Akomodasi, Membawa Yogyakarta Naik Gengsi

“Yogyakarta, A Never Ending Asia”, demikian tagline episentrum budaya Jawa ini mempromosikan dirinya. Ya, Yogyakarta tak pernah berhenti untuk mempercantik diri. Perbaikan infrastruktur, kemudahan perijinan dan regulasi daerah yang ramah investasi. Menggoda investor yang tertarik membenamkan modalnya di sini. Sebut saja, PT Bakrieland Development Tbk, PT Ciputra Property Tbk, PT Sahid Inti Dinamika, Sun Motor Group, PT Jakarta Setiabudi International, dan lain sebagainya. Belum lagi pemain lokal yang makin menggeliat pasca kembali pulihnya industri pariwisata setelah gempa beberapa tahun silam.

Tentu, ini merupakan sebuah pencapaian. Apalagi jika mencermati performa meyakinkan yang ditunjukkan industri pariwisata sebagai basis ekonominya. Jumlah wisatawan yang terus mengalami peningkatan, rata-rata 700.000 orang per bulan berimplikasi positif pada industri terkait. Salah satunya yang menonjol adalah akomodasi yang mengalami lonjakan tajam.

Menurut laporan Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Yogyakarta tingkat hunian 21 hotel berbintang eksisting mencapai rata-rata 90% dengan length of stay 2,5 hari. Bahkan hotel yang berada di kawasan wisata favorit yakni Jalan Malioboro mencapai 100%. Bila dilihat total jumlah kamar 3.000 unit dari 21 hotel berbintang tersebut, memang belum mampu menampung seluruh arus wisatawan yang berkunjung ke Yogyakarta.

Dikatakan Vice President Sahid Group Hariyadi B Sukamdani, Yogyakarta mengalami over demand dalam tiga tahun terakhir. Dibanjiri wisatawan yang nota bene sebagian besar justru domestik. “Ini tak lain karena jumlah kelas menengah Indonesia yang terus bertumbuh. Mereka butuh refreshing, rekreasi dan jalan-jalan. Nah, Yogyakarta, merupakan salah satu destinasi utama di Indonesia, setelah Bali, yang mengalami  pertumbuhan permintaan ,” ujarnya.

Untuk itu, dapat dimafhumi bila pengembang-pengembang tersebut di atas berlomba membangun fasilitas akomodasi dengan berbagai kapasitas. Mulai hotel ekonomi, menengah hingga mewah. Menggenapi beberapa hotel baru yang telah beroperasi pada medio 2010-2012 Sebut saja Grand Aston di Jl Urip Sumoharjo, All Seasons Hotel dan Whizz Hotel di Jalan Dagen, Edotel di Kemetiran Kidul, Hotel Amaris di Jalan Diponegoro, Hotel Harris, Hotel Jambu Luwuk di Jalan Jambu, Hotel MM di daerah Seturan, dan Pop di Jl AM Sangaji.

Menariknya, genre fasilitas penginapan ini tak melulu murni hotel, juga kondotel. Berbeda dengan hotel, di mana pemiliknya adalah pengembang atau land lord. Kondotel adalah konsep kondominium yang dimiliki secara individual namun dikelola sebagai hotel. Di mana terdapat registration desk, cleaning service dan lainnya. Para pemilik kondotel tersebut akan mendapatkan keuntungan proporsional dari unit-unit miliknya yang disewakan atau dioperasionalkan seperti laiknya kamar hotel.

“Membangun kondotel justru lebih menguntungkan. Turn over-nya cepat sekaligus juga membuka peluang bagi pengembang untuk membangun jaringan pengelola kondotel. Sementara bagi pembeli, mereka akan mendapat keuntungan ganda dari capital gain dan rental income berupa yield dari operasionalisasi unit-unit yang dimiliki yang angkanya bisa lebih tinggi dari bunga deposito, hak untuk menginap selama waktu tertentu sesuai kesepakatan, dan potensi apresiasi harga unit kondotel sesuai dengan kondisi makro ekonomi,” papar Haryadi.

Nah, Sahid Group sendiri, melalui PT Sahid Inti Dinamika, akan membangun kondotel sejumlah 319 unit di area pengembangan Sahid Jogja Lifestyle City. Kondotel ini dikelola sendiri oleh mereka dengan klasifikasi menengah atau setara bintang 4. Harga per unitnya, mulai dari Rp700 juta-1 miliar.

Sementara PT Bakrieland Development Tbk, membesut Neo+ Condotel di proyek Awana. Jumlah unit yang dipasarkan sebanyak 296 unit. Dikatakan Project Manager Awana Condotel Yogyakarta Wiyoko Ariyanto, hingga saat ini sudah 80% terjual dengan harga Rp400 jutaan. Menilik antusiasme pasar yang begitu tinggi, mereka berencana memperluas area pengembangan 680 m2 untuk dijadikan satu menara kondotel lagi dengan jumlah antara 120-150 unit.

Wiyoko yakin, tower baru ini juga akan diserbu pembeli, mengingat lokasinya yang strategis, di pusat kota, juga dikelola oleh Aston International. “Kendati klasifikasinya bintang 3, namun, popularitas mereka tak diragukan lagi”, ujarnya.

Operator yang sama juga kelak bakal mengelola kondotel lainnya. Yakni Alana Condotel di dalam kompleks pengembangan Mataram City. Kondotel ini dibangun oleh PT Saraswati Indoland Development, dengan jumlah 269 unit. Harga yang ditawarkan sekitar Rp600 juta. Berbeda dengan Awana, Alana ini dikategorikan sebagai kondotel bintang 4.

Kompetisi pasar kondotel kian diperketat dengan hadirnya Sun Premira yang dibangun Sun Motor Group. Mereka bahkan menggandeng Accor Group, jaringan hotel international asal Prancis. Dengan bendera Mercure, Sun Motor Group percaya diri menjual kondotelnya seharga Rp750 juta-800 juta untuk 240 unit dari total 518 unit lainnya yang difungsikan sebagai residence (134 unit) dan hotel Ibis (144 unit).

Jika seluruh proyek kondotel tersebut beroperasi pada 2013 atau paling lambat awal 2014, maka Yogyakarta akan memiliki pertambahan jumlah fasilitas akomodasi sebanyak 1.274 unit kamar. Di luar jumlah penginapan berkonsep hotel murni dari berbagai klasifikasi (budget, economy, midscale, upscale dan luxury). Menjadikan Yogyakarta, jauh meninggalkan kota-kota lainnya di Jawa Tengah seperti Semarang dan Solo.

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: