Aston Makassar Opens

20120430-200137.jpg

Aston International has opened its twenty-second Aston branded hotel in Indonesia – the Aston Makassar Hotel & Convention Center.

The 177 room 4 star hotel is located in the heart of Makassar on Jalan Sultan Hasanuddin in Indonesia’s South Sulawesi Province offering easy access to Makassar’s central business district and the popular Losari Beach promenade.

The hotel features amongst its 177 guest rooms several lavish executive suites and a 115 m2 Presidential Suite and boast a state of the art convention center with two grand ballrooms and 10 auxiliary meeting rooms.

Recreational facilities include a swimming pool, a well equipped gym and a full service spa with 20 treatment rooms and a reflexology center and, as a first in Makassar, an up market panorama roof top wine lounge located on the hotels 16th floor affording sweeping views of the City and nearby Makassar Strait.

Makassar is Sulawesi’s largest city and ranked amongst Indonesia’s top 10 metropolitan areas with an approximate population of 1 400 000. Besides its booming economy and important harbor the city also offers several tourist attractions such as the colonial Fort Rotterdam and the Trans Studio indoor theme park which is the third largest indoor amusement park in the world.

Iklan

Binakarya Propertindo, Fokus Hunian Komersial

20120430-181514.jpg

Kondisi pasar properti yang kondusif memotivasi para pengembang bertaruh peruntngan. Salah satu yang agresif adalah Grup Binakarya Propertindo. Tahun ini mereka telah menyiapkan dana investasi sebesar Rp1,3 triliun untuk membangun berbagai proyek properti di berbagai daerah di Indonesia. Sumber dananya sebagian dari modal pemegang saham dan sisanya dari kredit bank. Selain itu, mereka juga menjalin kerjasama dengan mitra strategis guna mendukung orientasi pengembangannya di daerah.

Ada pun daerah yang akan digarap Grup Binakarya Propertindo antara lain Bogor, Bandung, dan Bali. Kebutuhan properti di kedua daerah ini masih sangat tinggi sedangkan pasok properti dan ketersediaan lahan terbatas. “Tahun 2012 merupakan titik awal dari periode keemasan bisnis properti yang diperkirakan akan mencapai puncaknya kurang lebih tiga tahun mendatang, sehingga investasi di bisnis ini masih merupakan salah satu yang terbaik dan menjadi pilihan uutama investor,” ungkap Go Hengky Setiawan, CEO Grup Binakarya Propertindo. Apa saja proyek properti yang dikembangkan Grup Binakarya Propertindo tahun 2012 ini?

Di Jakarta, tengah dibangun apartemen Casablanca East Residences tahap II, Jakarta Timur, dengan investasi Rp150 miliar dan akan dibangun pada kuartal ke IV tahun 2012. Selain itu, ada apartmen Pluit Sea View di Jakarta Utara, pada kuartal ke III tahun 2012, investasi Rp100 miliar. Setelah tahap I yakni tower Maldives terjual 90% (900 unit), kini sedang ditawarkan tower ke dua yakni tower Belize dengan harga Rp150 jutaan. Selain pemandangan laut, ujar Hengky, keunggulan utama dari proyek dengan total luas lahan hampir 4 Ha ini adalah adanya public area berupa tempat untuk berjalan-jalan menikmati kapal yang sedang bersandar (promenade). Keberadaan promenade ini rencananya didesain untuk melengkapi boat deck dan dermaga.

Di sepanjang promenade tersebut akan dibangun jogging track, sehingga penghuni nantinya benar-benar dapat menikmati segarnya udara laut setiap saat. Adapun tipe unit yang sedang direncanakan adalah mulai dari 1 kamar (studio), 2 kamar, dan 3 kamar. Pluit Sea View dilengkapi sarana pendidikan serta sarana rekreasi danau. Fasilitas lainnya antara lain bicycle track, swimming pool, food court, fitness center, BBQ area, children playground, sky garden, dan sistem kemanan 24 jam dilengkapi CCTV.

Kemudian di Bekasi, bersama PT Triputri Natatama, Grup Binakarya Propertindo membangun Bekasi Town Square (Betos) sebagai pusat bisnis terpadu di Jl Cut Meutia. Proyek yang akan berdiri di atas lahan seluas 10 Ha ini, menurut Hengky, direncanakan sebagai sebuah superblok eksklusif dan disiapkan menjadi landmark Bekasi.”Betos akan kami kembangkan untuk mengoptimalkan potensi kawasan ini, selain juga membuka peluang investasi bagi masyarakat mengingat keberadaannya akan kami posisikan sebagai landmark,” ujarnya. D dalam Betos terdapat pasar modern, water park, apartemen, hotel, gedung pesta, Central Business District (CBD), dan lainnya sebagai sebuah pengembangan integrasi. Adapun saat ini, lokasi yang akan lebih dulu dikembangkan adalah Pasar Modern Betos. Dengan investasi sebesarRp400 miliar, Betos dibangun pada kuartal I tahun 2012.

Sedangkan di Bandung, tepatnya di Jl Gunung Batu, Grup Binakarya Propertindo dan Grup Istana baru saja meluncurkan Tower Topaz sebagai menara ketiga Gateway Pasteur Apartment. Peluncuran Tower Topaz tak lepas dari besarnya minat masyarakat Bandung dan Jakarta untuk memiliki apartemen di gerbang kota kembang ini. Tingginya animo masyarakat terlihat sejak diluncurkannya dua tower terdahulu, yaitu Ruby dan Jade yang saat ini sudah terjual 95%. Tower Topaz sendiri direncanakan memiliki kurang lebih 888 unit terbagi dalam beberapa tipe, yaitu studio, 1 kamar, 2 kamar, dan 3 kamar dengan harga mulai dari Rp170 juta samapi Rp500 juta.
”Bisnis properti di Bandung saat ini memang terus berkembang. Terindikasi dari kebutuhan tempat tinggal yang terus meningkat. Keterbatasan lahan dan terus meningkatnya harga tanah membuat apartemen menjadi alternatif tempat tinggal di kota besar. Tak terkecuali di Bandung karena banyak masyarakat mulai memilih apartemen sebagai tempat tinggal ketimbang landed house,” papar Hengky.

Gateway Pasteur Apartment mulai dibangun kuartal ke IV tahun 2012 ini dan ditargetkan selesai pada dua tahun mendatang dengan investasi sebesar Rp350 miliar. Berdiri di atas lahan seluas 5 Ha, sekitar 2 Ha akan digunakan untuk kebutuhan apartemen, sementara sisanya untuk pembangunan hotel bintang tiga (200 unit) dan pusat belanja.

Membangun kondotel

Tak sebatas itu, mereka juga tertarik merambah sektor kondotel. Melalui Bogor Valley Condotel (BVC), mereka mencoba peruntungannya. BVC merupakan sebuah perpaduan konsep hotel dan apartemen hak milik strata title dalam satu kawasan di arteri sentra bisnis Bogor, yaitu Jalan Sholeh Iskandar. Apartemen dan kondotel yang direncanakan dibangun di atas lahan seluas 0,6 Ha dengan investasi sebesar Rp125 miliar tersebut akan menghimpun 3 tower, yaitu 2 tower untuk apartemen dan 1 tower hotel yang semuanya dirancang untuk memiliki view menarik, yaitu Gunung Salak, Pancar, dan Hambalang. Pembangunan Bogor Valley dilakukan pada kuartal III tahun 2012. Dari 600 unit yang ditawarkan, kini sudah terjual 60%.

Grup Binakarya Propertindo juga tengah menyiapkan pengembangan kondotel di luar jawa yakni kondotel Watu Jimbar di Sanur yang saat ini sedang dalam tahap pembangunan serta Swiss-Belhotel Kuta dengan investasi Rp150 miliar dan akan mulai dibangun pada kuartal III tahun 2012. ”Tahun 2012 ini kami menargetkan setiap proyek terjual 100%. Dan strategi pencapaian target dengan memperkuat aktivitas branding image dan selalu berkomitmen menyelesaikan proyek-proyek sebelumnya dengan tepat waktu untuk memberikan bukti komitmen pengembang terhadap masyarakat,” ujar Hengky.

Grup Binakarya Propertindo memulai proyek perdananya di tahun 1994, berupa apartemen di Jl. Pademangan Barat, Jakarta Pusat. Kiprahnya kemudian memang tidak terlalu berkibar, karena proyeknya berskala kecil berupa kompleks ruko di kawasan Gunung Sahari dan daerah lain. Sempat vakum sejenak, di tahun 2007, muncul kembali di kancah bisnis properti dengan mengembangkan Royal Spring Residence. Kemudian, berturut-turut antara lain apartemen Gateway – Bandung, apartemen Cibubur Village – Jakarta Timur, dan perumahan Bumi Sentosa Asri di Tambun – Bekasi.

sumber: Yuniar S

Kuningan Saingi Sudirman

20120430-180827.jpg

Kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, adalah salah satu episentrum pertumbuhan bisnis dan industri properti di Jakarta. Ia juga ditahbiskan sebagai pusat bisnis (Central Business District/CBD). Kendati pamornya masih di bawah bayang-bayang CBD Thamrin dan Sudirman, namun Kuningan secara agresif melesat sebagai pilihan untuk eskpansi bisnis maupun investasi.

Kekinian Kuningan dapat dikatakan sebagai etalase properti-properti modern. Cermati pengembangan di koridor utamanya, yakni Jl. HR Rasuna Said. Terdapat bangunan-bangunan pencakar langit baru yang tegak berdiri, dengan desain apik dan ramah lingkungan. Tak hanya perkantoran, apartemen, hotel, kondotel dan pusat belanja yang diperbarui bahkan ruang apresiasi publik macam Pusat Perfilman Haji Usmar Ismail dan stadion olahraga juga tersedia.

Sebut saja Allianz Tower yang baru saja beroperasi. Perkantoran level A yang dikembangkan PT Medialand International ini, tak semata memenuhi unsur estetika karena dirancang Denton Corker Masrhal. Juga akomodatif terhadap tuntutan kebutuhan para tenan penyewa dan lingkungan sekitarnya. Allianz Tower dikelola dengan kaidah-kaidah ramah ekosistem.

Belum lagi pengembangan Rasuna Epicentrum. Proyek besutan PT Bakrieland Development Tbk yang berada di jantung Kuningan ini memiliki magma berupa Bakrie Tower. Perkantoran setinggi 46 lantai atau 216 meter tersebut, tak dinafikan merupakan tengara Kuningan. Ia bersanding serasi bersama puluhan hunian jangkung lainnya di kompleks seluas 35 ha tersebut. Seperti apartemen Taman Rasuna, the 18th Residence, The Wave, The Grove, Aston Rasuna dan lain-lain.

Juga The H Tower milik PT Hutama Karya Realtindo. Kondotel yang bakal dikelola oleh Citadines ini menambah rupa Kuningan semakin pantas untuk disejajarkan dengan CBD Thamrin maupun Sudirman.

Kehadiran bangunan dan proyek baru tersebut, praktis mengikis ketersediaan lahan kosong. Gampang ditebak kondisi defisit ini memicu meroketnya harga lahan. Jika dua tahun lalu (2010) berada di posisi Rp18 juta-26 juta/m2, saat ini sudah mencapai Rp23 juta-30 juta/m2. “Banyak peminat namun sedikit pasok. Kalau pun ada, sudah dimiliki oleh developer-developer besar. Tak akan dilepas dan akan digunakan sendiri. Sementara milik individu hanya bisa dihitung dengan jari, luasnya pun tak seberapa,” ujar senior Marketing Ray White Commercial, Lisca Zafarayana.

Meningkatnya harga lahan tersebut menstimuli harga propertinya. Unit apartemen berukuran 38 m2 di The 18th Residence saat ini berada di level Rp500 juta-600 juta. Padahal ketika diluncurkan dipatok hanya Rp200 jutaan. Sementara Setiabudi SkyGarden yang dibangun PT Jakarta Setiabudi International Tbk, menawarkan harga lebih fantastis. Untuk unit seluas 63 m2 seharga Rp2 miliar. Melonjak Rp400 juta dari harga akhir tahun lalu sebesar Rp1,6 miliar.

PT Farpoint Prima, selaku pengembang Verde Residence bahkan memasarkan unit-unitnya senilai Rp4 miliar untuk ukuran 164 m2 dan Rp9 miliar untuk luas 300 m2. Uniknya, Verde Residence merupakan wajah baru dari apartemen Menara Budi. Gunung Sewu Kencana Group, sebagai induk usaha PT Farpoint Prima mengakuisisinya dari PT Sungai Budi pada 2008. Awalnya Menara Budi merupakan apartemen sewa dengan tarif 2.000 dolar AS/bulan.

Aksi alih wajah (refurbishment) gedung lawas menjadi baru, menurut Lisca, akan menjadi fenomena di masa datang. Pemicunya, kelangkaan pasok lahan tadi. Di sisi lain, gedung-gedung berumur yang sudah tidak layak huni semakin tidak dilirik investor maupun calon penyewa. Ongkos pengelolaan yang akhirnya dibebankan menjadi service charge kepada penyewa akan menjadi lebih mahal. Tidak sebanding dengan produktifitas kerja. Sehingga developer memilih aksi akuisisi atau membeli gedung-gedung tua tersebut untuk disulap menjadi bangunan baru yang lebih modern dan sesuai kebutuhan pasar. “Praktik ini lebih efektif dari segi ongkos produksi dan efisien dalam hal pengurusan ijin dan aspek legal lainnya,” imbuhnya.

Beralih ke koridor lain Kuningan, yakni Jl Prof Dr Satrio-Kasablanka, harga lahan juga meroket tajam. Menurut riset Colliers International Indonesia, saat ini sudah mencapai Rp20 juta-27 juta/m2. Sementara harga propertinya dibanderol antara Rp24 juta-32 juta/m2. Jika proyek-proyek kakap macam Ciputra World Jakarta dan Kota Kasablanka rampung pembangunannya, diproyeksikan harga lahan dan propertinya pun akan melejit lagi sekitar 15-20% per tahun. Juga di Rasuna Said, penyelesaian Rasuna Epicentrum akan mengubah peta harga lahan keseluruhan dan “ditaksir” meroket menjadi rata-rata Rp35 juta/m2.

Sinar Mas Land Raih Asia Pacific Property Award 2012

BSD City Green Office Park sukses raih penghargaan Best Office Development dari Asia Pacific Award 2012. Berlokasi strategis di jantung BSD City, kawasan perkantoran BSD Green Office Park memiliki akses yang mudah dijangkau dari semua jalan utama di kota Jakarta seperti CBD dan Pondok Indah.

Didesain sebagai wilayah perkantoran di kawasan hijau, Sinar Mas Land berkomitmen hanya membangun 25% – 35% untuk KDB area (Building Coverage Ratio) dari luas total area pengembangan 25 Ha.

BSD Green Office Park adalah kawasan Perkantoran pertama di Indonesia yang mendapat sertifikasi Green Mark District dari Lembaga internasional BCA (The Building and Construction Authority), Singapura. Dikawasan ini nantinya hanya akan dibangun 11 bangunan dan semuanya menghadap ke arah utara dan selatan, guna mengurangi dampak panas matahari yang masuk ke dalam gedung. Selain itu, perletakan gedung pun didasarkan pada analisa arah hembusan angin, sehingga memaksimalkan sirkulasi udara di sekitar gedung. BSD Green Office Park juga mengalokasikan 65 – 75 persen dari lahannya sebagai area penyerapan alami air hujan, sementara Dewan Kota DKI Jakarta hanya merekomendasikan minimal 30 persen dari total area.

Sinar Mas Land sendiri merupakan pengembang dengan pengalaman lebih dari 40 tahun dalam bidang pengembangan properti di Indonesia. Lebih dari 40 proyek besar yang telah dikembangkan dan juga memiliki lebih dari 10.000 ha landbank. Sinar Mas Land memiliki mitra strategis yang kuat seperti Sojitz Japan dan Itochu-Japan.

Metropolitan Kentjana Bangun 5 Proyek Baru

Usai mencetak kinerja keuangan positif, di antaranya laba bersih yang mengalami kenaikan 23% (Rp263 miliar tahun 2010 menjadi Rp323 miliar tahun 2011) dari pendapatan  yang juga meningkat sebesar 16% (Rp710 miliar tahun 2010 menjadi Rp826 miliar tahun 2011), PT Metropolitan Kentjana Tbk akan bangun 5 proyek anyar.

 

Dikatakan Direktur Utama PT Metropolitan Kentjana Tbk, Husin Wisjayakusuma, pihaknya percaya diri untuk meningkatkan kinerja perseroan tahun ini dengan merealisasikan rencana strategis berupa pembangunan proyek-proyek baru.

 

Selain merampungkan Pondok Indah Office Tower 3 yang saat ini sudah mencapai 98% dan pembangunan Street Gallery, mereka bersiap memulai konstruksi hotel bintang lima sebanyak 296 kamar dan serviced apartment yang berdampingan dengan Pondok Indah Mall 2 dengan proyeksi nilai investasi Rp1 triliun. Dus, mendirikan anak perusahaan yang khusus untuk mengelola hotel.

 

Kemudian membangun gedung perkantoran di Jl RA Kartini/koridor Simatupang berkonsep strata title dengan proyeksi nilai investasi Rp450 miliar. Pengerjaannya diharapkan pada Oktober tahun ini, setelah semua perijinan final. Berikutnya,  perumahan berkonsep town house di Pesanggrahan, Bintaro sebanyak 70 unit di atas lahan seluas 1,5 ha. Terakhir, membangun Pondok Indah Mall 3 dan apartemen yang lahannya tengah dalam proses pembebasan.

 

Guna mengongkosi semua proyek itu, mereka menganggarkan dana sebesar Rp405 miliar. Mayoritas, yakni Rp300 miliar berasal dari pinjaman BCA, sisanya dana perseroan.

 

Dengan beroperasinya Pondok Indah Office Tower 3 pada Mei 2012 dan Street Gallery pada akhir tahun, Husin yakin, pertumbuhan pendapatan perseroan yang ditargetkan meningkat 10% bakal tercapai. “Kami mengacu pada performa Pondok Indah Office Tower 1 dan 2 yang menunjukkan performa maksimal yakni 100% terhuni,” imbuhnya.

Candra Ciputra, Generasi Kedua Yang Menguasai Jakarta

Ciputra,  bolehlah masih dianggap sebagai Begawan Properti Indonesia dan lekat dengan Ciputra Group. Namun, tongkat estafet kepemimpinan kelompok usaha pengembang ini sudah lama beralih ke generasi kedua. Adalah Candra Ciputra, putra tertua Ciputra, yang menjadi ujung tombak penerus imperium bisnis Ciputra Group.

Lelaki jangkung 48 tahun itu kini menahkodai  Ciputra Group dengan menjabat sebagai Direktur Utama di beberapa perusahaan strategis seperti PT Ciputra Property Tbk, PT Ciputra Development Tbk dan beberapa perusahaan afiliasi lainnya.

Candra mengaku, bukan perkara mudah meneruskan rekam jejak yang sudah ditorehkan ayahnya. Apalagi di tengah kondisi bisnis dan industri properti aktual yang luar biasa ketat. Namun begitu, ia diajarkan bagaimana harus menyikapi kompetisi, atau bahkan yang bertendensi rivalitas. “Kami berbisnis dengan nilai. Bisnis properti tak semata membangun gedung, rumah atau pusat belanja. Menjualnya dan kemudian selesai. Juga membangun manusia, komunitas dan bertanggung jawab atas lingkungan sekitar,” ujar alumna University of San Fransisco, Amerika Serikat ini.

Begitu pula dalam membaca sinyalemen pasar properti yang sangat dinamis. Jika dalam kurun 2002-2007 yang disebut masa kejayaan,  layar Ciputra Group tak lebar terkembang, bukan tanpa alasan.  “Pasca krisis 1997-1998, kami justru berbenah. Melakukan konsolidasi dan perbaikan di semua sektor. Kami memperkuat fondasi, infrastruktur perusahaan, kualitas sumber daya manusia, baru kemudian elemen-elemen di atasnya,” ungkap Candra.

Mudah dimafhumi bila pada awal-awal dekade ini, Candra menggiring Ciputra Group lebih hati-hati, untuk tidak dikatakan konservatif. Ini dilakukan karena ia paham bisnis properti memiliki siklusnya sendiri. Maka, ketika pengembang lain kehilangan nafas, Ciputra Group malah menelurkan megaproyek-megaproyek baru. Sebut saja, Ciputra World Surabaya dan Ciputra World Jakarta. Nilai kedua proyek ini puluhan triliun rupiah.

“Dekade ini kami menggenjot properti komersial. Kami akan lebih agresif membangun tiga sampai empat Ciputra World Jakarta lagi di lokasi yang berbeda (selain koridor Satrio). Itu sedang dalam proses pematangan. Rencananya akan dibangun usai CWJ Satrio rampung. Kami percaya, inilah masa kejayaan properti di Indonesia. Masa-masa seller’s market,” tandas pemegang title master of business administration dari University of Golden Gate, San Fransisco, AS.

Candra optimis properti-properti komersial yang mereka produksi bakal terserap pasar. Sampai akhir Januari 2012, kinerja penjualan CWJ I dan II sudah mencapai Rp227 miliar atau 15% dari target sales Rp1,5 triliun. Dus, sentimen positif pasar memotivasi Ciputra Group untuk melansir CWJ seri 3 lebih cepat yakni awal 2013.

Jika diasumsikan seluruh  proyek Ciputra World Jakarta itu terealisasi, dapat dikatakan Ciputra telah menguasai Jakarta. Sebab, gross development value CWJ Satrio saja bisa mencapai Rp15 triliun. Nah, kalau kelimanya digabungkan, maka nilainya berada di atas GDV Burj Khalifa, Dubai.

 

 Image

Aston Opens Favehotel Solo

Recently Aston International celebrated the grand opening of its seventh trendy select service favehotel, the favehotel Adi Sucipto – Solo.

The hotel was officially opened by Ms. Dra. Eny Tyasni Susana, MM- Solo’s Assistant Regional Secretary and celebrated the occasion with a party in the hotels eclectic cafe “Lime” and special performances from popular Indonesian entertainers Fariz RM and Rika Roeslan.

Prior to the event, the hotel held several Corporate Social Responsibility (CSR) programs including a general clean up of the hotels immediate vicinity in Bale Kambang near Manahan Stadium and an all employee blood donation drive in cooperation with the Indonesian Red Cross.

After a successfully soft opening back in January this year, the favehotel Adi Sucipto has quickly become a Solo favorite for a growing community of young and upcoming business travelers seeking a stylish and modern environment at a reasonable price.

The 190 room hotel sits in the very heart of Solo’s business district and is easy to reach from Solo’s International Airport and Railway Station. Several well known tourist attractions such as the Javanese Kraton Mangkunegaran and the ever so popular traditional market Pasar Klewer are also nearby making the hotel not only well suited for business but also ideal for vacationers.

Aston International’s Vice President of Sales & Marketing, Mr. Norbert Vas, said “favehotel Adi Sucipto – Solo is a fun, fresh and friendly hotel with a surprisingly different feel making it destined to become as popular as the already existing faves in Jakarta, Surabaya and Bali. We also plan to expand fave in the region and will by July open a second Central Java fave in nearby Solo Baru”.