2015, Riyadh Group Indonesia Melantai di Bursa

Sebuah pencapaian. Itulah yang dialami dan tengah dirintis Riyadh Group Indonesia. Usai menancapkan taji di kota Padang dan beberapa daerah di Sumatera Barat, pengembang ini  menorehkan jejak ke berbagai daerah di seluruh Indonesia. Jenis properti yang digarap pun semakin beragam, tak hanya perumahan landed house juga hunian vertikal dan beberapa ruang komersial.

Di Jakarta, Riyadh Group Indonesia melalui anak usahanya PT Graha Rayhan Tri Putra menggarap Pancoran Riverside. Tak main-main, mereka merogoh kocek hampir senilai Rp1 triliun guna merealisasikan portofolio vertikal perdananya yang berlokasi di kawasan Kalibata, Jakarta Selatan.  Di atas lahan seluas 5 Ha, rencananya akan dibangun 7 menara apartemen yang dengan total 3.600 unit, yang meliputi 3.200 unit rusun dan sisanya apartemen komersial. ”Semula seluruh unit dijadikan rusun, tetapi masyarakat minta kualitasnya ditingkatkan, sehingga kami menyediakan yang komersial juga,” kata Bally Saputra,  Chief Executive Officer (CEO)Riyadh Group Indonesia.

Hingga saat ini penjualan menara  I  Pancoran Riverside sudah 85% dan 65% menara II. Sementara menara III telah terserap 35% dari total unit yang ditawarkan. Ada pun prores konstruksi untuk dua menara pertama sudah topping off dan menara ketiga memasuki fase pengecoran pondasi. Direncanakan serah terima kunci secara bertahap akan dimulai Februari 2013.  Apartemen komersialnya sendiri akan menjadi bagian dari empat menara terakhir dan mulai dipasarkan akhir tahun ini. Harga per unit rusun tersebut sesuai dengan ketentuan Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP), yaitu di bawah Rp216 juta. Sedangkan per unit komersialnya dibanderol antara Rp300 juta-Rp 500 juta.

Seraya menyelesaikan Pancoran Riverside, Riyadh Group Indonesia siap meluncurkan beberapa proyek baru. Di antaranya properti yang berkolerasi erat dengan industri pariwisata yakni hotel dan kondotel.  ”Kami membidik properti ini karena melihat pariwisata termasuk sebagai salah satu industri pendorong perekonomian. Di beberapa kota besar di dunia yang sangat pesat perekonomiannya, industri pariwisata menjadi pilar  utama. Indonesia sebagai segara yang kaya akan budaya dan obyek pariwisata semestinya memiliki properti yang juga representatif sebagai pilar pendukungnya. Dan jika itu dikembangkan dengan sinergis, maka Indonesia tak akan menjadi pilihan alternatif, sebaliknya justru menjadi pilihan utama,” papar Bally.

Tak hanya hotel dan kondotel, mereka juga tengah mempersiapkan perusahaan pengelola  perhotelan. Nantinya, perusahaan pengelola perhotelan ini akan diberi nama Bally International Management Hotel. Demi profesionalisme dan terciptanya kualitas pelayanan, mereka serius menggandeng Nasional Hotel Institute (NHI) Bandung yang popular telah mencetak para profesional industri pariwisata dan perhotelan Indonesia. Target operator ini mengelola hotel di dua pasar berbeda, domestik dan internasional. ”Salah satu tugas utama dari perusahaan properti adalah kemampuan berinovasi sesuai dengan kebutuhan masyarakat yang terus berubah sesuai perkembangan zaman,” ujar Bally.

Proyek pertama Riyadh Group Indonesia di industri pariwisata adalah hotel bintang tiga di kawasan Gadog, Puncak, Bogor, Jawa Barat seluas 1 Ha berkapasitas 100 kamar. Kemudian, kondotel di jalur lintas Padang–Bukittinggi, Sumatera Barat sebanyak 200 kamar yang pembangunannya akan dimulai September tahun ini dan ditargetkan selesai pada akhir tahun 2013. Investasi untuk membangun kondotel ini sebesar Rp120 miliar. Kondotel seluas 40 m2 dipasarkan seharga Rp650 jutaan, atau sekitar Rp15 juta per m2. Riyadh Group Indonesia menggaransi Return On Investment (ROI)  sekitar 24% dalam jangka waktu 3 tahun pertama beroperasi.

Proyek ketiga di jantung kota Bukittingi, Sumatera Barat.  Rencananya di atas lahan seluas 1.000 m2 akan dibangun hotel ekonomis bernama Rock’s Hotel dengan investasi sebesar Rp25 miliar. “Kami juga menyiapkan Rock’s Hotel di menara II Pancoran Riverside yang terdiri atas 44 kamar. Hotel ini nanti akan menjadi tempat pelatihan untuk calon karyawan Bally International Management Hotel,” ungkapnya. Proyek keempat, kondotel di Jl Ngurah Rai, Bali, berisi 150 kamar yang dibangun di atas lahan seluas 3.000 m2 dan akan dijual Rp750 juta/unit.

Riyadh Group Indonesia juga akan menggarap proyek fenomenal di Batam pada tahun 2014 mendatang. Rencananya di atas lahan seluas 600 Ha akan dikembangkan kondotel, vila, resort, hotel, 2 lapangan golf 36 holes, rumah sakit bertaraf internasional yang bekerjasama dengan Jepang dan Singapura. Proyek terbesar ini diperkirakan akan menelan investasi sampai tahun 2015 sebesar Rp5 triliun. ”Saat ini kami tengah melakukan negoisasi dengan para investor dan beberapa perbankan terkemuka,” ungkap Bally.

Untuk meluaskan pengaruh dan mengguritakan bisnisnya, rencananya mereka juga akan go public dan melantai di Bursa Efek Indonesia pada tahun 2015 mendatang. ”Tentu rencana itu membutuhkan persiapan yang matang. Kami tidak ingin main-main ketika kami telah menjadi perusahaan terbuka,” ujarnya seraya meyakinkan bahwa industri properti di Indonesia akan terus bergerak positif, sekalipun di belahan wilayah lainnya tengah terkena krisis. Indonesia tetap akan bisa bertahan dan menjadi kekuatan baru yang disegani di tingkat kompetisi Asia Pasifik.

 

 

 

 

 

 

Yuniar S

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: