Serpong Kian Mencorong

Sudah begitu banyak artikel yang membahas tentang Serpong. Baik pengembangan fisik, maupun proyeksi investasi untuk beberapa tahun mendatang. Namun, sejatinya, apa yang membuat Serpong menjadi seperti sekarang ini? Magnitude apa yang dimilikinya sehingga dipilih sebagai lahan investasi masa depan?


Berkembangnya kawasan ini tak lepas dari kehadiran BSD City (dahulu Bumi Serpong Damai) yang dirintis sebagai kota baru/mandiri oleh Ciputra dan beberapa koleganya yang tergabung dalam Sang Pengembang. BSD City memiliki konsesi lahan paling luas, yakni 6.000 Ha. Infrastruktur jalan, utilitas dan segala hal yang terkait ekologi kota dibangun dengan kualitas di atas rata-rata. Reputasi BSD City semakin melesat tatkala secara mayoritas, saham PT BSD (pengembangnya) diambil alih Sinarmas Land yang kemudian mengubahnya menjadi kota masa depan dengan kesempatan berinvestasi terbuka luas.

Menariknya, pergerakan yang terjadi di BSD City, boleh dikatakan sebagai pergerakan Serpong keseluruhan. Karena ia menjadi stimulus bagi proyek-proyek lainnya untuk melakukan pergerakan serupa. Menurut Achsyim Alex, Operation Manager C-21 Prima Golf, selain karena wilayahnya masih luas, Serpong secara kontekstual memberikan segala macam kemungkinan kepada pengembang untuk melakukan hal apapun terkait proyeknya masing-masing. Salah satu pendorong utama adalah akses jalan tol dari Serpong–Bintaro-TB Simatupang hingga menembus Jatiasih Bekasi. Belum lagi ruas tol Tomang–Kebun Jeruk-Serpong serta kelak akses yang akan menghubungkan Serpong hingga Bandung. Pada akhirnya memang apa yang dikatakan pengamat bahwa properti selalu identik dengan lokasi, lokasi dan lokasi adalah benar adanya.

Satu hal yang membuat pernyataan itu benar adalah infrastruktur jalan yang sangat memadai. Aktualitasnya di hampir sudut Serpong, khususnya bagian Selatan, tampak prasarana jalan aspal yang mulus, lebar dan panjang hingga berkilo-kilo meter. Ia menghubungkan beberapa proyek besar. Di antaranya, BSD City dengan Paramount Serpong dan Summarecon Serpong.
Itulah kenapa, ketika jalan raya Serpong sebagai jalur utama sudah begitu padat dan kualitasnya menurun, jalan tembus yang dibangun berkat inisiatif tiga pengembang besar yaitu PT BSD Tbk, PT Summarecon Agung Tbk dan PT Paramount Serpong, sangat bermanfaat dan membantu mengurai kemacetan. Namun, di atas semua itu, akses baru tersebut menjadi akselerator dan berfungsi mendistribusikan pembangunan lebih merata ke wilayah barat dan barat daya yang belum terbangun.

Adanya jalan tembus BSD-Summarecon-Paramount Serpong yang berjarak 6 km dan menelan biaya Rp 20 milliar dengan ROW 36, serta merta mendongkrak cukup tinggi tingkat penjualan properti. PT Paramount Serpong misalnya. Mencetak penjualan semester I 2011 sebesar
Rp 1,4 Triliun. Setara dengan angka penjualan selama setahun silam.

Bukan hanya itu, berkat pembukaan akses tembus tersebut, perumahan yang awalnya sepi lantaran sulit dijangkau, kini kembali menggeliat. Seperti yang terjadi pada Serpong Garden. Menurut Ben Wisesa, Marketing Raywhite BSD, dahulu kawasan ini tidak begitu bagus, namun sekarang, perumahan yang diperuntukan bagi kalangan menengah bawah itu memiliki prospek tak kalah menarik dengan tetangga besarnya. Terlebih harga rumahnya masih relatif terjangkau dibanding proyek lain di Serpong Selatan. Masih berada pada kisaran angka Rp 200 jutaan dengan spesifikasi ukuran 45/72.

Sementara untuk kalangan menengah atas, kata Achsyim, tetap mengincar rumah-rumah yang ditawarkan Paramount Serpong, Summarecon Serpong dan BSD City. Menariknya, tak hanya rumah baru yang diminati, juga rumah seken. Tidak berlebihan memang jika pada akhirnya harga rumah seken nilainya jauh lebih tinggi dibanding rumah primer. Rata-rata Rp750 juta-2,5 miliar yang ditawarkan di ketiga lokasi tersebut.

Padahal beberapa rumah baru ditawarkan dengan harga di bawah rumah seken itu. Contohnya tipe Lavender dengan ukuran 7×18 keluaran PT Paramount Serpong yang dipatok seharga Rp800 jutaan. Sementara BSD City dengan klaster Avani-nya dibanderol Rp755 jutaan (7×16). Beberapa lokasi klaster BSD City yang berdekatan dengan jalan tembus BSD–Summarecon-Paramount Serpong bahkan sudah habis terjual dari mulai De Park (10×21) seharga Rp1,7 milliar, hingga The Icon atau Foresta (7×16) senilai Rp550 jutaan.

Kemajuan dan menariknya investasi di Serpong memang pada akhirnya tak bisa dipisahkan dari kondisi infrastruktur dan aksesibilitas serta kualitas lingkungan yang ditawarkan beberapa perumahan tersebut di atas. Tak lupa pula profesionalitas dan manajemen modern dalam merancang dan mengelola kawasan perumahan. Ini sekaligus menjadi motivator utama mengapa Serpong Selatan begitu melesat pertumbuhannya. Sejak 2010 hingga kelak beberapa tahun mendatang, kawasan ini diproyeksikan akan tampil sebagai instrumen investasi paling mengkilat.
Tak hanya investor personal yang meminati Serpong. Investor korporat dan beberapa perusahaan pun tertarik untuk membangun dan berkantor di sini. Unilever telah resmi membeli lahan seluas 3 Ha di Green Office Park , BSD City. Di sini mereka akan membangun head office baru dengan merelokasi head office lama yang berada di CBD Jakarta. Rencananya, konstruksi kantor pusat Unilever tersebut akan dimulai tahun 2012.

Dikatakan Managing Director-Corporate Strategy & Services Sinarmas Land, Ishak Chandra, selain Unilever masih ada beberapa perusahaan besar, terutama perusahaan asing (multi national company) yang sudah memberikan konfirmasi dan melakukan pembicaraan serius untuk membangun perkantoran di Green Office Park. Satu di antara beberapa itu adalah perusahaan tambang yang wilayah operasinya terdapat di Papua.

“Komitmen kami memang membangun Green Office Park sebagai kawasan perkantoran hijau dengan gedung – gedung yang ramah lingkungan. Gedung Sinarmas Land Headquarter, contohnya, telah mendapatkan sertifikat gold dari Building Construction Authority (BCA) Singapura sebagai gedung hijau yang ramah lingkungan. Hal inilah yang membuat perusahaan asing sekelas PT Unilever bersedia merelokasi kantor pusatnya ke Green Office Park,” imbuh Ishak seraya menambahkan perusahaan asing sangat peduli dengan gedung hijau yang sesuai dengan standar global perkantoran ramah lingkungan.

Green Office Park sendiri akan berisi 11 bangunan gedung yang didesain menghadap utara dan selatan. Hal ini merefleksikan penerapan konsep ramah lingkungan, di mana membangun gedung arah utara dan selatan dapat meminimalisasi panas matahari yang masuk ke dalamnya. Selain itu, perletakan gedung pun didasarkan pada analisa arah hembusan angin, sehingga memaksimalkan sirkulasi udara dan mekan suhu di sekitar gedung.

Ishak menambahkan, Sinarmas Land mengalokasikan 65-75% dari total lahan Green Office Park sebagai area penyerapan alami air hujan. Selain itu, 80% dari air limbah akan didaur ulang untuk menyiram tanaman, flushing toilet dan mendinginkan gedung. Sehingga hanya 20% air kotor yang disalurkan ke Tempat Pengolahan Air Limbah. Dengan sistem ini, diharapkan Green Office Park dapat mengurangi secara substansial jumlah air yang terbuang ke ekosistem perairan.

Menurut Research Associate Director Colliers International, Ferry Salanto, tren pergeseran wilayah perkantoran ke selatan dan barat daya, terutama koridor Simatupang-Pondok Indah-BSD City sudah terjadi sejak lima tahun terakhir. Puncaknya, sesaat setelah krisis finansial global pada 2009. “Ada banyak perusahaan yang melakukan aksi bisnis strategis mereka. Terutama relokasi, dan ekspansi. Di mana suplai perkantoran di tengah kota Jakarta sudah tidak mampu lagi mengakomodasi permintaan yang begitu kuat dengan persyaratan yang sangat ketat. Terutama dari perusahaan asing yang menuntut gedung ramah lingkungan. Nah, pasok gedung baru ramah lingkungan tersebut, memang banyak dibangun di Selatan. Sehingga perusahaan-perusahaan tersebut berpaling ke wilayah ini,” tandasnya.

Pertumbuhan pasok perkantoran di wilayah selatan Jakarta belakangan ini memang mengonfirmasi hal itu. Pertumbuhannya sangat signifikan. Bahkan, menurut Presiden Director Leads Property Services Indonesia, Hendra Hartono, pertumbuhan pasokan perkantoran di Selatan Jakarta pada tahun 2010 mencapai 743 ribu meter persegi atau tumbuh 35% dalam 5 tahun terakhir. Pertumbuhan ini merupakan yang terbesar bila dibandingkan dengan area Jakarta lainnya. Bahkan juga jauh lebih besar dibandingkan kawasan CBD yang hanya tumbuh 21%.
Dengan demikian, secara keseluruhan, “Prospek koridor Simatupang-Serpong, sangat menjanjikan. Selain dekat dengan tol JORR, juga karena lingkungannya yang sudah tertata dengan dukungan kelengkapan fasilitas penunjang,” kata Hendra.

Iklan

2 Tanggapan

  1. Beberapa lokasi klaster BSD City yang berdekatan dengan jalan tembus BSD–Summarecon-Paramount Serpong bahkan sudah habis terjual dari mulai The Peak (10×21)

    Mungkin (De Park) maksudnya mbak 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: