18 Office Park, Menyasar Startup Company

Pesona bisnis dan  industri properti menawan semua investor dari berbagai latar belakang. Zahir Ali satu di antara ribuan pemain baru yang mencoba peruntungan di sini. Lelaki ramping yang popular sebagai pebalap Nasional ini mengakui, properti merupakan salah satu instrumen investasi paling menarik.  Apalagi jika bicara sub sektor perkantoran yang tengah mengalami masa kejayaan. Di mana kondisi pasar aktual, belum mencapai keseimbangan. Kebutuhan masih lebih besar dibanding pasok.

Hasil riset Colliers International menunjukkan pasok anyar perkantoran untuk kuartal 1 2012 hanya sebanyak 100.000 m2 di pusat bisnis (CBD) Jakarta dan 208.626 m2 di luar CBD. Sementara permintaan menunjukkan catatan tertinggi pasca krisis yang ditandai dengan tingkat okupansi sebesar 94,5% di CBD dan 92% di luar CBD.

Yang menarik adalah lebih besarnya pasok gedung perkantoran yang berasal dari luar CBD. Ini bukan lagi fenomena. Bahwa sejatinya real demand di kawasan pinggiran terus meningkat. Permintaan, terutama, berasal dari perusahaan-perusahaan yang ekspansi dan sedang berkembang. Mereka membutuhkan kantor yang representatif. Selain limpahan dari perusahaan-perusahaan  nasional dan multinasional yang tidak mendapatkan ruang di CBD. Dus, preferensi pasar yang bergeser pada gedung-gedung perkantoran yang secara lokasi dekat atau terkoneksi aksesnya dengan hunian, fasilitas pendidikan, hiburan, olahraga dan lain sebagainya.

 

Zahir Ali

Galib jika banyak pengembang yang menggarap wilayah luar CBD demi mengisi defisit suplai perkantoran. Saat ini terdapat 26 proyek baru perkantoran yang akan menyesaki wilayah ini. Baik proyek perkantoran yang berdiri sendiri (stand alone) maupun yang terintegrasi dalam konsep pengembangan mixed use. Dari jumlah tersebut, 12 di antaranya berada di koridor Simatupang.

Dan Zahir Ali, memulai debut high rise perdananya dengan 18 Office Park di bawah bendera PT Kalma Propertindo Jaya. Berbekal pengalaman bermain di jasa konstruksi dan pengembangan town house, ia percaya diri merebut lezatnya kue pasar perkantoran. “18 Office Park bukan perkantoran biasa. Kami ada untuk mengisi kebutuhan pasar yang belum terpenuhi. Khusus di koridor Simatupang ini, belum ada satu pun gedung perkantoran eksisting yang di dalamnya terdapat kafe, ruang ritel, kolam renang dalam ruang, taman dan lain-lain,” papar Zahir.

Dengan estimasi investasi senilai Rp1 triliun, 18 Office Park bakal terdiri atas dua tower perkantoran, hotel dan apartemen. Terbagi dalam dua tahap pengembangan. Tahap pertama, lahan yang dikembangkan seluas 40.000 m2. Di sini north tower setinggi 23 lantai akan dibangun lebih dulu. Terdapat dua peruntukan low zone  yang dimulai dari lantai 3 sampai 9, dan high zone (10-22) serta penthouse.

Gedung yang diarsiteki Urbane ini dirancang dengan konsep hibrid. Dengan komposisi sewa lebih dominan dibanding strata title. Kendati demikian, strategi ini justru dipandang lebih menguntungkan. Selain menyelamatkan recurring income, juga ada peluang potensial bagi Zahir dan perusahaannya untuk terjun di bidang manajemen properti. “Kami punya visi mengembangkan profesionalisme dan knowledge lebih luas. Ini adalah pilot project yang mengharuskan kami mengerahkan seluruh kemampuan terbaik,” imbuhnya.

Sejatinya, konsep gedung 18 Office Park, tak berbeda atau nyaris serupa dengan proyek-proyek lainnya. Bahkan bila yang dijadikan diferensiasi adalah eco friendly atau ramah lingkungan. GKM Tower, Manhattan Square, Sovereign Plaza, Talavera serta gedung-gedung lawas macam Menara Arkadia, telah lebih dulu mengadopsi green development concept. Dan jika bicara harga, Rp18,5 juta/m2 untuk ruang yang dijual dan Rp135.000/m2 untuk sewa adalah angka moderat dan kompetitif yang bisa diserap pasar. Karena di koridor Simatupang, harga pasar yang berlaku adalah antara Rp17 juta-20 juta/m2.

Namun begitu, tetap saja 18 Office Park ini masih pantas dilirik. Karena sekali lagi, properti adalah instrumen investasi yang paling menarik untuk saat ini. Dan konsep perkantoran strata title masih diminati dengan performa meyakinkan selama dua tahun terakhir. Tingkat okupansinya mencapai rata-rata 80% untuk CBD Jakarta dan 94,6% untuk non CBD Jakarta. Atau naik dari sebelumnya 91,5%.

Jadi, tawaran 18 Office Park masih terbilang rasional. Baik bagi investor yang baru memulai bisnis (startup company) yang merupakan salah satu pangsa pasar atau yang melakukan ekspansi untuk memiliki kantor di gedung bertingkat dengan pertimbangan efisiensi ongkos operasional. Dibanding menyewa kantor di kawasan CBD yang saat ini harga sewanya telah mencapai angka Rp200.000-250.000/m2 dan harga jual di atas Rp25 juta/m2.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: