Pakuwon Siapkan Kota Kasablanka II & Gandaria City II

Pengembang nasional yang berbasis di Surabaya ini perlahan namun pasti mulai menyiapkan pembangunan tahap II dari megaproyek mereka di Kota Kasablanka dan Gandaria City.

Tahap kedua proyek tersebut akan direalisasikan usai tahap pertama masing-masing pengembangan rampung pada 2013 dan 2014. Kota Kasablanka II sendiri akan berisi dua menara apartemen dan satu menara perkantoran. Diproyeksikan KK II ini kelar dalam 30 bulan konstruksi. Sedangkan Gandaria City II menghimpun dua menara apartemen dan satu menara perkantoran, dengan target penyelesaian konstruksi 2 tahun.

Dikatakan Direktur Utama PT Pakuwon Jati Tbk, (PWON) Richard Adisastra, sektor properti sedang dalam masa puncak. Pembeli berasal dari berbagai kalangan. Motifnya ada yang untuk investasi maupun digunakan sendiri. “Proporsi mereka sama besar. Untuk itu, kami mengantisipasinya dengan melansir proyek-proyek tambahan. Desainnya belum final. Masih dielaborasi lebih dalam. Namun yang pasti, saya mengatakan Pakuwon berpeluang besar meningkatkan pendpatan dari proyek-proyek yang tengah dikerjakan,” imbuhnya.

 

Sementara Investor Relation Director PT Pakuwon Jati Tbk (PWON) Irene Tedja, menjelaskan sejak Pakuwon Jati memasuki pasar Jakarta di tahun 2007, perseroan terus mencatat peningkatan pendapatan dari tahun ke tahun. Tahun 2011 lalu pendapatan mereka sudah tumbuh lebih dari tiga kali lipat dibandingkan tingkat pendapatan tahun 2007.

Tahun 2012 ini Pakuwon menargetkan marketing sales sebesar Rp1.800 miliar dan sampai dengan Juni telah mencapai Rp 1.000 miliar. Beroperasinya pusat belanja Kota Kasablanka,  mulai 28 Juli lalu, semakin memperkuat portofolio recurring income Pakuwon.  Sehingga berpotensi menambah recurring income. Ada pun luas area persewaan pusat perbelanjaan dan perkantoran Pakuwon Jati dan anak-anak perusahaan saat ini mencapai lebih dari 400.000m2. Sejalan dengan dengan strategi pertumbuhan Perseroan yang menyeimbangkan recurring maupun development income.

 

Pusat perbelanjaaan baru di Kota Kasablanka yang telah beroperasi di atas mempunyai net leasable area sekitar 110.000 m2 didukung oleh anchor tenant Sogo, Carrefour, Ace, Informa dan XXI.

 

 

Lebih lanjut Irene Tedja memaparkan laba bersih semester I tahun ini  meningkat tajam sebesar 89% menjadi Rp 374 miliar dibandingkan Rp 198 miliar pada periode yang sama tahun lalu. Seiring dengan peningkatan pendapatan PWON yang juga meningkat signifikan dari Rp 654 miliar menjadi Rp 1.049 miliar atau tumbuh 60%.

 

Peningkatan laba bersih maupun pendapatan PWON ditopang oleh melonjaknya  harga jual kondominium Casa Grande dan perkantoran 88 Kasablanka yang telah diakui sebagai penjualan,

peningkatan penjualan residensial di Pakuwon City, Surabaya, serta peningkatan pendapatan sewa dari pusat perbelanjaan Gandaria City.

 

Pakuwon Jati, adalah pemilik, pengelola dan pengembang properti yang tahun ini memasuki usianya yang ke 30 tahun. Perusahaan telah tercatat di BEI sejak 1989. Perseroan memiliki konsep bisnis yang terdiversifikasi melalui investment property, di mana Pakuwon mengembangkan, memiliki dan mengelola pusat perbelanjaan komersial, perkantoran dan hotel maupun property development, yang mengembangkan perkantoran dan kondominium strata-tittle serta pengembangan residensial berskala kota mandiri untuk dijual.

 

Superblok yang dimiliki Pakuwon Jati terdiri atas  Tunjungan City, Gandaria City dan  Kota Kasablanka. Sedangkan pengembangan residensial berskala kota mandiri adalah Pakuwon City di Surabaya Timur.

 

Perseroan yakin dengan iklim investasi yang positif di tahun 2012, didukung suku bunga yang rendah, inflasi yang terkendali serta terus tumbuhnya kelas menengah dan atas  akan terus mendorong permintaan.

 

Untuk terus memperkuat basis pertumbuhan PWON berencana melakukan ekspansi berupa pusat perbelanjaan Tunjungan Plaza V yang dilengkapi dengan gedung perkantoran (Pakuwon Center), kondominium (The Peak) serta pengembangan kondominium di Pakuwon City (Edu City).

                                                                                                             

Iklan

Agung Podomoro Rambah Hulu Hingga Hilir

Konglomerasi properti satu ini seakan tak pernah puas hanya membangun karya properti skala besar. Melalui PT Agung Podomoro Land Tbk (APLN), mereka secara agresif juga mulai merambah skala kecil dengan pangsa pasar menengah bawah yang direpresentasikan oleh pengembangan hotel. Jadi klasifikasi bisnis properti yang digarap, lengkap sudah; dari hulu sampai hilir.

Hingga dua tahun ke depan, mereka bakal membangun 1.700 kamar hotel di Jakarta dan Bali dengan klasifikasi bintang lima dan ekonomi. Penambahan kamar ini menggenapi 800 kamar dari empat hotel yang sudah beroperasi. Sehingga pada 2014 nanti mereka mengoleksi total 2.500 kamar hotel yang konstruksinya sudah dimulai dari sekarang. Jumlah kamar tersebut di luar kamar hotel bintang lima yang akan dikembangkan di proyek multifungsi terbaru mereka di Balikpapan, Kalimantan Timur.

Ada pun lokasi lahan untuk hotel-hotel anyar tersebut, berada di Pancoran, Jakarta Selatan, seluas 7.770 m2, Seminyak Bali seluas 4,5 Ha, dan Kelapa Gading, Jakarta Utara. Di Pancoran, mereka mengakuisisi lahan dengan nilai Rp130 miliar. Di sini kelas hotel yang bakal dioperasikan adalah Ibis Budget. Hotel ekonomis lainnya akan dibangun di Vimala Hills, Bogor Jawa Barat yang masih dalam proses rancangan dan Kelapa Gading yakni B n B Hotel dengan jumlah 100 kamar. Sehingga total budget hotel yang dibangun sebanyak 1.500 kamar.

Sementara di Seminyak, mereka berhasil mengambil alih 51% saham PT Bali Perkasa Sukses senilai Rp256 miliar. Jumlah kamar yang dibangun, rencananya sebanyak 450 unit plus hotel dan resort upscale JW Marriott Bali Resort. Menggenapi target 1.000 kamar untuk kelas bintang lima.

Digenjotnya pengembangan hotel dengan motivasi utama tingginya permintaan di seluruh wilayah Indonesia. Utamanya di Jakarta dan Bali sebagai destinasi teratas untuk bisnis dan pariwisata. Hal ini terindikasi dari catatan menggembirakan tingkat hunian dua hotel yang sudah beroperasi yakni Amaris dan Pullman di kawasan Podomoro City, Jakarta Barat.

Selain itu, dipicu juga oleh kinerja hotel yang berkontribusi 4,48% atau Rp103,9 miliar  terhadap total pendapatan selama separuh tahun 2012 yang sejumlah Rp2,31 triliun.

Tak hanya sektor hotel yang tengah mereka kerjakan. Dalam kurun waktu yang sama, APLN menunjukkan agresifitasnya dengan menebar proyek baru di beberapa kota. Di Karawang, Jawa Barat, misalnya, terdapat perumahan bertajuk Grand Taruma seluas 48 Ha. Dilengkapi water park, food junction dan fasilitas lainnya.

Kemudian Metro Park Residence di Kebon Jeruk, Jakarta. Ini merupakan apartemen berisi 1.200 unit. Dilanjutkan dengan Podomoro Extension SOHO sebanyak dua tower dan juga mall serta resort Vimala Hills seluas 80 Ha di Bogor, Jawa Barat.

Kepakan sayap usaha perusahaan ini juga sampai di Balikpapan, Kalimantan Timur dan Makassar, Sulawesi Selatan. Di Balikpapan, usai mengakuisisi 65% saham PT Pandega Citraniaga (PC) senilai Rp210 miliar, mereka secara marathon melakukan finalisasi desain atas mixed use development yang akan berdiri di lahan seluas 6 Ha tersebut.

Chief Executive Officer APLN, Trihatma Kusuma Haliman mengatakan, akuisisi tersebut merupakan strategi bisnis dalam memperluas jangkauan hegemoni APLN di sektor properti. “Ini merupakan salah satu langkah untuk memastikan bahwa bisnis perusahaan tetap bergulir,” imbuhnya.

Guna merealisasikan proyek multifungsi ini, dibutuhkan dana tak kurang dari Rp2 triliun yang masing-masing dialokasikan untuk pengembangan pusat belanja berkonsep life style center, hotel bintang lima, apartemen dan reklamasi lahan tambahan.

Sementara di Makassar, pengembangan dikonsentrasikan pada residensial tapak. Tahap awal seluas 12 Ha dari total ijin konsesi hingga 250 Ha. Tak ketinggalan Bandung yang terpilih sebagai salah satu kota tujuan bidikan investasi mereka. Di sini mereka akan mendirikan dua menara apartemen yang berlokasi di pusat pendidikan,  Ciumbuleuit.

Ada pun performa perusahaan selama separuh tahun ini sebagai berikut; penjualan dan pendapatan usaha meningkat 46,5% menjadi  Rp2.316,8 miliar dibanding periode yang sama tahun lalu yang hanya mencapai  Rp1.581,9 miliar. Podomoro City tertoreh sebagai kontributor terbesar, disusul Kuningan City, Green Bay Pluit dan Green Lake Sunter.

Peningkatan prestasi juga terjadi pada laba kotor perusahaan sebesar Rp987,7miliar. Tumbuh   62,4% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Hal serupa  juga terjadi pada marjin laba kotor sebanyak 42,6%, seiring dengan meningkatnya marjin laba kotor dari pendapatan berulang dan penjualan strata.

Laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk tumbuh s29,5% dari Rp 337,8 miliar  menjadi Rp 437,3.

Trihatma mengatakan, “Dengan terus berlanjutnya momentum pertumbuhan di semester pertama tahun 2012, kami yakin akan kembali dapat mencetak prestasi bahkan rekor yang lebih menggembirakan lagi. Kami mencatat marketing sales lebih dari Rp600 miliar pada bulan Juni lalu, sehingga secara kumulatif, total marketing sales sepanjang satu semester senilai Rp2,61triliun. Dengan performa yang baik ini, kami yakin dapat meningkatkan target menjadi Rp 4,6 triiun – 5,0 triliun dari Rp 4,2 triliun di tahun 2011.”

Dalam 10 (sepuluh) tahun terakhir, APLN telah menyelesaikan lebih dari 50 proyek properti, mayoritas ditujukan kepada segmen masyarakat kelas menengah, dengan kisaran projek mulai dari apartemen menengah bawah hingga kelas atas di bilangan Jakarta Selatan, pusat belanja, ruko, hotel dan gedung perkantoran.

Ciputra Kembangkan 7 Proyek Baru

 

Ekspansi strategis terus dilakukan Ciputra Group. Melalui PT Ciputra Development Tbk (CTRA), mereka membuka 7 proyek gress pada semester dua tahun ini. Di antaranya berlokasi di Semarang, Yogyakarta, Pangkal Pinang, Palu, Medan, Cirebon, dan Jambi.

Dikatakan Direktur PT Ciputra Development Tbk, Tulus Santoso, luas lahan proyek anyar tersebut 20-50 Ha. Sementara yang di Semarang, yakni CitralandBSB City, merupakan yang terbesar, yakni 100 Ha. Dan terbuka kemungkinan lahan yang dikembangkan lebih luas lagi. “Karena perumahan ini merupakan proyek kerjasama dengan skema joint venture,” ujarnya.

Ada pun kebutuhan modal kerja ketujuh proyek tersebut mencapai Rp350 miliar yang diambil dari internal cash perusahaan dan penjualan unit-unit rumah. Tulus optimis, penjualan ketujuh proyek tersebut sama bagusnya dengan portofolio eksisting.

“Kebutuhan hunian masih sangat tinggi dan belum terakomodasi maksimal. Ini peluang bagus untuk digarap serius. Rencananya, tahun depan juga kami akan meluncurkan perumahan baru lagi di beberapa kota lainnya yang baru kami masuki dan di kota-kota yang sudah terdapat asset kami,” imbuh Tulus.

Tak hanya proyek baru, di beberapa proyek eksisting, CTRA  akan melakukan penambahan atau perluasan lahan guna dibangun klaster-klaster baru. Seperti di Citra Bukit Indah (CBI), Balikpapan, Kalimantan Timur. Di perumahan yang berlokasi di Jl MT Haryono ini, akan dilakukan penambahan lahan seluas 5 Ha. Di sini dibangun klaster baru dengan harga lebih tinggi dari harga perdana pendahulunya.

Sementara untuk kinerja hingga Juni 2012, PT Ciputra Development Tbk selaku induk usaha mampu membukukan penjualan marketing (marketing sales)  senilai Rp3,057 miliar atau 47% dari target tahunan yang ditetapkan, yakni Rp6.404 miliar. Artinya, marketing sales ini mengalami lonjakan 50% dibanding tahun lalu yang hanya sebesar Rp1.535 miliar.

Dan selama kuartal kedua tahun 2012, pendapatan perusahaan juga menunjukkan catatan positif, bertambah Rp216 miliar menjadi Rp767 miliar, dari kuartal sebelumnya sebesar sebesar Rp551 miliar. Laba kotor juga meningkat, 31% dari Rp280 miliar menjadi Rp368 miliar. Begitu pula dengan laba bersih yang beranjak 9% dari Rp83 miliar mejadi Rp91 miliar.

Jika dikumulasikan selama setengah tahun pertama, CTRA sukses mencetak pendapatan sejumlah Rp1.318 miliar atau 42% lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun 2011 senilai  Rp927 miliar.

Lonjakan pendapatan ini berasal dari kenaikan penjualan bersih residensial Rp293 miliar dan pendapatan segmen komersial Rp98 miliar. Penjualan rumah dan ruko merupakan kontributor terbesar terhadap kenaikan penjualan bersih residensial dengan porsi Rp256 miliar atau tumbuh 50% dari periode sebelumnya Rp509 miliar.

Laba kotor dalam enam bulan pertama juga tumbuh 48% menjadi Rp648 miliar, dari Rp436. Sejalan dengan kenaikan volume penjualan produk residensial. Marjin laba kotor pada periode ini sebesar 49%, relatif stabil dibandingkan periode tahun lalu sebesar 47%. Sehinga, laba bersih CTRA naik 33% dari Rp130 miliar menjadi Rp174 miliar terhadap  target tahun 2012 sebesar Rp3.393 miliar.

Hingga saat ini Ciputra Group telah mengembangkan properti sebanyak  62 proyek yang tersebar di 29 kota di seluruh Indonesia dan 3 proyek di luar negeri yakni Hanoi, Kamboja dan Shenyang.