Bangun Properti Indonesia Jual Waralaba Properti

Disparita kebutuhan dan pasok rumah yang kian tajam, 200 ribu unit berrbanding 1,2 juta per tahun, memotivasi PT Bangun Properti Indonesia menjual hak waralaba (franchise) developer properti kepada publik. Merek yang diusung adalah Bahana Paramarta.

Dikatakan Presiden Direktur PT Bangun Properti Indonesia, Bambang Subagio Ho, Bahana Paramarta merupakan peluang yang dapat dimanfaatkan oleh semua orang untuk menjadi Business owner dengan inti usaha pengembang perumahan. Hanya dengan bermodalkan tanah minimal 5.000 m2 dan kapitalisasi yang relatif minim, masyarakat dapat menjadi developer.

“Bahama Paramarta menawarkan paket sistem manajemen dan sumber daya manusia untuk mengembangkan lahan dan kapital yang telah dimiliki oleh investor baik individual, maupun badan hukum yang tertarik menjadi franchisee. Sistem yang kami tawarkan memiliki kelebihan autopilot Management, great profit dan sustainable,” jelas Bambang.

Ada 3 paket franchise yang ditawarkan yang diklasifikasikan berdasar kelas perumahan, mulai dari kelas sederhana, menengah, hingga atas. Kelas sederhana mensyaratkan tanah seluas 2,5 ha, menengah (2 ha) dan menengah atas (1,5 ha).

Sementara jumlah modal dana yang harus disetor calon developer sebesar Rp750 juta, Rp1,5 miliar dan Rp2 miliar. Jumlah modal ini dialokasikan untuk kantor, mobil operasional, pemasaran dan promosi, perijinan dan legalitas, jalan dan saluran, rumah contoh, pagar tembok klaster, JTR dan PJU, pintu gerbang dan taman, papan nama perumahan dan Billboard serta oeprasional kantor selama 5 bulan pertama.

Ada pun harga jual rumah yang disarankan adalah Rp80 juta-120 juta (rumah sederhana), Rp200 juta-300 juta (menengah), dan Rp450 juta-700 juta (menengah atas).

Dari masing-masing klasifikasi paket tersebut, investor wajib menyetor franchise fee sebesar Rp250 juta untuk perumahan kelas sederhana, Rp350 juta (menengah), dan Rp500 juta untuk kelas menengah atas. Paket ini berlaku selama 5 tahun operasi.

Setelah perumahan dibangun dan dijual, maka PT Bangun Properti Indonesia berhak atas royalty fee dari setiap unit rumah yang terjual. Dengan skema demikian proyeksi total revenue yang akan didapatkan investor selama masa franchise adalah Rp35 miliar sampai Rp55 miliar untuk kelas sederhana Rp60 miliar-90 miliar (menengah sederhana) dan Rp100 miliar-150 miliar (menengah atas).

“Kami yang akan mengelola semua hal mulai dari perencanaan, perijinan, pelaksanaan, pembangunan, pemasaran, promosi, penjualan, hingga sistem keuangan, operasional dan after sales service dari kompleks perumahan yang dikembangkan,” jelas Bambang.

Tahun lalu, mereka baru mendapatkan dua franchise, masing-masing di Depok dan Kendari, Sulawesi Tenggara dengan luas lahan 8 ribu m2 dan 2 ha. Untuk tahun ini, ditargetkan mampu menggaet 5 franchisee.

Hutama Karya Realtindo Investasikan Rp250 miliar Di Cawang

20120130-222454.jpg

Peraturan Menteri Negara BUMN No. 6/MBU 2011 tentang optimasi aktiva/asset BUMN memacu PT Hutama Karya Realtindo, anak usaha Hutama Karya untuk mendayagunakan seluruh aset yang mereka miliki. Termasuk lahan seluas 7 Ha yang berada di bilangan Cawang, Jakarta Timur

Menurut Direktur Utama PT Hutama Karya Realtindo, Puput Ariwibowo, pihaknya memiliki rencana strategis guna meningkatkan nilai tambah aset-aset mereka, terutama lahan yang telah menjadi land bank perusahaan yang luasnya ribuan hektar.

Khusus untuk lahan di kawasan Cawang, Jakarta Timur, akan disulap menjadi pengembangan mixed use. Tahap I dibangun The H Residenceeluas 1,6 Ha yang mengombinasikan fungsi hunian, kondotel, perkantoran komersial dan ruang ritel sebagai penunjang dan pelengkap penghuni, tamu hotel maupun karyawan yang bekerja di sekitar kawasan ini.

Digarapnya aset lahan ini, menurut Putut, karena dalam lima tahun ke depan, Cawang akan dirancang sebagai sentra bisnis distrik (CBD) baru untuk wilayah Jakarta Timur, menyamai CBD Thamrin, CBD Kuningan dan CBD Sudirman.

“BUMN-BUMN yang berpusat di sini akan bersinergi dalam bentuk complimentary strategy yang saling menguntungkan. Dan tentu saja menambah nilai jual kawasan dengan membangun properti-properti strategis dan menarik untuk investasi. Ini momentum tepat meningkatkan nilai jual kawasan,” ujar Putut.

Untuk itu, PT Hutama Karya Realtindo merintisnya dengan proyek multifungsi pertama, setelah sebelumnya BUMN lain seperti Wijaya Karya melansir The Hive, Adhi Karya middle rise office, Bina Karya juga melansir perkantoran, dan lain-lain. Apalagi kawasan Cawang, terbilang strategis dan aksesibel, karena diapit oleh empat ruas tol eksisting; Tol Dalam Kota, Tol Jagorawi, Tol Jakarta-Cikampek, dan Ruas Cawang-Tanjung Priok.

Jakarta Timur mempunyai peluang yang sama dengan Jakarta Pusat. Selain BUMN, sudah banyak perusahaan pengembang swasta nasional yang menggarap Cawang, atau baru melirik tanah-tanah di sekitar sebagai area komersial. Sebut saja Gapura Prima yang mendirikan MT Haryono Square, Grup Bahama dengan Menara Cawang, Grup Pikko yang percaya diri mengembangkan Signature Park dan Signature Grande, ada juga The Park Hotel yang memiliki okupansi 99%.

Dapat dikatakan, pertumbuhan residensial di sini cukup tinggi dan diprediksikan menstimuli pertumbuhan properti komersial. Jika ini sudah terjadi, efek berikutnya adalah terjadinya pertumbuhan permintaan perkantoran.

Karena itulah, PT Hutama Karya Realtindo mau bertaruh membenamkan dana senilai Rp250 miliar untuk merealisasikan The H Residence. Bangunan setinggi 21 lantai plus 2 lantai untuk basement. Komposisi hunian dan office representative sekitar 80% dari total saleable area. Huniannya ditawarkan ke pasar seharga Rp11 juta/m2 dengan berbagai varian. Mulai dari studio, satu kamar tidur dan dua kamar tidur. Sementara kondotelnya sebanyak 20%. PT Hutama Karya Realty sudah menunjuk jaringan international Wyndham Group guna mengelola kondotelnya. Sekadar informasi, bendera ini dibawa ke Indonesia melalui Rianti International Hotel Management.

“Kami menjadwalkan keseluruhan bangunan gedung beroperasi dalam 20 bulan ke depan,” kata Putut.

SOHO @ Menteng Square Diluncurkan

20120130-223133.jpg

Usai merampungkan pembangunan tiga tower apartemen Menteng Square, Bahama Group, melalui anak usahanya PT Bahama Development, melansir portofolio terbarunya. Proyek anyar tersebut bertajuk SOHO @ Menteng Square.

SOHO @ Menteng Square merupakan konsep bisnis properti kontemporer small office home office yang mengkombinasikan fungsi hunian dan usaha (bisnis) dalam satu ruang berdesain kompak, praktis dan dinamis. Mengakomodasi kebutuhan para professional, eksekutif, maupun pengusaha muda untuk mengaktualisasikan karya dan kinerjanya.

Dikatakan Presiden Direktur PT Bahama Development, Reddy Hartadji, di SOHO @ Menteng Square, para penghuni dapat tinggal dan melakukan aktifitas sehari-hari sekaligus bekerja di ruang yang sama. “Konsep hunian dan ruang kerja ini sangat cocok untuk mereka yang ingin bekerja secara independen. Dengan bantuan teknologi Internet sebagai fasilitas pelengkap SOHO @ Menteng Square, penghuni dapat mengendalikan semua pekerjaan profesionalnya dari rumah. Sehingga sangat efisien dan efektif untuk menghemat biaya produksi, transportasi, komunikasi dan sosialisasi,” ujar Reddy.

Ia menambahkan gaya hidup demikian dapat memacu lahirnya entrepreuneur atau pengusaha-pengusaha baru berusia muda. Sebab, semua kebutuhan, mulai dari kebutuhan hidup sehari-hari sampai kebutuhan hiburan, dan profesional bisa didapatkan di SOHO @ Menteng Square tanpa harus bersusah payah ke luar ruangan. Selain kemudahan mengakses Internet, juga disediakan fasilitas penunjang lainnya untuk mengakomodasi kebutuhan penghuni. Seperti line telepon, faximili dan virtual office.

SOHO @ Menteng Square menempati lokasi di lantai 22 (roof floor) dari dua tower apartemen A dan B Menteng Square. Terdiri atas 36 unit dengan ukuran 57 m2 (semigross). Ditawarkan dengan harga perdana Rp790 juta-960 juta/unit. Desain interiornya dirancang sangat kompak dengan mengadopsi gaya arsitektur modern minimalis berkonsep loft.

SOHO @ Menteng Square berada di dalam kawasan pengembangan terintegrasi Menteng Square yang berkonsep one stop living di atas area seluas 1,65 Ha. Berisi tiga tower A,B&C. Fasilitas yang melengkapinya antara lain 1.604 unit apartemen, Food Alley/Arcade yang terletak di lantai dasar pada seluruh tower, 15 unit Office Park yang berada di Tower A, serta kolam renang di tower C. Tower C sebagai menara terakhir, dilengkapi hotel bisnis (hotel pebisnis) yang dikelola secara profesional dengan standar bintang tiga dari operator internasional. Terdiri atas 100 kamar dengan gaya desain modern minimalis.

Ketiga menara ini dihubungkan oleh sky bridge berupa retail lifestyle dan roof garden yang menciptakan suasana alami, asri dan nyaman tanpa menutupi kesan modern.

Sejak dilansir perdana awal 2009 silam dengan harga Rp. 240 jutaan, kinerja penjualan Menteng Square sangat menggembirakan. Harga aktual di pasar sekunder Rp350 juta-450 juta. Hingga kini, tercatat sudah 100% unit apartemen terjual. Sementara kinerja Food Alley berkonsep semi open space tersewa 75% untuk tahap I. Food Alley Tahap II akan dipasarkan setelah hand over unit apartemen, Juni 2012. Hotel sendiri beroperasi Juni 2012.

Kinerja positif Menteng Square dipengaruhi oleh iklim investasi yang kondusif. “Indonesia relatif tidak terpapar krisis finansial global. Terbukti bisnis dan industri properti tetap tumbuh dan mengalami kurva pertumbuhan antara 10-20% per tahun. Ini dipicu oleh semakin ramahnya suku bunga acuan Bank Indonesia yang turun 50 basis poin yang mendorong perbankan untuk ikut merevisi suku bunga kredit komersial mereka. Segmen pasar kami adalah kelas menengah yang sebagian besar memanfaatkan fasilitas KPA perbankan,” jelas Reddy.

Situasi kondusif ini akan berlangsung, setidaknya sampai tiga tahun ke depan. Indikator-indikator ekonomi menunjukkan kinerja positif. Income perkapita tahun 2011 telah menembus USD 4.000 dan pertumbuhan PDB 7.019,9 (tahun 2011, data APBN 2010) per tahun lebih tinggi dan lebih cepat tercapai dari yang diprediksikan pada 2010 lalu. Saat inilah momentum tepat untuk membeli properti dengan proyeksi investasi menjanjikan.

Menteng Square sendiri berlokasi strategis di pusat kota, tepatnya Jl Matraman, Jakarta Pusat, memang dirancang untuk segmen pasar pasangan muda, eksekutif muda, dan juga investor yang menginginkan gaya hidup serba praktis, dekat dengan tempat aktifitas, fasilitas umum dan social lainnya seperti pusat belanja, pusat bisnis, fasilitas pendidikan, fasilitas olahraga dan lain-lain. Selain itu, Menteng Square juga dapat diakses oleh moda transportasi publik, seperti Transjakarta, Kereta Rel Listrik, ataupun angkutan publik lainnya.

Jakarta Butuh Supertall?

Jakarta bakal menyalip Kuala Lumpur dan kota-kota megapolitan lainnya di dunia? Jika segala sesuatunya berjalan lancar, maka hal itu akan terwujud pada 2016. Atau paling lambat 2017, sesuai perhitungan waktu pengerjaan konstruksi yang normal.

Signature Tower Jakarta (sumber: CTBUH)

Adalah PT Grahamas Adisentosa yang akan mengguncang dunia dengan Signature Tower Jakarta di kawasan Sudirman Central Business District (SCBD), Jakarta. SCBD sendiri dikembangkan PT Danayasa Arthatama Tbk yang sahamnya dimiliki Tomy Winata 0,001%, publik 17,58% dan pemegang mayoritas adalah PT Jakarta International Hotels & Development (JIHD) Tbk sebesar 82,4%.

Signature Tower merupakan gedung 111 lantai setinggi 638 meter atau diklaim kelima tertinggi di dunia setelah Kingdom Tower, Jeddah (1.000 m), Burj Khalifa, Dubai (828 m), Ping An Finance Centre, Shenzen (660 m) dan Seoul Light DMC Tower (640 m). Dengan total luas bangunan mencapai 500.000 meter persegi, akan terdiri atas tiga fungsi properti; hotel, perkantoran dan ritel. Khusus ruang ritel, terkoneksi dengan mal Pacific Place. Menara ini terletak di jantung SCBD atau yang pernah ditempati oleh Automall.

Dibutuhkan dana tak kurang dari 1 miliar dolar AS atau Rp9 triliun. Rencananya, Signature Tower Jakarta akan dibiayai oleh dana internal perusahaan serta sindikasi beberapa bank nasional dan asing.

Selain yang satu ini, skyline Jakarta juga akan dihiasi oleh Menara Adhi Karya setinggi 100 lantai. Untuk merealisasikannya Adhi Karya bertaruh Rp2 triliun yang dananya diperoleh melalui right issue yang dilaksanakan pada semester dua 2012.

Signature Tower Jakarta (sumber: CTBUH)

Sangat membanggakan memang, jika Jakarta dapat sejajar dengan megapolitan lain di dunia. Apalagi dengan dua supertall yang dibangun bersamaan. Akan tetapi, ada banyak hal yang perlu dipertimbangkan. Kendati saat ini pasar perkantoran di CBD Jakarta, menurut Jones Lang LaSalle, tengah memasuki masa puncak. Tercatat tingkat serapan per kuartal 4 tahun 2011 sebanyak 420.000 m2 atau rekor tertinggi yang pernah dicapai. “Melampaui prestasi sebelum krisis 1997,” ujar National Director Jones Lang LaSalle, Angela Wibawa.

Beberapa hal tersebut antara lain motivasi komersial yang dibaca publik sebagai kepentingan dominan. Dihitung dari penggunaan tanah, biaya konstruksi dan operasional yang kemudian dikomparasikan dengan biaya sewa per satuan luas. Juga harus dilihat jumlah pasokan ruang yang ada terhadap kebutuhan (demand) dan prospek pertumbuhan ke depan.

Bagus Adikusumo, Director Colliers International meyakini, ketika keduanya nanti beroperasi, saat itulah akan terjadi keseimbangan pasok dan kebutuhan ruang perkantoran. “Pasok kedua supertall itu diasumsikan mencapai 400.000 m2. Dengan segala indikator ekonomi yang positif plus tentunya investment grade yang mampu dicapai saat ini, saya optimis pasar akan menyambut positif,” timpal Bagus.

Saat ini saja permintaan atau kebutuhan ruang perkantoran di CBD Jakarta sangat kuat. Berasal dari tenan eksisting atau perusahaan yang melakukan ekspansi sehingga perlu ruang kantor baru serta tenan-tenan anyar. Baik yang berasal dari pasar domestic maupun mancanegara. Sehingga catatan net take up melonjak hingga 180% menjadi 420.000 m2 dari tahun 2010 yang hanya mencapai 230.000-240.000 m2. Tingginya permintaan plus terbatasnya pasok menyebabkan tingkat okupansi pun meningkat secara dramatis menjadi rata-rata 90%. Angka tertinggi diraih oleh perkantoran Grade A, yakni 95%.

Bahkan, perkantoran The Plaza yang berlokasi di bilangan Thamrin, Jakarta Pusat punya prestasi sempurna, 100% tersewa. Begitupula dengan Menara Prima 1 dan beberapa gedung lainnya. Fakta ini mengindikasikan bahwa sejatinya pasar perkantoran Jakarta masih potensial untuk berkembang dengan pertumbuhan harga yang signifikan.

“Saat ini, harga perkantoran (sewa dan strata title) Jakarta paling rendah jika dibandingkan Singapura, Thailand, dan bahkan Filipina. Jadi, potensi meningkatnya nilai properti untuk kepentingan investasi sangat terbuka lebar,” imbuh Bagus.

Sekadar tambahan, performa harga sewa juga melebihi angka pada 2008. Secara keseluruhan harga sewa (gross rental) rata-rata pada tiga tahun lalu itu adalah 27 dolar AS/m2/bulan. Sekarang yang ditransaksikan sekitar 30-37 dolar.

Namun demikian, untuk mencapai prestasi positif itu tadi, diperlukan kerja ekstra luar biasa. Ada dua pendekatan bisnis yang harus dilakukan owner atau developer agar dua menara jangkung itu mendapat sentiment positif dan terserap pasar. Kepercayaan diri yang kuat serta komitmen membangun.

Pengambilan lokasi , sudah sangat tepat. Tinggal upaya pencarian tenan. Pendekatan kedua ini, kata Angela, yakin dapat dipenuhi. Karena profil pengusaha sekelas Tommy atau korporasinya punya link bisnis tingkat dunia. Dan mereka akan berupaya mendatangkan tenan-tenan berkualifikasi perusahaan multinasional dengan potensi menyewa ruang dengan ukuran besar. “Saya yakin, mereka mampu. Bahkan perusahaan finansial sekelas Morgan Stanley dan Goldman Sachs sudah masuk ke Jakarta. Ini hal yang sangat menggembirakan,” ujar Angela. Kendati demikian, Ia menolak memprediksi apa yang terjadi lima atau tujuh tahun kemudian. Karena proyeksi ideal bisa dicermati paling lama tiga tahunan.

Konstruksi dan Arsitektur Kota

Bila dari segi bisnis peluang Signature Tower Jakarta dan Adhi Karya berpotensi mudah menggaet tenan-tenan berkualifikasi dunia. Berbeda halnya dalam perspektif konstruksi dan arsitektur kota. Menurut ahli konstruksi Davy Sukamta, membangun gedung setinggi itu memerlukan beberapa studi, yakni; dampak lingkungan termasuk traffic analysis, studi ketahanan struktur gedung terhadap pengaruh gempa dan pengaruh angin, pemakaian energi dan antisipasinya terhadap pasokan yang tersedia, penanggulangan kebakaran dan terorisme, keselamatan penerbangan, dan lain-lain.

“Tentu perlu kalkulasi yang lain dari pada yang biasa dilakukan. Dalam hal ini struktur harus dianalisa dengan teknik Nonlinear Response History Analysis untuk melihat berapa ketahanan nya terhadap pengaruh gempa, baik yang bersumber dari zone subduksi jauh ataupun patahan dekat,” tandas Davy.

Signature Tower Jakarta (sumber: CTBUH)

Selain itu, perlu dipikirkan pembiayaan jangka lebih panjang dari keadaan normal. Karena supertall memakan waktu lebih lama untuk pembangunannya. Dengan demikian, dari mulainya konstruksi sampai gedung bisa digunakan, merupakan hal yang harus dihitung dengan cermat, karena financial engineering-nya juga akan dihitung atas dasar ini. Untuk gedung setinggi ini, biayanya dapat mencapai dua kali lipat dari gedung-gedung 30 lantai. Komponen yang mempunyai biaya lebih mahal daripada biasa ada pada fondasi, struktur, metode kerja dan peralatan, transportasi vertikal dalam gedung, serta kuli bangunan. “Juga cost of money,” Davy mengingatkan.

Bagi kontraktor, metode kerja merupakan hal yang sangat kritis. Kecepatan pelaksanaan pekerjaan, yaitu siklus per satu lantai, akan menjadi parameter yang sangat menentukan. Karena itu, rancangan gedung supertall harus memikirkan constructibility. Masalah stiffness struktur gedung juga akan menentukan dalam rancangan strukturnya. Biasanya untuk gedung di atas 100 lantai butuh waktu sekitar 4 tahun. Bila ada basement dalam, akan perlu waktu ekstra untuk pekerjaannya.

Sementara dari perspektif arsitektur kota, perlu tidaknya kehadiran supertall di Jakarta memang sangat subyektif. Tergantung dilihat dari siapa yang berpendapat. “Tapi secara umum, mungkin Jakarta tidak perlu supertall. Masih banyak cara lain untuk menaikkan kelas kota Jakarta jadi kota kelas dunia. Tapi kalau pun dibangun, ya tidak masalah. Asal bagus, tidak merusak lingkungan, tidak rakus air, “green building“, mixed use, mengandalkan dukungan transportasi publik, lantai atas bisa diakses oleh publik (seperti WTC New York, ketika masih eksis, Empire State Building, Sands Singapore, atau World Finance Center di Shanghai), yang menyediakan ruang-ruang public,” papar mantan Ketua IAI DKI Jakarta, Bambang Eryudhawan.

Jika hal tersebut di atas tidak mampu dipenuhi oleh pengembangnya, maka keberadaan supertall hanya

Akan menimbulkan risiko membangkitan volume kendaraan bermotor (kalau mengandalkan mobil, bukan public transport), rakus air tanah, boros sumber energy (air conditioning system), polusi visual sepanjang masa jika rancangan atau desain arsitekturnya jelek.

Karena itu, Yudha menyarankan, jika berhasrat membangun supertall, sebaiknya gunakan sebanyak mungkin bahan lokal yang dapat menurunkan carbon footprint, sediakan fungsi-fungsi publik yg memadai (termasuk observation deck di lantai atas), sediakan parkir yang memadai dan dekatkan proyek dengan jaringan sistem MRT, serta terapkan “green building” seoptimal mungkin. Yang lebih penting adalah desain gedung disayembarakan di tingkat internasional. Ini untuk menghindari polusi visual permanen.

Sumber Mesin Raya, Targetkan 4 Properti Komersial

PT Sumber Mesin Raya untuk sektor properti, memang belum begitu popular. Kendati mereka telah melahirkan beberapa portofolio properti sub sektor perumahan. Perusahaan ini lebih dikenal sebagai pemain besar di bidang permesinan konstruksi, sebagai bisnis intinya, sejak 1972.

Komisaris Sumber Mesin Raya, Darta Chandra

Pada 1983, kegairahan bisnis dan industri properti yang menjanjikan memikat mereka untuk melakukan diversifikasi usaha. Kurun waktu itu mereka bergerilya mencari dan mengoleksi lahan-lahan potensial. Hingga sepuluh tahun kemudian, melansir proyek perdana yang bertajuk Taman Sentosa seluas 125 Ha di Cikarang, Jawa Barat. Di sini mereka membangun sekitar 6.100 unit rumah berbagai tipe. Menyusul berturut-turut Bumi Sentosa I seluas 33 Ha di Cibinong, Bogor,  dengan rumah terbangun sebanyak 1.000 unit dan Grand Matoa (10 Ha) di Jakarta Selatan.

Sekuel Bumi Sentosa tengah dalam pengerjaan. Menempati area seluas 10 ha, PT Sumber Mesin Raya membangun rumah sebanyak 475 unit. Seiring berjalannya waktu, aset mereka pun berkembang. Sampai saat ini, memiliki 7 anak perusahaan. Lima di antaranya mengelola perumahan yakni PT Chandratama Griyaland, PT Chandra Purnland, PT Cenas Rayaland, PT Centranusa Propertindo, PT Cenas Menara Hijau. Satu lagi PT Sydney Metal Industry yang merupakan cikal bakal PT Sumber Mesin Raya.

Sementara lainnya baru saja melansir mixed use development The Manhattan Square di koridor Simatupan, Jakarta Selatan. Ini merupakan pengembangan terintegrasi yang memadukan 3 menara perkantoran, 1 gedung hotel dan ruang ritel di atas tanah selapang 3 Ha.

Dengan profil perusahaan seperti ini, mudah ditebak jika pada akhirnya properti menggeser permesinan konstruksi sebagai kontributor terbesar perolehan revenue mereka. Diakui Komisaris Utama PT Sumber Mesin Raya, Parta Chandra, saat ini properti menyumbang sekitar 65% pendapatan.

Mafhum saja jika lantas, mereka mengubah strategi dan orientasi bisnisnya. Properti saat ini menjadi yang utama. Untuk tahun 2012 sampai tiga tahun ke depan, perusahaan yang dikendalikan oleh dua bersaudara Patra Chandra dan Darta Chandra ini pun telah menyusun rencana untuk menelurkan kembali proyek-proyek high profile.

Tercatat, selain The Manhattan Square, sudah disiapkan dua pengembangan multifungsi lainnya di kawasan Karawaci Tangerang. Lokasinya berdekatan dengan Supermall Karawaci. Di sini mereka mengalokasikan tanah berukuran 8 Ha.  Berisi perkantoran, apartemen, ruko dan fasilitas komersial lainya.

Mixed use development yang pertama, dikerjakan pada 2014. Lahannya berada di sebelah kiri dari Jalur Tol Jakarta-Merak. Sementara yang kedua berada di sisi kanannya. Semua lahan telah kami akuisisi dan miliki. Perijinan pun sudah kami kantongi,” buka Komisaris PT Sumber Mesin Raya, Darta Chandra.

Sementara satu pengembangan lainnya adalah kawasan industri seluas 120 Ha di Cikarang. Mereka merencanakan pembangunan paling lambat akhir tahun ini. Mengejutkan juga, dengan aksi mereka untuk membangun properti yang justri diemohi oleh para pengembang lainnya.

Motivasinya jelas, “Kami menangkap peluang akan terjadi masuknya modal asing dan ekspansi usaha perusahaan-perusahaan manufaktur, consumer goods dan lain-lain yang membutuhkan pabrik, gudang atau fasilitas terkait. Kami prediksi dua sampai tiga tahun ke depan arus modal itu akan lebih deras dibanding tahun-tahun sebelumnya, pasca Indonesia masuk investment grade,” imbuh Parta

Secara keseluruhan hingga kini, cadangan lahan (landbank) yang dimiliki perusahaan seluas 200 Ha. Tersebar di kawasan Jadebotabek dan Sukabumi. Jumlah ini akan bertambah saat aksi korporat lainnya, yakni akuisisi lahan di kawasan CBD Jakarta terealisasi.

Khusus tahun Naga Air ini, mereka menganggarkan belanja modal sekitar Rp200 miliar. Dana tersebut akan dimanfaatkan untuk pembangunan The Manhattan Square sebanyak Rp140 miliar. Sisanya untuk perumahan dan persiapan kawasan industri.

The Manhattan Square, Manfaatkan Momentum Investment Grade

20120201-000302.jpg

Kompetisi perkantoran komersial di luar CBD Jakarta, khususnya koridor Simatupang, kian menarik untuk dicermati. Kontribusinya menurut Jones Lang LaSalle, sekitar 65% terhadap total pasok eksisting yang mencapai 1,57 juta m2. Dengan kinerja tingkat hunian sepanjang 2011 lalu sebesar 90%, siapa yang tak kepincut untuk ikut menggarap wilayah ini?

Adalah PT Sumber Mesin Raya yang juga tertarik menuai peruntungan di sini. Tak main-main, mereka akan membangun tiga tower perkantoran plus satu gedung hotel dan dilengkapi dengan ruang ritel dalam satu kompleks pengembangan bertajuk The Manhattan Square.

Dikatakan Komisaris Utama PT Sumber Mesin Raya, Parta Chandra, motivasi utama mereka membangun kantor dan hotel adalah kebutuhannya yang sangat tinggi, sementara pasok masih terbatas. Selain itu, juga karena Indonesia masuk dalam investment grade Moody’s dan Fitchs Ratings.

“Pada saat The Manhattan Square tahap satu yakni Mid Tower ini beroperasi pada kuartal 4 tahun 2013 nanti, perusahaan-perusahaan asing yang menjadi salah satu target market kami, akan membuka kantornya di sini. Saat ini saja, pre komitmen sudah mencapai 20% padahal baru diperkenalkan secara tidak resmi Desember lalu,” imbuh Parta seraya menambahkan tanpa perusahaan asing pun, pasar lokal sudah sedemikian kuat.

PT Sumber Mesin Raya menganggarkan dana sebesar Rp420 miliar untuk merealisasikan proyek commercial hi rise perdana mereka ini. Di mana separuh proporsi dana tersebut berasal dari pinjaman perbankan. Sebagian sisanya diharapkan dari penjualan dan kas internal perusahaan.

The Manhattan Square yang didesain PDW Architect ini menempati lahan seluas 3 Ha. Area yang tak dibangun seluas 1,8 Ha diperuntukan sebagai ruang terbuka hijau seperti taman, pedestrian walk, dan lain-lain. Namun, tak hanya proporsi RTH yang menjadikan gedung-gedung ini diklaim sebagai eco friendly. Penggunaan material bangunan, teknologi elektrikal dan mekanikal serta sistem otomatisasi gedung ini juga ramah lingkungan yang memungkinkan terciptanya penghematan energi listrik, dan produktifitas kerja.

“Kami tengah mengajukan sertifikasi green building mulai dari proses desain, pelaksanaan pembangunan dan pengoperasian. Untuk itu, teknologi konstruksi yang kami gunakan adalah yang mutakhir dan terbarukan,” ujar Komisaris PT Sumber Mesin Raya, Darta Chandra.

Dengan harga jual Rp17 juta/m2 dan sewa mulai Rp145.000/m2/bulan, The Manhattan Square pantas untuk dilirik. Harga ini terhitung sangat kompetitif bila dikomparasikan dengan GKM Tower yang dikembangkan PT Lestari Kirana Persada (perusahaan patungan PT Total Bangun Persada dan PT Graha Kirana Megah), misalnya. Nama terakhir ini menawarkan angka lebih tinggi yakni Rp19 juta/m2 untuk ruang kantor strata title dan Rp150.000-160.000/m2/bulan di luar biaya servis. Padahal keduanya berada dekat dengan ‘mulut’ akses tol Jakarta Outer Ring Road.

Hanya saja, The Manhattan Square memiliki fasilitas penunjang lebih lengkap. Di sini akan dibangun juga hotel bintang 4 berkamar 180 unit. Direncanakan, operatornya adalah dari Grup Accor. Sementara ruang ritelnya berisi food and beverage tenants.

Pengamat perkantoran Bagus Adikusumo dari Colliers International mengatakan, koridor Simatupang memang sangat cocok untuk dibangun commercial office. “Highest and best use-nya untuk perkantoran. Kebutuhannya selalu meningkat dari tahun ke tahun. Pertumbuhan demand di sini hanya kalah oleh perkantoran di dalam CBD Jakarta. Lokasinya strategis, aksesibel, diapit oleh Tol Jakarta Outer Ring Road dan kelak jalan non tol Antasari-Blok M yang berpotensi meningkatkan mobilitas masyarakat dari dan menuju kawasan ini. Karena waktu tempuh menjadi lebih pendek,” tandasnya.

Selain untuk perkantoran, lanjut Bagus, koridor yang mulai berkembang sejak 2005 ini juga sesuai untuk dibangun fasilitas akomodasi. Pasok hotel belum ada, padahal banyak perusahaan asing dan lokal yang memiliki middle level manager yang membutuhkan tempat transit untuk beristirahat. Selama ini, kebutuhan mereka hanya bisa diakomodasi oleh rumah sewa yang mengharuskan penyewa tinggal dalam hitungan bulan dan tahun. Sementara keperluan para profesional ini hanya sehari dua hari atau paling lama satu minggu.

Accor Akan Buka 24 Hotel Dalam 2 Tahun

Setelah sukses mengakuisisi hak pengelolaan Hotel Nikko Jakarta, pada 19 Januari lalu, dengan label Pullman Jakarta, Accor Group berkomitmen untuk menambah  12 hotel Pullman lagi dalam lima tahun ke depan. Lima di antara 12 hotel ditargetkan dalam waktu dekat yakni di Bali, Bandung, Medan, Surabaya dan Yogyakarta.

Michael Issenberg, Chairman dan Chief Operating Officer, Accor Asia Pacific, mengatakan, rebranding Pullman Jakarta Indonesia sangat penting karena merupakan inti dari portofolio upscale brand mereka sekaligus berkualifikasi hotel bintang lima yang pertumbuhannya paling pesat di Asia Pasifik.

“Hanya dalam waktu tiga tahun, Pullman telah berkembang hingga lebih dari 70 hotel di seluruh dunia dan 23 di antaranya beroperasi di wilayah Asia Pasifik. Selain jaringan hotel yang ada saat ini, kami juga berkomitmen untuk menambah 34 hotel Pullman lagi di kawasan ini. Kami menargetkan 100 hotel Pullman di Asia Pasifik hingga tahun 2015,” papar Issenberg.

Pullman Jakarta Indonesia yang berisi 427 kamar, dimiliki oleh PT Wisma Nusantara International, yang merupakan anak perusahaan dari Guthrie GTS Ltd., Singapura, dan Mitsui & Co. Ltd., Japan.

Selain Pullman, Accor Group akan menambah jumlah hotel yang akan dikelolanya selama dua tahun ke depan. Beberapa hotel yang berada dalam rencana pengembangan jaringan Accor pada tahun 2012 selain Pullman Jakarta, adalah The Kuta Beach Heritage (MGallery), 149 kamar, Ibis Bandung Supermal (604 kamar), Ibis Bali Kuta (150 kamar), All seasons/ibis styles Bali Benoa (183 kamar), Grand Mercure Jakarta Harmoni (487 kamar), Mercure Jakarta Simatupang (220 kamar) dan Novotel Jakarta Gajah Mada (230 kamar).

Hotel-hotel akan dikelola pada 2013 adalah Novotel Banjarmasin Airport (180 kamar), Mercure Palu (240 kamar), Mercure Serpong Alam Sutera (169 kamar), Iibis Makassar Losari (200 kamar),

Ibis Jakarta Senen (198 kamar), Ibis Manado (120 kamar), Ibis budget Semarang (150 kamar), Ibis budget Bali Kuta Sunset Road (136 kamar), Ibis budget Jakarta Daan Mogot (200 kamar), Ibis budget Yogyakarta Jend Sudirman  (186 kamar),  Ibis styles Bali Kuta Dewi Sri (120 kamar), Ibis styles Bali Kuta Circle (189 kamar), Ibis styles Jakarta Thamrin (196 kamar), dan Mercure Bali Nusa Dua, (200 kamar).

 Sementara untuk 2014 nanti, mereka akan mengoperasikan Mercure Pekanbaru (230 kamar), Novotel Sentul (208 kamar), dan Ibis Jakarta Cawang (240 kamar).