Ciputra Garap Citraland BSB City

Sebagai sayap bisnis andalan dari kelompok usaha Ciputra Group, PT Ciputra Graha Mitra terus menggenjot ekspansi dan memperkuat  eksistensinya. Tak hanya bermain dalam ceruk properti komersial juga mulai dengan entitas landed residential. Tentu, bukan sembarang proyek perumahan. Melainkan township development.

Proyek perumahan perdana mereka adalah Citraland BSB City. Dilihat dari namanya, mudah ditebak bahwa ini merupakan kolaborasi antara PT Ciputra Graha Mitra dan PT Karyadeka Alam Lestari. Mereka bersepakat menjalin kerjasama strategis untuk 100 Ha pertama pengembangan yang berlokasi di Mijen, Semarang ini.

“Tidak tertutup kemungkinan, kemitraan ini akan berlanjut untuk 900 Ha sisanya, sehingga total 1.000 Ha yang kami miliki dikerjasamakan dengan Ciputra Group,” ujar Direktur Keuangan PT Karyadeka Alam Lestari, Andy Iriawan seraya menambahkan skema kerjasama ini berbentuk joint operation.

Dijelaskan Project Manager Citraland BSB City, Jatmiko Arif, perumahan ini berkonsep klaster. Di mana tiap klaster akan terdapat 300 unit rumah dengan desain minimalis. “Klaster pertama yang dibangun seluas 11,1 Ha. Dilengkapi fasilitas yang menunjang kebutuhan penghuni. Kami optimis kerjasama ini akan menuai hasil positif. Karena dari sudut tren bisnis properti, kebutuhan perumahan terus meningkat. Di Semarang sendiri, lokasi kami sebagai kota baru telah lama menjadi incaran konsumen dan investor properti,” jelasnya.

Realisasi akan dimulai setelah Lebaran 2012 dengan pengerjaan konstruksi infrastruktur dan utilitas lebih dulu. Untuk kemudian pembangunan unit-unit rumah beserta fasilitasnya. Sementara fasilitas lingkungan di luar masing-masing klaster yang bisa digunakan bersama, antara lain pusat belanja, community center dan lain-lain akan dikembangkan kemudian. Menggenapi yang sudah ada, seperti Club House and area komersial berupa ruko-ruko.

BSB City sendiri merupakan proyek yang dikembangkan sejak 1997. Menyusul program pemekaran wilayah Kota Semarang, dari 9.950 Ha menjadi 37.370 Ha. Saat ini, di BSB City terdapat 3 klaster perumahan, kawasan industri ringan/bersih yang telah diisi oleh 10 perusahaan, pertokoan dan ruko.

 

Akomodasi, Membawa Yogyakarta Naik Gengsi

“Yogyakarta, A Never Ending Asia”, demikian tagline episentrum budaya Jawa ini mempromosikan dirinya. Ya, Yogyakarta tak pernah berhenti untuk mempercantik diri. Perbaikan infrastruktur, kemudahan perijinan dan regulasi daerah yang ramah investasi. Menggoda investor yang tertarik membenamkan modalnya di sini. Sebut saja, PT Bakrieland Development Tbk, PT Ciputra Property Tbk, PT Sahid Inti Dinamika, Sun Motor Group, PT Jakarta Setiabudi International, dan lain sebagainya. Belum lagi pemain lokal yang makin menggeliat pasca kembali pulihnya industri pariwisata setelah gempa beberapa tahun silam.

Tentu, ini merupakan sebuah pencapaian. Apalagi jika mencermati performa meyakinkan yang ditunjukkan industri pariwisata sebagai basis ekonominya. Jumlah wisatawan yang terus mengalami peningkatan, rata-rata 700.000 orang per bulan berimplikasi positif pada industri terkait. Salah satunya yang menonjol adalah akomodasi yang mengalami lonjakan tajam.

Menurut laporan Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Yogyakarta tingkat hunian 21 hotel berbintang eksisting mencapai rata-rata 90% dengan length of stay 2,5 hari. Bahkan hotel yang berada di kawasan wisata favorit yakni Jalan Malioboro mencapai 100%. Bila dilihat total jumlah kamar 3.000 unit dari 21 hotel berbintang tersebut, memang belum mampu menampung seluruh arus wisatawan yang berkunjung ke Yogyakarta.

Dikatakan Vice President Sahid Group Hariyadi B Sukamdani, Yogyakarta mengalami over demand dalam tiga tahun terakhir. Dibanjiri wisatawan yang nota bene sebagian besar justru domestik. “Ini tak lain karena jumlah kelas menengah Indonesia yang terus bertumbuh. Mereka butuh refreshing, rekreasi dan jalan-jalan. Nah, Yogyakarta, merupakan salah satu destinasi utama di Indonesia, setelah Bali, yang mengalami  pertumbuhan permintaan ,” ujarnya.

Untuk itu, dapat dimafhumi bila pengembang-pengembang tersebut di atas berlomba membangun fasilitas akomodasi dengan berbagai kapasitas. Mulai hotel ekonomi, menengah hingga mewah. Menggenapi beberapa hotel baru yang telah beroperasi pada medio 2010-2012 Sebut saja Grand Aston di Jl Urip Sumoharjo, All Seasons Hotel dan Whizz Hotel di Jalan Dagen, Edotel di Kemetiran Kidul, Hotel Amaris di Jalan Diponegoro, Hotel Harris, Hotel Jambu Luwuk di Jalan Jambu, Hotel MM di daerah Seturan, dan Pop di Jl AM Sangaji.

Menariknya, genre fasilitas penginapan ini tak melulu murni hotel, juga kondotel. Berbeda dengan hotel, di mana pemiliknya adalah pengembang atau land lord. Kondotel adalah konsep kondominium yang dimiliki secara individual namun dikelola sebagai hotel. Di mana terdapat registration desk, cleaning service dan lainnya. Para pemilik kondotel tersebut akan mendapatkan keuntungan proporsional dari unit-unit miliknya yang disewakan atau dioperasionalkan seperti laiknya kamar hotel.

“Membangun kondotel justru lebih menguntungkan. Turn over-nya cepat sekaligus juga membuka peluang bagi pengembang untuk membangun jaringan pengelola kondotel. Sementara bagi pembeli, mereka akan mendapat keuntungan ganda dari capital gain dan rental income berupa yield dari operasionalisasi unit-unit yang dimiliki yang angkanya bisa lebih tinggi dari bunga deposito, hak untuk menginap selama waktu tertentu sesuai kesepakatan, dan potensi apresiasi harga unit kondotel sesuai dengan kondisi makro ekonomi,” papar Haryadi.

Nah, Sahid Group sendiri, melalui PT Sahid Inti Dinamika, akan membangun kondotel sejumlah 319 unit di area pengembangan Sahid Jogja Lifestyle City. Kondotel ini dikelola sendiri oleh mereka dengan klasifikasi menengah atau setara bintang 4. Harga per unitnya, mulai dari Rp700 juta-1 miliar.

Sementara PT Bakrieland Development Tbk, membesut Neo+ Condotel di proyek Awana. Jumlah unit yang dipasarkan sebanyak 296 unit. Dikatakan Project Manager Awana Condotel Yogyakarta Wiyoko Ariyanto, hingga saat ini sudah 80% terjual dengan harga Rp400 jutaan. Menilik antusiasme pasar yang begitu tinggi, mereka berencana memperluas area pengembangan 680 m2 untuk dijadikan satu menara kondotel lagi dengan jumlah antara 120-150 unit.

Wiyoko yakin, tower baru ini juga akan diserbu pembeli, mengingat lokasinya yang strategis, di pusat kota, juga dikelola oleh Aston International. “Kendati klasifikasinya bintang 3, namun, popularitas mereka tak diragukan lagi”, ujarnya.

Operator yang sama juga kelak bakal mengelola kondotel lainnya. Yakni Alana Condotel di dalam kompleks pengembangan Mataram City. Kondotel ini dibangun oleh PT Saraswati Indoland Development, dengan jumlah 269 unit. Harga yang ditawarkan sekitar Rp600 juta. Berbeda dengan Awana, Alana ini dikategorikan sebagai kondotel bintang 4.

Kompetisi pasar kondotel kian diperketat dengan hadirnya Sun Premira yang dibangun Sun Motor Group. Mereka bahkan menggandeng Accor Group, jaringan hotel international asal Prancis. Dengan bendera Mercure, Sun Motor Group percaya diri menjual kondotelnya seharga Rp750 juta-800 juta untuk 240 unit dari total 518 unit lainnya yang difungsikan sebagai residence (134 unit) dan hotel Ibis (144 unit).

Jika seluruh proyek kondotel tersebut beroperasi pada 2013 atau paling lambat awal 2014, maka Yogyakarta akan memiliki pertambahan jumlah fasilitas akomodasi sebanyak 1.274 unit kamar. Di luar jumlah penginapan berkonsep hotel murni dari berbagai klasifikasi (budget, economy, midscale, upscale dan luxury). Menjadikan Yogyakarta, jauh meninggalkan kota-kota lainnya di Jawa Tengah seperti Semarang dan Solo.

 

 

Sahid Jogja Lifestyle City, Kombinasi Gaya Hidup Urban dan Tradisi

Apa yang menjadi fundamen keputusan pengembang guna melakukan ekspansi bisnis? Potensi dan kuatnya permintaan pasar (market demand). Dan itu dielaborasi oleh Sahid Group dengan menghadirkan Sahid Jogja Lifestyle City (SJLC) di Yogyakarta.

Ini sejatinya bukan merupakan properti berkonsep mixed use pertama yang ada di kota budaya. Generasi pendahulu terdapat Saphire Square Shopping Mall and Hotel serta Plaza Ambarukmo Shopping Mall dan Hotel. Namun demikian, bukan berarti peluang untuk mengembangkan konsep serupa sama sekali tertutup.

Apalagi di tengah situasi ekonomi yang kondusif dengan peningkatan jumlah kelas menengah yang signifikan, mengkonfirmasi langkah strategis Sahid Group untuk bermain dalam genre yang sama. Teristimewa untuk Yogyakarta, fasilitas akomodasi merupakan peluang yang paling banyak diincar oleh pengembang. Industri pariwisatanya yang pesat, ‘memaksa’ industri terkait seperti penginapan juga melaju kencang.

Laporan Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Yogyakarta menyebutkan tingkat hunian di 21 hotel berbintang mencapai rata-rata 90%. Bahkan hotel kelas bintang, yang berada di kawasan wisata favorit yakni Jalan Malioboro mencapai 100%,” ujarnya hari ini. Dia mengatakan pihaknya memantau arus wisatawan yang menginap di hotel kelas bintang di DIY mulai Rabu (16/5) dan dari 21 hotel dengan jumlah kapasitas 3.000 unit kamar itu rata-rata mencapai 90%, kecuali hotel di kawasan Malioboro yang mencapai 100%.

Membaca kans besar itulah, “Kami hadir untuk memenuhi kebutuhan pangsa pasar kelas menengah terutama untuk fasilitas penginapan dan pusat belanja. Saat ini, di Yogyakarta, kebutuhan tersebut belum terpenuhi secara maksimal. Hotel selalu fully booked, begitu pula pusat belanja yang penuh pengunjung. Catatan Hotel Sahid Raya Yogyakarta bahkan mencapai 150-200% tingkat huniannya. Tentu, ini peluang besar bagi kami untuk membangun fasilitas seperti Sahid Raya,” papar Hariyadi B Sukamdani, Vice President Sahid Group.

Di atas lahan seluas 2,1 Ha, SJLC akan dibangun. Berisi kondotel (Sahid Jogja Condotel) sebanyak 319 unit, apartemen (Sahid Jogja Residences) 196 unit dan convention center empat lantai yang nantinya akan terdiri atas Parangkusumo ballroom seluas 6.100 m2 dan 16 ruang pertemuan. Tak sebatas itu, juga terdapat dua lantai basement untuk fasilitas parkir.

“Rencana awal kami sebenarnya hanya kondotel, namun melihat pasar Yogyakarta yang sangat potensial, kami hadirkan pula pusat perbelanjaan yang kami namai Sahid Jogja Walk,” kata Hariyadi.

Konsep pusat belanja yang dikembangkan pun lebih kepada lifestyle mall dengan penekanan pada unsur food and beverage. Dengan dimensi ruang 24.000 m2, Sahid Jogja Walk merangkum specialty stores, jaringan bioskop XXI, toko buku, amusement centre, Gold Gym’s, Hero Supermarket, Optik Melawai, Mirota Premium, J.Co, Little Things She Needs serta tenan restoran lainnya.

Tak aneh jika untuk merealisasikan SJLC ini PT Sahid Inti Dinamika (anak usaha Sahid Group) harus merogoh kocek senilai Rp450 miliar. Nilai yang tak kecil, memang. Untuk itu, mereka melakukan “rekayasa” pendanaan melalui pinjaman perbankan, ekuitas perusahaan dan juga pra penjualan.

Yang menarik dari pengembangan multifungsi ini adalah kondotelnya. Kendati di Yogyakarta saat ini terdapat 10 proyek kondotel baru, namun Haryadi percaya diri SJLC akan mendapat sambutan positif. Pertimbangannya adalah, Sahid Group sudah menggeluti dunia hospitalitas selama 26 tahun. Sehingga brand image Sahid sangat kuat di mata publik.  Jadi, mafhum jika mereka akan mengelola sendiri kondotel dan apartemennya.

Rekam jejak dan pencapaian maksimal dari kinerja protofolio mereka baik di Jakarta, Yogyakarta, Bali maupun kota lainnya, mampu meyakinkan pasar untuk meminati SJLC. Selain tentu saja, lokasinya yang strategis. Terletak di area pengembangan baru yang dikelilingi beberapa kampus ternama, untuk tidak dibilang elit, serta relatif dekat dengan bandara.

Walhasil, harga Rp700 jutaan untuk unit kondotel dan Rp300 jutaan untuk unit apartemen, bukan merupakan angka sensitif bagi pasar Yogyakarta yang justru merupakan pembeli terbanyak dari 15% unit yang sudah terjual pada penawaran perdana. Padahal, awalnya, Haryadi memproyeksikan investor akan datang dari Jakarta atau luar kota lainnya.

Apalagi diiming-imingi besaran yield sebanyak 20% selama dua tahun pertama dan kalkulasi investasi dalam 7 tahun bisa balik modal. Dikatakan Direktur PT Sahid Inti Dinamika Exacty Sukamdani Sryantoro, untuk saat ini, investasi kondotel sangat menarik. “Keuntungan yield lebih besar dari bunga deposito. Dus, aman karena ada barangnya. Pemilik kondotel tak perlu pusing mencari penyewa, kami memiliki database lengkap penyewa sebagai captive market. Selain itu,di sini juga akan mendapatkan keuntungan berupa ijin tinggal 21 hari dalam setahun di kondotel miliknya yang akan dikelola Sahid Group,” imbuh Exacty.

Kinerja serupa juga ditunjukan Sahid Jogja Walk. Respon positif datang dari peritel ternama. Bahkan beberapa di antaranya baru hadir di Yogyakarta. Agen Pemasaran Sahid Jogja Walk dari  Retail Connection Indonesia Andreas Kartawinata mengatakan dari target 80 tenan yang akan dihadirkan di mall empat lantai itu, saat ini sudah 70% yang telah menandatangani pre komitmen. Antara lain bioskop XXI, Optik Melawai, Gold’s Gym, Hero Supermarket, J.Co, Little Things She Needs, dan lain sebagainya.

“Kami akan menghadirkan konsep modern namun penuh dengan sentuhan tradisional juga,  ada Mirota Premium, dan bahkan nanti kami juga akan sediakan lesehan,” katanya seraya menambahkan peritel lokal akan mendapat tempat utama dan menjadi prioritas.

Ground Breaking of Aston Priority Simatupang

Archipelago International and PT. Nusa Pratama Property celebrated the ground breaking of Jakarta’s largest and most important hotel development to date, the Aston Priority Simatupang Hotel & Conference Center.

The Aston Priority Simatupang Hotel & Conference Center was conceptualized to support the southern area of South Jakarta’s development by providing international standard accommodations and conference facilities to the area’s growing industry and commerce. The future Aston Simatupang will feature 321 spacious guest rooms and suites as well as a wide range of facilities befitting an international hotel including a specialty restaurant, coffee shop, lounge, swimming pool, gym, spa, several meeting rooms and a grand ballroom for up to 600 guests.

“We believe the Aston Priority Simatupang will be a welcome addition to this area which has seen tremendous growth and hotel demand in recent years. By combining Aston’s signature style and service standards with such a superior conference property and location, we will create an exceptional and memorable guest experience. Our airy lobby combined with our comfortable guestrooms, convenient guest services and friendly hotel team members will make our hotel an ideal choice for business or leisure travelers to the Simatupang area. Situated just minutes from several important businesses and corporations, the Aston Simatupang provides all the amenities to ensure guests sleep deep, stay fit, eat well, work smart and treat themselves while on the road,” commented Norbert Vas, Aston International’s Vice President of Sales & Marketing.