruas tol Bogor-Ciawi-Sukabumi sepanjang 54 Km, Pejagan-Pemalang (58 km), Batang-Semarang (75 km), dan Pasuruan-Probolinggo (45 km).

Di ruas-ruas jalan tol tersebut Bakrieland Development menawarkan kerjasama kepada usaha mikro, kecil dan menengah guna mengisi ruang-ruang di rest area yang akan mereka bangun. UMKM yang dimaksud, tentu saja yang memiliki akar industri kerajinan khas daerah-daerah yang dilalui oleh jalur tol yang mereka bangun. “Saya optimis ini bsia berjalan. Mengingat sinergi jalan tol dan properti telah menunjukkan hasil menggembirakan. Akan kami teruskan upaya positif ini,” imbuh Hiramsyah.

Ada pun laba bersih mereka hingga semester I-2011, sebesar Rp 126,1 miliar atau melonjak 100,2% dibandingkan periode sama tahun lalu Rp 63 miliar. Unit usaha city property menjadi kontributor terbesar senilai Rp 764,2 miliar atau 73,2% dari total penjualan. Disusul oleh unit usaha landed residential Rp 130 miliar (12,5%),  hotel & resort Rp 93,96 miliar (9,9%), dan jalan tol Rp 41,76 miliar (4,4%).

 

Sinarmas Land

Beli Tanah dan Bangun Kota

Sinar Mas Land, salah satu pengembang properti terkemuka di Asia Tenggara semakin serius mewujudkan visi untuk menjadi the leading property developer in South East Asia, dengan menyiapkan langkah-langkah strategis di tahun 2012.

Michael Widjaja, Group CEO Sinar Mas Land menyatakan untuk tahun ini, Sinar Mas Land sudah menyiapkan investasi untuk Capital Expenditure & Investment activities sebesar Rp.3.25 Triliun dimana sebagian besar dari dana tersebut akan dialokasikan untuk akuisisi tanah.

Mereka masih akan fokus pada pengembangan proyek-proyek township/residential dan proyek komersial. “Di BSD City saja kita masih memliki lahan sekitar 4,500 hektar lagi jadi masih banyak ruang untuk melakukan pengembangan, begitupun di Kota Deltamas Cikarang yang saat ini masih memiliki land bank lebih dari 2,000 hektar untuk dilakukan pengembangan di sektor residensial maupun industrialnya yaitu di Greenland International Industrial Center (GIIC) yang juga berada di kawasan tersebut,” tandas Michael.

Mereka juga berencana berencana menambah koleksi land bank di kawasan Jawa Timur, Bali dan Balikpapan, Kalimantan Timur. Kemungkinan besar akan ekspansi ke dua sampai tiga  kota baru dalam waktu 3 tahun mendatang yang sebelumnya tidak terdapat di portofolio  Sinar Mas Land.

Tak hanya itu, Sinar Mas Land juga akan mengembangkan bisnisnya ke luar negeri. Untuk jangka pendek, ada beberapa negara di kawasan Asia Tenggara yang tengah dijajaki serius. Guna mempercepat pertumbuhan dan pengembangan proyek di luar negeri, Sinar Mas Land akan menggandeng partner strategis di negara-negara tersebut.

Proyek komersial seperti Greenland International Industrial Centre (GIIC) – Kota Deltamas, Cikarang, Karawang International Industrial City (KIIC) dan beberapa proyek komersial baru yang akan dibangun di tahun 2012 oleh Sinar Mas Land ditargetkan memberikan kontribusi sekitar 45 % dari total target penjulan Sinar Mas Land tahun 2012.

Sementara sekitar 37 % pendapatan lainnya di tahun 2012 akan diperoleh dari proyek-proyek residential. Seperti yang berada di BSD City, Grand Wisata Bekasi, Kota Wisata Cibubur, Legenda Wisata Cibubur,  Taman Permata Buana Jakarta serta berbagai proyek residential lainnya termasuk yang berada di Surabaya dan Balikpapan. Sedangkan unit bisnis strategis Asset Management seperti, penyewaan ruang mall/trade center, Gedung Perkantoran, Hotel Le Grandeur, serta berbagai proyek asset management lainnya ditargetkan berkontribusi sebesar 15 % dari total target penjualan.

Michael Widjaja kini bertanggungjawab atas sejumlah proyek properti di Indonesia, diantaranya proyek-proyek berskala kota/Township yaitu BSD City (6.000 hektar) dan Kota Delta Mas Cikarang (3.000 hektar), Grand Wisata Bekasi (1100 hektar) dan Kota Wisata Cibubur (1000 hektar) .

Plus membawahi sejumlah kawasan perumahan (residential) di Jabodetabek yaitu, Legenda Wisata Cibubur, Banjar Wijaya Tangerang, Telaga Golf Sawangan, Grand Wisata Bekasi, Taman Permata Buana Jakarta, Bale Tirtawana Bogor. Sementara di Surabaya yaitu : Wisata Bukit Mas dan Villa Bukit Mas, di Balikpapan yaitu, Balikpapan Baru dan Grand City, sementara di Batam yaitu Taman Duta Mas Batam.

Portofolio lainnya adalah Hotel Le Grandeur Jakarta, dan Le Grandeur Balikpapan, serta sejumlah gedung perkantoran diantaranya Plaza BII Jakarta, Wisma BII Medan, Wisma BII Surabaya, Wisma Eka Jiwa, dan Wisma BCA di BSD City.

Sinar Mas Land juga merupakan pionir untuk jenis “strata” Retail & Trade Center, yaitu ITC Mangga Dua Jakarta, ITC Kuningan Jakarta, ITC Cempaka Mas Jakarta, ITC Roxy Mas Jakarta, ITC Permata Hijau Jakarta, ITC Fatmawati Jakarta, ITC Depok, DP Mall Semarang dan ITC Surabaya Mega Grosir.

Total Rambah Perkantoran

 

Gairah pengembangan fisik perkantoran koridor TB Simatupang, tampaknya akan terus berlanjut dua hingga lima tahun mendatang. Saat proyek-proyek baru semacam Signum Tower, Sovereign Plaza, Manhattan Square, Antam Office Park, Alamanda Tower, Helios 2, South Quarter dan GKM Tower dibangun atau baru beroperasi.

 

Pasca dibukanya Talavera Office Tower pada 2010, menyusul perkantoran Hijau Arcadia, dan beberapa gedung lainnya beberapa tahun sebelumnya, koridor Simatupang memang jadi incaran. Menurut Presiden Direktur Leads Property Service Indonesia Hendra Hartono, selain karena pasoknya relatif banyak, juga harga lahannya yang masih sangat kompetitif. Tak mengherankan, jika performa perkantoran di sini terus bertumbuh hingga mencapai lebih dari 50% dari total pasok perkantoran yang dikontribusi wilayah Selatan Jakarta.

 

Itulah yang memotivasi PT Total Persada Development (TPD), anak usaha PT Total Bangun Persada, guna melakukan hal serupa pendahulunya. Mereka berkongsi dengan PT Graha Kirana Megah sebagai penyedia lahan membangun GKM Tower melalui perusahaan patungan PT Lestari Kirana Persada.

 

Tak tanggung-tanggung, mereka menginvestasikan dana sebesar 25 juta-30 juta dolar AS untuk merealisasikan mimpi memiliki portofolio green building perdana. GKM Tower ini, memang dirancang sebagai gedung perkantoran ramah lingkungan dengan menekankan aspek-aspek  hijau (green code) yang memungkinkan konsepsi hijau yang berkelanjutan.

 

Konsepsi hijau dalam perspektif GKM Tower antara lain menggunakan teknologi dan sumber energi yang dapat diperbarui yakni energi matahari dan bio diesel, konservasi air hujan (rain water harvesting), pendinginan secara pasif (shading) atau peneduhan dan ventilasi alami, serta micro climate response berupa pertamanan dan pepohonan yang mendapat porsi 83,3% dari total luas area. Selain itu, akan terdapat ruang terbuka berupa taman dan ruang sosial.

 

Ditambahkan Presiden Direktur Lestari Kirana Persada, Rudi S Komajaya, mereka juga akan menanggulangi limbah air dengan teknologi grey water recycling. Adapun material dan peralatan bangunan yang digunakan pada saat proses konstruksi adalah yang mengonsumsi energi paling rendah. Begitu pula dengan aplikasi pencahayaan alami yang menggunakan overall thermal transfer value (OTTV) sebesar 40 watt/m2 yang mendukung proses baru efisiensi energi .

 

Untuk menunjukkan keseriusannya, Lestari Kirana Persada mengajukan GKM Tower untuk  disertifikasi oleh Green Building Council Indonesia (GBCI) dan Green Mark dari Building Construction Authority (BCA) Singapura dengan target peringkat platinum.

 

Gampang dimafhumi, jika harga per meter persegi gedung ini cukup bersaing. Untuk unit-unit yang dijual dengan sistem kepemilikan strata title, ditawarkan seharga Rp19 juta-19,5 juta/m2. Sedangkan unit-unit sewa dibanderol sekitar Rp150.000-160.000/m2. Di luar biaya perawatan sebesar Rp85.000/m2.

 

Harga yang sejatinya terhitung masih lebih rendah untuk gedung semodern ini. Komparasikan saja dengan harga sewa Wisma Pondok Indah 3 yang berspesifikasi serupa, sudah mencapai angka Rp200.000-250.000/m2. Padahal lokasinya menjorok ke dalam dari segmen Tol JORR Simatupang-Pondok Indah. Sementara GKM Tower dapat diakses melalui jalur-jalur utama menuju pusat bisnis segitiga emas di Jakarta, dan Tol JORR.

 

 

GKM Tower yang pembangunannya dimulai  Desember lalu, akan setinggi 22 lantai dengan 3 basement.  Menempati area seluas 5.800 m2, di mana hanya 17%-nya saja yang dibangun, sesuai dengan peraturan koefisien dasar bangunan di daerah tersebut.  Selain itu, gedung ini akan dilengkapi fasilitas sky lounge dan sky garden yang bisa diakses oleh para tenan dan pemilik unit perkantoran.

 

“Kami merencanakan jadwal pengoperasian gedung ini pada pertengahan 2013, saat semua ruang terbeli dan tersewa para tenan yang sebagian besar merupakan perusahaan pertambangan, informasi dan telekomunikasi dan perusahaan-perusahaan terkait. Saat ini, sudah 29% ruang GKM Tower terjual sejak diluncurkan November lalu,” ungkap Direktur Lestari Kirana Persada, Rudy Gunawan.

Woodland Park Residence Mulai Dibangun

 

Jumlah hunian jangkung di Jakarta, kian hari semakin bertambah. Yang menggenapi jumlah tersebut satu di antaranya adalah Woodland Park Residence di bilangan Kalibata, Jakarta Selatan.

Dikembangkan oleh Daniland Group melalui PT Pardika Wisthi Sarana, proyek ini berada di  atas tanah seluas 3,15 hektar. Terdiri atas lima menara apartemen dan kondominium hotel. Tahap pertama pembangunan adalah Tower Cendana setinggi 18 lantai dengan jumlah 218 unit. Luas unit yang ditawarkan berkisar antara 35,53 m2  hingga 70.72 m2 dengan harga Rp300 juta-1 milyar. Sebelumnya telah dipasarkan Tower Matoa sebanyak 128 unit .

Woodland Park Residence dapat menjadi solusi bagi masyarakat perkotaan yang selama ini harus mengalami kepadatan lalu lintas mengingat lokasinya yang strategis dan mudah diakses dari pusat bisnis terutama wilayah Kuningan, Sudirman, dan Thamrin; serta didukung berbagai sarana transportasi publik seperti feeder bus way dan kereta rel listrik.

Woodland Park Residence dilengkapi fasilitas penunjang seperti mini marketdrug store, dan laundry serta kolam renang, fitness centerjogging track, taman terbuka dan taman bermain anak juga mini putting green.

PWS berkomitmen untuk mendedikasikan lebih dari 60% lahannya bagi ruang terbuka hijau agar para penghuni apartemen mendapatkan udara yang bersih, segar, baik, dan sehat demi peningkatan kualitas hidup,  sesuai dengan tagline yang diusung  a place for healthy living.  “Selain properti yang berkualitas, kami juga berkomitmen untuk membangun komunitasnya, dengan menyediakan “Sky Lounge” yang menjadi tempat bersosialisasi antarpenghuni apartemen di Tower Cendana dan Mahoni,” jelas Presiden Komisaris Daniland Group Emil Arifin.

Selain dimulainya pembangunan Woodland Park Residence yang ditandai seremoni groundbreaking, dilaksanakan pula penandatanganan kesepakatan kerja sama antara PT Pardika Wisthi Sarana dengan Swiss-Belhotel International Indonesia. Swiss-Belhotel International Indonesia akan menjadi operator Serviced Apartment Woodland Park Residence sebanyak 200 unit yang akan mulai dibangun setelah keempat menara apartemennya diserahterimakan.

Serviced apartemen masuk dalam tahap pembangunan ketiga. Nilai konstruksi untuk Woodland Park Apartment sejumlah Rp650 miliar,” jelas Presiden Direktur PT Pardika Wisthi Sarana, Achmad Setiadi.

woodland park residence