Best Western Mahakam View, Pertaruhan Pengembang Pusat dan Daerah

Dalam perspektif bisnis dan industri properti di Indonesia, kondotel bukanlah sesuatu yang asing. Hanya saja, pergerakan signifikannya  baru terasa tiga tahun terakhir. Ditandai dengan pengembangan kondotel yang terdistribusi  ke daerah-daerah yang sebelumnya tak termasuk pilihan utama untuk investasi properti.

Sebut saja Solo, Semarang, Palembang, Makassar dan Samarinda. Kota yang disebut terakhir ini, bahkan sempat diemohi pengembang Nasional selama beberapa dekade. Namun, seiring dengan memuncaknya bisnis komoditas sumber daya alam dan pertambangan seperti kelapa sawit, batu bara, minyak dan gas bumi, ia menjadi kekuatan baru perekonomian Nasional. Sebagai ibukota provinsi Kalimantan timur, Samarinda menyimpan potensi yang sejatinya mampu mendorong sektor properti lebih bergairah.

Ada beberapa alasan untuk tidak melupakan kota ini sebagai destinasi investasi menjanjikan. Pertama, densitas populasi yang mencapai 726.223 jiwa, 60% di antaranya terkonsnetrasi di pusat kota. Kedua, laju pertumbuhan ekonomi yang cukup positif, 5,16% sampai akhir tahun lalu, serta meningkatnya daya beli. Peluang itu kemudian dimanfaatkan oleh  PT Mahakam Sinergy Development dengan mengembangkan kondotel bertajuk Best Western Mahakam View. ”Ini pertaruhan pertama dan kami berharap dapat sukses menyulap peluang menjadi sumber keuntungan,” ujar Boysanda T. Lumelle, President Director PT Mahakam Sinergy Development.

Kondotel pertama di Kota Samarinda ini terletak di perumahan Elite Pesona Mahakam Samarinda. Dibangun di atas tanah seluas 11.865 m2, memiliki tiga tower dengan ketinggian 12 lantai. Merangkum 309 unit dengan variasi kamar mulai dari 1 – 3 kamar tidur. ”Kondotel ini didesain memadukan budaya tradisional, modern dan unsur tropis dengan pemandangan menghadap ke sungai Mahakam yang sangat popular  di Samarinda,” papar Boysanda.

Berbagi fasilitas pendukung akan melengkapinya antara lain kolam renang, taman bermain, pusat kebugaran, litas lari, sun deck, roof top garden, bar, kafe dan restoran, kebun untuk acara pesta pernikahan, mini market, laundry, CCTV, security 24 jam, meeting room dan layanan internet. Dengan investasi sebesar Rp104 miliar, rencananya Best Western Mahakam View akan dioperasikan mulai pertengahan tahun 2013 mendatang. Unit kondotel seharga Rp17,5 juta/m2 ini ditawarkan dengan rental guarantee sebesar 25% untuk dua tahun pertama. Selain itu, investor juga mendapatkan free stay selama 30 hari.

“Saat ini sudah terjual 87 unit. Pembeli sebagian besar berasal dari Kalimantan Timur seperti Balikpapan dan Samarinda. Kami juga menawari investor lain di luar Kalimantan Timur seperti Jakarta, Bandung dan Surabaya. Kami perkirakan investasi akan kembali dalam waktu 7-8 tahun,” ungkap Boysanda.

Sinergi Pusat dan Daerah

Kendati segala indikator pendukung sangat positif untuk dijadikan sebagai landasan keputusan berinvestasi, jangan dilupakan pula preferensi pasar. Apakah pasar, khususnya kelas menengah yang diincar, ini memang memiliki ekspektasi tinggi terhadap Best Western Mahakam View sebagai instrumen investasi mereka? Dengan iming-iming rental guarantee yang terbilang besar dan berani, bahkan bila dibandingkan dengan kondotel sekelas di Bali yang hanya sanggup memberikan sekitar 20% selama 2 tahun pertama? Apakah memang pasarnya sudah teruji secara alamiah dalam arti realitas pasar sangat tergantung pada supply and demand riil dan bukan supply and demand potensial semata?

 

Corporate Director of Sales Best Western International Bina Sembiring, punya jawabanya. Pertama, ia dibangun di kawasan potensial secara ekonomi yakni Samarinda yang merupakan kota berpenduduk terbesar di seluruh Kalimantan. ”Saat ini belum ada hotel bintang empat baru. Sementara hotel yang ada, tingkat huniannya sudah sangat tinggi,” ujarnya.

Kedua, kondotel ini diklaim sebagai persembahan pengembang tepercaya. “PT Mahakam Sinergy Development merupakan sinergi pengembang daerah dan pusat. Kerjasama dengan pengembang daerah dalam bentuk share kepemilikan saham. Dalam menggarap proyek ini, para pengembang anggota REI juga menggandeng PT Hutama Karya,” papar Setyo Maharso, Komisaris Utama PT Mahakam Sinergy Development yang saat ini juga menjadi Ketua Umum DPP REI.

Lebih lanjut Maharso mengatakan Best Western Mahakam View ini merupakan proyek percontohan bagi DPD lainnya. Setelah ini, DPP REI akan menggandeng pengembang provinsi Riau untuk membangun landed house. “Ini merupakan bentuk upaya REI menasionalisasi  pengembang daerah,” ucap Maharso. Dengan dukungan pengembang besar, setidaknya bisa menjadi jaminan Best Western Mahakam View akan selesai dibangun.

Ketiga, dikelola operator kelas dunia yakni Best Western International yang diakui di 100 negara dan telah mengelola 4.100  hotel di seluruh dunia. “Kami menargetkan tahun pertama tingkat hunian mencapai 60%-70%,” ujar Bina seraya mengatakan tarif menginap per malam di atas Rp700 ribu untuk unit 1 kamar tidur.

Namun begitu,  Tony Eddy, Chairman Tony Eddy & Associates (Tea) yang banyak memasarkan kondotel di Bali mengingatkan kepada pembeli untuk selalu berhati-hati dan teliti. “Saat membeli properti yang belum jadi seperti kondotel, keputusan tidak hanya berdasarkan bagusnya servis broker atau marketignya. Pastikan pembeli juga mengenal siapa pengembangnya, bagaimana reputasi dan komitmennya, serta lebih lagi  konsep dan lokasinya dan bagaimana proyeksi investasi ke depannya,” ujar Tony.

Membeli kondotel tidaklah serupa dengan apartemen strata title. Pembeli harus jelas-jelas melakukan kalkulasi atas investasi yang dibenamkannya. Bagaimana perhitungan dan estimasi balik modal dari harga sewa unit kondotel per malam. Angka logis saja tidak cukup, harus fair dan disepakati kedua belah pihak (pembeli dan operator). “Beli kondotel kan untuk investasi. Kalau investasi itu yang paling penting kapan balik modal dan berapa return on investment-ROI-nya. Dan juga dibangun tepat waktu serta dikelola dengan baik atau tidak. Kalau rugi terus dan tidak dikelola dengan baik, ngapain punya kondotel seumur-umur. Kan itu artinya rugi dan sengsara seumur-umur,” ujar Tony Eddy mengingatkan.

Nah, apakah Best Western Mahakam view ini laik dilirik atau tidak? Dibutuhkan kecerdasan dan rasionalitas dalam memahami dinamika pasar dan perhitungan detil elemen-elemen investasi.

Iklan

PHM Targetkan 28 Hotel Hingga 2015

Panorama Group, melalui sayap bisnis akomodasi PHM Hospitality berencana mengembangkan 28 hotel hingga 2015 mendatang. Dikatakan Managing Director PHM Hospitality Kristian Kuntadi, rencana besar tersebut tak lepas untuk mengantisipasi booming-nya industri pariwisata dan melonjaknya jumlah business traveler.

Selain itu, lanjut Kuntadi, fasilitas akomodasi secara otomatis menjadi sangat dibutuhkan ketika jumlah wisatawan baik domestik maupun mancanegara mengalami lonjakan di berbagai kota. Tak hanya di kota-kota yang secara tradisi memiliki keunggulan sebagai destinasi wisata, juga di kota-kota yang baru berkembang.

“Kami menangkap peluang itu karena ceruk pasarnya luas. Sebagai awal mengakomodasi tuntutan pasar, kami membangun BnB urban budget hotel di Kelapa Gading, Jakarta Utara.  Kami mengelola portofolio milik Agung Podomoro Land. Ini penginapan murah tapi tidak murahan. Kami menawarkan pengalaman dan suasana baru menginap di sebuah hotel ekonomis. Untuk itu, harganya pun tak bisa dibilang murah sekitar Rp399 ribu++ per malam,” jelas Kuntadi.

Nah, sampai tiga tahun mendatang, pihaknya akan mengembangkan 28 hotel baru. Sepuluh di antaranya merupakan hotel berklasifikasi bintang tiga dengan brand The 101. Mereka akan bangun di Bali, Surabaya, Yogyakarta, Bandung, Bogor, Jakarta, Palembang, Lampung, Makassar, dan Samarinda.

Sementara BnB Hotel yang bisa juga disebut hotel bread and breakfast yang setara bintang dua akan tersebar di Jakarta, Surabaya, Yogyakarta, Bandung, Semarang, Medan, Lampung, Makassar, Manado, Palembang, Samarinda, Pekanbaru, Bogor, dan 2 di Bali.

Untuk The Haven, PHM Hospitality mengincar dua hotel baru di Bali dan satu di Bandung. Selain bangun baru, PHM Hospitality juga menambah jumlah kamar The Haven Seminyak sejumlah 105 kamar. “Kami mengakomodasi kebutuhan yang kian hari semakin meningkat. occupancy rate The Haven mencapai 200% saat akhir pekan,” buka Kuntadi.

Ada pun jumlah kamar untuk hotel-hotel tersebut sekitar 150-170 unit dengan nilai investasi diperkirakan mencapai Rp50 miliar-80 miliar untuk hotel ekonomis, Rp100 miliar-150 miliar untuk The 101 dan Rp200 miliar-250 miliar untuk The Haven.

Di antara 28 hotel baru tersebut, beberapa di antaranya merupakan joint venture antara PHM Hospitality dan pengembang, mengelola portofolio pengembang dan sisanya milik sendiri.

Raup Miliaran dari Rumah Masa Depan

Tak ada kawasan suburb Jakarta selengkap Karawang. Segala macam genre properti tersedia sebagai pilihan instrumen  investasi menjanjikan.  Mulai dari perumahan, hotel, flat, pusat belanja, kawasan industri, bahkan pemakaman pun eksis di sini.

Yang terakhir mengalami evolusi progresif mengingat tak sekadar kumpulan kuburan seukuran 2X1 meter. Namun dilengkapi dengan segala macam fasilitas yang dapat memanjakan para pentakziah. Sebut saja San Diego Hills yang dibesut Lippo Karawaci.

Pemakaman ini memang dirancang sangat khusus dan berbeda dari pemakaman konvensional. Ditujukan untuk mengikis persepsi “kelam” sebuah kuburan yang sarat dengan hal-hal irasional. Ia dilengkapi dengan taman, restoran, fasilitas rekreasi, wedding chapel, area komersial hingga penginapan.

Berada dalam area seluas 500 Ha, sejak diluncurkan perdana hingga saat ini, nilai jual lahan pekuburan ini meroket tajam. Paket tunggal (single) untuk muslim Rp37 juta (ukuran 1,5×26 m) dan non muslim Rp35 juta dengan (1,7×26 m). Untuk jasad penganut Budha, lebih mahal. Dibanderol Rp50 juta sedimensi 1,5×26 m. Sementara paket lain adalah paket pasangan yakni dalam satu kavling terdapat 2 lubang untuk jenazah. Ada lagi paket 9 lubang yang harganya disesuaikan dengan agama yang dipeluk.

Berbeda dengan rumah, pemakaman ini ditawarkan dengan model  pre need  dan at need. Yang pertama, ibarat investasi, pembeli memesan lahan kuburan lebih dulu untuk digunakan nanti pada saat anggota keluarga atau bahkan pemesannya meninggal. Sedangkan at need, dibeli pada saat dibutuhkan.

Skim pembeliannya serupa dengan unit-unit rumah, yakni kontan bertahap tanpa bunga selama 12 bulan atau 24 bulan dengan konsekuensi dikenakan bunga sebesar  15%.  Strategi San Diego Hills agar jualan mereka laku adalah menjalin kerjasama dengan beberapa rumah duka. Di antaranya dengan Rumah Sakit Siloam yang kebetulan satu grup perusahaan.

San Diego Hills dijual secara strata title, dengan keistimewaan pemesan yang membeli kavling kuburan tidak akan dikenakan biaya ekstra untuk perawatan makam sejak pertama dibeli hingga digunakan kemudian. Semua ditanggung oleh pengelola makam. Ada pun lahan yang sudah dikembangkan seluas 200 Ha, dengan tingkat okupnasi 60% dari total pemesanan.

Di belahan wilayah lainnya, mengekori sukses Lippo Karawaci, Al Azhar membuka pemakaman serupa. Ditawarkan beberapa tipe kuburan laiknya rumah tapak. Yakni tipe tunggal ukuran 1,5×3 m yang dipatok senilai Rp21 juta, double ukuran 3,5×3,9 m seharga Rp72 juta dan tipe family untuk 4 jenazah seharga Rp199 juta (3,5×7,5). Ada juga tipe keluarga /kerabat  yaitu model 10 lubang dengan syarat ke-10 orang yang nanti akan dimakamkan itu harus punya relasi erat, entah itu keluarga, kerabat, organisasi atau hubungan lain yang nantinya bisa dikelola dalam satu pengurusan. Untuk yang ini harganya per kavling hanya Rp17,6 juta. Hampir sama dengan San Diego Hills, Al-Azhar pun dijual secara strata title.

Saat ini luas area  Al Azhar 2,5 Ha dengan komposisi 60% untuk lahan pemakaman dan 40% untuk fasilitas taman lingkungan, jalan setapak yang memudahkan pengunjung mengunjungi makam  tanpa menginjak makam (sesuai dengan syariat Islam), gazebo, toilet, dan mesjid. Tingkat keterisian pemakaman Al Azhar ini sudah mencapai 40%.

Bisnis pemakaman ini dinilai sebagai cara jitu membaca preferensi pasar sekaligus tren bisnis masa depan. Dalam nomenklatur umum, pemakaman semestinya merupakan tanggung jawab pemerintah kota/kabupaten sebagai pelayanan sosial kepada warganya. Namun, karena aroma fulus terlalu kuat untuk tak diendus, ia berubah menjadi profit center para pengembang.

Bayangkan, populasi rakyat Indonesia saat ini sudah 235 juta jiwa. Itu artinya kebutuhan akan lahan kuburan linear dengan jumlah tersebut. Tentu dengan spesifikasi dan luasan berbeda sesuai dengan permintaan “calon jenazah”. Jelas, dengan captive market seperti ini, tak hanya sembilan digit yang diprediksi bakal masuk ke kantong pengembang. Bisa membengkak hingga puluhan triliun rupiah seiring dengan kenaikan harga lahan dengan nilai paling logis sekalipun.

Namun, ada hal esesnsial yang perlu dikritisi. Ketika para pengembang ramai-ramai menggauli bisnis rumah masa depan ini, adalah diabaikannya tanggung jawab mereka membangun fasilitas sosial (pemakaman) untuk warga penghuni dalam perumahan yang mereka bangun. Potensi ke arah pengabaian ini memang sudah mulai menggejala.

Berburu Keuntungan di Karawang

Tahbis Karawang sebagai lumbung padi Nasional, sepertinya mulai tergerus. Peradaban jaman yang dinamis, telah menciptakan Karawang sebagai kawasan “terbarukan”. Transformasi  dalam pusaran magma perubahan berlangsung cepat dan simultan. Karena itu pula wacana pemekaran wilayah dan status administrasi dari kabupaten menjadi kotamadya, mengemuka.

 

Menjadi sebuah kotamadya, tentu saja mensyaratkan kemajuan dalam berbagai aspek kehidupan seperti ekonomi, sosial, politik, budaya dan terpenting, kesejahteraan warga masyarakatnya. Dan  Karawang bukannya tertinggal di belakang, bahkan menorehkan pencapaian menggembirakan. Indeks pembangunan manusia (IPM) selalu  menunjukkan tren meningkat. Poin 66,96 pada 2006, tumbuh  menjadi  70,11 poin untuk 2010 dan 72,54 pada 2011.

Kenaikan itu disumbang oleh seluruh komponen pembentuk IPM, yakni angka harapan hidup (AHH); angka melek huruf (AMH) dan terutama indeks daya beli masyarakat dari Rp620.030 tahun 2006 menjadi Rp 631.200 tahun 2010 dan Rp640.500 pada tahun lalu. Laju pertumbuhan ekonominya, meski fluktuatif,  memberikan harapan positif.  Tahun lalu berada pada level 6,9% tumbuh dibanding tahun 2010 sebesar 5,82%.

Namun demikian, akan selalu ada dua postulat dalam realita kekinian. Pertama, data numerik itu secara jelas berpotensi terjadinya intensifikasi pada pengembangan sarana, infrastruktur , kawasan industri, perumahan dan fasilitas komersial lainnya untuk kepentingan komunal. Kedua, ada ruang pemahaman lazim yang kita sebut sebagai “korban pembangunan”. Yakni masifnya praktek konversi atas lahan produktif pertanian dan pangan.

Senyampang kondusifnya perekonomian, harus diakui Karawang telah lama diincar investor Nasional dan Multinasional. Teraktual, PT Nestle Indonesia. Mereka membangun pabrik baru senilai 200 juta dollar AS  dengan luas lahan 28,8 Ha di Karawang Timur. Tepatnya  di Kawasan Industri Surya Cipta. Menyusul PT Astra Honda Motor seluas 84 Ha di Kota Bukit Indah.

Penambahan ini berkontribusi terhadap meningkatnya jumlah industri  sebanyak 181 unit yang beroperasi di Karawang pada 2011. Menggenapi  9.763 unit dari tahun sebelumnya  9.582 unit dengan klasifikasi besar, sedang, makro dan mikro.

Termasuk di antaranya merupakan perusahaan Penanam Modal Asing (PMA) sebanyak  11 unit. Sehingga, total PMA yang beroperasi di kabupaten ini sebanyak  371 unit. Sementara  perusahaan penanaman modal dalam negeri (PMDN) bertambah 23 unit. Dengan demikian, sampai akhir tahun 2011 lalu mencapai 231 unit. Mendorong lonjakan nilai investasi menjadi Rp98,784 triliun.

Kawasan Industri Primadona

Selain  popular sebagai lumbung padi, identifikasi Karawang sebagai kawasan industri pilihan belum tergoyahkan. Kendati masih di bawah Bekasi, secara performa lahan terokupasi, Karawang mencuatkan keyakinan investor.

Laporan riset Colliers International menyebutkan, Karawang memimpin penjualan dengan 118,63 ha. Dimotori kawasan industri Kota Bukit Indah seluas  84 Ha,  Suryacipta 19,63 Ha dan Karawang International Industrial City 15 Ha. Disusul Bekasi, Cikande dan Cilegon.

Namun demikian, dikatakan Associate Director Research Colliers International, Ferry Salanto, tumbuhnya tingkat serapan kawasan industri Karawang berkolerasi erat dengan terbatasnya suplai di Bekasi. “Jadi, investor beralih ke Karawang yang masih menyisakan lahan lebih luas dari Bekasi,” ujarnya.

Mencorongnya kinerja kawasan industri Karawang juga terlihat dari lonjakan harga jualnya. Kuartal kedua mencapai 9% lebih tinggi dari periode yang sama tahun lalu dengan harga rata-rata sebesar 127,5 dolar AS/m2. Sementara Bekasi hanya 6,3% di posisi 175,1 dolar AS/m2. “Ketersediaan lahan siap bangun untuk kawasan industri  yang terbatas ini seharusnya merupakan peluang bagi para pengembang atau land owner untuk membuka KI baru. Hanya memang, membangun KI baru tidak semudah membangun perumahan atau properti lainnya,” ujar Ferry.

Kompleksitas pengembangan KI toh tak membuat Agung Podomoro Group menganulir rencana mereka. Dalam waktu dekat, mereka akan membuka 342 ha untuk KI. Menggenapi portofolio mereka usai membuka perumahan Grand Taruma pada 2011 lalu.

Grand Taruma Karawang sendiri merupakan perumahan lawas yang ditinggalkan pengembangnya dan kemudian diakuisisi  Agung Podomoro Group melalui PT Agung Podomoro Land Tbk (APLN) pada 2011. Pada masa akuisisi, sudah terdapat 100 kepala keluarga penghuni Gerbang Karawang yang awalnya hanya seluas 10 Ha.

 

APLN  kemudian menyalinnya menjadi Grand Taruma dengan ekstensi luas lahan sebesar 28 Ha. Dikatakan Direktur Marketing Agung Podomoro Group, Indra W Antono, Grand Taruma kemungkinan akan dikembangkan lagi dengan dimensi lahan jauh lebih luas dari hasil akuisisi.

 

“Melihat perkembangan yang ada, di mana permintaan akan hunian begitu kuat, kami berencana merancang Grand Taruma sebagai perumahan yang lengkap. Terintegrasi dengan kawasan komersial,” jelas Indra.

 

Segmen pasar yang dibidik pun diperlebar ceruknya. Tidak hanya karyawan yang bekerja di seluruh industri yang beroperasi di sini, juga pegawai negeri sipil dan para profesional yang berposisi middle level manager hingga pemuncak perusahaan.

 

Untuk itulah, saat ini APLN menggenjot pembangunan fisik fasilitas hunian. Di antaranya  waterpark, foodmall, pusat belanja dengan Carrefour sebagai anchor tenant, pusat olahraga dan club house serta taman dan kebun buah yang ada dalam setiap klaster.

 

Gran Taruma dipasarkan dalam berbagai tipe dengan jumlah total tahap I sebanyak 450 unit. Hingga saat ini sudah terjual sekitar 300-an dengan kisaran harga Rp250 juta-600 jutaan untuk varian satu lantai dan Rp450 juta-1 miliar untuk tipe dua lantai.

 

Angka tersebut adalah harga terbaru setelah mengalami kenaikan sekitar 10-15% dari tawaran perdana. Seiring dengan progres konstruksi fasilitas penunjang tersebut di atas, nilai properti perumahan ini diproyeksikan berubah lagi dengan pertumbuhan persentase moderat sekitar 20%.

 

 

Aston International Opens Favehotel In Umalas

Recently, Aston International opened its third trendy select service favehotel in Bali and the 50th Aston International managed hotel in Indonesia, the favehotel Umalas – Bali.

The new “fave” occupies a privileged spot on Jalan Petitenget – Kerobokan bordering the village of Umalas and is in the direct vicinity of some of Bali’s most famous eateries and night clubs.

With 121 fun, fresh and friendly rooms the new favehotel Umalas follows the recently opened fave in Seminyak and offers facilities and amenities usually associated with more up market hotels such as an adult and children’s swimming pool, modern and functional meeting rooms,  an attractive and contemporary hotel lobby, fast and complimentary Wi-Fi and an eclectic café.

Guest rooms are equipped with large LED televisions, save deposit boxes, top of the line Serta Beds with quality cotton bed linens and duvets and feature the fave’s trademark design giving them an energetic and modern edge.

Aston Internationals Vice President of Sales & Marketing, Mr. Norbert Vas, said: “favehotels are select service hotels often set in destinations that are somewhat hip and usually not associated with budget hotels. We already offer faves in such prime locations as Langkawi’s Cenang Beach or Bali’s Seminyak and this newest fave in the very heart of Bali’s most bohemian neighborhood is a perfect match for the brand”.

Aston also announced that within the next two months the group will add 5 more favehotels to its already existing 9 in Indonesia out of which 2 will be in Jakarta situated in Kemang and in Pasar Baru, 2 in Bali located in Kuta Square and on Jalan By Pass Kuta and 1 in Yogjakarta on Jalan Kusumanagara.

Pakuwon Siapkan Kota Kasablanka II & Gandaria City II

Pengembang nasional yang berbasis di Surabaya ini perlahan namun pasti mulai menyiapkan pembangunan tahap II dari megaproyek mereka di Kota Kasablanka dan Gandaria City.

Tahap kedua proyek tersebut akan direalisasikan usai tahap pertama masing-masing pengembangan rampung pada 2013 dan 2014. Kota Kasablanka II sendiri akan berisi dua menara apartemen dan satu menara perkantoran. Diproyeksikan KK II ini kelar dalam 30 bulan konstruksi. Sedangkan Gandaria City II menghimpun dua menara apartemen dan satu menara perkantoran, dengan target penyelesaian konstruksi 2 tahun.

Dikatakan Direktur Utama PT Pakuwon Jati Tbk, (PWON) Richard Adisastra, sektor properti sedang dalam masa puncak. Pembeli berasal dari berbagai kalangan. Motifnya ada yang untuk investasi maupun digunakan sendiri. “Proporsi mereka sama besar. Untuk itu, kami mengantisipasinya dengan melansir proyek-proyek tambahan. Desainnya belum final. Masih dielaborasi lebih dalam. Namun yang pasti, saya mengatakan Pakuwon berpeluang besar meningkatkan pendpatan dari proyek-proyek yang tengah dikerjakan,” imbuhnya.

 

Sementara Investor Relation Director PT Pakuwon Jati Tbk (PWON) Irene Tedja, menjelaskan sejak Pakuwon Jati memasuki pasar Jakarta di tahun 2007, perseroan terus mencatat peningkatan pendapatan dari tahun ke tahun. Tahun 2011 lalu pendapatan mereka sudah tumbuh lebih dari tiga kali lipat dibandingkan tingkat pendapatan tahun 2007.

Tahun 2012 ini Pakuwon menargetkan marketing sales sebesar Rp1.800 miliar dan sampai dengan Juni telah mencapai Rp 1.000 miliar. Beroperasinya pusat belanja Kota Kasablanka,  mulai 28 Juli lalu, semakin memperkuat portofolio recurring income Pakuwon.  Sehingga berpotensi menambah recurring income. Ada pun luas area persewaan pusat perbelanjaan dan perkantoran Pakuwon Jati dan anak-anak perusahaan saat ini mencapai lebih dari 400.000m2. Sejalan dengan dengan strategi pertumbuhan Perseroan yang menyeimbangkan recurring maupun development income.

 

Pusat perbelanjaaan baru di Kota Kasablanka yang telah beroperasi di atas mempunyai net leasable area sekitar 110.000 m2 didukung oleh anchor tenant Sogo, Carrefour, Ace, Informa dan XXI.

 

 

Lebih lanjut Irene Tedja memaparkan laba bersih semester I tahun ini  meningkat tajam sebesar 89% menjadi Rp 374 miliar dibandingkan Rp 198 miliar pada periode yang sama tahun lalu. Seiring dengan peningkatan pendapatan PWON yang juga meningkat signifikan dari Rp 654 miliar menjadi Rp 1.049 miliar atau tumbuh 60%.

 

Peningkatan laba bersih maupun pendapatan PWON ditopang oleh melonjaknya  harga jual kondominium Casa Grande dan perkantoran 88 Kasablanka yang telah diakui sebagai penjualan,

peningkatan penjualan residensial di Pakuwon City, Surabaya, serta peningkatan pendapatan sewa dari pusat perbelanjaan Gandaria City.

 

Pakuwon Jati, adalah pemilik, pengelola dan pengembang properti yang tahun ini memasuki usianya yang ke 30 tahun. Perusahaan telah tercatat di BEI sejak 1989. Perseroan memiliki konsep bisnis yang terdiversifikasi melalui investment property, di mana Pakuwon mengembangkan, memiliki dan mengelola pusat perbelanjaan komersial, perkantoran dan hotel maupun property development, yang mengembangkan perkantoran dan kondominium strata-tittle serta pengembangan residensial berskala kota mandiri untuk dijual.

 

Superblok yang dimiliki Pakuwon Jati terdiri atas  Tunjungan City, Gandaria City dan  Kota Kasablanka. Sedangkan pengembangan residensial berskala kota mandiri adalah Pakuwon City di Surabaya Timur.

 

Perseroan yakin dengan iklim investasi yang positif di tahun 2012, didukung suku bunga yang rendah, inflasi yang terkendali serta terus tumbuhnya kelas menengah dan atas  akan terus mendorong permintaan.

 

Untuk terus memperkuat basis pertumbuhan PWON berencana melakukan ekspansi berupa pusat perbelanjaan Tunjungan Plaza V yang dilengkapi dengan gedung perkantoran (Pakuwon Center), kondominium (The Peak) serta pengembangan kondominium di Pakuwon City (Edu City).

                                                                                                             

Agung Podomoro Rambah Hulu Hingga Hilir

Konglomerasi properti satu ini seakan tak pernah puas hanya membangun karya properti skala besar. Melalui PT Agung Podomoro Land Tbk (APLN), mereka secara agresif juga mulai merambah skala kecil dengan pangsa pasar menengah bawah yang direpresentasikan oleh pengembangan hotel. Jadi klasifikasi bisnis properti yang digarap, lengkap sudah; dari hulu sampai hilir.

Hingga dua tahun ke depan, mereka bakal membangun 1.700 kamar hotel di Jakarta dan Bali dengan klasifikasi bintang lima dan ekonomi. Penambahan kamar ini menggenapi 800 kamar dari empat hotel yang sudah beroperasi. Sehingga pada 2014 nanti mereka mengoleksi total 2.500 kamar hotel yang konstruksinya sudah dimulai dari sekarang. Jumlah kamar tersebut di luar kamar hotel bintang lima yang akan dikembangkan di proyek multifungsi terbaru mereka di Balikpapan, Kalimantan Timur.

Ada pun lokasi lahan untuk hotel-hotel anyar tersebut, berada di Pancoran, Jakarta Selatan, seluas 7.770 m2, Seminyak Bali seluas 4,5 Ha, dan Kelapa Gading, Jakarta Utara. Di Pancoran, mereka mengakuisisi lahan dengan nilai Rp130 miliar. Di sini kelas hotel yang bakal dioperasikan adalah Ibis Budget. Hotel ekonomis lainnya akan dibangun di Vimala Hills, Bogor Jawa Barat yang masih dalam proses rancangan dan Kelapa Gading yakni B n B Hotel dengan jumlah 100 kamar. Sehingga total budget hotel yang dibangun sebanyak 1.500 kamar.

Sementara di Seminyak, mereka berhasil mengambil alih 51% saham PT Bali Perkasa Sukses senilai Rp256 miliar. Jumlah kamar yang dibangun, rencananya sebanyak 450 unit plus hotel dan resort upscale JW Marriott Bali Resort. Menggenapi target 1.000 kamar untuk kelas bintang lima.

Digenjotnya pengembangan hotel dengan motivasi utama tingginya permintaan di seluruh wilayah Indonesia. Utamanya di Jakarta dan Bali sebagai destinasi teratas untuk bisnis dan pariwisata. Hal ini terindikasi dari catatan menggembirakan tingkat hunian dua hotel yang sudah beroperasi yakni Amaris dan Pullman di kawasan Podomoro City, Jakarta Barat.

Selain itu, dipicu juga oleh kinerja hotel yang berkontribusi 4,48% atau Rp103,9 miliar  terhadap total pendapatan selama separuh tahun 2012 yang sejumlah Rp2,31 triliun.

Tak hanya sektor hotel yang tengah mereka kerjakan. Dalam kurun waktu yang sama, APLN menunjukkan agresifitasnya dengan menebar proyek baru di beberapa kota. Di Karawang, Jawa Barat, misalnya, terdapat perumahan bertajuk Grand Taruma seluas 48 Ha. Dilengkapi water park, food junction dan fasilitas lainnya.

Kemudian Metro Park Residence di Kebon Jeruk, Jakarta. Ini merupakan apartemen berisi 1.200 unit. Dilanjutkan dengan Podomoro Extension SOHO sebanyak dua tower dan juga mall serta resort Vimala Hills seluas 80 Ha di Bogor, Jawa Barat.

Kepakan sayap usaha perusahaan ini juga sampai di Balikpapan, Kalimantan Timur dan Makassar, Sulawesi Selatan. Di Balikpapan, usai mengakuisisi 65% saham PT Pandega Citraniaga (PC) senilai Rp210 miliar, mereka secara marathon melakukan finalisasi desain atas mixed use development yang akan berdiri di lahan seluas 6 Ha tersebut.

Chief Executive Officer APLN, Trihatma Kusuma Haliman mengatakan, akuisisi tersebut merupakan strategi bisnis dalam memperluas jangkauan hegemoni APLN di sektor properti. “Ini merupakan salah satu langkah untuk memastikan bahwa bisnis perusahaan tetap bergulir,” imbuhnya.

Guna merealisasikan proyek multifungsi ini, dibutuhkan dana tak kurang dari Rp2 triliun yang masing-masing dialokasikan untuk pengembangan pusat belanja berkonsep life style center, hotel bintang lima, apartemen dan reklamasi lahan tambahan.

Sementara di Makassar, pengembangan dikonsentrasikan pada residensial tapak. Tahap awal seluas 12 Ha dari total ijin konsesi hingga 250 Ha. Tak ketinggalan Bandung yang terpilih sebagai salah satu kota tujuan bidikan investasi mereka. Di sini mereka akan mendirikan dua menara apartemen yang berlokasi di pusat pendidikan,  Ciumbuleuit.

Ada pun performa perusahaan selama separuh tahun ini sebagai berikut; penjualan dan pendapatan usaha meningkat 46,5% menjadi  Rp2.316,8 miliar dibanding periode yang sama tahun lalu yang hanya mencapai  Rp1.581,9 miliar. Podomoro City tertoreh sebagai kontributor terbesar, disusul Kuningan City, Green Bay Pluit dan Green Lake Sunter.

Peningkatan prestasi juga terjadi pada laba kotor perusahaan sebesar Rp987,7miliar. Tumbuh   62,4% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Hal serupa  juga terjadi pada marjin laba kotor sebanyak 42,6%, seiring dengan meningkatnya marjin laba kotor dari pendapatan berulang dan penjualan strata.

Laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk tumbuh s29,5% dari Rp 337,8 miliar  menjadi Rp 437,3.

Trihatma mengatakan, “Dengan terus berlanjutnya momentum pertumbuhan di semester pertama tahun 2012, kami yakin akan kembali dapat mencetak prestasi bahkan rekor yang lebih menggembirakan lagi. Kami mencatat marketing sales lebih dari Rp600 miliar pada bulan Juni lalu, sehingga secara kumulatif, total marketing sales sepanjang satu semester senilai Rp2,61triliun. Dengan performa yang baik ini, kami yakin dapat meningkatkan target menjadi Rp 4,6 triiun – 5,0 triliun dari Rp 4,2 triliun di tahun 2011.”

Dalam 10 (sepuluh) tahun terakhir, APLN telah menyelesaikan lebih dari 50 proyek properti, mayoritas ditujukan kepada segmen masyarakat kelas menengah, dengan kisaran projek mulai dari apartemen menengah bawah hingga kelas atas di bilangan Jakarta Selatan, pusat belanja, ruko, hotel dan gedung perkantoran.