Grup Freeland International, Mimpi Bangun Kota Mandiri

Permintaan properti yang tidak pernah surut mampu melahirkan pengembang-pengembang baru. Termasuk Grup Freeland International yang belum lama berkiprah dan baru berusia kurang dari dua tahun. Proyek properti yang digarap-pun bisa dihitung dengan jari. Namun begitu, perusahaan ini memiliki mimpi besar jadi pengembang terdepan dan dipercaya konsumen. Berbagai strategi pun dibuat agar terus berkembang dan menjadi pengembang yang disegani di tanah air.

Didirikan oleh  James Sastrowijoyo, anak muda lulusan Universitas Indonesia jurusan Akutansi yang saat ini baru berusia 29 tahun. Sejak usia 13 tahun sudah berbisnis, mulai dari jualan buku sekolah, sepatu, tas, sayur mayur di pasar induk, berlian dan emas, juga pakaian seragam. Ia menilai prospek bisnis properti ke depan sangat cerah, apalagi kebutuhan rumah yang tak kunjung sempurna terpenuhi.

James menilai, pandangan akan fungsi rumah semakin berkembang seiring dengan kemajuan teknologi dan tingkat pendidikan. Rumah tidak hanya sebagai tempat berlindung tetapi juga untuk memenuhi kebutuhan akan status, kelas sosial, dan gaya hidup. Bahkan sebagian calon konsumen mempunyai motivasi untuk investasi yakni membeli lalu dijual kembali untuk memperoleh capital gain.

Langkah awalnya dimulai dengan cara membeli rumah, lalu direnovasi, dan dijual kembali. James membayar rumah yng dibelinya tidak di awal transaksi. Cara ini di luar kebiasaan di mana transaksi jual beli, pembayarannya dilakukan di muka. Setelah rumah tersebut terjual kembali, baru pembayaran ke tangan pertama dilakukan. Lebih jelasnya begini, harga jual rumah dipatok Rp100 juta, lalu setelah direnovasi harga jual berubah menjadi Rp150 juta. Dengan harga baru ini, rumah tersebut ditawarkan kepada pembeli. Nah, keuntungan sebesar 20% dari selisih Rp50 juta itu diberikan kepada tangan pertama pemilik rumah. ”Modalnya kepercayaan. Dan mereka mau karena mendapatkan keuntungan lebih dan rumahnya bisa cepat laku terjual setelah direnovasi,”  ujarnya.

Cara lain yang dapat dilakukan adalah mencari rumah yang dijual untuk disewakan. Setelah mendapat penyewa ia kemudian mengajukan KPR ke bank. Nah, pehobi membaca dan mengikuti berbagai seminar ini mendapat keuntungan dari selisih sewa dan angsuran KPR. Misalnya, rumah disewakan Rp4 juta sebulan, sementara angsuran Rp3 juta sebulan. Nah, James mendapat keuntungan Rp1 juta setiap bulan. Setelah lunas, rumah kemudian dijual dan harganya tentu sudah berlipat.

 

Cara-cara di atas dilakukan James sejak tahun 2004, lalu pada tahun 2009 ia mendapat kepercayaan untuk bekerjasama dengan pemilik lahan yang membuatnya naik kelas dari investor properti menjadi pengembang properti dengan mendirikan Grup Freeland International.

”Pengembang besar seperti Ciputra saat ini menerapkan strategi  bekerjasama dengan pemilik lahan. Saya harus mengikutinya. Lagipula lebih untung karena tidak perlu modal besar,” tandasnya. Ada dua opsi yang bisa dipilih pemilik tanah yakni dibayar per tahun atau per kavling yang terjual, tentu juga dengan tawaran pemilik tanah memiliki saham di perusahaan baru yang dibentuk. Tidak mudah memang mencari pemilik tanah yang mau diajak kerjasama. Dari 100 orang yang ditawari, hanya satu yang mau.

Proyek pertamanya adalah Cahaya Garuda Residence di kawasan Bojong Sari, Depok yang dilansir awal 2010. Tahap pertama seluas 1.000 m2, lalu berlanjut sampai 5 hektar. Ada 300 unit rumah yang dipasarkan seharga mulai Rp200 juta sampai Rp500 juta. Kemudian proyek kedua yakni Cahaya Garuda Permai seluas 7.500 m2 di kawasan Sawangan, Depok. Terdapat  60 unit dan dijual mulai Rp170 juta sampai Rp280 juta. Dan yang terbaru adalah Cahaya Garuda Mansion seluas 3.000 m2 di kawasan TB. Simatupang, Jakarta Selatan. Ditawarkan 18 unit rumah seharga berkisar Rp700 juta sampai Rp1,5 miliar.

James melihat persaingan dalam dunia properti cukup ketat. Apalagi perusahaannya terbilang pendatang baru. Oleh karena itu dibutuhkan bermacam cara agar bisa bersaing dan dilirik konsumen. ”Saya bersyukur produk properti kami diterima pasar. Dan tahun ini ketiganya saya targetkan bisa habis terjual semua,” imbuhnya. Sebelum meluncurkan sebuah produk properti, ia berusaha mengetahui apa yang mempengaruhi konsumen dalam mengambil keputusan untuk membeli produk.

Cara yang dilakukan Grup Freeland International antara lain dengan membuat produk yang mengedepankan faktor green property. Lokasi yang dipilih harus strategis, dekat dengan berbagai fasilitas untuk memenuhi kebutuhan hidup. Kemudian memiliki kualitas bangunan yang baik dan mudah dijangkau melalui berbagai moda transportasi, juga keamanan yang baik. Dan terutama, harga yang kompetitif dan menguntungkan. ”Untuk menekan harga saya menunjuk pemasok material bangunan secara langsung,” bukanya. Harga yang menguntungkan juga sangat dipertimbangkan oleh konsumen. Maksudnya dalam waktu singkat, pembeli rumah bisa menjual rumahnya kembali dengan keuntungan yang tinggi. Contohnya unit di Cahaya Garuda Residence pada saat pertama dijual tahun 2010 harganya Rp190 juta, saat ini sudah mencapai Rp270 juta.

Dengan berbagai strategi ini, mereka siap meluncurkan proyek-proyek baru. Dalam waktu dekat,  Grup Freeland Internasional akan melansir 4 proyek baru, di antaranya  perumahan di Tangerang dan kondotel di Bandung. ”Tahun ini diperkirakan penjualan mencapai Rp100 miliar, dan tahun depan targetnya bisa naik dua kali lipat. Memang masih kecil karena kami pengembang baru. Tapi kami yakin nilai penjualan akan terus meningkat di masa yang akan datang dan kami bisa menjadi pengembang yang di egani di Indonesia,” papar James yang menargetkan bisa membangun kota mandiri dalam lima tahun ke depan.

By: Yuniar Susanto

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: