Holland Village, Perspektif Baru Kawasan Terpadu

Image

PT Lippo Karawaci Tbk (LPKR) kembali melanjutkan sensasi, usai melansir The St Moritz Penthouses and Residences pada 2007 silam, dengan membesut Holland Village. Jika nama pertama diklaim sebagai episentrum bisnis dan gaya hidup di wilayah barat tepatnya Puri Indah CBD, maka Holland Village dirancang “menguasai” timur Jakarta.

Menempati lahan seluas 7 Ha, Holland Village merupakan kawasan terpadu yang mengintegrasikan sembilan (9) fungsi properti berbeda. Mencakup apartemen, perkantoran, hotel, pusat belanja, rumah sakit, sekolah, green lush garden, ruang pertemuan, dan helipad. Sehingga memiliki total luas bangunan 350.000 m2.

DP Architects, asal Singapura, yang mendesain proyek ini menekankan pada konsep urban central living. “Segala aktifitas masyarakat urban metropolitan dapat dilakukan di satu kawasan. Jadi, Holland Village merupakan pusat segala aktifitas, tinggal, bekerja, sekolah, belanja, olahraga, hingga hang out dengan standar gaya hidup internasional bisa dilakukan di sini,” ujar CEO Lippo Homes Ivan Setiawan Budiono. Lippo Homes sendiri merupakan divisi usaha mixed use development Lippo Karawaci.

Kendati diklaim sebagai yang terbesar untuk kawasan Cempaka Putih, Jakarta Pusat, Holland Village bukanlah yang pertama dan satu-satunya integrated development. Di sini sudah berdiri properti multiguna Cempaka Mas yang dikembangkan Sinarmas Land. Berisi ITC Cempaka Mas Megagrosir dengan 5.700 unit kios di dalamnya, 4 menara apartemen, 9 blok ruko dan rukan.

Hanya, memang, konsep dan kelas sasaran yang dibidik berbeda. Holland Village, jelas Ivan, menyasar kelas menengah atas. Itulah mengapa harga perdana unit-unit apartemennya dibanderol senilai Rp17 juta/m2. Jauh di atas harga unit-unit apartemen De Green Pramuka yang paling dekat lokasinya dan dipatok Rp9 juta-10 juta/m2. Akan tetapi, harga unit apartemen Holland Village terhitung masih lebih kompetitif dibandingkan harga apartemen yang ditawarkan Bahama Development atas Sentosa Residence Jakarta (SRJ). SRJ dipasarkan senilai Rp21,5 juta/m2.

Menjadi menarik bila kita bicara investasi di sini. Beberapa variabel yang mendukung postulat investasi akan berbuah manis seiring progres pembangunan, memang sudah tersedia. Seperti jalur bus Transjakarta rute Pulo Gadung-Harmoni. Beberapa fasilitas penunjang seperti rumah sakit Islam Jakarta, berbagai sarana pendidikan, pusat belanja bahkan terminal bus antarkota-antarprovinsi Pulo Gadung, tak jauh lokasinya dengan Holland Village. Dus, berdekatan dengan cloverleaf bridge Cempaka Putih yang segera dibangun. Cloverleaf bridge ini memudahkan mobilitas masyarakat melintasi kawasan ini. Sekaligus sebagai akses tambahan yang bisa menjadi opsi alternatif bagi pengguna kendaraan.

Serupa dengan integrated development lainnya, pengembang dengan kapitalisasi pasar senilai Rp24,5 triliun atau 2,5 miliar dolar AS ini melengkapi mixed use development-nya dengan fasilitas ritel. Mereka sekaligus membangun pusat belanja Lippomall @ Cempaka Putih bergenre lifestyle mall dan mengusung tenan-tenan yang berafiliasi dengan induk usaha. Seperti Matahari Department Store dan Hypermart.

Sementara untuk hotelnya berisi 180 kamar yang dialokasikan sebanyak 4 lantai dengan klasifikasi bintang lima. Dan untuk kawasan Cempaka Putih, hotel berbintang masih terhitung langka. Paling banter hotel bintang 3 dan ekonomis yang tersebar sporadis. Kalau pun terdapat bintang 4, lokasinya lumayan jauh yakni Harris Kepala Gading. Sehingga hotel di Holland Village ini kelak merupakan satu-satunya hotel bintang lima.

Perkantorannya sendiri membidik perusahaan-perusahaan domestik dengan bisnis yang terkait jasa, perdagangan dan telekomunikasi. Menurut Ivan, perusahaan jenis ini yang kini sedang tumbuh. “Mereka membutuhkan ruang yang lebih representatif di dalam gedung bertingkat. Kami tak takut bersaing dengan ruko-ruko yang masih mendominasi kawasan ini dan sebagai kultur bisnis yang memang sulit untuk diubah. Namun, saya yakin office di Holland Village dapat menjadi pilihan tepat untuk perusahaan-perusahaan tersebut,” urai Ivan.

Apalagi dengan catchment area tak sebatas Cempaka Putih, juga Kelapa Gading, Rawamangun, Senen dan Sunter yang secara tradisi sangat kuat di sektor jasa dan perdagangan, bukan hal sulit bagi LPKR menjual perkantorannya.

Bisa dikatakan Holland Village cukup menarik dan potensial dijadikan sebagai instrumen investasi. Sebelum kehadiran mereka, harga lahan di kawasan Cempaka Putih sudah mencapai Rp 12 juta sampai Rp 17 juta per meter persegi. Jika Holland Village dan juga Sentosa Residence Jakarta dikerjakan bersamaan, angka tersebut dapat melonjak, “Sebesar 15 persen sampai 20 persen per tahun. Propertinya sendiri linear mengikuti pertumbuhan harga lahan,” prediksi CEO Bahama Development, Reddy Hartadji.

Holland Village akan dimulai pengerjaan konstruksinya tahun ini dengan target serah terima dan operasi pada 2015.

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: