Tangerang, Lambat Berkembang

Mudah dimafhumi jika dalam satu dekade terakhir, Kota Tangerang, relatif diemohi pengembang. Selain karena defisit lahan terbuka (kosong) juga harganya selangit. Selain itu, karena wilayahnya sudah matang, sulit untuk dilakukan pengembangan baru. Sehingga kemudian dana investasi mereka  dialihkan ke wilayah lain yakni Tangerang Selatan.

 

Namun demikian, tetap menarik untuk dicermati. Kendati secara umum pengembangan di kota ini terhitung tidak semasif tetangganya.  Fenomena yang tengah terjadi saat ini adalah bangunan ruko yang tumbuh pesat yang telah dimulai sejak 2010 silam. Puncaknya dipastikan tahun ini hingga 3 tahun ke depan. Ditandai dengan melesatnya transaksi ruko di pasar primer dan sekundern dengan harga yang terus mengalami pergerakan positif.

 

Dikatakan Linawati, marketing senior Century 21 Victory, khusus ruko di pasar sekunder permintaannya mengalami peningkatan. Dengan begitu, secara otomatis, harga pun terkerek naik. Contohnya, ruko yang paling diminati adalah ukuran 7 x 18 meter. Jika pada transaksi perdana di pasar primer dibanderol Rp1,9 miliar, berubah menjadi Rp4,5 miliar. Ini terjadi hanya dalam kurun waktu kurang dari 1 tahun.

 

Sedangkan untuk ruko berdimensi 5 x 18 meter kini dipatok seharga Rp2,7 miliar-3 miliar dari harga awal senilai Rp1,3 miliar. Tingginya harga ruko-ruko tersebut dipicu oleh performa tingkat hunian yang mencapai rata-rata 80%.

 

Ruko memang masih mendominasi pasar properti di Tangerang baik dari sisi permintaan maupun pasok. Pasok-pasok baru bahkan berasal dari pengembangan multiguna seperti Tangerang City dan kompleks-kompleks khusus ruko yang disandingkan dengan perkantoran. Sejauh mata memandang, sudut-sudut kota Tengarang, terutama di jalan-jalan utama yang dirancang sebagai central business district terdapat ruko.

 

Akan tetapi, bukan berarti sektor properti lain tak berjalan sama sekali. Kendati jumlah pasok dan permintaan masih terbatas, pantas diberi catatan. Bahwa pasar sektor properti lain seperti apartemen dan pusat belanja, bisa bersaing dengan ruko.

 

Sebut saja apartemen di Tangerang City dan Paragon Square. Mulai bermunculannya hunian vertikal ini dipicu oleh kebutuhan akan tempat tinggal yang berasal dari masyarakat atau orang-orang yang bekerja di beberapa maskapai penerbangan. Baik kru udara maupun darat, seperti pilot, pramugari/a, ticketing, pengawas, dan lain sebagainya. Tangerang menjadi pertimbangan, karena lokasinya lebih dekat dengan bandara Soekarno-Hatta, tempat mereka bekerja, dibanding harus memilih apartemen di tengah kota Jakarta atau rumah tapak di pinggiran Jakarta. Harga per unit apartemen di Tangerang City cukup kompetitif yakni Rp800 juta-1miliar untuk ukuran 60 m2. Sementara Paragon Square dipatok Rp300 jutaan dengan ukuran di bawah 27 m2 atau tipe studio.

 

Bagaimana dengan sektor perumahan? Poros utama memang masih bertumpu pada perumahan Kota Modern yang dikembangkan PT Modernland Realty Tbk. Mereka masih memiliki cadangan lahan lumayan luas. Apalagi mereka berencana mengembangkan ekstensi Kota Modern seluas lebih kurang 300 Ha. Sehingga memungkinkan tersedianya pasok-pasok rumah tapak baru.

 

Di sisi lain, keterbatasan lahan menciptakan kreatifitas bertumbuhnya pengembangan rumah bandar yang dilakukan oleh pengembang individual. Rumah seluas 90-100/200 ditawarkan seharga Rp700-1,5 miliar. Menurut Member Broker 21 Emerald, Yogi, harga rumah bandar mengalami peningkatan rata-rata 35% per tahun. “Padahal tahun 2010 harganya masih berkisar antara Rp 400 juta-500 jutaan. Tahun depan, saya perkirakan melonjak jadi Rp600-700 jutaan untuk ukuran terkecil,” ungkap Yogi.

 

Yogi masih tetap optimis pada pertumbuhan kota ini. Karena tendensinya, akan mengikuti pertumbuhan properti di Tangerang Selatan, terutama Serpong dan BSD City. Apalagi jika rencana pembangunan akses jalan tol dari Tangerang-Kebon Jeruk–Moderland terealisasi, dapat memberikan dampak langsung secara positif. Dan pasar properti kota Tangerang niscaya bergairah kembali. Minimal mendekati hiruk pikuk di Tangerang Selatan.

 

Aksesibilitas jalan tol tersebut diharapkan menjadikan kota ini semakin terbuka, dan strategis sebagai syarat utama untuk menarik investasi lebih banyak lagi dari sektor properti. Selain itu, percepatan pembangunan CBD Tangerang juga diproyeksikan dapat menjadi “energi” baru  bergeraknya sektor properti.

 

“Dukungan pemerintah kota berupa kemudahan dalam pembebasan lahan dan perijinan juga ikut menstimuli mengapa saya optimis, kota Tangerang bisa berlari kembali. Isu mengenai perpindahan Bandara Internasional Soekarno-Hatta menjadi tak ada artinya jika akses told an beberapa faktor tadi terwujud,” imbuh Yogi seraya mengatakan Kota Tangerang akan meraih kedigdayaannya kembali seperti satu dekade silam dalam 2-3 tahun ke depan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: