Berburu Keuntungan di Karawang

Tahbis Karawang sebagai lumbung padi Nasional, sepertinya mulai tergerus. Peradaban jaman yang dinamis, telah menciptakan Karawang sebagai kawasan “terbarukan”. Transformasi  dalam pusaran magma perubahan berlangsung cepat dan simultan. Karena itu pula wacana pemekaran wilayah dan status administrasi dari kabupaten menjadi kotamadya, mengemuka.

 

Menjadi sebuah kotamadya, tentu saja mensyaratkan kemajuan dalam berbagai aspek kehidupan seperti ekonomi, sosial, politik, budaya dan terpenting, kesejahteraan warga masyarakatnya. Dan  Karawang bukannya tertinggal di belakang, bahkan menorehkan pencapaian menggembirakan. Indeks pembangunan manusia (IPM) selalu  menunjukkan tren meningkat. Poin 66,96 pada 2006, tumbuh  menjadi  70,11 poin untuk 2010 dan 72,54 pada 2011.

Kenaikan itu disumbang oleh seluruh komponen pembentuk IPM, yakni angka harapan hidup (AHH); angka melek huruf (AMH) dan terutama indeks daya beli masyarakat dari Rp620.030 tahun 2006 menjadi Rp 631.200 tahun 2010 dan Rp640.500 pada tahun lalu. Laju pertumbuhan ekonominya, meski fluktuatif,  memberikan harapan positif.  Tahun lalu berada pada level 6,9% tumbuh dibanding tahun 2010 sebesar 5,82%.

Namun demikian, akan selalu ada dua postulat dalam realita kekinian. Pertama, data numerik itu secara jelas berpotensi terjadinya intensifikasi pada pengembangan sarana, infrastruktur , kawasan industri, perumahan dan fasilitas komersial lainnya untuk kepentingan komunal. Kedua, ada ruang pemahaman lazim yang kita sebut sebagai “korban pembangunan”. Yakni masifnya praktek konversi atas lahan produktif pertanian dan pangan.

Senyampang kondusifnya perekonomian, harus diakui Karawang telah lama diincar investor Nasional dan Multinasional. Teraktual, PT Nestle Indonesia. Mereka membangun pabrik baru senilai 200 juta dollar AS  dengan luas lahan 28,8 Ha di Karawang Timur. Tepatnya  di Kawasan Industri Surya Cipta. Menyusul PT Astra Honda Motor seluas 84 Ha di Kota Bukit Indah.

Penambahan ini berkontribusi terhadap meningkatnya jumlah industri  sebanyak 181 unit yang beroperasi di Karawang pada 2011. Menggenapi  9.763 unit dari tahun sebelumnya  9.582 unit dengan klasifikasi besar, sedang, makro dan mikro.

Termasuk di antaranya merupakan perusahaan Penanam Modal Asing (PMA) sebanyak  11 unit. Sehingga, total PMA yang beroperasi di kabupaten ini sebanyak  371 unit. Sementara  perusahaan penanaman modal dalam negeri (PMDN) bertambah 23 unit. Dengan demikian, sampai akhir tahun 2011 lalu mencapai 231 unit. Mendorong lonjakan nilai investasi menjadi Rp98,784 triliun.

Kawasan Industri Primadona

Selain  popular sebagai lumbung padi, identifikasi Karawang sebagai kawasan industri pilihan belum tergoyahkan. Kendati masih di bawah Bekasi, secara performa lahan terokupasi, Karawang mencuatkan keyakinan investor.

Laporan riset Colliers International menyebutkan, Karawang memimpin penjualan dengan 118,63 ha. Dimotori kawasan industri Kota Bukit Indah seluas  84 Ha,  Suryacipta 19,63 Ha dan Karawang International Industrial City 15 Ha. Disusul Bekasi, Cikande dan Cilegon.

Namun demikian, dikatakan Associate Director Research Colliers International, Ferry Salanto, tumbuhnya tingkat serapan kawasan industri Karawang berkolerasi erat dengan terbatasnya suplai di Bekasi. “Jadi, investor beralih ke Karawang yang masih menyisakan lahan lebih luas dari Bekasi,” ujarnya.

Mencorongnya kinerja kawasan industri Karawang juga terlihat dari lonjakan harga jualnya. Kuartal kedua mencapai 9% lebih tinggi dari periode yang sama tahun lalu dengan harga rata-rata sebesar 127,5 dolar AS/m2. Sementara Bekasi hanya 6,3% di posisi 175,1 dolar AS/m2. “Ketersediaan lahan siap bangun untuk kawasan industri  yang terbatas ini seharusnya merupakan peluang bagi para pengembang atau land owner untuk membuka KI baru. Hanya memang, membangun KI baru tidak semudah membangun perumahan atau properti lainnya,” ujar Ferry.

Kompleksitas pengembangan KI toh tak membuat Agung Podomoro Group menganulir rencana mereka. Dalam waktu dekat, mereka akan membuka 342 ha untuk KI. Menggenapi portofolio mereka usai membuka perumahan Grand Taruma pada 2011 lalu.

Grand Taruma Karawang sendiri merupakan perumahan lawas yang ditinggalkan pengembangnya dan kemudian diakuisisi  Agung Podomoro Group melalui PT Agung Podomoro Land Tbk (APLN) pada 2011. Pada masa akuisisi, sudah terdapat 100 kepala keluarga penghuni Gerbang Karawang yang awalnya hanya seluas 10 Ha.

 

APLN  kemudian menyalinnya menjadi Grand Taruma dengan ekstensi luas lahan sebesar 28 Ha. Dikatakan Direktur Marketing Agung Podomoro Group, Indra W Antono, Grand Taruma kemungkinan akan dikembangkan lagi dengan dimensi lahan jauh lebih luas dari hasil akuisisi.

 

“Melihat perkembangan yang ada, di mana permintaan akan hunian begitu kuat, kami berencana merancang Grand Taruma sebagai perumahan yang lengkap. Terintegrasi dengan kawasan komersial,” jelas Indra.

 

Segmen pasar yang dibidik pun diperlebar ceruknya. Tidak hanya karyawan yang bekerja di seluruh industri yang beroperasi di sini, juga pegawai negeri sipil dan para profesional yang berposisi middle level manager hingga pemuncak perusahaan.

 

Untuk itulah, saat ini APLN menggenjot pembangunan fisik fasilitas hunian. Di antaranya  waterpark, foodmall, pusat belanja dengan Carrefour sebagai anchor tenant, pusat olahraga dan club house serta taman dan kebun buah yang ada dalam setiap klaster.

 

Gran Taruma dipasarkan dalam berbagai tipe dengan jumlah total tahap I sebanyak 450 unit. Hingga saat ini sudah terjual sekitar 300-an dengan kisaran harga Rp250 juta-600 jutaan untuk varian satu lantai dan Rp450 juta-1 miliar untuk tipe dua lantai.

 

Angka tersebut adalah harga terbaru setelah mengalami kenaikan sekitar 10-15% dari tawaran perdana. Seiring dengan progres konstruksi fasilitas penunjang tersebut di atas, nilai properti perumahan ini diproyeksikan berubah lagi dengan pertumbuhan persentase moderat sekitar 20%.

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: