Kuningan Saingi Sudirman

20120430-180827.jpg

Kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, adalah salah satu episentrum pertumbuhan bisnis dan industri properti di Jakarta. Ia juga ditahbiskan sebagai pusat bisnis (Central Business District/CBD). Kendati pamornya masih di bawah bayang-bayang CBD Thamrin dan Sudirman, namun Kuningan secara agresif melesat sebagai pilihan untuk eskpansi bisnis maupun investasi.

Kekinian Kuningan dapat dikatakan sebagai etalase properti-properti modern. Cermati pengembangan di koridor utamanya, yakni Jl. HR Rasuna Said. Terdapat bangunan-bangunan pencakar langit baru yang tegak berdiri, dengan desain apik dan ramah lingkungan. Tak hanya perkantoran, apartemen, hotel, kondotel dan pusat belanja yang diperbarui bahkan ruang apresiasi publik macam Pusat Perfilman Haji Usmar Ismail dan stadion olahraga juga tersedia.

Sebut saja Allianz Tower yang baru saja beroperasi. Perkantoran level A yang dikembangkan PT Medialand International ini, tak semata memenuhi unsur estetika karena dirancang Denton Corker Masrhal. Juga akomodatif terhadap tuntutan kebutuhan para tenan penyewa dan lingkungan sekitarnya. Allianz Tower dikelola dengan kaidah-kaidah ramah ekosistem.

Belum lagi pengembangan Rasuna Epicentrum. Proyek besutan PT Bakrieland Development Tbk yang berada di jantung Kuningan ini memiliki magma berupa Bakrie Tower. Perkantoran setinggi 46 lantai atau 216 meter tersebut, tak dinafikan merupakan tengara Kuningan. Ia bersanding serasi bersama puluhan hunian jangkung lainnya di kompleks seluas 35 ha tersebut. Seperti apartemen Taman Rasuna, the 18th Residence, The Wave, The Grove, Aston Rasuna dan lain-lain.

Juga The H Tower milik PT Hutama Karya Realtindo. Kondotel yang bakal dikelola oleh Citadines ini menambah rupa Kuningan semakin pantas untuk disejajarkan dengan CBD Thamrin maupun Sudirman.

Kehadiran bangunan dan proyek baru tersebut, praktis mengikis ketersediaan lahan kosong. Gampang ditebak kondisi defisit ini memicu meroketnya harga lahan. Jika dua tahun lalu (2010) berada di posisi Rp18 juta-26 juta/m2, saat ini sudah mencapai Rp23 juta-30 juta/m2. “Banyak peminat namun sedikit pasok. Kalau pun ada, sudah dimiliki oleh developer-developer besar. Tak akan dilepas dan akan digunakan sendiri. Sementara milik individu hanya bisa dihitung dengan jari, luasnya pun tak seberapa,” ujar senior Marketing Ray White Commercial, Lisca Zafarayana.

Meningkatnya harga lahan tersebut menstimuli harga propertinya. Unit apartemen berukuran 38 m2 di The 18th Residence saat ini berada di level Rp500 juta-600 juta. Padahal ketika diluncurkan dipatok hanya Rp200 jutaan. Sementara Setiabudi SkyGarden yang dibangun PT Jakarta Setiabudi International Tbk, menawarkan harga lebih fantastis. Untuk unit seluas 63 m2 seharga Rp2 miliar. Melonjak Rp400 juta dari harga akhir tahun lalu sebesar Rp1,6 miliar.

PT Farpoint Prima, selaku pengembang Verde Residence bahkan memasarkan unit-unitnya senilai Rp4 miliar untuk ukuran 164 m2 dan Rp9 miliar untuk luas 300 m2. Uniknya, Verde Residence merupakan wajah baru dari apartemen Menara Budi. Gunung Sewu Kencana Group, sebagai induk usaha PT Farpoint Prima mengakuisisinya dari PT Sungai Budi pada 2008. Awalnya Menara Budi merupakan apartemen sewa dengan tarif 2.000 dolar AS/bulan.

Aksi alih wajah (refurbishment) gedung lawas menjadi baru, menurut Lisca, akan menjadi fenomena di masa datang. Pemicunya, kelangkaan pasok lahan tadi. Di sisi lain, gedung-gedung berumur yang sudah tidak layak huni semakin tidak dilirik investor maupun calon penyewa. Ongkos pengelolaan yang akhirnya dibebankan menjadi service charge kepada penyewa akan menjadi lebih mahal. Tidak sebanding dengan produktifitas kerja. Sehingga developer memilih aksi akuisisi atau membeli gedung-gedung tua tersebut untuk disulap menjadi bangunan baru yang lebih modern dan sesuai kebutuhan pasar. “Praktik ini lebih efektif dari segi ongkos produksi dan efisien dalam hal pengurusan ijin dan aspek legal lainnya,” imbuhnya.

Beralih ke koridor lain Kuningan, yakni Jl Prof Dr Satrio-Kasablanka, harga lahan juga meroket tajam. Menurut riset Colliers International Indonesia, saat ini sudah mencapai Rp20 juta-27 juta/m2. Sementara harga propertinya dibanderol antara Rp24 juta-32 juta/m2. Jika proyek-proyek kakap macam Ciputra World Jakarta dan Kota Kasablanka rampung pembangunannya, diproyeksikan harga lahan dan propertinya pun akan melejit lagi sekitar 15-20% per tahun. Juga di Rasuna Said, penyelesaian Rasuna Epicentrum akan mengubah peta harga lahan keseluruhan dan “ditaksir” meroket menjadi rata-rata Rp35 juta/m2.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: