Raup Miliaran dari Rumah Masa Depan

Tak ada kawasan suburb Jakarta selengkap Karawang. Segala macam genre properti tersedia sebagai pilihan instrumen  investasi menjanjikan.  Mulai dari perumahan, hotel, flat, pusat belanja, kawasan industri, bahkan pemakaman pun eksis di sini.

Yang terakhir mengalami evolusi progresif mengingat tak sekadar kumpulan kuburan seukuran 2X1 meter. Namun dilengkapi dengan segala macam fasilitas yang dapat memanjakan para pentakziah. Sebut saja San Diego Hills yang dibesut Lippo Karawaci.

Pemakaman ini memang dirancang sangat khusus dan berbeda dari pemakaman konvensional. Ditujukan untuk mengikis persepsi “kelam” sebuah kuburan yang sarat dengan hal-hal irasional. Ia dilengkapi dengan taman, restoran, fasilitas rekreasi, wedding chapel, area komersial hingga penginapan.

Berada dalam area seluas 500 Ha, sejak diluncurkan perdana hingga saat ini, nilai jual lahan pekuburan ini meroket tajam. Paket tunggal (single) untuk muslim Rp37 juta (ukuran 1,5×26 m) dan non muslim Rp35 juta dengan (1,7×26 m). Untuk jasad penganut Budha, lebih mahal. Dibanderol Rp50 juta sedimensi 1,5×26 m. Sementara paket lain adalah paket pasangan yakni dalam satu kavling terdapat 2 lubang untuk jenazah. Ada lagi paket 9 lubang yang harganya disesuaikan dengan agama yang dipeluk.

Berbeda dengan rumah, pemakaman ini ditawarkan dengan model  pre need  dan at need. Yang pertama, ibarat investasi, pembeli memesan lahan kuburan lebih dulu untuk digunakan nanti pada saat anggota keluarga atau bahkan pemesannya meninggal. Sedangkan at need, dibeli pada saat dibutuhkan.

Skim pembeliannya serupa dengan unit-unit rumah, yakni kontan bertahap tanpa bunga selama 12 bulan atau 24 bulan dengan konsekuensi dikenakan bunga sebesar  15%.  Strategi San Diego Hills agar jualan mereka laku adalah menjalin kerjasama dengan beberapa rumah duka. Di antaranya dengan Rumah Sakit Siloam yang kebetulan satu grup perusahaan.

San Diego Hills dijual secara strata title, dengan keistimewaan pemesan yang membeli kavling kuburan tidak akan dikenakan biaya ekstra untuk perawatan makam sejak pertama dibeli hingga digunakan kemudian. Semua ditanggung oleh pengelola makam. Ada pun lahan yang sudah dikembangkan seluas 200 Ha, dengan tingkat okupnasi 60% dari total pemesanan.

Di belahan wilayah lainnya, mengekori sukses Lippo Karawaci, Al Azhar membuka pemakaman serupa. Ditawarkan beberapa tipe kuburan laiknya rumah tapak. Yakni tipe tunggal ukuran 1,5×3 m yang dipatok senilai Rp21 juta, double ukuran 3,5×3,9 m seharga Rp72 juta dan tipe family untuk 4 jenazah seharga Rp199 juta (3,5×7,5). Ada juga tipe keluarga /kerabat  yaitu model 10 lubang dengan syarat ke-10 orang yang nanti akan dimakamkan itu harus punya relasi erat, entah itu keluarga, kerabat, organisasi atau hubungan lain yang nantinya bisa dikelola dalam satu pengurusan. Untuk yang ini harganya per kavling hanya Rp17,6 juta. Hampir sama dengan San Diego Hills, Al-Azhar pun dijual secara strata title.

Saat ini luas area  Al Azhar 2,5 Ha dengan komposisi 60% untuk lahan pemakaman dan 40% untuk fasilitas taman lingkungan, jalan setapak yang memudahkan pengunjung mengunjungi makam  tanpa menginjak makam (sesuai dengan syariat Islam), gazebo, toilet, dan mesjid. Tingkat keterisian pemakaman Al Azhar ini sudah mencapai 40%.

Bisnis pemakaman ini dinilai sebagai cara jitu membaca preferensi pasar sekaligus tren bisnis masa depan. Dalam nomenklatur umum, pemakaman semestinya merupakan tanggung jawab pemerintah kota/kabupaten sebagai pelayanan sosial kepada warganya. Namun, karena aroma fulus terlalu kuat untuk tak diendus, ia berubah menjadi profit center para pengembang.

Bayangkan, populasi rakyat Indonesia saat ini sudah 235 juta jiwa. Itu artinya kebutuhan akan lahan kuburan linear dengan jumlah tersebut. Tentu dengan spesifikasi dan luasan berbeda sesuai dengan permintaan “calon jenazah”. Jelas, dengan captive market seperti ini, tak hanya sembilan digit yang diprediksi bakal masuk ke kantong pengembang. Bisa membengkak hingga puluhan triliun rupiah seiring dengan kenaikan harga lahan dengan nilai paling logis sekalipun.

Namun, ada hal esesnsial yang perlu dikritisi. Ketika para pengembang ramai-ramai menggauli bisnis rumah masa depan ini, adalah diabaikannya tanggung jawab mereka membangun fasilitas sosial (pemakaman) untuk warga penghuni dalam perumahan yang mereka bangun. Potensi ke arah pengabaian ini memang sudah mulai menggejala.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: