Open Air Mall Mendominasi

“As a shopper, your basic need don’t change. But your behavior is dependent on around you –Piers Fawkes”

Kurun lima tahun terakhir, banyak dibangun dan beroperasi pusat-pusat belanja berkonsep lifestyle mall dengan penekanan pada tenan food and beverage. Kendati embrionya sudah lahir sejak 2003 silam, ditandai dengan kehadiran Cilandak Town Square. Bak cendawan di musim hujan, tumbuh mal-mal bergenre gaya hidup. Sebut saja, Living World Alam Sutera, Kuningan City, Pluit Junction, Bogor Junction, Teras Kota BSD, Surabaya Townsquare, Epicentrum Walk, E-walk  Balikpapan, Cambridge Mall Medan, Trans Studio Mall Makassar, Cihampelas Walk Bandung dan sebagainya.

Apa yang memotivasi menjamurnya pusat belanja gaya hidup tersebut? Tak bukan adalah pergeseran perilaku konsumsi yang menjadi penggerak utamanya. Sebagai pembelanja, kebutuhan dasar  tak akan berubah. Akan tetapi, perilaku dalam berbelanja, sangat dipengaruhi oleh lingkungan sekitar. Perilaku tersebut menyangkut keinginan untuk diakui dan diterima. Dan itu direpresentasikan dengan mengakomodasi segala macam ‘keinginan’. Mulai dari fashion, makanan, gadget, film, musik, dan lain sebagainya. Dan ‘keinginan’ tersebut seiring dengan pengaruh lingkungan tadi, bertransformasi menjadi kebutuhan.  Ya, kebutuhan to see and to be seen, kebutuhan untuk eksis, kebutuhan untuk diakui dan diterima (bersosialisasi) oleh masyarakat, minimal oleh komunitasnya.

Perilaku konsumsi semakin “menggila” tatkala dipertemukan dengan hal-hal atau pengalaman baru.  Dan mal dinilai sebagai salah satu media yang tepat untuk menyalurkan perilaku tersebut. Sehingga dalam kekiniannya, fungsi mal tak lagi sebagai belaka tempat belanja, juga leisure destination. Untuk masyarakat Indonesia, khususnya kalangan kelas menengah, menghabiskan waktu di mal sudah menjadi kebiasaan. Karena, apa pun bisa dilakukan di sini. Mulai dari meeting, kencan, nonton, olahraga, rekreasi, sampai makan. Ini hal yang menarik.

Riset BNI Consumer Banking 2012 memperlihatkan realitas mencengangkan. Peta middle class consumption behavior menunjukkan sebanyak 41,7% membelanjakan uangnya untuk makanan dan minuman non alkohol. Ini bukan semata belanja bahan makanan pokok untuk kemudian dimasak sendiri. Juga belanja makanan di restoran atau tempat makan di luar rumah. Berikutnya, 17,2% adalah rumah, 7,3% produk rumah tangga, 5,8% hotel dan catering, 5,2% alkohol dan rokok, 3,6% pakaian dan sepatu, 3,6% kendaraan, sisanya produk kesehatan dan peralatan komunikasi.

Jadi, amat galib jika pada akhirnya yang akan mendominasi tahun-tahun ke depan, seiring pertumbuhan kelas menengah adalah pusat belanja berkonsep gaya hidup dengan konsentrasi pada food and beverage serta entertainment.  Yang terakhir ini, menurut CEO Leads Property Service Indonesia, Hendra Hartono, dapat berupa sinema/bioskop, teater mini untuk pertunjukan musik,atau bahkan arena bermain (game center) dan juga pusat kebugaran.“Yang akan mendominasi tahun-tahun mendatang  adalah pusat belanja gaya hidup. Selain itu, terdapat diferensiasi mencolok pada gaya arsitektural. Jika tahun-tahun sebelumnya berupa gedung tertutup (konvensional), kini mengadopsi gaya outdoor. Istilahnya open air mall. Di beberapa Negara maju, konsep lifestyle open air mall sedang hits,” ujarnya.

 

Sinarmas Land bahkan sampai harus menunda realisasi pengembangan The Breeze yang sedianya beroperasi tahun ini. Konsep mal terbaru yang akan dibangun di commercial belt BSD City seluas 53.000 m2, itu menurut Ishak Chandra,  Managing Director Corporate Secretary & Services Sinar Mas Land, sudah tidak sesuai dengan tren terkini.

“Butuh penyesuaian dalam beberapa hal termasuk nantinya akan diperbanyak open space-nya. Walau pun secara benang merah, tetap berkonsentrasi pada mal gaya hidup dan hiburan,” imbuhnya seraya mengatakan, tiang pancang dilakukan bulan ini dan akan beroperasi tahun depan.

Agung Podomoro Group, melalui Agung Podomoro Land Tbk (APLN) juga akan mempersembahkan pusat-pusat belanja baru khusus lifestyle and entertainment mall di Bali dan Balikpapan, Kalimantan Timur. Proporsi tenan F and B serta hiburan sebanyak 60% dibanding fashion apparel 40%. Di kedua tempat itu, mereka anggap cocok dikembangkan konsep lifestyle and entertainment mall. Karena, menurut Vice President Director PT Agung Podomoro Land Tbk, Indra Wijaya, hang out atau sekadar makan di luar rumah tak lagi menjadi pilihan praktis. Melainkan sudah menjadi kebiasaan. Bahkan trennya terus meningkat. “Kalangan menengah yang jumlahnya terus melonjak semakin merangsang peritel hiburan dan makanan untuk berekspansi. Kami sudah mengantongi beberapa peritel makanan popular baik lokal maupun asing untuk membuka gerai di dua pusat belanja baru yang kami kembangkan,” ujarnya.

Dan sesuai dengan tren yang diprediksi bakal juga berkembang di Indonesia, APLN merancang kedua mal barunya itu sebagai lifestyle mall dengan alokasi ruang terbuka lebih besar. “Selain ingin menjadi trend setter di lokasi di mana mal tersebut dikembangkan, kami sesuaikan juga dengan kondisi alam setempat. Di Balikpapan, lokasinya menghadap laut, jadi tenan-tenan khususnya makanan dan minuman kami arahkan untuk memanfaatkan pemandangan laut. Atau kalau pun tidak menghadap laut, minimal open air untuk seating area-nya. Inilah suasana alfresco dining yang kami tawarkan. Sambil makan, pengunjung sekaligus dapat menikmati pertunjukan musik hidup,” jelas Direktur Marketing Group Agung Podomoro, Indra W Antono.

Land Owner’s Market

Sementara Bakrieland Development Tbk, melalui Bakrie Pangripta Loka membesut lifestyle mall bertajuk Sentra Timur Walk  di Sentra Timur Superblok, Pulo Gebang, Jakarta Timur. Dikatakan Business Development Director PT Bakrie Pangripta Loka, Djafarullah, pusat belanjayang akan dibangun seluas 19.000 m2. Tak begitu besar, memang. Namun, untuk mal berkonsep seperti ini, luas bangunan sebesar itu sangat akomodatif. Konstruksinya sendiri dimulai awal 2013.

“Kami memutuskan membangunnya dengan pertimbangan mal jenis inilah yang sesuai dan dibutuhkan oleh para penghuni apartemen Sentra Timur Residence. Bukan mal konvensional dengan luasan besar berikut fashion apparel  yang mendominasi. Yang seperti ini sudah ada di sekitar lingkungan Sentra Timur Superblock. Jadi akan sia-sia compete di ceruk pasar sejenis,” papar Djafar.

Walhasil, sebelum mal ini resmi dirilis, ada beberapa peritel makanan dan hiburan popular termasuk hipermarket, aku Djafar, yang telah mengajukan diri menjadi tenan pengisinya.  “Bahkan, ada yang meminta stand alone dan ruang lebih besar dari yang kami sediakan. Ini mengindikasikan bahwa memang, lifestyle mall akan terus diminati oleh para peritel,” imbuhnya.

Serupa yang diakui Indra W Antono, The Plaza Balikpapan juga sangat diminati peritel, khususnya makanan dan minuman. Hingga saat ini, tercatat lebih kurang 40 peritel yang sudah mengajukan proposal.

Sementara The Breeze, kendati mengalami pemunduran jadwal pembangunan, tak membuat calon tenannya hengkang. Bahkan, aku Ishak, justru kian bertambah. Padahal, pra kondisi ditentukan oleh Sinarmas Land. “Kami memiliki otoritas penuh atas jenis tenan, bagaimana tampilan gerainya, dan seperti apa kualitas pelayanannya. Kami menentukan semuanya, agar sesuai dengan konsep dan standar kualitas pusat belanja yang kami bangun,” tandasnya.

Membaca fenomena tersebut, bisa disimpulkan bahwa saat ini merupakan masa-masa land owner’s market. Sebuah kondisi di mana pemilik/pengembang dapat menyeleksi atau bahkan menentukan sendiri peritel yang akan mengisi pusat belanjanya. Seiring dengan terbatasnya pasok pusat belanja pada 2012, sementara di sisi lain perusahaan ritel justru sedang gencar melakukan ekspansi. Sebut saja PT Matahari Department Store Tbk yang tahun ini akan membuka 15 gerai barunya di seluruh Indonesia. PT Fast Food Indonesia Tbk pemegang tunggal hak waralaba KFC, lebih agresif lagi. Mereka berencana mengoperasikan 30 gerai lagi. Sedangkan PT Mitra Adi Perkasa Tbk, akan menambah 7 gerai Starbucks.

Jadi, inilah momentum yang tepat bagi pengembang untuk membangun pusat belanja berkonsep spesifik dan jelas dengan target pasar yang juga sesuai. Jika pun membangun pusat belanja konvensional mestilah diperhitungkan fisibilitasnya. Kendati banyak peritel yang melakukan ekspansi bahkan beberapa di antaranya membawa brand baru asal mancanegara, bukan berarti bisa dengan mudah menggaet mereka.

Begitu pula halnya dengan pusat belanja lawas. Inilah saat mereka untuk melakukan “permak” secara fisik gedung bangunan ataupun upgrading konsep dan kelas. Kesempatan sangat terbuka luas untuk mereka menggandeng tenan-tenan baru dengan kelas lebih tinggi. Mengapa demikian, sebab, pasok pusat belanja baru saat ini, menurut hasil riset Cushman and Wakefield hanya sekitar 318.400 m2  hingga akhir tahun 2012. Diprediksi defisit bila harus mengakomodasi aksi ekspansi para peritel.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: