Karya Griya Bersama Pilih Akuisisi Dibanding Kerja Sama

Image

Masih asing dengan nama ini? Tentu saja. Karena Karya Griya Bersama (KGB) baru lahir pada 2009. Walau tak popular dan dianggap belum “berbicara” banyak, setidaknya KGB membuat konstelasi bisnis dan industri properti  Indonesia kaya warna. Tidak melulu dipenuhi aksi Agung Podomoro Group, Ciputra Group, Lippo Group atau Sinarmas Land Group.

KGB menyeruak dengan beberapa portofolio properti yang menjanjikan. Bahkan berkinerja sangat baik untuk tidak dikatakan sukses. Sebut saja Villa Surya Damai di kawasan Umalas Bali. Terdiri atas 5 kamar dengan tarif Rp11 juta-15 juta per malam, selalu terisi penuh.  Tak hanya hunian komersial atau private villa, KGB secara diam-diam juga berhasil mengembangkan Serpong Estate. Perumahan seluas 3 ha dengan jumlah rumah 183 unit ini mendapat antusiasme positif pasar.

Termotivasi oleh baiknya kinerja penjualan Serpong Estate, KGB pun membesut sekuelnya; New Serpong Estate di atas lahan seluas 1,5 Ha dengan jumlah 120 unit rumah. Unit-unit rumah di sini dipatok dengan harga terendah Rp500 juta.

KGB diretas oleh empat anak muda yang sama-sama menimba ilmu di Amerika. Mereka adalah  Dhanial Achmad Djawas, Hendra Iskandar Lubis, Ahmad Fikri Assegaf dan Hani Syarief Assegaf.  Saat ini, KGB membawahi dua anak perusahaan; PT Properti Investasi Bersama dan PT Graha Investasi Bersama. Anak usaha pertama lebih fokus pada landed property. Karyanya adalah Serpong Estate dan New Serpong Estate serta Villa Surya Damai.

Sementara Graha Investasi Bersama saat ini mengkonsentrasikan diri pada pengembangan vertical properties. Proyek yang tengah mereka garap adalah Urban Heights. Sebuah apartemen sederhana milik yang berlokasi di Tangerang Selatan.  Dengan jumlah lebih dari 1.350 unit yang terangkum dalam dua tower. Harga Rp200 juta ke atas. Pra penjualan akan dilakukan pada April ini.

Dikatakan Direktur Karya Griya Bersama,  Dhanial Achmad Djawas, mereka akan terus berkarya seiring dengan positifnya prospek bisnis dan industri properti Tanah Air. Terutama untuk pemenuhan kebutuhan residensial. Kendati sebagai langkah awal lebih kepada residensial tapak, namun ke depannya justru akan dipersiapkan lebih banyak lagi residensial vertikal dan vila-vila komersial.

Untuk hunian komersial (villa), “Kami menargetkan 50 kamar baru selama 3 tahun ke depan. Lokasinya di Sabana dan Ungasan (Bali), Jogjakarta dan Lombok (Nusa Tenggara Barat),” jelas Dhanial yang karib disapa Donny. Secara detil, portofolio anyar tersebut memiliki tawaran berbeda. Dua merupakan villa berpemandangan sawah, satu lembah (cliff) seluas 3.000 m2, satu lagi tepat di bibir pantai.

Untuk villa di Sabana, KGB mengakuisisinya dari investor bule senilai 1,5 juta  dolar AS. Terdiri atas 5 kamar. Rencananya akan beroperasi pada  April ini. Sementara di Lombok,  tepatnya di Sire Beach, memiliki lahan seluas 1,8 Ha. Berisi 6 kamar. Villa di Jogjakarta terdiri atas 5 kamar. Berbeda dengan beberapa villa lainnya, di kota gudeg ini skemanya adalah build, operate and transfer (BOT).

Menarik mencermati motivasi KGB mengembangkan villa-villa di tempat-tempat tersebut. Bali, Lombok dan Jogjakarta popular sebagai destinasi wisata dunia. Terutama Bali yang hingga kini masih tetap diincar tak hanya oleh wisatawan asing, juga domestic. Begitu pula Lombok yang mulai mencuat karena keindahan pantainya yang sekelas Bali. Sementara Jogjakarta kaya akan kultur dan tradisinya yang mengurat akar serta atmosfer Jawa adiluhung yang kental dengan keratin sebagai sentra atensinya.

Selain itu, “International flight Jogjakarta juga tak kalah dari Bali. Itu yang kami bidik. Turis asing memang pangsa pasar kami, sekitar 70-80%,” tandas Donny.

Akuisisi Lebih Menguntungkan

 

Bicara strategi bisnis, KGB lebih memilih aksi akuisisi. Sebagaimana diungkapkan Donny, mengambil alih properti yang sudah “jadi” lebih rendah risikonya ketimbang membangun yang baru. Tak perlu mengurus perijinan ini itu, cukup balik nama, juga tak harus ribet merancang desain dan konsep bangunan serta mengembangkannya. Namun demikian, ada banyak faktor yang harus diperhatikan secara seksama. Bahwa “menakar” properti tidak bisa sembarangan. Lokasi harus diperhatikan, sebagai yang pertama dan utama. Sebab, kata Donny, lokasi sangat menentukan unsur demografi sebagai  faktor penentu berikutnya. Kemudian disusul kondisi lahan, stabil atau labil. “Sangat mempengaruhi tinggi rendahnya risiko bisnis,” timpal Donny.

Faktor lain yang tak kalah penting adalah usia bangunan, konsep dan desain serta proyeksi ke depan. Umalas, Sabana, Penerenan dan lain-lain dipilih karena prospektif. Memenuhi semua unsur properti yang “laik sewa dan menguntungkan”. Vila Surya Damai contohnya, diakuisisi Agustus 2012, kinerjanya cukup menggembirakan. Tingkat okupansi sampai Maret 2013 mencapai 70-80%. Lokasinya yang berada di pelosok Umalas, dikelilingi hijaunya pesawahan, jauh dari keramaian, sangat diincar oleh turis asing dari Eropa dan Amerika.

Bahkan, demi memuaskan preferensi para tamu, KGB sampai harus menyewa pesawahan milik penduduk senilai Rp1,5 miliar per tahun. “Ini dilakukan supaya vila kami mendapat pemandangan natural; pesawahan, yang sangat diminati turis mancanegara,” ujar I Wayan Sutarja, Villa Manager Surya Damai Villa.

Membeli dan mengelola villa sama halnya dengan menciptakan keuntungan yield dari tingkat okupansi sebanyak 40-50%. Selain itu, mereka juga mendapat profit dari income yang bisa diputar kembali selain untuk operasionalisasi juga untuk mensubsidi anggaran pembelian portofolio lainnya.

KGB mengalokasikan dana sebesar 1,5 juta-2 juta dollar AS per villa yang akan diakuisisi. “Sejauh ini, kami mengincar villa-villa seputar Bali,” imbuh Donny. Terkesan hit and run memang. Namun, begitulah jika ingin cepat mendulang keuntungan. Risiko minimal, hasil maksimal.

Ke depan, KGB tak hanya mengoperasikan, membangun dan atau membeli, juga merancang strategi pembentukan anak usaha baru yang berkonsentrasi pada manajemen villa. Nantinya, perusahaan ini tak hanya mengelola villa sendiri juga properti milik orang lain.

Dalam lima tahun mendatang, mile stone  KGB adalah menjadi pemain di industri properti, khususnya hospitalitas yang diperhitungkan di tingkat Nasional.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: