Fitch Ratings Dan Pengaruhnya Terhadap Industri Properti

Bangsa Indonesia memang gede rasa (baca ge-er). Tak bisa dipuji sedikit saja, langsung besar kepala. Terlihat dari reaksi berlebihan saat negeri kita tercinta ini masuk dalam investment grade Fitch Ratings. Peringkat Indonesia adalah BBB dengan outlook stabil.

Beberapa pengembang yakin dan optimis pemeringkatan tersebut akan membawa dampak positif terhadap derasnya aliran dana asing. Mereka pun meresponnya dengan membidani kelahiran banyak proyek baru, belanja lahan yang luasnya tak tanggung-tanggung, hingga berani berpartner dengan mitra-mitra atau pemodal asing yang belum tentu bonafid dan kredibel.

Padahal, masa depan industri properti di Indonesia pada 2012 ini justru tengah mengalami penurunan. Alias tidak sesuai ekspektasi yang dicapai pada pertengahan 2011. Bahkan pertumbuhannya diproyeksikan hanya dapat berada pada level 12% hingga 15%. itu karena market kelas menengah atas “melambat” (slow down). Justru kelas inilah yang pada kurun waktu sebelumnya menjadi lokomotif bergairahnya industri properti Indonesia.

2012 akan dikuasai pasar kelas menengah-menengah dan menengah bawah. Sektor perumahan masih menjadi yang terbaik dan menunjukkan aktifitas positif. Sementara commercial perkantoran masih bisa sedikit bernafas lega terutama yang berstatus strata title. Untuk apartemen kelas menengah atas, pasarnya justru melemah. Sedangkan sektor retail mengalami sedikit penurunan pertumbuhan dibanding 2010-2011, sebesar 10-15%.

Jadi, apa dampak pemeringkatan yang dilansir lembaga riset dan investasi yang berbasis di New York dan London itu? “Tidak signifikan. Bahkan tak bisa kami rasakan sama sekali, karena di sisi lain krisis yang terjadi di Eropa dan Amerika, kini telah menjalar ke China. Jadi, bagi pemain properti yang hanya mengandalkan partner strategis dari Eropa, Amerika maupun Asia, bersiap-siaplah untuk mengatur strategi yang tepat,” ujar Direktur Keuangan Pondok Indah Group, Kenneth S Purnama.

dus IHSG pun justru melemah sebelum penutupan transaksin bursa pada 30 Desember lalu. Hanya berada pada level 3.500-an. Pemeringkatan dari Fitch Ratings tersebut bukanlah karpet merah bagi dana asing untuk masuk ke Indonesia. Lain halnya, jika Moody’s yang mengeluarkan. Lembaga ini jauh lebih lebih kredibel dan bonafid serta menjadi acuan investor dan pemegang kapital dalam menginvestasikan dananya. Pemeringkatan oleh Moody’s adalah kartu truf bagi Indonesia, sekaligus referensi lembaga dan investor asing guna membenamkan modalnya.

Lepas dari itu, optimisme dan kegedean rasa para pengembang, bolehlah kita apresiasi. Dari pada minder, lebih baik ge-er. Tetap menghasilkan proyek baru, agar sektor riil ikut berjalan. Kendati perlahan, namun masih ada asa yang bisa digantungkan….

20120101-032123.jpg

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: