Rorotan Kirana Legacy, Incar Pembeli Kelapa Gading

PT Nusa Kirana adalah salah satu perusahaan perintis kota baru Kelapa Gading. Bersama dengan PT Summarecon Agung Tbk, mereka berdua menyulap kawasan yang dulu merupakan rawa-rawa, menjadi “kepala naga”. Di mana investasi apa pun yang dilakukan di sini, akan berbuah manis. Termasuk investasi properti.

Itu adalah kisah indah masa silam. Ketika keduanya bercerai, mereka memilih jalan masing-masing mengembangkan lahan-lahan kuota sesuai kesepakatan keduanya. Tak puas hanya menghasilkan karya di Kelapa Gading, keduanya kemudian menjamah kawasan luar. Jika Summarecon berpaling ke Bekasi dan Serpong, Nusa Kirana justru mencari peruntungan di Rorotan, Cilincing, Jakarta Utara.

Apa yang membuat Nusa Kirana tertarik menggarap kawasan yang identik dengan keidaktertiban ini? Adalah potensi pertumbuhan nilai properti, menurut Kepala Bidang Perencanaan dan Pembangunan Nusa Kirana Yoce A Kaleb, yang cukup prospektif.

“Kami belajar dari Kelapa Gading. Ketika semua orang menghindarinya, kami justru melihat potensinya. Sama halnya dengan kawasan Rorotan ini. Sekarang memang sama sekali tak ada pengembangan perumahan modern yang tertata baik dan rapi. Nah, kami ingin merintis itu. Ketika kami sudah memulai pengembangan, tentu situasi berbeda akan kita jumpai di sini,” ujar Yoce.

Jadilah, sejak Desember 2012, mereka mulai memperkenalkan Rorotan Kirana Legacy. Menempati lahan seluas 120 Ha yang sudah dibebaskan dari total 200 Ha. Keyakinan Nusa Kirana akan potensi Rorotan, rupanya tak main-main. Mereka tak cuma membangun rumah sebanyak 1.600 unit, juga telah memulai pembangunan sarana dan prasarana sejak 2005.

Saat itu, yang dilakukan oleh mereka adalah menepis imaji publik terhadap Rorotan sebagai kawasan langganan banjir. Mereka membangun infrastruktur sekaligus menguruk lahan pengembangan setinggi 2-3 meter. Selain itu, mereka juga tengah berusaha meminta Pemda DKI untuk membuat jalur khusus menuju perumahan. Upaya ini sebetulnya wajar, mengingat mereka sudah membangun akses sebrupa jalan masuk/keluar kawasan selebar (right of way) 50 meter sesuai dengan arahan Pemda DKI sendiri. Akses ini berujung di kawasan Kanal Banjir Timur dan Cakung Cilincing.

Kendati memakan biaya yang cukup besar, namun   mereka puas. Karena saat ini, Rorotan terbilang stabil, banjir tidak lagi menggenangi kawasan ini dan perlahan imaji kawasan sebagai tempat kelas menengah mulai menemukan bentuknya.

Rorotan Kirana Legacy ditawarkan per unit senilai Rp729 juta hingga Rp2 miliar dengan luas lahan sekitar 120 m2. Terhitung kompetitif dan terjangkau untuk mereka yang tidak sanggup membeli properti di kawasan premium seperti Kelapa Gading, Sunter, atau Pulomas.

Terbagi atas 7 klaster dengan tiga tahap pengembangan. Klaster pertama dilansir pada Desember 2012 dengan jumlah rumah 218 unit, masuk dalam pengembangan tahap satu. Terserap pasar sekitar 20%.

Sedangkan area komersialnya yang dialokasikan seluas 30% dari total luas lahan kawasan akan dibangun pada tahap kedua yakni 2015. Berisi vertical commercial area yang terdiri atas perkantoran, sekolah terpadu yang berkaitan erat dengan kesehatan/rumah sakit, dan rumah sakit serta pusat belanja kuliner dan water park. Selain itu, dilengkapi juga dengan sport club, futsal, kolam renang, basket, dan lapangan tenis. 

Tahap ketiga akan dilakukan atas sisa 80 Ha pasca 120 Ha perdana terealisasi. Ini merupakan strategi bisnis di mana harga atas properti awal tumbuh signifikan, maka pengembangan terakhir baru dilakukan kemudian. Ketika semua properti berikut fasilitas komersialnya terbangun, maka potensi pertumbuhan harganya diproyeksikan akan mencapai 10-15% per tahun. Bahkan jika pengembangan tahap ketiga dimulai pun, harga properti akan mencapai pertumbuhan puncaknya.

Sebagai instrumen investasi, Rorotan Kirana Legacy memang butuh kerja keras untuk menaklukkan pasar. Hal ini disadari betul oleh Nusa Kirana. Untuk itu, selain mengerjakan lebih dahulu infrastruktur, akses beserta kelengkapan “kota” lainnya, mereka juga menerapkan strategi personal approach terhadap calon konsumen. Karena, selama ini buyer produk Nusa Kirana sebagian besar merupakan repeat buyer atau loyal customer.

Edukasi produk digenjot habis-habisan. Mengingat untuk melakukan penetrasi pasar, tak hanya loyal buyer yang disentuh, mereka butuh beberapa faktor yang mempengaruhi minat pasar atau konsumen baru. Karena, nama Nusa Kirana memang kalah popular dibanding pengembang lainnya. Untuk itu, mereka justru melakukan penekanan pada kualitas properti, kualitas lingkungan, kenyamanan, keasrian,  dan aspek legal. Selain itu, mereka juga dibebaskan untuk menggenadeng bank pilihan masing-masing guna mendukung pembiayaan KPR-nya.

Sebuah upaya yang menguntungkan konsumen, sejatinya. Dan ekspektasi mereka adalah property growth di Utara Jakarta yang sangat tinggi, dapat tersebar merata di seluruh kawasan. Tak hanya di Kelapa Gading, Sunter dan atau Pulomas, juga Cakung dan Cilincing.

Dengan harga yang relatif kompetitif, pebisnis dan eksekutif muda generasi kedua dari keluarga-keluarga perdana penghuni area Kelapa Gading yang menjadi sasaran bisa terjaring dengan mudah.

Ekspektasi mereka, pembeli beruntung. Bagaimana dengan masa depan investasi proeprti di sini? Harga properti di pasar sekunder tentu akan dinamis dan berpotensi bergerak naik. Seiring dengan kemajuan pembangunan fisik. Saat ini saja, ketika akses menuju Rorotan Kirana Legacy dirintis, harga lahan sudah mencapai 20% lebih tinggi menjadi Rp7 juta-10 juta/m2.

Iklan

Perkantoran Premium Mendominasi Pasar

Kekinian Indonesia yang dipandang sebagai Negara prospektif  dengan potensi pertumbuhan industri properti, khususnya sektor perkantoran yang cukup tinggi, bukan isapan jempol. Tahun ini pun, masih akan diwarnai oleh prospek positif ekonomi dibandingkan dengan perkembangan ekonomi negara-negara lain yang masih dalam tahap pemulihan dari krisis global AS dan Eropa, yaitu sebesar 6.3-6.5%. Memotivasi perusahaan multinasional maupun korporasi dalam negeri untuk terus melakukan ekspansi atau pindah ke gedung kantor yang lebih berkualitas dengan lokasi yang lebih strategis.

 

Secara komposisi, permintaan masih lebih tinggi dibandingkan dengan pasokan. Rata-rata tingkat hunian dalam 5 tahun terakhir ini mencapai hampir 90%, dengan rata-rata kenaikan harga sewa gross (termasuk biaya pemeliharaan) sebesar 10% per tahun di area Kawasan Niaga Terpadu (CBD) dan 8% per tahun di luar kawasan CBD. Peningkatan yang jauh di atas rata-rata bila dibandingkan dengan negara-negara lain.

 

Permintaan tersebut, jelas, menjadi stimulan utama bertambahnya pasok sebesar 800.000 meter persegi kumulatif di kawasan dalam maupun luar Segitiga Emas (CBD dan Non-CBD). Gedung perkantoran yang akan selesai di tahun 2013 ini terkonsentrasi di koridor Mega Kuningan, Rasuna Said, Satrio, dan Gatot Subroto dalam CBD. Sedangkan tambahan gedung perkantoran baru di Non-CBD masih berasal dari koridor TB. Simatupang, yang disusul oleh koridor Slipi.

 

Porsi tambahan pasok ini cukup berimbang, antara area CBD dan Non-CBD yakni 420.000 m2 dan 380.000 m2. Pasokan baru yang berasal dari CBD sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan area Non-CBD dimungkinkan oleh antusiasnya pengembang akan harga jual strata dan sewa yang masih lebih tinggi di CBD dari pada Non-CBD.

 

Secara rasional, kenaikan biaya konstruksi serta meroketnya harga tanah yang cukup signifikan terutama di area CBD, memaksa pengembang untuk membangun gedung-gedung Grade A hingga beberapa tahun mendatang. Terbukti 80% dari pasokan baru tahun 2013 merupakan gedung-gedung Grade A. Menurut Chief Executive Officer Leads Property Services Indonesia, Hendra Hartono, selain kenaikan harga, semakin terbatasnya lahan untuk pengembangan gedung perkantoran juga akan berpengaruh kepada upaya pengembang untuk mengoptimalkan atau meningkatkan koefisien luas bangunan/KLB. Mereka akan cenderung membangun gedung perkantoran yang lebih besar dan lebih tinggi.

 

Harga sewa gross gedung kantor Grade A berkisar antara 25-50 USD/m2/bulan. Jika dilihat dari kisaran harga sewa tersebut, terdapat gap yang cukup lebar antara gedung kantor Grade A yang berlokasi di koridor Jalan Sudirman-Thamrin, dibandingkan dengan gedung perkantoran di kawasan Kuningan dan Gatot Subroto. Jika yang pertama mencapai 33-50 USD/m2/bulan, sedangkan pada koridor Gatot Subroto dan Kuningan, masih berkisar 25-32 USD/m2/bulan. Ini disebabkan oleh tingkat permintaan dan harga lahan yang lebih tinggi pada koridor Sudirman-Thamrin.

 

Pertumbuhan harga sewa gross untuk kantor Grade A di CBD Area mencapai puncaknya pada tahun 2012, setinggi Rp332.880 atau setara 34.3 USD/m2/bulan. Mengalami kenaikan hampir 40% dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Rata-rata pergerakan harga sewa kantor Grade A dalam 5 tahun terakhir ini mencapai 10% per tahun, sehingga mendorong pengembangan proyek-proyek gedung perkantoran Grade A dalam 2-3 tahun mendatang. Pertumbuhan harga sewa tersebut turut berdampak pada pertumbuhan imbal hasil (yield). Berkisar antara 8 hingga 12% yang dicapai pada tahun lalu. Angka yield yang menjanjikan ini mendorong investasi dalam bentuk properti khususnya gedung kantor di Jakarta, di samping peningkatan nilai capital gain dari investasi tersebut.

 

 

Transaksi pre-komitmen pun tetap berlanjut tahun ini. Terutama didorong oleh kekhawatiran para penyewa besar akan keterbatasan ruang perkantoran dengan harga sewa yang kompetitif. Selain itu, transaksi pre-komitmen juga datang dari bisnis service office yang menyewakan ruang kantor dengan ukuran lebih kecil kepada sub tenant. Seperti kita ketahui, saat ini terdapat banyak pemain baru dalam bisnis service office yang berasal dari luar negeri. Mereka  menyewakan luasan ruang kantor berikut dengan sarana pendukungnya seperti resepsionis, work station, ruang meeting dan lain lain.

 

Ada pun pasok baru perkantoran di Jakarta saat ini memiliki beberapa karakteristik yang cukup kuat dan dibedakan menjadi beberapa kategori. Perkantoran dengan tinggi lebih dari 250 m atau lebih dari 50 lantai. Yang termasuk ke dalam kategori ini (baik masih perencanaan maupun pembangunan) adalah Signature Tower, Pertamina Tower, BUMN Tower, Telkom Landmark Tower, Sudirman Center, Chase Tower, dan St. Regis.

 

Disusul oleh strata title. Tingginya tingkat pertumbuhan harga sewa ruang perkantoran membuat imbal hasil sewa juga meningkat. Peningkatan ini membuat banyak investor melirik untuk membeli strata title building dengan harapan imbal hasil sewa yang cukup tinggi. Selain itu, mengingat harga jual ruko yang saat ini telah mengalami peningkatan dan lokasi ruko yang pada umumnya berada di area pinggir kota, pengusaha dan investor akan lebih memilih gedung perkantoran strata yang lebih prestisius dan fasilitas parkir yang lebih memadai.

 

Berikutnya adalah kombinasi strata & lease. Ini adalah kiat pengembang yang berusaha mengurangi beban pinjaman dengan menjual unit strata pada saat konstruksi dan menyisakan sebagian luas gedung sebagai penghasilan dari transaksi sewa menyewa pada saat gedung selesai dibangun.

 

Berikut adalah gedung-gedung perkantoran Grade A yang diincar perusahaan multinasional dan domestic dengan reputasi tinggi; Sentral Senayan, World Trade Center 2, The Energy, Indonesia Stock Exchange Building dan The Plaza.

 

Harga gross sewa lima gedung perkantoran tersebut dikutip dalam mata uang USD dan berkisar antara 40–50 USD/m2/bulan. Leads Property Service Indonesia menyebutnya sebagai gedung perkantoran premium karena berada di lokasi yang premium dan strategis, kualitas gedung dan keamanan yang tinggi, spesifikai tinggi dan floor plate yang lebar, serta fasilitas yang lengkap.

 

Secara umum penyewa gedung kantor Grade A masih didominasi oleh perusahaan yang bergerak di bidang finansial, jasa asuransi, telekomunikasi, minyak dan gas. Selain dari perusahaan lokal, juga perusahaan-perusahaan dari negara-negara Asia, seperti Singapura, Malaysia, Jepang, China, Korea, dan Timur Tengah.

 

Ke depan, mayoritas pasokan baru gedung kantor Grade A masih didominasi oleh gedung perkantoran untuk sewa. Namun demikian, persentase pasokan strata mengalami peningkatan yang cukup signifikan dalam beberapa tahun belakangan ini seiring dengan peningkatan harga sewa yang tinggi. Namun, pasokan ruang kantor dengan harga sewa yang terus naik pada gedung perkantoran yang berlokasi di kawasan CBD belum tentu seluruhnya dapat diserap oleh penyewa. Diprediksikan, perusahaan-perusahaan tersebut cenderung beralih kepada level yang lebih rendah atau beralih ke lokasi yang tak jauh seperti Slipi dan MT Haryono atau ke pinggir Jakarta, seperti TB. Simatupang, Puri Indah, Alam Sutera, dan BSD. Rata-rata pasokan baru dalam 2-3 tahun mendatang akan berlokasi di Rasuna Said, Satrio, Gatot Subroto, dan Rasuna Said, lebih dikarenakan keterbatasan lahan yang tersedia di wilayah Sudirman dan Thamrin.

 

“Namun beberapa tahun ke depan, diperkirakan harga strata maupun sewa akan cenderung stabil oleh karena pasokan baru yang cukup signifikan,” ujar Hendra.

 

 

 

 

           

 

PHM Launches The 101 Dago Bandung

PHM Hospitality announced that at the end of 2013 the company will be operating THE 1O1 Bandung Dago located on the Legendary Urban area of Dago Bandung.

 

THE 1O1 Bandung Dago is used to be a happening place in Bandung named Planet Dago at Jalan Ir. H. Juanda near Jalan Merdeka, as one of the trendiest area of Bandung with shopping malls, café, boutiques, and many restaurants and entertainment centers.

 

The ground breaking ceremony of THE 1O1 Hotel Bandung Dago was held recently on 17 February 2013, commencing its renewal construction and ready to be operated by the end of 2013.   The ceremony was attended by Owning Company Board of Directors: PT. Guna Cipta Manunggal Selaras (Gucimas), management team of PHM Hospitality, and contractor team.

 

THE 1O1 Bandung Dago will be a MidScale Premium (3+Star) hotel in Bandung with Smart Stylish Experience concept for middle up market. It is a pioneering of Chic & Trendy life style which is suitable for business and leisure travellers who concern about Value for Money aspect. The hotel will be featuring 160 Chic & Trendy rooms, meeting rooms, coffee shop, swimming pool and gym. 

 

Mr. Kristian Kuntadi, Managing Director of PHM Hospitality says: “We are really proud and delighted for being appointed by PT. Gucimas to manage THE 1O1 Bandung Dago. THE 1O1 Bandung Dago will be the new urban renewal of Legendary Dago in Bandung as THE 1O1 hotels position the brand as the MidScale Premium hotels strictly located in Legendary Urban areas and stand on different atmosphere complimenting surrounding. More, THE 1O1 hotels are the place where story of trend and lifestyle are collected and shared. Reflecting the local culture through its services, believes, and the location, we believe THE 1O1 Bandung Dago will be simply a destination to stay center in Bandung city.”

 

Tahap 2 Bali Nusa Dua Convention Center Siap Beroperasi

Image

Indonesia mendapat kehormatan untuk menjadi tuan rumah kegiatan bergengsi Konferensi Tingkat Tinggi Asia-Pacific Economic Cooperation (APEC) di pulau dewata, Bali, pada bulan Oktober 2013 mendatang. Perhelatan prestisius ini akan dihadiri oleh 21 kepala negara dan 24.000 delegasi dari berbagai negara di dunia. Tentu hal ini akan membuat Indonesia menjadi sorotan berbagai pasang mata dari segala penjuru dunia, sehingga penyelenggaraan conference berkelas internasional ini harus dipersiapkan sebaik mungkin. Agar conference tersebut dapat berjalan dengan sempurna dibutuhkan tempat penyelenggaraan yang berkualitas dan memenuhi standar internasional. Untuk itu, pemerintah telah mempercayakan Bali Nusa Dua Convention Centre (BNDCC), salah satu properti convention & exhibition hall bertaraf internasional yang dikelola oleh PT Nusa Dua Indonesia (NDI) yang berada dibawah holding company PT Dyandra Media International (DMI), sebagai venue penyelenggaraan conference yang diselenggarakan setiap setahun sekali ini. “Kami bangga BNDCC selalu dipercaya sebagai tempat untuk menyelenggarakan event-event besar berkelas internasional di Bali,” ujar Riyanthi Handayani, Direktur PT Nusa Dua Indonesia.

BNDCC sebagai salah satu venue berkualitas terbaik di Indonesia telah berpengalaman menyelenggarakan beragam conference besar, salah satu diantaranya adalah ASEAN Summit ke 19 yang dihelat pada bulan November 2011. Conference Summit ini dihadiri oleh 18 kepala negara ASEAN termasuk Presiden Republik Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono dan Presiden Amerika Serikat, Barack Obama. Acara tersebut berlangsung sukses dan meninggalkan kesan mendalam di mata dunia internasional akan keberadaan BNDCC sebagai venue kelas dunia yang layak dipercaya sebagai tempat penyelenggaraan conference bertaraf internasional. 

Reputasi BNDCC sebagai venue berkualitas memang telah mendunia. Berdiri diatas lahan seluas 70.000 m2, dengan convention hall seluas 5.000 m2 yang dapat menampung 5.000 peserta serta area parkir yang dapat diisi hingga 600 kendaraan. Venue yang dibuka pada bulan September 2011 ini juga memiliki fasilitas pendukung  berupa sistem komunikasi nirkabel, sistem konferensi dan peralatan audiovisual, serta in-house food production untuk menjaga kualitas pelayanan dan standar menu masakan bagi para tamu conference.

 

Image

BNDCC kini tengah mengerjakan pembangunan tahap dua yang direncanakan selesai pada bulan Maret tahun ini. Pada pembangunan tahap dua, BNDCC akan dilengkapi dengan Hotel Amaris, brand properti hotel yang jaringannya tengah dikembangkan oleh PT Graha Multi Utama, yang juga yang berada dibawah holding company PT Dyandra Media International (DMI). Hal ini dimaksudkan untuk memudahkan kebutuhan penginapan bagi para tamu undangan, dan para delegasi yang menghadiri konferensi tersebut.

Pembangunan tahap dua BNDCC ini merupakan sinergi dalam industri Meeting, Incentives, Convention, and Exhibition (MICE) yang digeluti DMI, dimana venue penyelenggaraan dilengkapi dengan hotel sebagai bagian dari strategi integrasi untuk berkembang di Industri MICE. “Kami memilih Bali sebagai lokasi membangun BNDCC karena karakteristiknya memiliki beberapa kelebihan, diantaranya memiliki event internasional yang lebih banyak dibandingkan dengan Jakarta, serta lebih kuat dalam sektor international market. BNDCC juga berada di kawasan pariwisata yang sudah memiliki infrastruktur lengkap,” ungkap Riyanthi Handayani. 

Keberadaan properti pendukung seperti venue serta convention & exhibition hall di luar Jakarta dan Bali terbilang masih minim, hal ini tidak sejalan dengan pertumbuhan pesat dalam industri MICE di Indonesia yang juga mempengaruhi peningkatan kebutuhan akan venue serta convention & exhibition hall dengan standar kualitas terbaik. Situasi inilah yang membuat NDI memilih kota Surabaya sebagai tempat membangun convention centre perdananya, Gramedia Expo. Mulai beroperasi pada tahun 2008, convention centre yang berlokasi di jalan Basuki Rahmat, Surabaya ini memiliki ruang pameran dan convention hall dengan luas lebih dari 4.000 m2. 

Di luar pulau Jawa, NDI membuat sebuah terobosan baru dalam menjawab kebutuhan convention & exhibition hall di kota Medan. Dengan tujuan mengakomodir penyelenggaraan event atau pameran di kota Medan dan sekitarnya, maka NDI membangun Medan International Convention Centre (MICC) yang terintegrasi dengan hotel berbintang 4, Santika Dyandra Premiere Hotel. Berlokasi di pusat kota, Jl. Kapten Maulana Lubis, Medan, MICC berdiri diatas lahan seluas 4.000 m2 dan memiliki convention hall seluas 3.000 m2 yang mampu digunakan untuk menampung 5.000 pengunjung. 

 
NDI kini tengah memulai proyek prestisius dengan membangun 2 buah convention centre berskala internasional yang berlokasi di Serpong-Tangerang, Jawa Barat dan Makassar, Sulawesi Selatan. Untuk proyek di Serpong, NDI membangun Indonesia International Expo (IIExpo), yang berdiri di atas lahan seluas 25 hektar dengan area convention & exhibition hall mencapai 150.000 m2, dan berkapasitas 200.000 orang. Tak hanya itu, proyek convention & exhibition hall yang diprediksikan akan menjadi  gedung MICE terbesar di Indonesia bahkan di Asia Tenggara ini juga akan terintegrasi dengan hotel berbintang 3 dan 4, sehingga memudahkan akomodasi para peserta exhibition atau konferensi. 

Wilayah Indonesia Timur juga tak luput dari perhatian NDI, hal itulah yang membuat NDI membangun proyek prestisius Santika Dyandra Makassar, yang merupakan integrasi hotel serta convention & exhibition hall terbesar di Indonesia Timur. Proyek pembangunan Santika Dyandra Makassar berdiri di atas lahan seluas 3 hektar, dengan luas bangunan mencapai 65.000 m2.  Proyek ini sendiri terdiri dari Hotel Santika bintang 4 yang memiliki 22 lantai dengan dilengkapi 375 kamar dan suites, 28 meeting rooms serta convention & exhibition hall seluas 14.250 m2. Santika Dyandra Makassar yang berlokasi di jalan Metro Tanjung Bunga, Makassar, masuk di dalam lingkup kawasan bisnis global dan pariwisata terpadu Tanjung Bunga.

GMU Bangun 15 Hotel Baru

Santika TB Simatupang

 

Industri Meeting, Incentives, Convention and Exhibition (MICE) kini tengah berkembang pesat di Indonesia. Tak pelak, hal ini ikut mempengaruhi perkembangan industri perhotelan tanah air. PT Graha Multi Utama (GMU), perusahaan yang bergerak di bidang bisnis properti hotel dan berada dibawahholding company PT Dyandra Media International (DMI) berhasil menangkap peluang emas untuk berinvestasi mengembangkan properti hotel di Indonesia, sebagai bagian dari strategi integrasi untuk berkembang di Industri MICE dan memaksimalkan potensial market dari sektor pariwisata.

 

Tak tanggung-tanggung, GMU ingin memiliki jaringan hotel terbanyak yang tersebar di seluruh Indonesia. Tahun ini akan dibangun 15 hotel baru (Amaris dan Santika) di Jakarta, Tangerang, Surabaya, Bali, Makassar, Kendari, Cikarang dan Pekalongan. Hotel-hotel tersebut dibangun berdekatan dengan convention and exhibition hall di kota-kota besar yang tersebar di Indonesia, sehingga delegasi pertemuan dan pengunjung pameran yang diselenggarakan dapat menjadi target market potensial mereka, selain tentunya para wisatawan mancanegara dan domestik lainnya. Hal inilah yang disebut sebagai one stop solution dalam bisnis MICE yang digeluti oleh DMI. “Bila kita melihat dalam kurun waktu 3 tahun terakhir, pasti setiap bulan bahkan setiap harinya terdapat iklan mengenai opening hotel di media-media besar nasional. Hal ini menandakan market industri perhotelan Indonesia masih terus berkembang,” ujar Andy Widjanarko, Direktur Utama PT Graha Multi Utama seraya menambahkan hingga Desember 2012 terdapat 6 Hotel Santika dan Hotel Amaris, yang terdiri atas 5 hotel ekonomis dengan 504 kamar dan 1 hotel bintang 4 dengan 153 kamar.

 

Strategi integrasi yang dilakukan GMU untuk mendukung perkembangan industri MICE akan diwujudkan kembali secara nyata di Indonesia pada saat perhelatan Konferensi Tingkat Tinggi APEC, konferensi berkelas internasional yang dihadiri 21 kepala negara dan 24.000 delegasi. KTT APEC tersebut akan memakai Bali Nusa Dua Convention Centre (BNDCC) sebagai tempat perhelatan, pada bulan Oktober 2013 mendatang. BNDCC kini sedang mengerjakan pembangunan tahap 2 yang direncanakan selesai pada bulan Maret tahun ini. Pada pembangunan tahap dua, BNDCC dilengkapi juga dengan Hotel Amaris, brand properti hotel yang jaringannya tengah dikembangkan oleh GMU. Hal ini tentu akan memudahkan kebutuhan penginapan para tamu undangan, dan para delegasi yang menghadiri konferensi tersebut.

 

Pertumbuhan Industri Hotel di Indonesia

Pertumbuhan industri hotel di Indonesia memang tak pernah lepas dari perkembangan industri pariwisata yang mampu memancing minat wisatawan untuk berkunjung ke Indonesia. Pada tahun 2012 lalu ada 8 juta wisatawan mancanegara yang berwisata ke Indonesia. Angka ini masih jauh bila dibandingkan dengan Singapura dan Malaysia yang dikunjungi 20 juta wisatawan. Karena itu Indonesia diharapkan mampu menyaingi pencapaian dua negara yang menjadi tetangga dekat di kawasan ASEAN tersebut dalam hal menarik minat wisatawan untuk berkunjung.

 

Santika Siligita

 

Pencapaian tersebut bukan hal yang mustahil bagi Indonesia. Pada akhir Juli tahun 2012 lalu, Trip Advisor, situs perjalanan terbesar di dunia, melakukan survey yang melibatkan 25.000 responden dari pengusaha hotel di seluruh dunia, dimana 399 responden di antaranya berasal dari Indonesia. Hasilnya, Trip Advisor Indexmenempatkan prospek industri hotel di Indonesia pada posisi teratas dalam hal prospek dan profitabilitas. Posisi Indonesia itu mengungguli Brasil yang berada di posisi kedua, Rusia di posisi ketiga, Amerika Serikat pada posisi keempat dan India di posisi kelima. Pada tahun 2013 ini, bisnis perhotelan akan terus tumbuh seiring meningkatnya kunjungan wisatawan mancanegara dan tren perusahaan-perusahaan besar dalam melakukan aktivitas perjalanan bisnis (business trip) baik dari Jakarta ke daerah lain ataupun sebaliknya.

 

Kondisi ini dipastikan akan terus berlanjut hingga tahun 2015. Menurut survei Cushman & Wakefield Indonesia, hingga 2015 akan ada 4.000 kamar hotel baru di Jakarta. Hal ini membuat PT Graha Multi Utama optimis dalam mengembangkan bisnis properti hotel melalui brand Hotel Amaris. Dalam portfolio GMU, tercatat ada 6 hotel milik GMU yang telah beroperasi, sementara 5 hotel lainnya akan selesai dirampungkan tahun ini, dan 10 hotel lainnya akan dibuka pada tahun 2014. GMU menargetkan untuk lima tahun ke depan akan dapat mengoperasikan 50 hotel dengan 6.000 kamar, yang berkonsep jaringan hotel dengan tingkat penyebaran merata di semua ibukota provinsi bahkan hingga ke tingkat kabupaten di Indonesia.

 

“Hotel Amaris memang akan dibangun dalam jumlah banyak, karena bila hotel kami mampu dijumpai di berbagai tempat, maka para calon tamu kami akan merasa nyaman dalam hal menentukan pilihan menginap. Hal itu juga membuat orang-orang tidak perlu lagi menanyakan informasi mengenai Hotel Amaris, karena secara langsung maupun tidak langsung tercipta brand awareness dari banyaknya jumlah Hotel Amaris itu sendiri di Indonesia,” ungkap Andy.