Intermark, Properti Perdana Dari Grup Rakyat Merdeka

Nama Grup Rakyat Merdeka memang popular di ranah bisnis media. Namun begitu, masih perlu diuji apakah popularitas mereka juga berpengaruh terhadap kiprah perdananya di sektor properti. Menyadari nihil pengalaman, mereka pun menggandeng PT Ronov Indonesia. Nama terakhir selama ini lebih dikenal sebagai konsultan pemasaran. Beberapa proyek yang pernah mereka tangani antara lain Senopati Penthouse, The H Residence, Woodland Park Residence dan Eight Kayana.

Kedua perusahaan ini pun kemudian sepakat bersekutu dalam PT Merdeka Ronov Indonesia. Proyek perdana adalah Intermark yang berlokasi di Serpong, Tangerang Selatan. Tepatnya Jalan Lingkar Timur BSD. Ini merupakan sebuah pengembangan multifungsi yang terdiri atas apartemen (Tuscany Residence) sebanyak 390 unit, 105 unit kondotel, Hotel bintang 4 yang dikelola swiss-belhotel sebanyak 110 kamar, 18 lantai gedung perkantoran yang dilabeli Associate Tower, Merdeka Assembly Hall yang berkapasitas 1.000 orang dan pertokoan berkonsep ruko. Semua terangkum di atas lahan seluas 3 Ha.

Ada pun bentuk kolaborasi yang dijalin adalah Kerjasama Operasi (KSO). Kontribusi PT Ronov Indonesia berupa lahan sementara Grup Rakyat Merdeka finansial.  Direktur Utama Merdeka Ronov Indonesia Ronaldo Maukar mengatakan, pembangunan proyek ini akan dikerjakan pada April 2013.  “Kami menganggarkan Rp750 miliar secara kapitalis dan 2016 diharapkan rampung” ujar Ronaldo. Investasi sebesar itu berasal dari ekuitas perusahaan dengan porsi 40%, dan 40% dari pinjaman perbankan, sisanya 20% dari pra penjualan.

Ada pun Tuscany Residence, ditawarkan senilai Rp8,5 juta/m2 atau Rp320 juta-600 juta per unitnya. Dari harga yang dibandrol ini, jelas mereka menyasar segmen menengah bawah. Kendati jumlah kelas menengah Indonesia saat ini mencapai lebih dari 50 juta jiwa, bukan perkara mudah bagi Merdeka Ronov Indonesia untuk menaklukkan sebagian kecil dari mereka.

Reputasi, rekam jejak dan portofolio, tetap menjadi pertimbangan utama kelas menengah. Selain, tentu saja harga jual. Sementara di Serpong sendiri, lokasi Intermark berada, proyek sejenis memang terbilang langka. Akan tetapi kompetisi akan datang dari properti-properti “stand alone” yang dikembangkan baik oleh Sinarmas Land maupun pemain lain.

Tuscany Residence akan mendapat tantangan serius dari landed house seperti Green Serpong Bintaro. Dengan harga setara yakni Rp630 juta, konsumen akan mendapatkan properti dengan ukuran bangunan dan lahan jauh lebih luas yakni 86/102. Kemudian Laverde yang dipatok seharga Rp658 juta untuk unit seluas 71/90 dan Serpong Garden yang ditawarkan Rp626,5 juta (100/91).

Sementara perkantoran Associate Tower jelas akan berhadapan dengan perkantoran yang dibangun oleh Sinarmas Land secara build to suit. Dengan harga kavling perkantoran kompetitif, perusahaan sebagai tenan mendapat kebebasan menentukan desain dan lokasi lahan yang diinginkan. Dus, konsep green office  yang ditawarkan merupakan nilai tambah buat perusahaan tenan.

Associate Tower sendiri, seperti dikatakan Bagus Adikusumo, Direktur Colliers International Indonesia yang ditunjuk sebagai konsultan perkantoran, dipasarkan dengan harga Rp17 juta/m2. Angka yang moderat, sejatinya, bila dibandingkan dengan perkantoran di sekitar Serpong yang masih berbentuk ruko/rukan yang sudah mencapai sekitar Rp5 miliar-15 miliar/unit. Kelebihan Associate Tower adalah high rise setinggi 18 lantai yang didesain modern dan dikelola secara profesional.

Peluang lebih besar akan dialami oleh Swiss-Belhotel. Sebab, di daerah Serpong Selatan, belum ada satu pun hotel yang berdiri. Kondisi aktual ini menjadikan Swiss-Belhotel sangat istimewa. Mereka bisa saja menangkap pasar dari business traveler atau manajer-manajer level menengah dari perusahaan-perusahaan yang berkantor di koridor Simatupang-Pondok Indah-BSD. Serta event-event MICE yang digelar oleh pemerintah daerah/kota (government spending) atau swasta.

Begitu pula dengan properti kondotelnya. Investor tak perlu repot merawat dan mencari penyewa untuk mengisi unit-unit kondotelnya. Dengan harga mulai dari Rp650 juta sampai Rp2 miliar, kondotel Intermark cukup menjanjikan dilirik sebagai instrumen investasi.  Karena pembeli kondotel dijanjikan imbal hasil sekitar 9% selama dua tahun pertama beroperasi.

Hal yang sama juga akan menimpa Associate Tower. Karena faktor lokasi yang dekat dengan mulut tol BSD, menjadikannya berada dalam posisi incaran koridor Simatupang-Pondok Indah dan BSD. Sekadar informasi, saat ini harga jual rata-rata perkantoran strata title di koridor ini telah mencapai Rp22 juta/m2. Dan akan beranjak lagi sekitar 10-15% pada tahun-tahun mendatang.

 

Namun begitu, jika momentum ini disia-siakan dengan komitmen pembangunan tepat waktu yang teringkar, maka Intermark hanyalah tinggal nama. Karena tak jauh dari lokasi ini, Sinarmas Land bersama Kompas Gramedia Group sudah mulai menggarap Indonesia International Expo yang terdiri atas convention center seluas 150.000 m2, dilengkapi hotel bintang 4 dan 3 dengan operator Santika serta perkantoran hijau.

Satu Tanggapan

  1. Serpong Selatan sudah ada hotel berbintang: Grand Zuri (4*) di samping Ocean Park BSD & Hotel Santika (3*) yg menempel ke Teras Kota.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: