The Park Solo Tawarkan Pengalaman Baru Berbelanja

bird eye viewThe Park Solo

 

 

Bukan tanpa alasan jika PT Nirvana Development Tbk melalui anak usahanya PT Tri Star Land, menggarap The Park Solo di Solo, Jawa Tengah. Kota ini, menurut survey terbaru, 2011, Badan Pusat Statistik (BPS) memiliki pengeluaran konsumsi terbesar kedua di Pulau Jawa dengan nilai 652,43. Hanya kalah dari Surabaya yakni 652,80.

“Solo sangat dinamis,” kata Presiden Direktur PT Tri Star Land, Andreas Kartawinata, “Juga gengsinya tinggi dengan atmosfer kompetisi yang terbilang ketat. Si A punya mobil mewah keluaran terbaru, maka si B juga harus punya yang sama. Bila perlu lebih mewah lagi. Inilah profil masyarakat perkotaan Solo dengan stratifikasi menengah atas,” imbuhnya.

The Park Solo merupakan kawasan pengembangan terintegrasi seluas 16 Ha di Solo Baru. Dirancang untuk mengakomodasi kebutuhan hidup terkini. Mereka menawarkan pengalaman baru dalam berbelanja, berwisata kuliner sekaligus bersosialisasi antarkomunitas. Sehingga tercipta sebuah masyarakat urban yang memiliki kepercayaan diri tinggi, kreatif sekaligus juga produktif. “Dan Solo, mampu menerima itu,” ujar Andreas.

The Park Solo yang didesain oleh PTI Architects, merangkum beberapa fungsi properti sekaligus dalam satu area pengembangan. Pusat belanja dan city walk, hotel, taman perkantoran, pusat otomotif, ruko, rumah sakit, sekolah dan ruang pameran.

Mempertimbangkan geliat pertumbuhan Solo terkini dengan konsentrasi pada pembangunan MICE (meeting, incentive, convention and conference, dan exhibition), Tri Star Land secara simultan membagi dua tahap pengembangan. Tahap I adalah pusat belanja dan city walk seluas 55.000 m2, pusat otomotif dan ruang pameran berkapasitas 2000 orang serta ruko 50 unit dan 2 menara taman perkantoran. Sedangkan tahap II hotel  400 kamar, rumah sakit, dan sekolah serta pusat belanja jilid II.

“Tahap I kami kerjakan bersamaan sejak peletakan batu pertama pada 27 Februari 2012 lalu. Target kami adalah, Juni 2013 shopping mall dan city walk-nya sudah bisa beroperasi. Sementara fungsi lainnya menyusul secara bertahap,” jelas Project Manager The Park Solo, Guntur Sunawan.

 

The Park Mall

Guna merealisasikan target tersebut, Tri Star Land merogoh kocek sekitar Rp250 miliar untuk konstruksi shopping mall dan city walk, serta sekitar Rp200 miliar-300 miliar untuk  pusat otomotif dan ruang pameran serta ruko dan taman perkantoran.

The Park Solo boleh dikatakan merupakan mega proyek pertama yang menghimpun sekian banyak fungsi properti berbeda. Dibandingkan dengan Solo Paragon yang memiliki 3 jenis proeprti, The Park Solo memposisikan dirinya sebagai the center of living dengan 8 jenis properti.

Ini tampaknya menjadi faktor yang membedakannya dengan yang lain. Selain konsep general yang diusung yakni the green shopping atmosphere pada pusat belanjanya dan the green and sustainability development untuk seluruh kawasan. Oleh karenanya, hal tersebut tak semata diejawantahkan ke dalam proporsi  lahan terbangun 80% dan 20% untuk ruang terbuka hijau. Namun juga membentuk perilaku pengunjung untuk lebih sadar akan konsep hidup sehat dan hidup ramah lingkungan.

Nantinya, gerai-gerai atau toko-toko dari para tenan pun dituntut untuk menyesuaikan desainnya dengan desain interior induk yang dikerjakan oleh PTI Sydney. “Atmosfer yang ingin kami tonjolkan adalah selain ergonomis, juga modern, ramah lingkungan dan banyak bukaan serta terang karena pencahayaan dirancang maksimal. Dengan membiarkan sinar matahari masuk ke dalam mal. Ini sekaligus menggelorakan semangat efisiensi dalam konsumsi energi,” papar Managing Director PTI, Doddy A Tjahjadi.

Akan seperti apa The Park Solo ke depan? Mengingat saat proyek ini beroperasi nanti pada 2013, siklus properti akan sedikit melambat lajunya. Sementara belum semua jenis properti di sini terbangun. Segmen pasar yang mereka bidik memang sama sekali berbeda. Kendati ceruknya tidak sebesar menengah ke bawah. Namun jumlah kelas menengah atas Solo, Jogja dan Semarang sebagai catchment area mereka sangat signifikan.

Masuk akal jika mereka percaya diri menggandeng tenan-tenan macam Metro Department Store, Blitz, Score, Fun World, dan Lotte Mart sebagai anchor tenant. Serta beberapa nama lain di bawah bendera Mitra Adi Perkasa, Transmahagaya, Delami, Metroxx dan lain sebagainya. Dan jika nota kesepahaman yang telah mereka tandatangani tidak bubar di tengah jalan, maka tahbis The Park Solo sebagai surge belanja baru, tak akan tergantikan.

Seperti yang dikatakan Andreas sendiri bahwa Solo membutuhkan sesuatu yang baru, yang berbeda dan bila perlu unik serta menarik. WOW factor yang selama ini dilupakan pengelola maupun pengembang pusat belanja lainnya menjadi elemen penting dalam “menyambung” nafas The Park.

Bagaimana dengan prospek jenis properti lainnya seperti ruko, perkantoran dan hotel? Untuk yang pertama, Solo punya sejarah panjang. Sejak Solo Baru dibangun, ruang komersial pertama yang meramaikan kawasan adalah ruko. Saat ini harga per unitnya mencapai Rp3 miliar-7 miliar. Jadi, harga yang ditawarkan ruko The Park senilai Rp2 miliar-3 miliar, cukup kompetitif, apalagi luasannya tak biasa; 5,5 x 15 dan 6,9 x 15 setinggi 3 lantai. Dengan harga senilai itu, plus lokasi yang terintegrasi dan unit yang terbatas, kans untuk terserap pasar, terbuka lebar.

Sementara dua menara perkantorannya, masih perlu kerja ekstra keras dari para pemasarnya. Karena kultur masayarakat Solo, baik pebisnis maupun pedagang (baca pengusaha) masih lebih merasa nyaman untuk memiliki ruko sebagai kantor mereka. Namun, Andreas menjamin, “Seiring dengan transformasi di segala segi, kami yakin ini hanyalah masalah kebiasaan. Jika kami menawarkan perkantoran dengan gimmick gengsi, prestis dan praktis, yakin dan optimis mereka mau relocate ke mari,” yakinnya, seoptimis saat ia menyebut target tingkat okupnasi hotelnya yang kelak dikelola Swissbel Hotel berkelas bintang 4.

 

Menurutnya, hotel kelas bintang 4 di Solo Baru sudah menjadi kebutuhan.  Menjadi pilihan utama bagi upper level management perusahaan-perusahaan yang melakukan perjalanan bisnis di sini. Dus, tingkat hunian hotel eksisting di sekitar Solo Baru nyaris sempurna, 95%.

 

 

 

 

 

 

Satu Tanggapan

  1. wow,,,solo makin modern,mantab! tp jgn lupaken asal usulnya sebagai kota budaya dan pariwisata tetap dijaga,,ingat weling pak jokowi. sukses bt solo raya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: