Rudy Margono: Sepuluh Besar Dalam Lima Tahun

Pembawaannya kalem, bersahaja, namun karismatik. Generasi muda klan Margono inilah yang sekarang menahkodai Gapura Prima Group, sebuah entitas bisnis real estat dan properti papan tengahberaset Rp3 triliun. Ya Rudy Margono. Ide dan gagasan khas anak muda yang dinamis, kerap lahir dari rahim pemikirannya.

“Saya menyukai tantangan, hal baru, dan juga cara-cara baru. Saya sangat obyektif dan tahu bagaimana cara terbaik untuk membuat bisnis properti lebih bergairah dan menjadi instrumen investasi yang paling menarik,” ujar Rudy.

Apa hasil elaborasi gagasan dan pemikirannya? Bellagio Mansion, Bellagio Residence, The Bellezza, dan beberapa properti lainnya yang secara komersial menjadi profit center yang berkontribusi signifikan terhadap kekinian Gapura Prima Group, boleh disebut.

Mereka adalah etalase properti mentereng untuk tidak disebut mendongkrak imaji kelompok usaha pengembang ini ke altar lebih tinggi dari pencapaian sebelumnya. Jelas, bukan sembarang portofolio properti, melainkan bernilai tinggi dan menjadi “alamat” tepat bahwa Gapura Prima Group masa Rudy Margono adalah tahbis yang tak terelakkan.

Lahir di  Jakarta, 8 Mei 1970, pehobi jalan-jalan ini menyelesaikan pendidikan Sarjana Teknik-nya di bidang Real Estate dari Universitas Tarumanegara dan pendidikan Master di bidang Business Administration dari Aspen University Colorado, Amerika Serikat. Sebelum memuncaki induk bisnis keluarga ini, ia pernah menjabat sebagai Direktur Utama PT Sumber Daya Nusaphala, Direktur PT Centra Lingga Perkasa dan Direktur PT Bandung Inti Graha.

Saat ini, selain sebagai Direktur Utama PT Perdana Gapuraprima Tbk, eksistensinya di pasar modal, juga menjabat sebagai Direktur Utama PT Abadi Mukti Guna Lestari, Direktur PT Citra Abadi Kota Persada, Direktur Utama PT Abadi Mukti Kirana dan Direktur PT Sendico Wiguna Lestari.

Apa dan bagaimana perspektif bisnis dan industri properti Indonesia di mata Rudy? Serta bagaimana ia mengambil posisi di tengah kompetisi yang kian sengit? Berikut petikan perbincangan dengan anak bungsu dari lima bersaudara ini.

Bagaimana Anda mengatur strategi dalam Grup (induk usaha) dan perusahaan terbuka (PT Perdana Gapura Prima Tbk/GPRA) dan seperti apa perlakuan terhadap keduanya?

 

Secara Grup kami memang telah ada sejak 1980. Tiga dekade kami berkarya. Ayah saya, Gunarso Susanto Margono adalah salah satu pelopor pengembangan di Bekasi dan Bogor. Kami di sana membangun perumahan skala menengah dengan segmentasi menengah bawah. Untuk grup, kami bermain di multisegmen: kelas atas, memengah dan menengah bawah. Serta multiproperty: landed housing, vertical housing dan retail dan perkantoran. Namun, untuk saat ini kami lebih fokus menggarap pasar menengah dan menengah atas. Karena apa? Middle income class mengalami lonjakan yang luar biasa. Ini ceruk pasar yang paling gemuk. Kuenya tak akan habis dibagi. Kami masih menyelesaikan landed residential di Bogor. Sementara untuk GPRA kami fokus pada properti komersial khususnya kondotel (stand alone), hotel, retail atau gabungan ketiganya yang terintegrasi dalam sebuah mixed use development.

Saya, secara profesional menganggap keduanya adalah kapal yang dapat bersinergi dengan harmonis. Oleh karenanya, profesionalisme, manajerial yang paripurna serta kualitas harus dikembangkan untuk menjalankan keduanya.

Gapura Prima go public pada tahun 2007. Beberapa portofolio yang masuk dalam lini bisnisnya antara lain The Bellagio dan Bellagio Mansion, The Belleza Permata Hijau, CBD Serpong, Apartemen dan Shopping Arcade. Selain itu juga  5 (lima) proyek perumahan Cimanggu City (Bogor), Metro Cilegon (Cilegon), Anyer Palazo  Anyer), Taman Raya Citayam (Bogor), Taman Raya Cilegon (Cilegon), dan Kebagusan City melalui tiga anak perusahaan.

Apa strategi bisnis yang tengah dan akan direalisasikan tahun ini hingga beberapa tahun menjelang?

Land bank kami tidak luas. Hanya 200 ha. Untuk itu kami akan memanfaatkannya semaksimal mungkin. Dengan mengembangkan properti-properti bernilai tinggi. Terutama untuk genre komersial. Kondotel dan hotel merupakan prioritas utama kami. Tahun ini kami akan membuka dan mengoperasikan lima hotel baru.

Kelima hotel baru tersebut adalah Best Western Hotel di Kuningan, Jakarta Selatan, Gapura Prima Hotel (GPTEL) di kawasan Gatot Subroto, Jakarta Pusat, Best Western di kawasan CBD Serpong, Banten, luxury hotel di Permata Hijau, Jakarta Selatan, serta hotel bintang 4 di Tangerang. Sebagian hotel merupakan hasil kerjasama dengan mitra strategis, sebagian lagi dibangun dan dimiliki sendiri.

Selain dari 5 hotel tersebut, GPRA juga akan melansir 5 proyek lainnya baik proyek akuisisi maupun pengembangan baru. Salah satu proyek tersebut adalah Diamond City, di kawasan Taman Mini, Jakarta Timur. Ini merupakan mixed use development. Luasnya 3,4 Ha. Menara perkantoran di lahan seluas 4.000 m2 di kawasan MT Haryono, Jakarta Timur, proyek apartemen di Depok, Jawa Barat, serta perumahan di kawasan Sawangan, Depok, dan proyek kondotel The Belleveu di Nusa Dua, Bali. Untuk pengembangan proyek-proyek tersebut, GPRA mengalokasikan Rp 300 miliar sebagai belanja modal 2013.

Apa ambisi Anda bersama Gapura Prima?

Saya akan membawa Gapura Prima menjadi imperium bisnis dan industri properti terkemuka, tepercaya dan tentu saja menjadi pilihan masyarakat. Dalam lima tahun ke muka, saya merancang target Gapura Prima berada pada posisi sepuluh besar Nasional. Proyek tersebar di kota-kota besar Indonesia dan mendatangkan keuntungan investasi untuk konsumen kami. Dan terutama, bisnis kami terus berlanjut dan berkesinambungan.

Bagaimana cara Anda mencapai ambisi itu? Karena di tengah kompetisi yang sengit seperti sekarang, tidak mudah merancang sebuah pencapaian, praktik kepemimpinan seperti apa yang Anda terapkan dalam perusahaan?

Team work itu kuncinya. Juga business plan yang pasti, terukur, penuh pertimbangan dan kehati-hatian. Saya merekrut para profesional yang memiliki loyalitas dan kejujuran serta mau bekerja sama dengan tim. Saya tidak butuh profesional pintar tapi membodohi. Pintar tapi tidak jujur dan loyal, itu tidak masuk dalam kriteria. Saya tidak suka direksi dan manajemen atau karyawan yang asal bikin senang dan sering menunda pekerjaan. Kalau saya bilang “proyek ini harus diperbaiki sekarang” itu artinya “selesai sekarang”.

Saya memimpin dengan rasa kekeluargaan tapi tegas tanpa melupakan profesionalitas. Walau pun Gapura Prima merupakan family business, tapi kalau personalnya tidak profesional ya maaf tidak bisa gabung dalam tim kami.

Dalam memimpin, saya berusaha untuk selalu mendengarkan. Tidak hanya menginstruksikan. Begitu pula dalam pencapaian target. Setiap profesional yang ada di Gapura Prima harus memiliki target pribadi dan targetnya terhadap perusahaan. Itu yang akan kemudian dirumuskan dan dicari bersama.

Itulah mengapa saat ini jumlah karyawan kami sebanyak 1.400 orang. Sebagian besar sudah berkarya selama 10, 20 tahun bahkan sejak perusahaan ini berdiri. Kami terapkan index kriteria penilaian terhadap seluruh karyawan. Sehingga mereka terpacu bekerja lebih baik dan berprestasi.

Bagaimana dengan strategi perkuatan konstruksi finansial?

Belajar dari krisis 1998 dan 2008, saya tekankan pada jajaran direksi dan manajemen untuk percaya dengan kekuatan sendiri. Dalam hal konstruksi finansial, saya tidak mau banyak berutang. Saat ini posisi utang perseroan hanya Rp150 miliar. Sewajarnya dan secukupnya saja. Saya justru ingin penjualan lebih prestatif, meningkat dan jadi bagian terpenting dalam komposisi pendanaan konstruksi setiap proyek.  Tapi dalam waktu dekat saya sedang mempersiapkan penjualan obligasi. Karena obligasi ditentukan oleh rating, jadi masih dikaji oleh under writer. Obligasi ditargetkan mencetak angka Rp500 miliar. Dana sebesar itu akan digunakan untuk pembelian lahan dan ekspansi.

Selain itu, saya mencari peluang-peluang kerjasama yang saling menguntungkan. Kerjasama menjadi opsi paling menarik untuk saat ini. Walau kami sudah menempuhnya di tahun-tahun silam. Namun kali ini kami harus lebih selektif, kompromis dan juga menyamakan visi. Karena terus terang, kalau berkolaborasi dibutuhkan kesabaran dan kompromi ekstra. Ini bukan dua kepala saja yang berbeda, tapi dua perusahaan dengan dua kultur. Harus banyak mengalah.

Bekerjasama tak hanya dalam skema joint venture, juga KSO. Profit sharing juga risk sharing. Meminimalkan risiko lebih baik daripada meminimalkan profit. Itu prinsip saya. Ada beberapa mitra strategis yang telah bekerjasama dengan kami seperti Sun Motor Group untuk protofolio Solo Paragon, Solo, Jawa Tengah dan The Sun Heritage, Bali. Sementara ke depan kami akan berkolaborasi dengan Grup 77 untuk proyek The Azura di MT Haryono, Jakarta.

Terkait kinerja selama 2012, tercatat penjualan GPRA mengalami peningkatan menjadi Rp 800 miliar dengan laba yang juga menunjukkan kurva positif. GPRA mencatat peningkatan 3 kali lipat menjadi Rp 90 miliar. Dengan perolehan itu, Rudy mengaku yakin, tahun depan akan terjadi lonjakan pendapatan penjualan dan total pendapatan. Adapun target penjualan 2013 menembus angka Rp 1,5 triliun.

 

Gapura Prima pernah gagal dalam proyek CBD Serpong yang awalnya merupakan Serpong Town Square. Bagaimana anda melihat kegagalan ini dan kemudian bangkit?

 

Saya akui itu kesalahan fatal dalam membaca pasar. Bahwa pada saat itu, kawasan Serpog belum membutuhkan vertical housing. Kami justru masuk terlalu dini. Konsep pusat belanjanya pun dulu masih sangat konvensional. Tapi tak apalah, saya anggap itu dinamika bisnis yang tidak harus terus berada di atas. Ada up and down. Kegagalan tersebut justru mengasah kemampuan dan intuisi saya dalam membaca pasar. Saya masih harus belajar banyak dari sosok-sosok semacam Hendro S Gondokusumo (Intiland Group) dan Ciputra (Ciputra Group).

Sekarang, CBD Serpong sudah beroperasi seperti biasa. Kami bekerjasama dengan Best Western dalam mengelola hotelnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: