Inilah Lima Hotel Termahal Jakarta

RC

 

Iklim usaha yang kondusif serta potensi ekonomi Indonesia yang sangat besar mendorong aktifitas bisnis yang pada gilirannya berimplikasi terciptanya peluang di bidang penyediaan akomodasi. Indonesia memiliki pasar yang terus tumbuh dengan segmentasi yang beragam, mulai dari hotel minimalis, hotel ekonomis, hotel menengah, hotel menengah ke atas, sampai hotel mewah. Kendati secara umum, bisnis hotel ditopang oleh permintaan domestik yang sangat kuat dan lebih tinggi dibandingkan permintaan dari luar negeri.

Nah, Jakarta adalah destinasi akomodasi utama, selain Bali. Ada banyak pemain popular baik skala nasional maupun internasional yangtelah dan akan masuk pasar Jakarta. Sebut saja Grup Accor, SwissBel Hotel, JW Marriott, Pan Pacific, Intercontinental, Starwood, dan lain-lain. Belum lagi kelompok usaha hospitalitas lokal macam Sahid Group atau Mulia Group.

Meningkatnya tingkat hunian dan tarif sewa ruang hotel yang akhirnya menaikkan tingkat pendapatan per kamar (RevPAR) merupakan motivasi utama masuknya grup-grup besar. Selain tumbuhnya kunjungan dan jumlah wisatawan dan melonjaknya masyarakat kelas menengah. Dan yang paling utama adalah meningkatnya kegiatan Meeting Incentive Conference Exhibition, government spending dan bisnis swasta yang kian membaik. Sementara dari pihak regulator (pemerintah) juga gencar mendorong sektor swasta dengan mendorong percepatan pengembangan 16 destinasi dan 7 wisata minat khusus.

Menariknya, menurut riset Colliers International Indonesia, kelas hotel bintang lima yang masuk pasar Jakarta sebanyak 31 atau 23% dari total 159 hotel semua kelas yang beroperasi tahun ini. Menyusul 28 hotel bintang lima yang beroperasi pada tahun lalu. Sebagian besar dari mereka adalah hotel dengan international chain operator. Menawarkan fasilitas yang lengkap dan desain yang mewah sehingga mampu mencapai tingkat okupansi yang tinggi  dan average room rate (ARR)  yang tinggi pula.

Namun demikian local operator pun tak kalah professional dan mewah dalam berkompetisi menawarkan fasilitas, layanan dan tata kelola.  Karena pada prinsipnya, tamu hotel bintang 5 memang memerlukan kemewahan akomodasi dan fasilitas yang lebih. Apalagi tamu dari korporasi yang mempunyai budget tinggi untuk akomodasi top level management-nya. Dus, walaupun kadang tidak sepenuhnya mengakses fasilitas yang disediakan, namun mereka memerlukan prestige dan kenyamanan hotel mewah.

“Lepas dari itu, secara kasat mata, Jakarta memang telah dianggap sebagai tempat investasi yang nyaman dan meyakinkan. Ini terlihat dari demand sejak 2010 hingga 2012 di mana keterisian kamar hotel bintang 5 terus menunjukkan kurva menanjak dari 59-65% menjadi 71% hingga akhir tahun lalu,” ujar Ferry Salanto, Associate Director Research Colliers International Indonesia.

Ada pun hotel-hotel bintang lima yang kerap diincar oleh para pebisnis, wisatawan atau top level management korporat adalah The Dharmawangsa, Mulia, Grand Hyatt, Hotel Indonesia Kempinski, JW Marriott, Ritz Carlton atau Shangri-la.

Hotel-hotel tersebut umumnya mencapai ARR yang selevel. Yakni Rp1,173 juta untuk hotel bintang lima di wilayah CBD Jakarta, Rp1,141 juta di luar CBD Jakarta, khususnya selatan Jakarta, Rp856 ribu di barat Jakarta. Kendati selevel, tetap saja terdapat disparitas harga yang lumayan signifikan. Meskipun disparitas ini bukan disebabkan oleh pengelolanya international atau lokal. Hotel-hotel brand internasional pun banyak yang ARR-nya tidak terlalu tinggi terutama hotel yang sudah tua dan tidak melakukan renovasi. Selain itu beberapa grup hotel memiliki brand yang segmentasinya lebih spesifik. Contoh, Grup Accorr, mereka memiliki Sofitel (luxury) dan Pullman (upper class). Jika keduanya dikategorikan dalam sistem hotel berbintang PHRI berada dalam level yang sama: hotel bintang lima. Tapi dari segi harga kamar, tentunya berbeda. Itulah yang terkadang menyebabkan disparitas harga.

Berikut adalah lima hotel termahal di Jakarta yang didasarkan tarif berlaku pada 2 Februari 2013. Berada pada posisi pertama adalah Ritz Carlton Pacific Place. Mereka menawarkan room rate terendah dengan kurs dolar amerika serikat senilai 510 dan tertinggi 640. Adabeberapa hal yang menyebabkan hotel ini menempati posisi teratas. Lokasinya sangat strategis, berada di tengah-tengah pusat bisnis (CBD) Jakarta. Menyatu dengan pusat belanja Pacific Place yang juga berkelas premium. Dus, hotel ini terbilang baru dengan desain yang menawan, fasad yang glassy dan berkelas.

Disusul kemudian oleh Grand Hyatt yang berlokasi di kawasan Thamrin, Jakarta Pusat. Hotel ini telah beberapa kali mendapatkan penghargaan sebagai hotel terbaik dari Destin Asia, Asia Money dan Business Asia. Prestasi lainnya pernah mencatat rekor dengan pendapatan kamar (yield) tertinggi di antara hotel bintang lima di Jakarta. Mereka menawarkan kamar seharga antara 366 USD-639 USD.

Urutan ketiga ditempati The Dharmawangsa. Menawarkan atmosfer mewah di kawasan kebayoran baru yang popular sebagai “kota taman”. Pernah dikelola oleh Grup Starwood, hotel ini adalah pilihan para ekspatriat maupun pebisnis dan top level management korporat asing dan domestik. Sangat privat dan nyaman. Meski pun terbilang tua, namun kualitas layanan dan fasilitas tetap terjaga. Tarif senilai 292USD-489 USD bukan masalah untuk menikmati semua kemewahan dan kenyamanan hotel ini.

Kedua terakhir adalah Ritz Carlton Mega Kuningan. Ini merupakan hotel bisnis di kawasan tersibuk kedua setelah Sudirman CBD. Posisinya tepat di jantung kawasan internasional Mega Kuningan. Profil tamunya pun khas; para pebisnis dari perusahaan multinasional dengan length of stay rata-rata 1,89 hari. Tarif yang dipatok serentang 290 USD-440 USD.

Posisi buncit ditempati JW Marriott Mega Kuningan. Serupa dengan Ritz Carlton, JW Marriott merupakan opsi yang kerap diambil oleh pebisnis, pengusaha dan professional multinational company asal Amerika Serikat dan Eropa. Menawarkan tariff kamar seharga 288 USD-399 USD.

Iklan

Devas, Tiru Marina Bay Sands

Bali masih menjadi destinasi utama yang memikat. Apalagi bagi para pengembang. Tak heran,  nihil sejengkal pun lahan bebas tak bertuan. Grup Graha Cemerlang hanyalah satu dari sekian banyak pengembang yang menguasai lahan untuk kemudian menggarapnya dengan motivasi komersial. Melalui anak perusahaannya yakni PT Danau Winata Indah, akan mulai membangun proyek terpadu (mixed use) yang diberi nama Devas. Lokasinya di Jl I Gusti Ngurah Rai (By Pass Nusa Dua), Bali, yang merupakan perbatasan antara Nusa Dua dengan Jimbaran.

 

“Potensi Bali masih sangat menjanjikan. Salah satu destinasi wisata yang sangat menarik di dunia. Dan proyek ini akan menjadi icon baru di Bali,” kata Candra Wijaya, President Director PT Danau Winata Indah. Untuk mewujudkan proyek terbesar yang pernah dibangun selama 35 tahun kiprahnya di bisnis properti tanah air, Grup Graha Cemerlang telah menyiapkan investasi sebesar Rp1,2 triliun yang didapatkan dari kas internal dengan proporsi 40%, 40% dari perbankan, sisanya dari investor.

 

Di atas lahan seluas 3,3 hektar, selain dibangun apartemen, kondominium hotel (kondotel), hotel, dan shopping arcade, juga akan dilengkapi dengan art gallery, amphi theater dan sky bar and lounge terbesar di Indonesia (3.000 m2) dengan konsep seperti Marina Bay Sands Singapura. Amphi theater ini dibangun dengan tujuan menunjang pariwisata Bali karena di lokasi ini secara berkala akan digelar art and cultural event skala nasional maupun internasional.

 

“Devas dirancang sebagai pusat kebudayaan serta tempat pergelaran seni dan pariwisata karena bersebelahan dengan monumen Margarana yang melambangkan kebebasan rakyat Bali. Kami diberikan hak untuk ikut mengelola setiap kegiatan pergelaran seni dan  pariwisata di lingkungan monumen Margarana. Dan kami berencana membuat 3 event skala internasional setiap tahunnya,” kata Candra.

 

Devas juga dilengkapi berbagai fasilitas penunjang, antara lain ballroom with facade LED screen  berkapasitas 1.000 orang, meeting room bekapasitas 100 orang, curve rooftop pool, restaurant for breakfast with a view to wedding pool and Margarana monument, curve skypark, wedding pool, salon & spa, dan apartment courtyard.

 

Untuk desain bangunan, kata Chandra, Devas diselaraskan dengan pengembangan green concept dengan arsitek koordinator berkelas internasional  yakni THG Pty Ltd Melbourne dan di dukung arsitek dari Design Scape Studio Singapore. Sementara untuk landscape akan memakai konsultan terkenal dan berpengalaman menangani design landscape hotel bintang 5 dan villa resort bertaraf internasional seperti Bulgari Resort sehingga dapat menciptakan suasana tradisional tropis Bali.

 

Project & Marketing Director PT Danau Winata Indah Eddy Arifin yakin Devas yang akan mulai diserahterimakan pada Juli 2014 akan disambut baik oleh masyarakat. “Dengan konsep baru dan fasilitas selengkap ini Devas akan menjadi resort terbaru yang diminati masyarakat. Sampai akhir Januari, kami sudah meraih penjualan senilai Rp60 miliar,” ungkapnyaseraya mengatakan segmen pasar yang dibidik adalah kelas menengah atas dari Bali sendiri maupun beberapa kota lainnya seperti Jakarta, Bandung, Surabaya dan Makassar.

 

Kelebihan lain yang ditawarkan adalah lokasinya yang sangat strategis. Apalagi jika jalan tol di atas laut  Nusa Dua – Ngurah Rai – Benoa sepanjang 9,702 Km selesai dibangun. Rencananya, jalan tol yang menghubungkan kawasan Bandara Ngurah Rai dengan kawasan Nusa Dua serta kawasan pelabuhan Benoa (akses Pesanggaran)  akan open traffic pada Juli 2013. “Keberadaan jalan tol ini akan memudahkan penghuni Devas untuk mengakses semua lokasi di sekitar kawasan pengembangan,” ujar Eddy.

 

Untuk apartemen yang berjumlah 107 unit, terdiri atas Tipe Queen (38 m2) dengan harga perdana mulai Rp1,9 miliar dan King (82 m2) senilai Rp2,2 miliar. Untuk kondotel yang berjumlah 179 unit, terdiri atas dua tipe; Deluxe (38 m2) dijual Rp999 juta dan  Suite (77,7 m2) dibandrol Rp2,1 miliar. Garansi sewa (rental guarantee) sebesar 20%  selama 2 tahun, sementara tahun ke 3 sampai 10 dengan pola bagi hasil. Mereka juga memberikan masa tinggal 21 poin setiap tahunnya.  Dengan harga sewa kondotel sekitar Rp2 jutaan per malam, diperkirakan investor kondotel akan mendapatkan  break event point/BEP pada tahun ke 7

 

Sementara hotelnya berisi 412 kamar. Operatornya belum ditentukan. ”Yang pasti akan dioperasikan oleh operator yang memiliki reputasi dunia dan berkelas bintang 5,” imbuh Eddy. Sementara shopping arcade yang memiliki total luas 4 ribu m2 akan disewakan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Archipelago International Opens Aston Hotel Pluit

Photo 1 - Aston Pluit - Exterior Look

 

 

Archipelago International, the hotel management company behind such fast growing hotel brands as Aston, Quest and favehotels opened its 23rd Aston hotel in Indonesia and it’s 3rd in Jakarta – the Aston Pluit Hotel & Residence.

The Aston Pluit Hotel & Residence is a combination of an international 4 star hotel affording all the facilities usually associated with a full service hotel and the personal comfort and space of a private residence. The new Aston is strategically located between Jakarta’s city center and the Soekarno- Hatta International Airport in North Jakarta bustling trading and business district of Pluit.

Hotel facilities comprise 203 rooms, suites and apartments with excellent views of the city skyline or the nearby Java Sea, 5 meeting rooms for small to mid seized functions, a cocktail bar & lounge with wine shop, an all day dining Restaurant, an outdoor, a spa and a well equipped fitness center.

Pluit is an administrative district located in North Jakarta and is one of Jakarta’s fastest developing areas offering easy connectivity to the greater Jakarta’s toll road system and the International Airport. In the last ten years, Pluit has established itself as a bustling commercial center with several new shopping centers such as Pluit Junction, Pluit Village and Emporium Pluit Mall.

Aston International’s Vice President of Sales & Marketing, Mr. Norbert Vas said “The Aston Pluit Hotel & Residence has been conceptualized to become the areas primary business hub. Since we soft opened in October last year we have been enjoying healthy trading volumes and achieved an average occupancy of more than 80% which proves that the hotel fills a niche in a high demand but previously underserviced area of Jakarta. “

Holland Village, Perspektif Baru Kawasan Terpadu

Image

PT Lippo Karawaci Tbk (LPKR) kembali melanjutkan sensasi, usai melansir The St Moritz Penthouses and Residences pada 2007 silam, dengan membesut Holland Village. Jika nama pertama diklaim sebagai episentrum bisnis dan gaya hidup di wilayah barat tepatnya Puri Indah CBD, maka Holland Village dirancang “menguasai” timur Jakarta.

Menempati lahan seluas 7 Ha, Holland Village merupakan kawasan terpadu yang mengintegrasikan sembilan (9) fungsi properti berbeda. Mencakup apartemen, perkantoran, hotel, pusat belanja, rumah sakit, sekolah, green lush garden, ruang pertemuan, dan helipad. Sehingga memiliki total luas bangunan 350.000 m2.

DP Architects, asal Singapura, yang mendesain proyek ini menekankan pada konsep urban central living. “Segala aktifitas masyarakat urban metropolitan dapat dilakukan di satu kawasan. Jadi, Holland Village merupakan pusat segala aktifitas, tinggal, bekerja, sekolah, belanja, olahraga, hingga hang out dengan standar gaya hidup internasional bisa dilakukan di sini,” ujar CEO Lippo Homes Ivan Setiawan Budiono. Lippo Homes sendiri merupakan divisi usaha mixed use development Lippo Karawaci.

Kendati diklaim sebagai yang terbesar untuk kawasan Cempaka Putih, Jakarta Pusat, Holland Village bukanlah yang pertama dan satu-satunya integrated development. Di sini sudah berdiri properti multiguna Cempaka Mas yang dikembangkan Sinarmas Land. Berisi ITC Cempaka Mas Megagrosir dengan 5.700 unit kios di dalamnya, 4 menara apartemen, 9 blok ruko dan rukan.

Hanya, memang, konsep dan kelas sasaran yang dibidik berbeda. Holland Village, jelas Ivan, menyasar kelas menengah atas. Itulah mengapa harga perdana unit-unit apartemennya dibanderol senilai Rp17 juta/m2. Jauh di atas harga unit-unit apartemen De Green Pramuka yang paling dekat lokasinya dan dipatok Rp9 juta-10 juta/m2. Akan tetapi, harga unit apartemen Holland Village terhitung masih lebih kompetitif dibandingkan harga apartemen yang ditawarkan Bahama Development atas Sentosa Residence Jakarta (SRJ). SRJ dipasarkan senilai Rp21,5 juta/m2.

Menjadi menarik bila kita bicara investasi di sini. Beberapa variabel yang mendukung postulat investasi akan berbuah manis seiring progres pembangunan, memang sudah tersedia. Seperti jalur bus Transjakarta rute Pulo Gadung-Harmoni. Beberapa fasilitas penunjang seperti rumah sakit Islam Jakarta, berbagai sarana pendidikan, pusat belanja bahkan terminal bus antarkota-antarprovinsi Pulo Gadung, tak jauh lokasinya dengan Holland Village. Dus, berdekatan dengan cloverleaf bridge Cempaka Putih yang segera dibangun. Cloverleaf bridge ini memudahkan mobilitas masyarakat melintasi kawasan ini. Sekaligus sebagai akses tambahan yang bisa menjadi opsi alternatif bagi pengguna kendaraan.

Serupa dengan integrated development lainnya, pengembang dengan kapitalisasi pasar senilai Rp24,5 triliun atau 2,5 miliar dolar AS ini melengkapi mixed use development-nya dengan fasilitas ritel. Mereka sekaligus membangun pusat belanja Lippomall @ Cempaka Putih bergenre lifestyle mall dan mengusung tenan-tenan yang berafiliasi dengan induk usaha. Seperti Matahari Department Store dan Hypermart.

Sementara untuk hotelnya berisi 180 kamar yang dialokasikan sebanyak 4 lantai dengan klasifikasi bintang lima. Dan untuk kawasan Cempaka Putih, hotel berbintang masih terhitung langka. Paling banter hotel bintang 3 dan ekonomis yang tersebar sporadis. Kalau pun terdapat bintang 4, lokasinya lumayan jauh yakni Harris Kepala Gading. Sehingga hotel di Holland Village ini kelak merupakan satu-satunya hotel bintang lima.

Perkantorannya sendiri membidik perusahaan-perusahaan domestik dengan bisnis yang terkait jasa, perdagangan dan telekomunikasi. Menurut Ivan, perusahaan jenis ini yang kini sedang tumbuh. “Mereka membutuhkan ruang yang lebih representatif di dalam gedung bertingkat. Kami tak takut bersaing dengan ruko-ruko yang masih mendominasi kawasan ini dan sebagai kultur bisnis yang memang sulit untuk diubah. Namun, saya yakin office di Holland Village dapat menjadi pilihan tepat untuk perusahaan-perusahaan tersebut,” urai Ivan.

Apalagi dengan catchment area tak sebatas Cempaka Putih, juga Kelapa Gading, Rawamangun, Senen dan Sunter yang secara tradisi sangat kuat di sektor jasa dan perdagangan, bukan hal sulit bagi LPKR menjual perkantorannya.

Bisa dikatakan Holland Village cukup menarik dan potensial dijadikan sebagai instrumen investasi. Sebelum kehadiran mereka, harga lahan di kawasan Cempaka Putih sudah mencapai Rp 12 juta sampai Rp 17 juta per meter persegi. Jika Holland Village dan juga Sentosa Residence Jakarta dikerjakan bersamaan, angka tersebut dapat melonjak, “Sebesar 15 persen sampai 20 persen per tahun. Propertinya sendiri linear mengikuti pertumbuhan harga lahan,” prediksi CEO Bahama Development, Reddy Hartadji.

Holland Village akan dimulai pengerjaan konstruksinya tahun ini dengan target serah terima dan operasi pada 2015.

 

 

 

Grup Pancanaka Property Bersiap Go Public 2015

Gairah bisnis properti diyakini para pengembang akan terus berlanjut di tahun 2013. Tak terkecuali  PT Pancanaka Swasakti Utama (Grup Pancanaka Property). Kondisi ekonomi yang stabil akan dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh perusahaan pengembang yang berdiri sejak tahun 2001 di kota Malang, Jawa Timur ini. Proyek-proyek anyar pun siap dilansir.

“Kami akan terus menekan pedal gas agar bisa melaju kencang di tahun. Selagi situasi kondusif dan normal karena di tahun 2014 belum tentu bisa seperti tahun ini karena ada pemilu,” ujar Judy Soebarjadi, Komisaris Grup Pancanaka Property seraya meyakinkan tahun ini dapat meraih penjualan (marketing sales) sebesar Rp800 miliar, meningkat  dibandingkan pencapaian penjualan tahun 2012 senilai Rp500 miliar.

Untuk mencapai target itu, kata Direktur Utama Grup Pancanaka Property Ahmad Rony Yustianto, penjualan 19 proyek properti yang saat ini sedang dipasarkan akan digenjot. Menggenapi jumlah total protofolio sebanyak 30 proeprti.

Ada pun proyek yang saat ini sedang dipasarkan antara lain Tirtasari Residence Malang,  Pancanaka Royal Garden Cimahi, Sanghyang Pancanaka Hill Cimahi, Pancanaka Green Garden Bengkulu, Pancanaka Green Hill Balikpapan, Pancanaka City Tanjung Pinang, Grand Mawar City Banjarbaru, Erfina Kencana Regency Bogor, Green Erfina Residence Cikampek, Pancanaka Green Leaf Jakarta, dan LA City Apartment Jakarta. Semua proyek  menyasar multisegmen dengan harga mulai dari Rp130 juta (Pancanaka Green Garden Bengkulu ) hingga Rp3,5 miliar (Pancanaka Green Leaf Jakarta).

Judy menambahkan, pihaknya juga bakal membesut proyek baru di berbagai kota di Indonesia. Tengah dipersiapkan high rise building seperti apartemen, kondotel, dan perkantoran. LA City Apartment di kawasan Lenteng Agung, Jakarta Selatan merupakan proyek high rise pertama mereka. Posisi penjualan saat ini, 60% dari total 998 unit apartemen (3 tower).

Ada 2 proyek high rise building yang akan dibangun Grup Pancanaka Property di tahun 2013. Pertama, di Balikpapan. Di atas lahan seluas 1,9 hektar, rencananya akan dibangun 2 tower apartemen yang merangkum 900 unit apartemen seharga mulai dari Rp300 juta hingga Rp1,2 miliar dan 1 tower kondominium hotel (150 unit) atau office. “Jika tidak ada kendala, pertengahan tahun ini mulai dikerjakan,” kata Judy. Kedua, di Samarinda. Rencananya, pada Agustus 2013,  di atas lahan seluas 1,2 hektar mereka menggeber 2 tower apartemen yang berisi 750 unit apartemen dan akan dipasarkan seharga mulai dari Rp400 juta hingga Rp800 juta. Guna merealisasikan keduanya, dana investasi sekitar Rp500 miliar telah mereka siapkan. Sumber pendanaan pengembangan proyek diperoleh dari dana sendiri dan pinjaman bank.

Kendati high rise building akan diperkuat, mereka tak melupakan core business awal, yakni mengembangkan rumah tapak. Rencananya, kota-kota seperti Bandung, Batam, Tasikmalaya, Serang, Semarang, Probolinggo, Lamongan, dan lain-lain. Judy mengatakan, Grup Pancanaka Property akan semakin agresif membangun proyek di daerah-daerah ber-Pendapatan Asli Daerah (PAD) tinggi dengan tetap memperhatikan potensi pasar. “Saat ini kami memiliki land bank lebih dari 100 hektar yang tersebar di berbagai kota besar. Kami juga telah bekerjasama dengan Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) untuk membangun rumah bagi anggota Polri seluruh Indonesia,” ungkapnya.

Semakin agresifnya Grup Pancanaka Property menggarap pasar properti di Indonesia, juga untuk mendukung  mile stone perusahaan  yang akan go public tahun 2015. “Portofolio property kami perbanyak, kondisi internal perusahaan kami perbaiki, mutu produk, mutu manajerial, dan menjaga kepercayaan pasar akan kami tingkatkan sehingga jalan menuju lantai bursa tak terkendala,” ujar Ahmad.

Melihat pencapaian sampai saat ini, Ahmad yakin Grup Pancanaka Property akan diminati para investor. Pada awalnya Grup Pancanaka memusatkan kegiatan usahanya pada pembangunan rumah tinggal dan bangunan komersial baik konstruksi (eksterior) maupun interior khusus di daerah Malang. Dengan kerja keras, keahlian dan dedikasi para personilnya, saat ini telah beroperasi dalam skala yang lebih luas di Jawa dan Kalimantan.

Dalam perjalanannya kemudian, manajemen melihat peluang yang lebih besar dan menjanjikan di bidang properti, khususnya  pengembangan perumahan. Oleh karena itu, Grup Pancanaka menjadikan bisnis properti, terutama real estate sebagai bisnis inti.  Selain bergerak di bidang properti sebagai usaha utama (PT Pancanaka Swasakti Utama/Grup Pancanaka Property), perluasan usaha dilakukan untuk sayap bisnis lain seperti bidang Jasa Konstruksi (PT Pancanaka Konstruksi Utama), Furniture Product (Pancanaka Gallery), Medical Centre (Mensana Medical Center), Konsultan Arsitektur (Pancanaka Design Associates), dan bisnis lainnya yang berjumlah kurang lebih 8 perusahaan yang berkantor pusat di Kota Malang.

Ciputra Tunjuk NRC Bangun CWJ 2

Image

PT Ciputra Property Tbk (CTRP), melalui anakperusahaannya PT  Saraneka Indahpancar secararesmi telah menunjuk PT Nusa Raya Cipta (NRC) sebagai kontraktor utama pembangunan Ciputra World 2 Jakarta tahap pertama. Ciputra World 2 Jakarta merupakan sebuah mixed use development terbaru yang dibangun di atas lahan seluas 3,2 hektar.

NRC yang berdiri sejak tahun 1963 merupakan kontraktor handal yang berpengalaman.Berbagai standarisasi telah berhasil diraih di antaranya ISO 9001:2008 dari PT Sucofindo International Certification Services.Beberapa hasil karya pembangunan NRC di antaranya Bvlgari Resort Bali, Ritz Carlton Bali, dan Banyan Tree Spa & Resort Ungasan dan banyak proyek komersial lainnya.

“Kami percaya, dengan pengalaman NRC selama ini pembangunan Ciputra World 2 jakarta dapat berjalan dengan baik seperti yang diharapkan,” kata Artadinata Djangkar, Direktur PT. Ciputra Property Tbk. Arta juga menambahkan bahwa NRC merupakan salah satu kontraktor utama daripembangunan Ciputra World 1 Jakarta yang sudah masuk tahap penyelesaian.

Tahap pertama pembangunan Ciputra World 2 Jakarta akan terdiri dari 349 unit the Orchard Satrio Condominium, 117 unit the Residence, dan 200 unit Fraser Suites Serviced Apartment serta 45 lantai office , dan W Hotel Jakarta untuk tahap berikutnya.

Proyek Ciputra World 2 Jakarta tahap pertama terbukti dapat diterima dengan baik oleh pasar. Penjualan The Orchard Satrio Condominium yang mulai dipasarkan sejak  September 2011 telah mencapai lebih dari 85%, sementara the Residence yang mulai dipasarkan sejak Desember 2011 telah habis terjual lebih dari 80%.

“Proyek ini telah menunjukkan peningkatan yang signifikan. Misalnya untuk the Orchard Satrio saat ini harganya melonjak 75% menjadiRp. 35 juta rupiah/m2 dibandingkan harga awal yaitu Rp20 juta/m2. Sementara the Residence naik 50% menjadi Rp37 juta/m2 dari sebelumnya Rp. 24,5juta/m2 dan masihakan terus bertambah. Hal ini menunjukkan bahwa peningkatan harga yang cukup signifikan menjawab kepastian investasi bagi para pembeli,” kata Rudi Hartono, Direktur PT. Ciputra Property Tbk.

Sementara itu, gedung perkantoran yang merupakan bagian dari tahap kedua Ciputra World 2 Jakarta juga sudah mulai berjalan.Ground Breaking padabulan September 2012 sampai saat ini masih berjalan sesuai dengan rencana. Duapuluh lantai atau sekitar 45% dari total keseluruhan gedung kantor, terserap pasar. Harga perdana Rp. 20 juta/m2, saat ini mencapai Rp. 40 juta/m2. Sementara sisanya sebanyak duapuluhdua lantai akan disewakan.

Archipelago International Opens Aston Cirebon

ASton cirebon

 

Archipelago International has opened a new 200 room hotel in Cirebon in Indonesia’s province of West Java. The new Aston Cirebon Hotel & Convention Center, located on Cirebon’s main road of Jalan Darsono, becomes the 22nd Aston in Indonesia and the largest full service hotel in Cirebon.

Facilities at the hotel comprise three F&B outlets, including a rooftop bar, as well a business centre, outdoor pool and a 24-hour fitness centre. The hotel also offers 2,500m² of meeting space, including a 1,600m² ballroom.  All 200 rooms, inclusive of 30 suites, are equipped with WiFi and flat screen TVs while suites also offer private balconies.

“With their professional service, consistency, design and amenities, Aston Hotels have been well received and offer the vastest network of modern business and conference hotels in Indonesia with 22 operating hotels and a construction pipeline of 20 more,” said Norbert Vas, Vice President Sales & Marketing. “The popularity of the Aston Hotels brand in Indonesia continues to grow, and we are delighted to be opening this wonderful hotel in Cirebon.”