Solo Raya, Ladang Investasi Paling Menarik Di Pulau Jawa

Hartono Trade Center

 

Tak dimungkiri, Surakarta atau sebut saja Solo Raya, saat ini menyeruak di pentas isu Nasional. Bukan saja karena faktor Joko Widodo yang sukses mempecundangi Fauzi Bowo dalam kompetisi Pemilu Kepala Daerah Khusus Ibukota Jakarta, 20 September lalu. Juga karena eskalasi pengembangan fisik dan psikis warganya yang begitu progresif.

Tampak secara visual, aktifitas pembangunan dan konstruksi tengah terjadi di beberapa kawasan. Terutama  yang terkonsentrasi di Solo Baru. Di sini, setidaknya terdapat 3 mega proyek properti, The Park Solo, Hartono Lifestyle Mall, dan Hartono Trade Center. Disusul beberapa proyek stand alone, sebut saja Fave Solo Baru, Brother Hotel, Best Western Hotel, serta yang masih dalam proses perijinan 3 hotel ekonomis dan bintang 3.  Belum lagi di pusat kota, terdapat Solo Center Point dan beberapa proyek milik instansi pelat merah.

Dikatakan Presiden Direktur PT Nirvana Development Tbk, Andreas Kartawinata, Solo merupakan kawasan yang paling dinamis, terbuka dan menjadi media transfer perubahan untuk daerah sekitarnya.  Seperti Jogjakarta, dan Semarang. Posisi Solo sangat strategis sebagai penghubung di antara keduanya. Sehingga pangsa pasarnya menjadi sangat potensial dengan tingkat daya konsumsi yang cukup tinggi. “Kami menghitung ada lima juta komunitas masyarakat perkotaan yang ada di kawasan Jogja-Solo dan Semarang. Inilah yang menstimuli kami membangun The Park Solo,” ujar Andreas.

Sementara General Manager PT Delta Merlin Dunia Properti, pengembang Hartono Lifestyle Mall dan Hartono Trade Center, Eko Swasono, menjelaskan Solo merupakan sumbu pendek dalam arti positif. Ketika sebuah arus gaya hidup baru singgah di kota ini, dengan serentak akan menjalar ke semua kalangan dan wilayah. “Jangan bayangkan Solo sekarang seperti Solo satu atau dua dekade sebelumnya. Saat ini perubahan terjadi di semua lini kehidupan. Lebih modern, bergaya, dan tentu saja produktif tanpa mengenyampingkan unsur-unsur tradisi yang sudah sangat kental mengurat akar dalam kehidupan warga Solo,” imbuh Eko.

Delta Merlin Dunia Properti sendiri membangun Hartono Lifestyle Mall  dengan luas tanah 1,7 ha. Sedangkan  luas bangunan mencapai  100.000 m2 dengan area sewa, total 31.000 m2. Dilengkapi tempat parkir berkapasitas 1300 mobil dan 350 motor. Hartono Lifestyle mall memiliki jumlah ketinggian 9 lantai (7 lantai dan 2 basement).

 

Selain membangun Hartono Lifestyle Mall, divisi properti milik Grup Duniatex itu juga tengah mengembangkan Hartono Trade Center, yang berlokasi tepat di sebelah FaveHotel Solo Baru. Asal tahu saja, hotel ini juga merupakan portofolio mereka. Hartono Trade Center menempati area seluas 1,1 Ha dengan luas bangunan 48.000 m2 dengan ketinggian 7 lantai. Dilengkapi convention hall berkapasitas 3.000 orang seluas 11.000 m2. Di sini juga terdapat  8 kios besar, 25 unit ruko 3 lantai dan  525 kios. Beroperasi awal 2014.

 

 

Mudah dimafhumi, jika Solo teraktual adalah etalase properti-properti yang mengakomodasi gaya hidup urban. Sebuah “virus” sosial yang terkait dengan eksistensi, pencitraan dan kepercayaan diri. Maka, digandenglah kemudian beberapa nama dengan klasifikasi menengah atas oleh pengembang-pengembang tersebut guna mengisi lifestyle-lifestyle center­-nya. Contohnya, Metro Department Store, Blitz Megaplex, Starbucks, Score dan lain sebagainya. Nama-nama ini, sekali lagi, merupakan asosiasi modernitas gaya hidup.

Menjadi menggelitik jika hal tersebut dihadapkan pada sebuah pertanyaan? Apakah Solo mampu menyerap gaya hidup tersebut, ngopi secangkir seharga Rp50 ribuan, nonton ratusan ribu rupiah, hingga belanja baju, tas, atau sepatu  jutaan rupiah? Menggantikan perilaku “wedangan” dan “liwetan” yang hanya menghabiskan ribuan rupiah saja?

Direktur PT Tri Star Land, anak usaha Nirvana Development, Sie Paula, punya jawaban menarik. Menurutnya, keinginan warga Solo untuk tampil terdepan dalam hal fashion, food dan festive sejatinya telah lama ada. Aktualitas itu terepresentasikan ketika Solo Batik Carnival dan beberapa event lainnya yang berskala nasional seperti pergelaran Matah Ati, sukses digelar.  “Ini wajah asli warga Solo sesungguhnya, fashionable dan melek hal-hal baru. Tak sungkan mereka membeli tiket Matah Ati yang harganya ratusan ribu hingga jutaan rupiah,” ungkapnya.

Elaborasi mendalam atas perilaku konsumsi warga Solo ternyata menghasilkan sebuah kesimpulan, bahwa, meminjam istilah Direktur PT Ciputra Property Tbk, Artadinata Djangkar, lifestyle warga Solo sudah sampai pada taraf membelanjakan uangnya lebih daripada kebutuhan hidup primer. Menurutnya, dibangunnya properti-properti berkonsep terpadu sehingga memudahkan aktifitas dan memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, adalah solusi untuk mengakomodasi market demand saat ini.

Tak keliru memang yang diutarakan Arta. Sebab Solo Paragon saja, yang merupakan produk hasil kolaborasi antara Gapura Prima Group dan Sun Motor Group, adalah perintis betapa integrated development dapat terserap pasar secara maksimal. Tingkat hunian (occupancy rate) untuk apartemennya bisa mencapai rata-rata 70% sementara untuk kondotelnya sebanyak 80%.

Imbal hasil atau yield yang ditawarkan dari pengelolaan kondotel Solo Paragon yang dikelola Tauzia Group, menurut Direktur Solo Paragon, Budianto, sekitar 8-12% per tahun. “Angka ini cukup agresif dan sangat menarik jika dibandingkan dengan suku bunga deposito perbankan per bulannya. Harga perdana apartemen yang kami tawarkan sekitar Rp300 juta, kondotelnya sekitar Rp400 juta-450 juta untuk unit terkecil. Saat ini sudah berlipat-lipat harganya,” papar Budi.

Jadi, inilah saatnya untuk membeli atau berinvestasi lahan dan properti di Solo. Saat di mana harga masih terhitung kompetitif, Rp5 juta-10 juta/m2 di luar kawasan CBD Solo, Rp15 juta-20 juta (CBD Solo) dan di daerah pengembangan baru seperti Solo Baru, sekitar Rp7 juta-18 juta/m2. Dengan mempertimbangkan laju inflasi yang masih di bawah dua sigit, maka asumsi dasar pertumbuhan harga lahan dan properti bisa mencapai 15-20% per tahun.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Satu Tanggapan

  1. mantap

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: